Sinopsis & Review Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi
3.3
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Film-film romansa anak muda yang terinspirasi dari novel, belakangan memang cukup banyak peminatnya. Salah satunya adalah Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020), yang disutradarai oleh Lasja F. Susatyo. Film yang dibintangi oleh Jefri Nichol dan Aurora Ribero ini diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Boy Candra.

Filmnya sendiri mengisahkan hubungan asmara yang terjanggal friendzone, tapi yang bikin berbeda film ini penuh dengan puisi roman. Makanya Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020) akan membuat penontonnya terbuai dengan alunan puisi dan kisah melodrama yang disuguhkan.  Film yang ditayangkan di Netflix ini, menjadi film straight-to-streaming keempat Indonesia tanpa tayang di bioskop lho.

Lalu bagaimana kisah cinta dan persahabatan yang dijalani oleh Aurora Ribero dan Jefri Nichol ini? Makanya jangan sampai ketinggalan, kamu bisa membaca sinopsis dan review film Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020) di bawah ini.

Sinopsis

Review Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Romantic, Comedy, Melodrama
  • Sutradara: Lasja F. Susatyo
  • Pemeran: Jefri Nichol, Aurora Ribero, Axel Matthew Thomas
  • Produksi: IFI Sinema, Screenplay Films

Sudah bersahabat sejak kecil, Nara (Aurora Ribero) dan Kevin (Jefri Nichol) selalu bersama hingga kuliah pun di satu universitas yang sama. Hari itu seperti biasa Kevin membeli ice cream yang sudah biasa ia berikan pada Nara. Sementara si gadis tengah menikmati alunan musik sambil menari kecil, sepanjang perjalanan menuju kelasnya.

Terlalu menikmati suasana, Nara sampai tidak sadar ia hampir saja tertimpa oleh seorang pria yang tengah terjun dari arena sport climbing. Untungnya Kevin datang di waktu yang tepat, Nara berhasil selamat meski ice cream miliknya harus jadi korbannya. Kejadian ini menimbulkan perselisihan yang cukup sengit, hingga satu perkataan Nara seakan menyadarkan Kevin.

Ia kembali tersadar, bahwa dirinya dan Nara hanyalah sebatas sahabat karib dan tidak lebih dari itu. Tidak bisa dipungkiri bahwa Kevin memang menaruh hati pada Nara, sayangnya ia tidak pernah berani mengatakannya. Padahal perasaan ini sudah ada semenjak mereka SMA, tapi hubungan ini tidak pernah berubah selain hubungan persahabatan.

Kevin sudah terbiasa menahan perasaannya, pasalnya Nara memang gadis yang mudah sekali untuk jatuh cinta. Tapi hubungan yang dilakukannya selalu saja berakhir mengenaskan, alhasil Nara akan menangis di pundak Kevin. Untuk mengobati rasa sedih Nara, mereka selalu makan ice cream bersama baik di kafe atau di manapun.

Kevin bahagia ketika Nara mengatakan, bahwa ia akan berubah dan tidak akan mudah jatuh cinta lagi. Namun tak lama setelah itu, Nara malah terlihat akrab dengan pria yang hampir membuatnya celaka di arena sport climbing. Pria itu bernama Juned (Axel Matthew Thomas), yang selalu terlihat dingin dan arogan itu malah berhasil menarik perhatian Nara.  

Untuk kesekian kalinya Kevin kembali merasakan patah hati, apalagi hubungan Nara dan Juned terlihat makin serius. Hingga di hari ketika Nara menceritakan soal hubungan asmaranya, hari itu Kevin berkata bahwa ia akan mengikuti semua keinginan Nara. Kevin akan berpacaran dengan Tiara, tapi ia hanya menitipkan hatinya pada Nara dan tidak peduli dengan lainnya. Apakah ini akhirnya?

Kisahnya Indah, Hanya Kurang Mengena di Hati Penonton

Kisahnya Indah, Hanya Kurang Mengena di Hati Penonton

Sepertinya sudah bukan rahasia umum lagi, kalau hubungan persahabatan antara perempuan dan laki-laki pasti tidak akan berhasil. Inilah yang sedang dirasakan oleh Kevin, ketika pria ini harus terus menahan perasaannya pada Nara. Hanya karena mereka sudah berjanji, akan menjadi “best friend forever” yang saling mendukung dan selalu ada.

Meski terkesan klise, saya menyukai bagaimana film ini menunjukkan realita yang ada secara gamblang. Sayangnya plot yang diberikan terasa seperti terpenggal-penggal, saya beberapa kali menemukan jalan cerita yang dipotong dan sudah membahas hal lain. Apalagi ending scene-nya malah bikin sepanjang cerita dalam film ini jadi tidak berarti, karena masalah selesai begitu saja.

Makanya ceritanya terasa cukup cepat, hal ini jadi mempengaruhi pengembangan karakter para pemainnya. Selain itu film ini tidak memiliki peran antagonis, bikin kesan melodrama makin terasa tapi kurang membekas. Alhasil plot yang datar ini kurang bisa menggugah perasaan, padahal beberapa scene di akhir benar-benar sangat bagus dan jadi plot twist tak terduga.

Kalau bicara soal sinematografi, saya akan mengatakan bahwa film ini memiliki sinematografi yang sangat indah. Apalagi adegan hujan dan di air terjun, saya menyukai komposisi gambar dan suasana yang dipilih. Benar-benar bikin akting dan kemistri para aktornya terlihat lebih memukau, tata musiknya berhasil memberikan iringan yang pas dan menghanyutkan suasana.

Pesona dari Kedua Pemeran Utamanya

Pesona dari Kedua Pemeran Utamanya

Seperti Hujan yang Jatuh ke Bumi (2020) bisa saya katakan adalah film percintaan remaja yang cukup menghibur. Tapi alasan dibalik pernyataan ini bukan karena alur cerita dan premisnya, saya justru ingin memuji para pemeran utamanya. Pertama untuk Aurora Ribero, bagi saya gadis ini berkembang sangat pesat dari Raja dan Ratu (2018).

Saya bisa melihat bagaimana Aurora sudah lebih matang untuk bisa mempelajari karakter yang diperankan. Memang karakter Ratu dan Nara bisa dikatakan agak mirip, namun dengan kualitas akting dan penjiwaan yang cukup signifikan perubahannya. Sorot mata yang diberikannya, tidak lagi hanya mengandalkan sorot mata yang sendu.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram