bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Star Trek: Into Darkness (2013)

Ditulis oleh Siti Hasanah - Diperbaharui 19 September 2021

J. J Abrams sebelumnya telah sukses membawa semesta Star Trek kembali hidup. Pada tahun 2009, Abrams mengenalkan semesta dan jalan cerita baru dari petualangan Kapten Kirk dan Spock. Kali ini, di sekuel dari Star Trek – yakni Star Trek into Darkness, Abrams membawa cerita klasik archenemy Enterprise Crew, Khan dengan kemasan yang berbeda.

Walaupun cerita yang disuguhkan berbeda, namun Abrams tidak luput dari berbagai adegan ikonik yang pernah terjadi di Star Trek sebelumnya – khususnya Star Trek: The Wrath of Khan. Bahkan, cukup mengesankan jika Abrams CS pun memasukkan beberapa adegan penting dan ikonik dari hubungan bromance yang terjalin antara Kirk dan Spock.

Tidak hanya mengembalikan adegan ikonik, sesuai dengan judulnya – into Darkness, Abrams CS pun menenggelamkan penonton dengan sisi lain dari karakter Spock dan Kirk. Karena pada Star Trek Into Darkness, penonton benar-benar disuguhkan dengan alur cerita yang emosional, gelap, dan mengoyak emosi.

Untuk kamu yang penasaran dengan dengan alur cerita Star Trek: Into Darkness, simak review dan sinopsisnya berikut ini ya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal rilis: 23 April 2013
  • Genre: Sci-Fi, Action
  • Sutradara: J. J. Abrams
  • Penulis: Roberto Orci, Alex Kurtzman, Damon Lindelof
  • Produser: J. J. Abrams, Bryan Burk, Damon Lindelof, Alex Kurtzman, Roberto Orci
  • Pemeran: Chris Pine, Zachary Quinto, Zoe Saldana, John Cho, Simon Pegg, Karl Urban, Anton Yelchin, Benedict Cumberbatch, Alice Eve

Pada tahun 2259, Enterprise ditugaskan untuk menyelamatkan suku pedalaman di planet Nibiru dari erupsi gunung di sekitarnya. Sayangnya, bukan Kapten Kirk jika dia tidak melanggar aturan, Kirk melanggar kode etik Starfleet General Order 1 untuk menyelamatkan Spock dan Starfleet mengetahuinya dari laporan yang dilampirkan Spock.

Karena itu, Laksamana Marcus memisahkan Kirk dari Enterprise dan Spock dipindahkan ke USS Bradbury. Setelah Kirk dipisahkan dari Enterprise, Kapten Pike ditugaskan untuk menjadi Enterprise lagi dan dia pun kembali menemui Kirk dan memintanya menjadi perwira utamanya.

Kirk, Pike, dan Spock hadir pada rapat perwira dan komandan di Starfleet dan Laksamana Marcus membeberkan kejadian meledaknya markas Starfleet di London. Pada markas tersebut tersimpan arsip rahasia milik Starfleet. Salah satu anggota Starfleet bernama Thomas Harewood meledakan markas Starfleet tersebut atas suruhan John Harrison – mantan anggota Starfleet.

Saat rapat perwira dan komandan berlangsung, Harrison pun datang dengan kapal milik Starfleet dan menyerang lokasi pertemuan. Karena kejadian ini, Kapten Pike meninggal dan Harrison pun kabur ke Qo’noS (Kronos) – planet yang dihuni oleh bangsa Klingon.

Karena kejadian tersebut, Kirk bertemu dengan Laksamana Marcus, untuk penugasan terbaru. Laksamana Marcus mengatakan jika Starfleet yang berada di London bukan hanya menyimpan arsip, namun juga menyimpan rahasia pengembangan teknologi pertahanan yang dinamai section 31. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi pertahanan Starfleet dari peperangan melawan Klingon atau bangsa lain.

Laksamana Marcus pun pada akhirnya menugaskan Kirk untuk mencari Harrison dan Kirk pun menunjuk Spock sebagai perwira utama Enterprise. Untuk perbekalannya, Laksamana Marcus pun memberikan Torpedo Foton – senjata hasil eksperimen section 31, untuk dibawa. Saat persiapan, Scotty meminta spesifikasi dari torpedo tersebut karena torpedo tersebut belum pernah diuji sebelumnya.

Namun karena senjata ini hasil eksperimen section 31, Scotty pun tidak mendapat informasi apapun. Misi pencarian Harrison dan penggunaan torpedo yang belum layak uji tersebut sangat bertentangan dengan keinginan Scotty, sehingga Scotty mengundurkan diri dari Enterprise. Posisi Scotty pun digantikan oleh Chekov.

Saat perjalanan menuju Kronos, warp Enterprise terhenti. Kirk, Spock, dan Uhura harus melanjutkan perjalanan tanpa membawa kru lainnya yang terjebak di zona netral. Saat perjalanan, mereka diserang oleh Klingon dan penyerangan berakhir saat Harrison tiba. Pertempuran pun usai, Harrison menanyakan jumlah torpedo yang dibawa oleh Enterprise. Ketika Kirk memberi tahu jika torpedo tersebut berjumlah 72, Harrison menyerahkan diri.

Lantas Kirk tidak puas dengan penyerahan diri Harrison kepada Starfleet, sehingga Kirk mendatangi Harrison. Saat percakapan terjadi, Harrison memberi petunjuk kepada Kirk dengan memintanya mengecek salah satu torpedo yang dibawa dan melihat kordinat 23.17.46.11. Kirk pun meminta anak Laksamana Marcus – Carol Marcus dan Bones mengecek torpedo foton sementara Kirk meminta Scotty mengecek kordinat 23.17.46.11.

Sesuatu yang mengejutkan terjadi saat ditemukan manusia yang dibekukan di dalam torpedo foton, dan kordinat yang diberi pada Scotty adalah tempat fasilitas senjata Starfleet. Kirk kembali kepada Harrison, dan Harrison mengungkapkan bahwa dia sebenarnya adalah Khan Noonien Singh – salah seorang manusia yang dibekukan, Khan beserta awak kapal adalah seorang superhuman yang hidup dan dibekukan ribuan tahun lalu.

Khan dibangunkan dari tidurnya oleh Laksamana Marcus untuk dimanfaatkan sebagai senjata pertahanan Starfleet. Dia juga mengungkapkan jika Laksamana Marcus memanfaatkan Kirk untuk menggunakan senjatanya saat diserang oleh bangsa Klingon. Setelah Kirk menyadari hal tersebut, Kirk pun membuat siasat – salah satunya bersekutu dengan Khan.

Laksamana Marcus pun menyusul Enterprise, dan sesampainya di zona netral, Laksamana Marcus mengontak Enterprise melalui USS Vengeance. Kirk diminta oleh Laksamana Marcus untuk menyerahkan Khan padanya. Namun, Kirk menolak dan memilih untuk membawa Khan ke bumi untuk diadili. Laksamana Marcus mengatakan jika Khan beserta kru nya adalah sosok yang berbahaya dan harus dimusnahkan.

Setelah seluruh fakta tersebut terungkap, kira-kira strategi apa yang dilakukan Kirk untuk meluruskan masalah yang terjadi di Starfleet?

Sekuel yang Semakin Kelam dan Emosional

Sekuel yang Semakin Kelam dan Emosional

Pada sekuel Star Trek Into Darkness, yang disajikan oleh Abrams CS benar-benar sesuai judulnya. Tidak hanya menyajikan musuh bebuyutan Starfleet – Khan, yang sudah lama dikenal bengis. Namun, Abrams Cs pun memberi sisi emosional yang gelap dari karakter Spock dan Kirk sendiri.

Rasa takut akan kematian, rasa marah akan rasa dendam, dan rasa sedih karena kehilangan, semua pertanyaan dan visual ini akan muncul di sekuel ini. Perasaan akan dibuat bagai naik roller coaster selama menonton film yang berdurasi dua jam ini. Bahkan, beberapa adegan yang disajikan selain lebih tegang, tidak sedikit adegan yang disajikan lebih bengis dari film sebelumnya.

Maka jika dikatakan sosok Khan adalah sosok penjahat bengis berdarah dingin, Abrams mengabulkan deskripsi tersebut dengan sangat baik. Kemudian, sosok Spock yang digambarkan sebagai bangsa Vulcan yang dingin dan tidak memiliki rasa emosi. Khusus di film ini, sosok Spock yang dingin mampu mengoyak-koyak emosi penonton karena karakternya yang lebih sensitif dan emosional dari sosok Spock yang seharusnya.

Banyak Adegan Re-Make dari Star Trek Sebelumnya

Banyak Adegan Re-Make dari Star Trek Sebelumnya

Bagi pecinta Star Trek klasik era William Shatner dan Leonard Nimoy, tentu akan merasa nostalgia dengan kalimat “I have been – and always shall be – your friend.”. Di sini, Abrams akan menyajikan kalimat dan setiap detail adegan dengan kondisi yang berbeda. Adegan ini pun kembali mengoyak emosi, seperti kembali menonton Star Trek II: The Wrath of Khan.

Tidak hanya itu, bahkan teriakan “Khaaaaan!” nya saja ikut dibawa dalam sekuel ini. Nostalgia pun semakin terasa saat Leonard Nimoy muncul kembali sebagai Spock versi masa depan untuk membantu Spock masa lalu menemukan cara untuk melumpuhkan Khan.

Sayangnya, walaupun ceritanya cukup rapi, rasanya menyembunyikan identitas Khan menjadi Harrison kurang berarti, bahkan bertele-tele. Pasalnya, ada atau tiadanya alter ego yang dibuat untuk menutup identitas Khan tidak memengaruhi jalan cerita yang sudah ada.

Apalagi, Star Trek adalah waralaba yang sudah berdiri berpuluh tahun lamanya, rasanya membuat plot twist dengan menggunakan karakter lama bukan formula yang bagus untuk meracik kejutan di cerita. Namun, untuk aspek lainnya, sekuel ini bisa dibilang lebih sempurna daripada film sebelumnya.

Sinematografi yang Apik dan Sangat Hidup

Sinematografi yang Apik dan Sangat Hidup

J. J. Abrams tentu bukan orang baru di ranah film aksi dan fiksi ilmiah. Sebelumnya, Abrams mengawali debutnya sebagai sutradara di film Mission Impossible III – dengan Alex Kurtzman dan Roberto Orci sebagai penulisnya. Kemudian setelah Star Trek, Abrams membuat Super 8, seluruh pengerjaannya tidak jauh dengan sinematografi yang kontras dan mulus. Maka, tidak sulit baginya untuk menghidupkan kembali Enterprise.

Bahkan di 10 menit pertama, penonton akan dipertontonkan dengan adegan penuh aksi yang mendebarkan. Bahkan aksi Spock di sini begitu kompleks – dan inilah awal dari diujinya persahabatan Spock dan Kirk, yakni Spock hampir menjemput ajal karena ledakan lahar gunung berapi yang akan beku.

Star Trek Into Darkness memiliki panel warna yang sedikit lebih muram dari film sebelumnya – lebih tepatnya pada adegan tertentu, seperti adegan di mana meledaknya Starfleet London. Setiap adegan yang ditampilkan pun terasa nyata dan detail – khususnya untuk penampakan setiap kapal seperti Enterprise dan Vengeance. Jadi, rasanya untuk masalah visualnya yang kontras, mulus, dan sangat nyata tidak perlu lagi ditanyakan bagi seorang J. J. Abrams.

Cerita yang emosional, kelam, dan kompleks adalah deskripsi yang tepat untuk sekuel dari Star Trek terbaru ini. Bagaimana menurut kamu? Apakah Star Trek ini layak bersaing dengan Star Trek II: The Wrath of Khan atau tidak?

Star Trek: Into Darkness
Rating: 
4.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram