bacaterus web banner retina

Review & Sinopsis Film Drama Comedy The Stand In (2020)

Ditulis oleh Aditya Putra - Diperbaharui 19 Mei 2021

Ada masa-masa ketika kita sedang dalam masalah atau kesulitan, kita ingin jalan keluar paling cepat. Nggak ada orang yang mau kalau masalahnya berlarut-larut. Sayangnya, jalan keluar yang cepat biasanya nggak menyelesaikan masalah secara keseluruhan. Bahkan nggak jarang memunculkan masalah baru. Cepat belum tentu tepat.

Masalah nggak pandang bulu untuk datang pada semua orang, termasuk yang berstatus orang terkenal. Candy Black yang profesinya seorang komedian sekali pun terlibat masalah di film The Stand In. Untuk menyelesaikannya, dia memilih cara cepat yang justru menimbulkan masalah. Seperti apa masalahnya? Simak review dan sinopsis filmnya ya!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Comedy, Drama
  • Produksi:  The Exchange, Flower Films, Ingenious Media, Polyphemus Productions
  • Sutradara: Jamie Babbit
  • Pemain: Drew Barrymore, Michael Zegen, T.J. Miller

Candy Black adalah seorang aktris yang terkenal karena bermain di film-film bergenre komedi. Salah satu frasanya yang paling terkenal adalah “Hit me where it hurts”. Frasanya sering digunakan ketika melakoni komedi slapstick. Penampilannya yang sering dilanda kesialan dianggap berhasil memancing tawa penonton.

Mendapat kesuksesan dengan cara yang sama membuat Candy merasa hambar. Dia kerap diminta untuk melakukan adegan-adegan yang sama di film-filmnya. Ketika syuting, dia mempersiapkan diri dengan mengonsumsi narkoba. Naasnya, dia membuat pemain lain celaka dan hampir membuatnya buta. Bukan itu saja, pemain penggantinya pun kena imbasnya.

Karena perilakunya, Candy mendapatkan tuntutan. Dia terancam hukuman penjara. Satu-satunya jalan untuk menghindarinya adalah dengan mengikuti rehab dan berkontribusi untuk kegiatan sosial. Dia setuju untuk menghindari penjara. Tapi untuk rehab, dia nggak mau sama sekali. Alhasil, dia meminta pemain penggantinya Paula untuk menggantikannya.

Selain membenci rehab dan enggan ikut kegiatan sosial, Candy ingin berdekatan dengan gebetannya Simon. Simon adalah pengrajin kayu yang berhasil mencuri perhatiannya. Perkenalannya lewat sebuah aplikasi membuat mereka rajin mengobrol. Bahkan perbedaan profesi nggak membuat Candy merasa terhalangi.

Berkurangnya pekerjaan membuat kondisi finansial Candy menurun. Tapi dia merasa bahagia dengan hidupnya yang jauh lebih sederhana. Sementara itu, Paula mulai menyukai perannya sebagai Candy. Walau harus melewati rehab dan sederet kegiatan lain untuk membersihkan nama Candy, dia nggak keberatan.

Karakter Candy yang mulai berubah menjadi positif menarik perhatian orang-orang. Dia menjadi lebih ramah dan bisa menghargai proses yang ditempuhnya. Tawaran bermain film pun mulai berdatangan lagi. Nggak ada yang tahu bahwa itu adalah Paula. Bahkan manajer Candy sekalipun nggak tahu. Baik Candy dan Paula merasa ada simbiosis mutalisme di antara mereka.

Candy merasa senang dengan kehidupan baru sebagai orang biasa sedangkan Paula dengan status selebriti yang dimilikinya. Walau begitu, Candy merasa Paula seharusnya nggak usah bermain di film ini pasalnya dia nggak mau kembali ke dunia hiburan yang dianggapnya toksik. Tapi Paula malah menerima tawaran.

Paula semakin menyukai sosoknya sebagai Candy yang mendapat banyak sorotan. Perlahan-lahan dia benar-benar ingin menjadi Candy secara keseluruhan termasuk ketika berurusan dengan Simon. Bisakah Candy yang sesungguhnya menunjukkan diri apa adanya? Ataukah dia akan menyerahkan semua karakternya untuk Paula?

Penampilan Total Drew Barrymore

Penampilan Total Drew Barrymore

Di film Stand-In, Drew Barrymore harus memerankan dua karakter sekaligus. Yang pertama adalah Candy, seorang selebritas yang tersangkut masalah. Yang kedua adalah Paula, aktris pengganti yang menerima sorotan setelah mengganti peran Candy di dunia nyata. Secara mendasar sifat keduanya berbeda dan itu yang membuat kedua karakter tersebut menarik.

Paula pada dasarnya adalah seorang perempuan biasa, nggak terkenal sama sekali. Kehidupannya jauh dari sorotan dan kemewahan. Dia berharap dengan bekerja bersama Candy, bisa menaikkan namanya dan menjadi bintang utama di film. Pencapaian dan profesi yang selalu diidam-idamkannya. Candy berbading terbalik kalau berbicara nasib dibandingkan dengan Paula.

Candy bisa berkarir di bidang film walau harus mengorbankan diri dengan berperan di adegan-adegan yang sial di filmnya. Kebosanan dan merasa dunia hiburan nggak semenyenangkan itu, dia mencari pengalihan lewat narkoba. Ternyata peran komedi di awal karirnya pun dia dapat secara nggak sengaja sehingga dia merasa terjebak.

Secara penampilan, kita akan bisa dengan mudah membedakan antara Candy dan Paula walau dimainkan oleh orang yang sama. Di awal, Candy diperlihatkan tampil lebih glamor sebagaimana seorang selebritas sedangkan Paula seperti orang biasa. Ketika masuk rehab, keduanya dibuat serupa. Yang membedakan hanyalah suara mereka.

Penampilan Paula dan Candy yang berbarengan dalam satu scene terlihat digarap dengan baik. Kesan keduanya mempunyai fisik yang mirip pun bisa terasa. Penggunaan teknologi untuk menunjang scene  tersebut terlihat mulus ketika ditonton. Menjadi salah satu nilai plus dalam film ini karena bukan hal yang mudah untuk dilakukan.

Cameo dengan Nama-Nama Besar

Cameo dengan Nama-Nama Besar

Kalau melihat deretan nama yang mengisi daftar pemain film The Stand In, nama Drew Barrymore menjadi satu-satunya yang punya reputasi besar dan panjang. Nama-nama lainnya cenderung kurang dikenali. Terlebih di film ini nggak banyak karakter lain yang mempengaruhi cerita bahkan bisa dibilang Drew yang mengangkat film ini.

Kurangnya nama besar di jajaran cast nggak berbanding lurus dengan deretan cameo. Ada Jimmy Fallon, Ellie Kemper, Andrew Ranells dan Linda Dunham yang ikut meramaikan film ini. Nama-nama yang terbilang jauh lebih besar dibanding pemain utama dalam film. Kalau melihat jalan ceritanya yang berlatar industri hiburan, sepertinya nama-nama besar itu memang diperlukan.

Nggak Ada Formula Baru

Nggak Ada Formula Baru

Film The Stand In mencoba mengangkat bagaimana ketenaran dirasakan oleh pelaku industri hiburan. Bagaimana ada perasaan tertekan dan kerasnya pengaruh popularitas ketika berkecimpung di dalam dunia itu. Penggunaan narkoba sebagai pelarian bagi Candy mungkin masih relevan hanya saja plot serupa sudah banyak digunakan.

Peran Candy yang digantikan Paula juga bukanlah sesuatu yang baru. The Switch pernah melakukannya sepuluh tahun lebih dulu. Bahkan sama-sama mengusung genre komedi. Dengan plot yang nyaris sama, sebagai penonton kita tentu mengharapkan ada kejutan atau sesuatu lain yang berbeda. Tapi, nggak ada formula baru yang membuat film ini terasa berbeda.

Nggak ada kejutan sama sekali dari segi cerita di film ini. Semua berjalan sesuai dengan perkiraan. Elemen kejutan yang nggak muncul juga terjadi dari sisi komedi. Komedi yang ditampilkan kurang banyak. Bahkan tipikal komedi yang dibuat seperti film ala Adam Sandler dirasa kurang bekerja untuk sebagian penonton.

Kekurangan di plot terasa ketika kita disuguhi karakter Candy yang seharusnya mengundang simpati tapi penggalian bagian dalam dirinya masih terasa dangkal, nggak cukup untuk bikin penonton menjadi simpati dan ikut merasakan yang dirasakan Candy. Cerita tentang tukar nasib dua karakter lebih ditonjolkan dibanding penggalian latar belakang masing-masing dari mereka.

The Stand In mencoba mengangkat isu relevan tentang industri hiburan yang terlihat hingar-bingar dari luar tapi menyimpan sisi gelap di dalamnya. Sayangnya, sisi gelap yang jadi topik utama kurang gelap karena selebritis dan narkoba sudah terlalu sering diangkat. Bagaimana menurutmu? Apakah film ini cukup menghibur untuk ditonton? Bagikan pendapatmu di kolom komentar, yuk!

The Stand In
5 / 10 Bacaterus.com
Rating

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram