Sinopsis & Review Satria Dewa Gatotkaca, Superhero Indonesia

Ditulis oleh Suci Maharani R
Satria Dewa Gatotkaca
2.7
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Dipenuhi Plot Hole dan Timeline Alurnya Berantakan

Dipenuhi Plot Hole dan Timeline Alurnya Berantakan

Berbicara soal ekspektasi, Satria Dewa Gatotkaca (2022) memang lebih unggul dibandingkan film bertema sama buatan sineas nasional.

Efek visualnya cukup menjanjikan dan terlihat digarap dengan hati-hati, agar aksi laganya juga pas untuk semua umur. Sinematografi, skoring hingga set syutingnya, jujur saja saya menyukai mix antara sisi modern dan tradisional.

Tapi soal alur dan development karakternya, maaf tapi saya merasa kurang enjoy saat menonton film ini. Ada banyak sekali plot hole, selain itu alurnya terasa membingungkan, sebenarnya film ini mau mengangkat kisah apa?

Terlalu banyak materi penting di film ini, soal sejarah Pandawa dan Kurawa hingga Yuda yang ternyata titisan Gatotkaca.

Potongan sejarah disebar di sepanjang film, potongan ini bukannya menguatkan ceritanya malah bikin bingung penonton. Padahal jika ingin menghemat waktu, gunakan beberapa menit pertama untuk mengisahkan sejarah Pandawa dan Kurawa.

Setelah itu, habiskan sisa waktunya untuk mengisahkan gen Kurawa dan Pandawa hingga kisah Yuda si Gatotkaca di era modern.

Selain itu ada banyak karakter di film ini, sayangnya hampir seluruhnya tidak memiliki development yang baik. Bahkan untuk pemeran utamanya, kita tidak pernah tahu dari mana asal usul mereka hingga mendapatkan kekuatan khusus tersebut.

Waktu 129 menit mungkin terasa cukup menghibur bagi yang familiar dengan kisah pewayangan, tapi membingungkan bagi yang tidak mengenalnya.

Iklan Sponsor yang Sangat Mengganggu

Iklan Sponsor yang Sangat Mengganggu

Sudah bukan hal aneh lagi jika film-film Indonesia selalu memiliki masalah soal “product placement”. Salah satunya film Satria Dewa Gatotkaca (2022), yang juga suffering dengan berbagai brand yang menjadi sponsor mereka.

Sebenarnya hal ini menjadi fenomena yang aneh bagi saya, karena untuk pertama kalinya saya melihat iklan bertebaran di film Hanung Bramantyo.

Mengambil set modern, memang iklan makanan dan minuman di film ini tidak terlalu melenceng. Hanya saja, penempatan produk sponsor ini terasa kagok dan dipaksakan untuk diberikan tempat.

Sialnya lagi tidak hanya satu atau dua produk, setidaknya saya menemukan lima brand terpampang di film ini. Salah satunya iklan Tokopedia, meski jadi bagian dari set komedi tapi tetap saja hal ini terasa mengganggu.

Bahkan ketika Yuda dan Agni diselamatkan oleh Danajaya dan adiknya, set persembunyian mereka menjadi “sponsor time”.

Saya bisa mengabsen nama-nama brand yang terlihat, setidaknya ada tiga hingga empat brand yang terlihat. Bahkan untuk brand makanan anak-anak, setidaknya produk tersebut terlihat dalam dua frame yang berbeda.

Saya berpikir film ini akan sangat hits dikalangan anak muda dan anak-anak, karena vibesnya terasa seperti Avenger versi kearifan lokal.

Untuk film pertama dalam Satria Dewa Universe, bagi saya Satria Dewa Gatotkaca (2022) masih kurang sempurna dan forgettable. Tapi dari sisi komersial, setidaknya kamu harus menonton film ini meski sekali seumur hidup. 

«1 2
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram