bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Serial Anime Pacific Rim: The Black

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 29 Agustus 2021

Pacific Rim: The Black merupakan serial anime yang diproduksi oleh perusahaan dari Amerika Serikat, Legendary Television, dan dianimasikan oleh studio Jepang, Polygon Pictures. Serial ini dikembangkan oleh Greg Johnson, dan ditulis oleh penulis komik Craig Kyle, yang kemudian dirilis pada layanan streaming Netflix di tanggal 4 Maret 2021.

Anime ini juga secara langsung didasarkan pada franchise film Pacific Rim garapan Guillermo del Toro di tahun 2013 lalu. Pacific Rim: The Black bisa dikatakan menjadi penawar rindu bagi para penggemar yang ingin mengikuti kelanjutan peperangan antara robot Jaeger melawan monster Kaiju, yang menyerang Bumi.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2021
  • Genre: Mecha
  • Jumlah episode: 7
  • Rumah produksi: Legendary Television
  • Sutradara: Takeshi Iwata, Susumu Sugai, dan Masayuki Uemoto
  • Pengisi suara: Calum Worthy, Gideon Adlon, Victoria Grace, dan Andy McPhee

Benua Australia kini porak poranda karena monster kuat bernama Kaiju sekarang telah mendiami keseluruhan wilayah tersebut. Sementara itu, di sebuah fasilitas bawah tanah Pan-Pacific Defense Corps (PPDC) yang bobrok, saudara kandung Taylor dan Hayley Travis ditinggalkan sementara waktu oleh kedua orang tuanya, dua pilot robot Jaeger, yang pergi untuk mencari bantuan di Kota Sydney.

Beberapa tahun kemudian, Taylor dan Hayley beserta para penyintas berhasil membangun sebuah komunitas pemukiman di tempat tersebut, yang letaknya berada di sebuah gurun. Suatu hari, Hayley secara tidak sengaja menemukan sebuah robot Jaeger pelatihan tanpa senjata bernama Atlas Destroyer.

Ketika Hayley mengaktifkan Jaeger Atlas Destroyer, hal itu secara langsung menarik perhatian dari seekor Kaiju bernama Copperhead. Pemukiman tersebut lalu dihancurkan oleh Copperhead, dan membunuh semua penyintas yang ada. Taylor selanjutnya bergabung masuk ke dalam Jaeger, dan ia membawa adiknya untuk melarikan diri ke Sydney dari kejaran Copperhead.

Di Kota Sydney, mereka juga berusaha mencoba menemukan kedua orangtuanya, yang tidak kembali lagi sejak kepergiannya waktu itu. Dalam perjalanannya, Taylor dan Hayley secara bertahap mempelajari cara mengemudikan Jaeger dengan bantuan dari sistem Kecerdasan buatan (AI) milik Atlas Destroyer bernama Loa.

Mereka selanjutnya mencapai Kota Meridian, tetapi sel daya Jaeger habis, yang mengakibatkan robot tidak bisa digerakan. Keduanya kemudian menemukan baterai baru untuk Atlas Destroyer di sebuah fasilitas Pan-Pacific Defense Corps. Di sana, keduanya juga menemukan satu tabung berisi cairan, yang didalamnya ada seorang anak laki-laki.

Setelah mengeluarkannya dari tabung, anak laki-laki yang tidak bisa berbicara itu kemudian diberi nama Boy oleh Hayley. Ketiganya kemudian melarikan diri dari tempat tersebut karena dikejar-kejar olah Kaiju berbentuk anjing.

Mereka kemudian bertemu dengan penyintas lainnya, Rickter dan Mei, yang sedang mengumpulkan telur Kaiju di sebuah sungai. Kegiatan keduanya lalu terdeteksi oleh Kaiju, yang langsung menyerang mereka. Namun, Kaiju tersebut berhasil dikalahkan dengan granat, dan peluncur roket.

Rickter dan Mei, membawa Taylor, Hayley serta Boy ke pemukiman mereka. Pemimpin mereka, Shane, memperdagangkan telur Kaiju dengan seorang pria bernama Fernando untuk mendapatkan imbalan berupa komponen suku cadang dari Jaeger. Shane ternyata bukanlah pria baik-baik, dan ia berencana mengambil Jaeger milik Taylor, Hayley, yang ada di Kota Meridian.

Berbeda dengan Dua Film Live-Action Pacific Rim

Berbeda dengan Dua Film Live-Action Pacific Rim

Franchise film Pacific Rim, yang pernah digarap oleh Guillermo del Toro, dan Steven S. DeKnight (Pacific Rim: Uprising) telah melakukan lompatan ke serial anime dengan adanya Pacific Rim: The Black di Netflix. Meskipun begitu, Del Toro, dan DeKnight tidak terlibat lagi dalam produksi serial anime ini, dan proses pengembangan kreatif dipimpin oleh Greg Johnson serta Craig Kyle.

Meskipun serial ini menyandang judul yang sama, Pacific Rim: The Black tidaklah memiliki tone yang sama dengan kedua film live-action yang sudah ada. Sisi humor, dan penggambaran karakter heroik masih belum ditonjolkan pada musim pertama serial anime ini.

Pacific Rim: The Black season pertama ini masih menawarkan premis yang sederhana, dan tidak rumit. Secara singkatnya, serial anime ini sebuah kisah tentang bertahan hidup, dimana pilot Jaeger Atlas Destroyer, Hayley Travis (Gideon Adlon), dan Taylor Travis (Calum Worthy) berusaha menemukan orang tua mereka di Australia yang dipenuhi Kaiju.

Kaiju adalah ancaman berbahaya yang membayangi mereka karena bisa membuat segala rencana apa pun menjadi kacau. Selain memfokuskan kepada permasalahan Kaiju, anime ini juga membagi konflik dengan memberikan fokus kepada sosok penjahat, Shane, yang mengendalikan pasar gelap Australia.

Konflik antar manusia, yang disajikan dalam Pacific Rim: The Black, cukup baik memberikan kesan psikologis daripada pertempuran bombastis berskala besar ketika melawan Kaiju. Lewat adanya nuansa psikologis tersebut, anime ini terasa sedikit lebih membumi daripada dua film pendahulunya di layar bioksop.

Terlihat Lebih Segar dan Menarik

Terlihat Lebih Segar dan Menarik

Atmosfer Pacific Rim: The Black sedikit mengingatkan kita akan anime-anime Jepang yang terkenal seperti Neon Genesis Evangelion, Gundam, maupun Patlabor. Serial anime ini juga kembali menghidupkan “dongeng” lama budaya populer genre mecha, dimana para pasukan robot, yang dikendalikan oleh prajurit manusia, kembali melawan monster Kaiju, yang berasal dari dunia alternatif di Bumi.

Selama tujuh episode di serial ini, The Black cukup baik mengambil referensi materi dari film Pacific Rim live-action, dan menjalankan ceritanya dengan arah yang cenderung lebih fresh serta menarik. Cerita di anime ini juga mempunyai taruhan yang lebih tinggi, dimana umat manusia terlihat lebih putus asa, dan segala sesuatunya lebih suram daripada yang disajikan di film Pacific Rim versi layar lebar.

Di bagian yang lain, Pacific Rim: The Black menyuguhkan animasi cantik, yang berhasil menghidupkan visual Jaeger, dan Kaiju. Dalam beberapa lokasi pertempuran di antara keduanya, lingkungan yang menjadi latar duel terlihat memukau, sekaligus mendebarkan karena mereka bertarung sangat intens. Apalagi, duel diantara Atlas Destroyer dengan Copperhead akan menjadi klimaks ketika berada di akhir episode.

Walaupun begitu, animasi karakter manusia, yang diperlihatkan oleh The Black, terasa sedikit kaku. Namun, hal itu rasanya bisa dimaklumi karena keseluruhan jalan ceritanya terlihat bagus. Untungnya juga, para pengisi suara tampil tidak terlalu buruk dengan dialognya, dan mereka sangat cocok lewat peran karakter masing-masing yang dimainkan.

Solid dan Penuh Aksi Destruktif

Solid dan Penuh Aksi Destruktif

Setelah film Pacific Rim: Uprising (2018), yang mendapatkan ulasan kurang memuaskan, franchise film ini membutuhkan gebrakan baru agar mempunyai sebuah konten serupa yang lebih solid dibandingkan sebelumnya. Adanya anime Pacific Rim: The Black tentunya membawa efek cukup berarti, dan membuat kisah Jaeger melawan Kaiju jauh menarik lewat tema cerita yang lebih membumi, dan sedikit suram.

Walaupun The Black masih mempunyai kekurangan di sana-sini, tetapi serial ini cukup baik dalam menampilkan sesuatu yang hebat diantara Jaeger serta Kaiju. Rasanya, para penonton yang menyukai versi film layar lebar Pacific Rim akan dapat langsung terpikat dengan serial anime ini.

Pacific Rim: The Black juga berhasil mempertahankan elemen penuh aksi destruktif dengan skala kehancuran tingkat tinggi. Anime ini pun memberikan pendekatan yang lain dengan menonjolkan kisah drama keluarga yang rapuh diantara Taylor serta Hayley. Kedua hal itu benar-benar dieksplorasi sedikit lebih baik, dan menjadikan The Black mempunyai atmosfer kesedihan hingga kesuraman.

Taylor, dan Hayley kerap menyalahkan diri mereka sendiri atas banyak kesalahan yang terjadi. Tetapi, mereka juga saling membantu membawa beban emosional ini, serta menolong orang lain hanya untuk mengatasi perasaan trauma yang mereka miliki.

Pacific Rim: The Black secara garis besar memiliki alur yang cukup lambat, dan kita yang menontonnya membutuhkan beberapa episode untuk bisa larut ke dalam jalan ceritanya. Namun, ketika kita sudah menemukan intinya, serial anime ini akan terasa emosional, dan akan semakin unjuk gigi menuju akhir-akhir episode.

Pacific Rim: The Black
Rating: 
3.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram