bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Serial Snowpiercer Season 1 (2020)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 18 September 2021

Serial Snowpiercer didasarkan pada film produksi Korea Selatan – Ceko dengan judul sama rilisan tahun 2013. Versi film tersebut digarap oleh sutradara Bong Joon-Ho, dan dibintangi oleh aktor pemeran Captain America, Chris Evans, yang memerankan karakter pemimpin kelompok revolusi bernama Curtis Everett. Di dalam serial ini, Bong Joon-Ho juga ikut terlibat dengan bertindak sebagai produser eksekutif.

Sama seperti versi filmnya, serial ini juga tetap menceritakan sebuah kereta raksasa yang terus melaju mengelilingi dunia membawa sisa-sisa umat manusia setelah Bumi menjadi gurun yang membeku. Serial Snowpiercer juga masih mengeksplorasi isu kesenjangan kelas sosial, politik untuk bertahan hidup, dan peperangan antar kelas sosial.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2020
  • Jumlah Episode: 10
  • Genre: Post-apocalyptic dystopian thriller
  • Rumah produksi: Groenlandia
  • Sutradara: James Hawes, Sam Miller, Frederick E.O. Toye, Helen Shaver, dan Everardo Gout
  • Pemeran Utama: Jennifer Connelly, Daveed Diggs, Mickey Sumner, Alison Wright, dan Iddo Goldberg

Bumi di dalam serial Snowpiercer digambarkan memiliki suhu minus 119 derajat celcius. Dengan kondisi seperti itu, permukaan Bumi menjadi gurun beku, dan dingin. Sementara itu, seorang miliarder bernama Wilford membangun sebuah kereta api besar terdiri dari 1001 gerbong, yang mampu melaju untuk terus mengelilingi dunia agar para penumpangnya bisa bertahan hidup.

Namun, gerbong kereta api tersebut dipisahkan berdasarkan kelas sosial para penumpangnya masing-masing. Semua penumpang tidak boleh keluar dari kereta jika masih ingin terus hidup, karena jika mereka pergi dengan sengaja maupun tidak, maka mereka tidak boleh masuk lagi ke dalam kereta.

Ada dua kelompok paling mencolok yang berada di dalam kereta, yang pertama adalah para penumpang kelas sosial atas, dan mereka tinggal di gerbong yang memiliki fasilitas mewah dan serba ada. Di lain sisi, para penumpang kelas sosial bawah hidup sebaliknya, mereka mendapatkan layanan fasilitas buruk, dan serba kekurangan.

Karena kesenjangan sosial itulah mulai muncul pemberontakan dari para penumpang kelas bawah. Mereka kemudian menginginkan kehidupan dan fasilitas yang setimpal sama seperti para orang-orang yang berada di kelas atas. Usaha pemberontakan tidak mudah karena mereka mesti berhadapan dengan para penjaga keamanan yang sangat banyak, terorganisir, dan kuat.

Dari masalah itu, Andre Layton, mulai menunjukan dirinya sebagai seseorang yang disegani oleh para penumpang kelas bawah. Ia lambat laun didapuk sebagai pemimpin revolusi oleh semua penumpang di gerbong belakang atau kelas bawah. Sebelum tragedi menimpa Bumi, Layton sendiri sebelumnya adalah seorang mantan detektif yang cukup cerdik.

Layton kemudian bertemu dengan seorang petugas HUMAS kereta api bernama Melanie Cavill. Sosok perempuan cantik tersebut terlihat misterius, namun di satu sisi ia menaruh simpati kepada para penumpang yang berada di gerbong belakang. Melanie bisa dibilang menjadi tangan kanannya Wilford, dan berusaha untuk tetap merahasiakan identitas asli dari sang kreator kereta api tersebut.

Suatu hari, ada rangkaian peristiwa pembunuhan misterius yang terjadi di dalam kereta api. Dengan agak terpaksa, Layton kemudian membantu Melanie untuk menyelesaikan kasus tak terduga tersebut. Seiring berjalannya waktu, Melanie kemudian diketahui sebagai salah satu arsitek yang merancang, dan menciptakan kereta api yang diberi nama Snowpiercer ini.

 Tidak Lebih Baik dari Versi Filmnya

Mengingat tema ceritanya mempunyai ruang lingkup secara global, serial Snowpiercer seharusnya memilki momentum yang baik di tahun 2020 kemarin, dimana seluruh dunia dilanda pandemi virus corona, dan bahkan sampai sekarang. Tetapi, serial ini belum menjadi tontonan yang mengesankan di masa-masa tidak pasti tersebut, terutama episode pertamanya yang kurang impresif.

Serial ini bukan hanya mengadaptasi dari film Bon Joon-Ho di tahun 2013 kemarin, tapi juga didasari pada novel grafis asal Prancis berjudul Le Transperceneige, dibuat oleh Jacques Lob dan Jean-Marc Rochette pada tahun 1982. Konsep ceritanya pun tetap sama, setelah perubahan iklim yang ekstrim di Bumi, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah dengan menaiki Snowpiercer.

Para penumpang yang tinggal di gerbong paling belakang disebut dengan Tailies. Mereka tinggal di tempat yang kotor, dan suram. Para Tailies berasal dari latar belakang yang berbeda, dan di Snowpiercer mereka mesti tinggal di hierarki paling rendah dalam kelas sosial ekonomi. Mereka diberi makanan seadanya, tidak ada perawatan medis jika sakit, dan tidak ada tempat tidur yang sangat nyaman.

Sementara itu, di bagian paling depan adalah para penumpang pemegang tiket kelas satu. Mereka disuguhi ruangan pribadi yang bagus, makanan paling enak, dan fasilitas-fasilitas mewah lainnya yang tidak pernah dimiliki oleh Tailies.

Dua kondisi sosial tersebut digambarkan dalam sebuah bentuk metafora besar dan satir di sepanjang 10 episode yang ditayangkan. Di lain sisi, dengan adanya Bon Joon-Ho sebagai produser eksekutif, serial ini setidaknya mampu menyamai ritme cerita dari versi film garapannya itu. Kerangka narasinya secara umum mirip, serialnya pun memiliki cakupan yang lebih besar, tapi eksekusi ceritanya kurang berkesan.

Meskipun begitu, tetap saja, Snowpiercer bukanlah serial yang sepenuhnya buruk, tapi tidak terlalu bagus juga. Jadi, serial ini sebenarnya bisa saja, tidak melebihi keseruan yang terdapat pada versi filmnya. Serial Snowpiercer masih memiliki daya tarik karena acara ini mengeksplorasi kondisi Bumi paska-apokaliptik lewat isu kesenjangan sosial, yang nampaknya masih relevan dengan situasi dunia sekarang.

Menambahkan Bumbu Pembunuhan Misterius

Aktor Daveed Diggs memerankan sosok Andre Layton, yang juga merupakan seorang detektif sebelum Bumi dilanda bencana. Di serialnya ini, ia mengambil versi alternatif dari peran yang ditempati oleh Chris Evans dalam versi filmnya sebagai pemimpin kelompok Tailies. Sementara itu, Melanie Cavill diperankan oleh aktris Jennifer Connelly, yang pernah meraih Oscar untuk kategori Aktris Pendukung Terbaik di film A Beautiful Mind (2002).

Karena Andre mempunyai pengalaman sebagai detektif, itulah sebabnya Melanie, atas perintah dari Wilford, menariknya dari gerbong kereta belakang, dan memintanya untuk menyelidiki kasus rentetan pembunuhan yang terjadi di dalam kereta api. Korban dari peristiwa tersebut rata-rata dibunuh dengan cara yang kejam, dan terkadang terlihat menjijikan.

Di dalam kereta Snowpiercer, Andre menjadi satu-satunya orang yang mumpuni untuk menyelesaikan kasus tersebut. Orang-orang kaya, dan terdidik di kelas atas nyatanya tidak bisa berbuat apa-apa yang signifikan. Selain dihantui pembunuhan misterius, para penumpang dan petugas kereta api paling tidak terdampak klaustrofobia karena sudah lama tidak melihat matahari, dan merasakan kehangatannya.

Meski membawa tema sosial, dan politik, serta fiksi ilmiah, serial Snowpiercer menambahkan bumbu pembunuhan misterius agar jalan ceritanya semakin menarik. Sebagai sebuah serial yang cakupannya sangat luas, pendekatan tersebut terbilang lumrah, dan wajar. Hal itu tentunya berbeda dengan versi filmnya yang lebih “masuk akal”, dengan jalan ceritanya yang tanpa bertele-tele.

Peristiwa pembunuhan misterius hingga pengungkapannya mendominasi paruh pertama dari 10 episode yang ditayangkan. Serial ini sedari awal memang sudah mencoba untuk unjuk gigi, meski tampi sedikit canggung, dan kurang berkesan. Tapi, karakter yang dimainkan oleh Diggs sebagai Andre serta Connelly sebagai Melanie lambat laun mulai berkembang di setiap episodenya.

Lebih Solid di Bagian Akhir

Lebih Solid di Bagian AkhirSumber: cosmo.ph

Selepas menyelesaikan peristiwa pembunuhan misterius di paruh pertama, serial ini lebih menggigit pada paruh keduanya hingga menjelang episode terakhir. Pada bagian tersebut, cerita lebih banyak berfokus pada perencanaan revolusi atau aksi pemberontakan yang akan dilakukan oleh Andre bersama para Tailies.

Selain itu, fokus ceritanya pun tidak hanya berpusat pada perencanaan tersebut, tapi ada penambahan konflik lainnya yang membuat alurnya semakin menarik. Andre harus berhadapan dengan konflik pengkhianatan yang terjadi disekelilingnya, pengungkapan sebuah rahasia besar, hingga adanya adegan tambahan tentang kerusakan kereta api yang membuat alurnya semakin menegangkan.

Meskipun ada beberapa kekurangan dalam paruh kedua di serial ini, tetapi bagian akhir di season 1 Snowpiercer terasa lebih seru, dan bergerak lebih cepat. Semuanya mencoba untuk solid, dan berusaha agar memperlihatkan adegan yang istimewa seperti dalam versi filmnya.

Serial ini memang tidak lebih mengesankan daripada filmnya sendiri, yang di situs Rotten Tomatoes mendapatkan ulasan Fresh dengan peringkat 94%, dan nilai 8.10/10. Di dalam situs yang sama, serial ini pun sebenarnya tidak terlalu buruk karena memiliki peringkat 61% dengan nilai 6.33/10. Dari hasil situs yang kredibel tersebut, serial Snowpiercer season 1 masih sangat seru untuk dinikmati hingga akhir.

Snowpiercer Season 1
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram