Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Film Single White Female (1992)

Sinopsis dan Review Film Single White Female (1992)

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang wanita yang putus cinta menemukan banyak hal aneh pada teman sekamarnya yang baru saja pindah ke apartemennya. Film thriller yang bernuansa erotis dan menekankan pada sisi psikologis ini merupakan salah satu film thriller terbaik di era 1990an yang melambungkan karir Bridget Fonda dan Jennifer Jason Leigh, dua pemeran utamanya.

Single White Female merupakan adaptasi dari novel berjudul SWF Seeks Same karya John Lutz yang diterbitkan di tahun 1990. Sutradara asal Swiss Barbet Schroeder membesut film ini dengan memasang dua wajah cantik dan fresh di masanya, Bridget Fonda dan Jennifer Jason Leigh. Kami akan ulas film yang sudah bisa ditonton di layar Netflix sejak bulan Juli 2020 ini secara mendalam.

Sinopsis

Single White Female

  • Tahun: 1992
  • Genre: Drama / Thriller
  • Produksi: Columbia Pictures
  • Sutradara: Barbet Schroeder
  • Pemeran: Brdiget Fonda, Jennifer Jason Leigh

Allie Jones (Bridget Fonda) baru saja memutuskan kekasihnya yang ternyata masih berhubungan dengan mantan istrinya dan mengusir Sam (Steven Weber) dari apartemennya. Sementara itu, pekerjaannya sebagai desainer software baru saja mendapat sedikit pencerahan dengan adanya calon konsumen baru yang ingin menggunakan jasanya.

Atas saran Graham Knox (Peter Friedman), Allie memutuskan untuk mencari teman sekamar agar bisa berbagi sewa apartemennya yang luas itu. Setelah beberapa kandidat, akhirnya Allie memilih Hedra Carlson (Jennifer Jason Leigh), yang dipanggil Hedy, untuk menjadi teman sekamarnya setelah Hedy membantu Allie memperbaiki keran air yang rusak, dan mereka merasa cocok.

Ternyata, Hedy bersikap overprotective kepada Allie. Beberapa telpon dan surat dari Sam disimpannya dan tidak diberitahukan kepada Allie. Bahkan anjing peliharaan yang dibelinya lebih dekat kepada Allie ketimbang dirinya. Sementara itu, Allie sedang mempertimbangkan untuk kembali menerima cinta Sam yang sepertinya kali ini dia bersungguh-sungguh.

Merasa akan dicampakkan ketika Allie balikan dengan Sam, Hedy semakin tidak nyaman dan membuat hal-hal yang mencurigakan. Buddy, sang peliharaan, ditemukan terjatuh dari balkon apartemen dan Hedy menyalahkan Sam yang dikiranya sudah membenarkan pagar yang patah. Kemudian Allie menemukan jika Hedy memiliki beberapa pakaian yang sama dengan yang dimilikinya.

Di pekerjaannya, Allie menerima pelecehan seksual yang dilakukan oleh bosnya dan membuatnya stress. Hedy berusaha menenangkannya dengan mengancam bos Allie lewat telpon dan besoknya mengajak Allie ke salon. Allie kemudian kaget ketika melihat Hedy meniru model rambut Allie sehingga mereka terlihat mirip.

Ternyata Hedy berusaha untuk menjadi Allie, dan dia menggunakan identitas itu di sebuah klub malam dimana Allie menemukan Hedy disana menjadi dirinya. Di rumah, Allie menemukan kotak sepatu di lemari Hedy yang berisi surat-surat dari Sam untuknya juga foto-foto masa lalu Hedy dan beberapa guntingan berita peristiwa kecelakaan yang menimpa saudari kembarnya.

Allie berusaha meminta tolong kepada Graham untuk menangani Hedy, tetapi Hedy bertindak lebih cepat dengan menyerang Graham di kamar apartemennya. Setelah itu, Hedy diam-diam menyelinap ke hotel tempat Sam menginap dan bermalam disana yang disangka oleh Sam dia adalah Allie. Hedy mengancam Sam agar menjauhi Allie, tapi Sam menolak dan Hedy pun membunuh Sam dengan sepatunya.

Allie baru mengetahui kematian Sam dari berita di TV dan ketika hendak menyerang Hedy malah Allie disekap oleh Hedy. Ketika boss Allie berusaha bertemu dengannya karena software yang digunakan ternyata terhapus secara otomatis karena pembayaran yang telat, dia sempat bertarung dengan Hedy untuk menyelamatkan Allie, tetapi dia pun tidak bisa menangani Hedy dan tertembak.

Graham yang sadar dari pingsannya pun berusaha menolong Allie, tetapi dia hanya bisa menghambat beberapa saat saja. Kemudian Hedy membawa Allie ke gudang di basement apartemen dan mencekik Allie. Dikira sudah tewas, ternyata Allie menghilang saat Hedy hendak mengangkut Allie. Terjadi pertarungan antara mereka yang pada akhirnya menewaskan Hedy dengan luka tusukan di punggungnya.

Di epilog, Allie menceritakan jika dirinya berusaha move on. Dia memaafkan Hedy atas tewasnya Sam, dan berusaha memaafkan dirinya telah membunuh Hedy, karena dia merasa kematian Hedy adalah kesalahannya juga. Di akhir film terlihat foto wajah Allie dan Hedy yang dijadikan satu.

Hati-Hati dengan Teman Sekamarmu!

Hati-Hati dengan Teman Sekamarmu

Premise film Single White Female memang cukup menjanjikan, menerima roommate yang ternyata seorang psikopat kambuhan. Sisi psikologis yang diungkit cukup baik dan dipaparkan dengan logis meski tetap dalam ritme kemisteriusan. Tentunya kita pun tidak pernah tahu latar belakang kejiwaan roommate kita jika tidak mengetahui dia lebih dalam atau kenal lebih lama.

Hal inilah yang terjadi pada Allie dimana dia tidak tahu-menahu tentang masa lalu Hedy secara utuh. Apalagi Hedy banyak menyimpan misteri dibalik kebohongan demi kebohongan yang dia lakukan. Dalam bidang psikologi, karakter Hedy ini menderita borderline personality disorder, dimana ciri-cirinya adalah dia mencoba meniru identitas orang lain untuk dipakai olehnya, baik fisik maupun sifatnya.

Dalam film, sedikit demi sedikit kita diperlihatkan jika Hedy perlahan-lahan meniru Allie, mulai dari cara berpakaian, gaya hidup, dan akhirnya meniru secara fisik dengan model rambut yang sama. Dan semua ini dia gunakan untuk bersosialisasi dengan menggunakan identitas Allie, bahkan security hotel tempat Sam menginap pun menyangka jika Hedy adalah Allie.

Perkara ini kemungkinan besar karena rasa kehilangannya terhadap saudara kembarnya di masa kecilnya, diungkapkan ketika dia berusia sembilan tahun dalam sebuah kecelakaan yang membuat saudari kembarnya itu tenggelam di danau. Hal ini memicu gangguan di dalam jiwanya, yang disitir oleh ayahnya karena dia merasa bersalah atas kecelakaan tersebut.

Kesuksesan Film di Atas Kritikan yang Pedas

Kesuksesan Film di Atas Kritikan yang Pedas

Saat film ini dirilis, Single White Female menempati urutan kedua di tangga box-office tepat di bawah film western Unforgiven yang memuncaki pendapatan terbanyak saat itu. Pada akhirnya, film ini mengumpulkan pendapatan total di Amerika Utara saja sebesar $48 juta. Mayoritas penonton merasa puas dengan penampilan kedua aktris utamanya, terutama Jennifer Jason Leigh.

Atas performa aktingnya yang misterius dan menakutkan, Jennifer Jason Leigh berhasil memenangkan penghargaan dari MTV Movie Award untuk kategori Best Villain. Seperti yang kita ketahui, pemenang MTV Movie Award didapat dari hasil polling para pemirsanya. Artinya, generasi anak muda MTV di tahun tersebut sangat terkesan dengan akting antagonist khas Jennifer Jason Leigh di film ini.

Memang banyak sekali cibiran dan kritikan pedas yang mengarah ke film arahan Barbet Schroeder ini, seperti RottenTomatoes mengatakan jika film ini bagus karena akting kedua aktrisnya, tetapi mereka menilai naskahnya yang berada diantara tensi yang tegang sekaligus konyol. Begitupun dengan beberapa reviewer lainnya yang memberikan penilaian untuk film ini termasuk kategori film kelas B.

Memang ada beberapa kerancuan dalam naskah yang termasuk kategori konyol menurut kritikus film. Salah satunya adalah penyelesaian akhir ketika Allie bertarung dengan Hedy di basement. Dari awal film kita tidak pernah melihat Allie tangkas secara fisik, tetapi di pertarungan itu, dia bisa menusukkan pisau ke punggung Hedy dalam posisi kaki menggantung di pipa di langit-langit basement!

Tapi kekonyolan di film ini masih dalam kadar bisa masuk akal jika dibandingkan dengan sequel-nya, Single White Female 2: The Psycho [2005], yang bukan kelanjutan dari kisah film pertamanya dan dirilis dalam format video. Film ini dikritik habis-habisan tetapi menjadi keuntungan film pertamanya yang terbukti tampil lebih baik. Saran saya, tidak usah mencari info atau menonton film sequel-nya, ya!

Pada akhirnya, Single White Female adalah sebuah thriller yang cukup baik dan terangkat berkat performa akting Bridget Fonda dan Jennifer Jason Leigh yang bersinergi satu sama lainnya.

Meski sebenarnya bisa tampil lebih baik lagi dari sisi naskah, kita tidak bisa menyalahkan, karena memang dari sumber novelnya sudah seperti itu. Untuk mengisi waktu luang, menonton film ini tidak akan mengecewakan.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *