Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Schindler’s List, Kekejaman Holocaust

Sinopsis dan Review Schindler’s List, Kekejaman Holocaust

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Polandia dikuasai oleh Nazi Jerman saat Perang Dunia II, dimana seorang pengusaha bernama Oskar Schindler bersimpati pada para pekerjanya yang berdarah Yahudi setelah melihat berbagai persekusi yang dilakukan oleh Nazi kepada mereka.

Film drama bersejarah ini adalah salah satu film terbaik yang pernah diproduksi dalam dunia sinema yang disutradarai oleh sineas berdarah Yahudi, Steven Spielberg.

Schindler’s List dibintangi oleh Liam Neeson, Ralph Fiennes, dan Ben Kingsley dalam sebuah film yang menggunakan presentasi hitam-putih agar lebih dekat kepada nuansa kelam yang ingin ditampilkan.

Tentunya, film ini meraih banyak penghargaan dan review yang penuh dengan pujian setinggi langit akan kualitas film yang diadaptasi dari novel Schindler’s Ark karya Thomas Keneally yang terbit di tahun 1982.

Cara apa saja yang ditempuh oleh Oskar untuk menyelamatkan para pekerja Yahudinya dari pemusnahan tak manusiawi yang dijalankan oleh Nazi? Kami akan bahas lebih mendalam tentang film yang sudah bisa disimak di layar Netflix ini.

Sinopsis

Schindler's List

  • Tahun: 1993
  • Genre: Biography / Drama / History
  • Produksi: Universal Pictures, Amblin Entertainment
  • Sutradara: Steven Spielberg
  • Pemeran: Liam Neeson, Ralph Fiennes, Ben Kingsley

Krakow, sebuah kota di Polandia, saat Perang Dunia II dikuasai oleh Nazi Jerman. Misi Nazi disana adalah memusnahkan bangsa Yahudi yang memang populasinya banyak di Polandia. Oskar Schindler (Liam Neeson), seorang pengusaha berdarah Jerman yang berasal dari Chekoslowakia berusaha mendekati para pejabat militer Nazi yang biasa dikenal dengan SS.

Lewat berbagai macam pesta yang meriah, Oskar berhasil masuk ke lingkaran pejabat SS dan dipanggil “Herr Direktor” oleh mereka. Dengan koneksi mereka, Oskar berhasil membuat sebuah perusahaan yang memproduksi panci dan berbagai perangkat perak dengan tenaga kerja bangsa Yahudi karena upah mereka murah.

Seorang akuntan berdarah Yahudi, Itzhak Stern (Ben Kingsley), dipercaya oleh Oskar untuk menjalankan perusahaannya. Itzhak merekomendasikan beberapa tahanan Yahudi di kamp Nazi untuk bekerja di perusahaan tersebut, mulai dari anak kecil hingga orang tua, dari yang berfisik kuat hingga yang memiliki kekurangan fisik.

Semua dilakukan oleh Itzhak untuk menyelamatkan bangsanya dari kamp konsentrasi. Awalnya Oskar tidak setuju dengan konsep yang ditawarkan Itzhak, tetapi setelah melihat kesadisan penyiksaan di kamp konsentrasi, Oskar lambat laun mulai bersimpati kepada bangsa Yahudi dan sebisa mungkin merekrut mereka ke dalam perusahaannya.

Semua berjalan sebagaimana mestinya, hingga datang komandan baru bernama Amon Goth (Ralph Fiennes). Amon membuat kamp baru di Plaszow dan mulai melakukan pemusnahan massal terhadap bangsa Yahudi. Dia bahkan suka menembaki penghuni kamp dari balkon rumah dinasnya.

Oskar berusaha mendekati Amon dan berhasil menjadi teman yang sebenarnya adalah rival sejatinya. Oskar berusaha melindungi pekerjanya agar tidak kembali ke kamp dan disiksa dengan menyuap Amon.

Tidak berapa lama, Jerman mulai kalah dalam perang dan berakibat pemindahan penghuni kamp Plaszow ke kamp Auschwitz yang terkenal sebagai kamp paling sadis karena tidak ada bangsa Yahudi yang masuk ke sana bisa selamat darinya.

Oskar menyuap Amon dengan jumlah besar untuk mendaftarkan seluruh pekerjanya untuk dipindahkan ke kamp lain supaya bisa tetap bekerja di perusahaan baru miliknya.

Oskar harus mengeluarkan banyak uang, hingga beberapa koper, untuk mengamankan 1.100 nama yang didaftarkan olehnya dengan bantuan Itzhak.

Terjadi peristiwa yang menegangkan ketika kereta yang membawa pekerja wanita malah masuk ke kamp Auschwitz dan hampir saja menemui ajal mereka jika Oskar tidak segera datang dan berdiplomasi dengan komandan kamp tersebut.

Jerman akhirnya menyerah kepada sekutu dan perang dinyatakan telah berhenti. Para pekerja berdarah Yahudi tersebut dinyatakan bebas dan semua anggota Nazi menjadi penjahat perang dan akan diburu dan dihukum, Oskar salah satunya, karena dia adalah anggota partai Nazi yang berpengaruh.

Pabrik yang membuat amunisi perang tersebut resmi ditutup dengan kepergian Oskar bersama istrinya.

“Barangsiapa yang Menyelamatkan Satu Nyawa, untuk Menyelamatkan Semuanya”

Barangsiapa yang Menyelamatkan Satu Nyawa, untuk Menyelamatkan Semuanya

Kalimat ini dikutip dari kitab Talmud yang menjadi sumber agama Yahudi setelah kitab Taurat dan diucapkan oleh Itzhak Stern disaat Oskar hendak pergi dari pabrik dan diberikan cincin emas bertuliskan kalimat tersebut sebagai hadiah.

Dan Oskar tidak hanya berhasil menyelamatkan satu nyawa saja dari pemusnahan massal oleh Nazi, tetapi tercatat sebanyak 1.100 orang.

Sepanjang durasi 3 jam 15 menit film berlangsung, kita diperlihatkan bagaimana kerasnya Oskar melindungi bangsa Yahudi dengan caranya yang halus dan berhasil mengambil simpati dari mereka juga dari Nazi Jerman sendiri.

Sudah banyak dana yang dia keluarkan untuk menyuap pejabat militer Nazi, baik dengan cara langsung ataupun dengan cara mengadakan berbagai pesta meriah untuk mereka.

Oskar rela berlari-lari di stasiun demi mencari Itzhak yang ditawan Nazi karena lupa membawa kartu pekerjanya. Dia juga menginisiasi supaya tentara menyemprotkan air ke seluruh gerbong kereta yang membawa tahanan baru dari Hungaria untuk dibawa ke kamp Plaszow dan Auschwitz.

Atas jasanya ini, para pekerja Yahudi yang selamat tidak pernah melupakannya. Penghargaan mereka kepada Oskar bisa dilihat di epilog film, dimana para pelaku peristiwa bersejarah bersama dengan para pemeran film ini menziarahi makam Oskar dan meletakkan batu sebagai simbol penghormatan dalam agama Yahudi.

Dan terakhir ditutup oleh orang yang meletakkan bunga yang tampil dalam bayangan. Siapakah orang itu? Dia tidak lain adalah Liam Neeson, pemeran Oskar.

Daftar Ini Adalah Kehidupan

Daftar Ini Adalah Kehidupan

Menurut ujaran Itzhak kepada Oskar ketika merampungkan daftar para pekerja yang akan diselamatkan, “The list is life”, memang benar adanya. Karena dengan Oskar membuat daftar itu, selamatlah 1.100 nyawa dari kematian.

Daftar itu membuat orang-orang di dalamnya tidak dibawa ke kamp Auschwitz, yang dianggap sebagai kamp pemusnahan, dan dipindahkan ke kamp lain untuk bekerja.

Meski sudah banyak nyawa yang diselamatkan, Oskar tetap merasa seharusnya bisa berbuat lebih banyak dan menyelamatkan jiwa lebih banyak. Rasa simpatinya ini tumbuh setelah dia menyaksikan pembantaian massal dari atas bukit. Dia melihat anak kecil yang memakai mantel merah berlarian diantara keramaian orang yang hendak dibantai di jalanan.

Kemudian Oskar melihat mayat anak kecil yang memakai mantel merah, diangkut dari tumpukan mayat yang hendak dibakar. Perlu diingat, film ini ditampilkan dalam presentasi hitam-putih, alias tidak berwarna. Tetapi hanya anak kecil bermantel merah itu saja yang berwarna dan dihadirkan dalam dua adegan yang pasti membuat kita terharu.

Banjir Penghargaan

Banjir Penghargaan

Schindler’s List telah masuk jajaran film terbaik sepanjang masa, terutama dalam daftar film drama, film perang, dan juga film kolosal, karena menggunakan lebih dari 20.000 orang sebagai pemeran, terutama sebagai bangsa Yahudi.

Dengan sentuhan yang detail dari Steven Spielberg, film ini menuai banyak pujian dan penghargaan dari berbagai festival film bergengsi, salah satunya Academy Awards, tentu saja.

Dinominasikan di 12 kategori, film ini berhasil memenangi 7 di antaranya, yaitu Best Picture, Best Director, Best Adapted Screenplay, Best Cinematography, Best Art Direction, Best Film Editing, dan Best Music.

Lewat film inilah, Spielberg pertama kali bertemu dengan Janusz Kaminski, seorang cinematographer handal asal Polandia. Setelah film ini, Spielberg selalu menggunakan jasa Kaminski dalam film-filmnya.

Tidak hanya di ajang Oscar film ini Berjaya, tetapi juga di Golden Globe Awards dan BAFTA Awards yang menjadikan Schindler’s List film pertama yang berhasil meraih Best Picture di ketiga ajang penghargaan film bergengsi tersebut.

Hingga saat ini, Schindler’s List masih menjadi film terbaik karya Steven Spielberg yang menuai banyak pujian juga dari para kritikus film. Setidaknya tercatat 7 media review film yang memberikan rating sempurna untuk film ini, dan termasuk salah satu film favorit Roger Ebert, kritikus film kenamaan.

Spielberg berhasil menampilkan film drama yang penuh dengan kekelaman dan kekejaman perang ini dengan penuh hati dan pesannya pun berhasil menusuk ke hati pula. Padahal, membuat film ini tidaklah mudah baginya.

Ide pembuatan film ini dimulai di tahun 1983 dan pada saat itu Spielberg menyatakan ketidaksiapannya karena usianya yang masih terbilang belum cukup dewasa untuk membuat film yang membuka kenangan lama tentang bangsanya.

Untuk itu, Spielberg menawarkan proyek ini ke sutradara lainnya, seperti Roman Polanski, Sydney Pollack, Martin Scorsese, Billy Wilder dan Brian de Palma.

Spielberg sempat meminta maaf kepada Polanski secara pribadi karena telah membuka kenangan kelam masa kecilnya saat dia mengalami kejadian yang diceritakan dalam film Schindler’s List ini.

Sedangkan Scorsese dan Wilder yang tadinya tertarik menyutradarai, malah menyarankan ke Spielberg kembali untuk membesutnya sendiri, karena memang harus diarahkan oleh sutradara berdarah Yahudi.

Memori Anak Bermantel Merah

Memori Anak Bermantel Merah

Meski hanya tampil dalam dua adegan saja, tapi entah kenapa, anak bermantel merah ini terus terbayang dalam ingatan. Dan banyak yang menganggap jika dia adalah nyawa film ini, karena Oskar tergerak hatinya setelah melihat mayat anak bermantel merah ini.

Bahkan, ada cerita unik tentang pemeran anak kecil ini yang baru diperbolehkan menonton film ini ketika berusia 18 tahun. Dari pernyataan Oliwia Dabrowska, pemeran anak kecil bemantel merah, dia melanggar janji orang tuanya kepada Spielberg dan menonton film ini di usia 11 tahun.

Setelah itu dia dihantui rasa takut karena menyaksikannya. Semua itu karena apa yang ditampilkan dalam film ini tampak begitu nyata, karena Spielberg mengumpulkan semua riset mendalam sebelum melakukan syuting film ini.

Pada akhirnya, Schindler’s List adalah karya masterpiece dari Steven Spielberg yang memaparkan banyak fakta sejarah yang kelam dalam pendudukan Nazi di tanah Eropa dan pemusnahan massal terhadap bangsa Yahudi.

Kualitasnya tidak usah diragukan lagi, dengan banyaknya penghargaan yang berhasil diraih, bahkan durasi film yang panjang tidak akan terasa karena kita pasti terpaku saat menontonnya.

Bagi yang belum pernah menontonnya, Schindler’s List wajib kalian simak. Apalagi sekarang sudah tersedia di Netflix. Rasakan emosi kita saat menontonnya dan jadikan pelajaran bagi diri sendiri untuk selalu berbuat baik kepada orang lain, karena “Whoever saves one life, saves the world entire.”

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *