bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Saint Maud (2019), Teror Perawat Psikopat

Seorang perawat menjadi terobsesi dan menganggap dirinya adalah penyelamat jiwa pasien yang merupakan sosok populer di sebuah kota kecil. Memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan jejak rekam buruk dalam profesinya, dia berusaha menjadi sosok yang religius dan merasa dirinya dipilih oleh Tuhan sebagai “sang penyelamat jiwa”.

Saint Maud adalah film horror psikologis produksi Inggris yang dirilis oleh A24 pada 29 Januari 2021 setelah sebelumnya tayang perdana di Toronto International Film Festival pada 8 September 2019.

Kemudian, film ini dirilis di Inggris pada 9 Oktober 2020 yang sempat tertunda karena pandemi Covid-19. Film debut sutradara Rose Glass ini menampilkan akting menawan dari Morfydd Clark.

Film yang berlokasi di North Yorkshire ini menuai banyak pujian dan meraih penghargaan dari London Film Critics Circle sebagai British Film of the Year.

Selain itu, performa Morfydd Clark dan pengarahan Rose Glass juga menempatkan mereka sebagai nominator di beberapa ajang penghargaan film lainnya di Inggris. Jadi penasaran sebagus apa film ini? Simak review kami berikut sebelum menontonnya.

Sinopsis

saint-maud-1_
  • Tahun: 2019
  • Genre: Horror, Drama, Thriller, Mystery
  • Produksi: Escape Plan Productions, Film4, BFI Film Fund
  • Sutradara: Rose Glass
  • Pemeran: Morfydd Clark, Jennifer Ehle

Katie terduduk di pojokan dengan tangan bersimbah darah setelah gagal menyelamatkan nyawa pasiennya yang tergeletak di ranjang rumah sakit yang meneteskan darah dari rambutnya.

Beberapa masa setelahnya, Katie hijrah menjadi penganut Katolik yang taat dan memakai nama Maud. Dia bekerja di sebuah agensi keperawatan yang memberikan jasa perawat pribadi kepada pasien yang berobat jalan dari rumah mereka.

Maud ditugaskan untuk merawat Amanda, seorang penari dan koreografer terkenal dari Amerika yang menderita lymphoma stadium empat.

Amanda adalah seorang atheis yang kecewa dengan takdirnya dan sempat berdebat dengan Maud tentang keberadaan Tuhan.

Dalam kesendirian di kamarnya setelah lelah seharian mengurus semua keperluan Amanda, Maud lebih banyak merenung di kamarnya dan sering menyampaikan perasaannya kepada Tuhan dalam doanya.

Hari demi hari berlalu, siang beraktivitas dan malam merenung, meski kadang-kadang dia berjalan-jalan sendirian ke pusat kota, membuatnya merasa jika Tuhan menakdirkannya untuk menjadi penyelamat jiwa Amanda.

Suatu hari, seorang wanita muda bernama Carol datang menemui Amanda dan mulai sering berkunjung yang membuat Maud gelisah.

Maud kemudian bilang ke Carol untuk tidak datang lagi karena jiwa Amanda butuh diselamatkan. Tapi saat pesta ulang tahun Amanda, Carol tetap datang.

Bahkan Amanda kemudian mengolok-oloknya tentang penyelamatan jiwa dan menjuluki Maud dengan “Saint” di depan seluruh tamu pesta. Emosi Maud memuncak dan dia memukul Amanda. Seketika Maud dipecat.

Merasa Tuhan mengabaikannya, Maud pergi ke sebuah pub untuk mencari teman kencan, tapi yang dia temui hanya penolakan saja, hingga dia mabuk sendirian.

Di akhir malam, dia pulang ke rumah seorang pria yang membuat bayangan kejadian di rumah sakit melintas di benaknya dan membuatnya ketakutan. Pagi harinya, pria itu mengenali Maud dari masa lalunya yang kelam.

Di tepian pantai, Maud bertemu dengan seorang perawat yang menggantikannya saat dia sedang beristirahat. Ternyata perawat itu menikmati pekerjaannya merawat Amanda. Maud semakin cemburu dan terobsesi kepada Amanda bahwa hanya dialah yang bisa menyelamatkan jiwanya lewat pesan suara dari Tuhan dan tanda-tanda lain dari alam.

Malam itu, Maud menggunakan jubah dari seprai, memakai kalung salib dan membawa sebotol air. Apakah yang akan dilakukan oleh Maud? Bagaimana cara Maud untuk menyelamatkan jiwa Amanda? Penasaran? Tonton filmnya sampai habis dan temukan jawabannya di akhir film.

Tema Usang dalam Perspektif Berbeda

saint-maud-2_

Saint Maud mungkin tidak memiliki premis yang baru dan menampilkan kembali cerita yang sama yang pernah ditampilkan film-film bertema horror dengan latar belakang agama. Tapi bukan perihal pengusiran setan, kali ini lebih kepada sisi kejiwaan dari sosok religius yang salah menginterpretasikan agama yang dianutnya.

Maud digambarkan sebagai sosok yang religius dan baru hijrah dari kehidupan lamanya akibat sebuah peristiwa kematian pasien di tangannya.

Dia memakai kalung salib yang sempat disinggung oleh Amanda dan memunculkan perdebatan yang tidak sengit antara mereka, karena Maud berusaha tenang dan menarik diri. Tapi setelahnya, dia berhasil menarik hati Amanda.

Obsesi sebagai penyelamat jiwa dari hasil kontemplasi diri lewat dialognya dengan Tuhan, membuatnya seolah menemukan motivasi baru dalam hidup, meski semuanya sebenarnya adalah kesalahan dari pemahaman yang berasal dari pemikirannya sendiri, bukan dari agama dan Tuhan.

Disinilah perlunya memahami agama dengan benar agar tidak salah dalam menjalaninya.

Kisah dalam Satu Perspektif

saint-maud-4_

Sepanjang film berdurasi 1 jam 24 menit ini, kita disuguhkan oleh cerita yang hanya dilihat dari satu perspektif saja, yaitu dari sudut pandang Maud. Jadi bisa dipastikan karakter ini hadir di seluruh adegannya yang membuat kita dengan mudah untuk terbawa larut dalam keresahan dan pemikirannya tentang semua masalah yang dihadapinya.

Pergulatan jiwa yang membuatnya harus menyakiti diri sendiri. Bahkan untuk berdoa pun dia harus menaburkan biji jagung yang keras di tempat bersimpuhnya dan memasang paku di dalam sepatu yang dipakainya.

Semua tindakan aneh itu sudah menyiratkan bahwa dirinya mengalami gangguan kejiwaan yang cukup parah dan dia membuatnya seolah-olah itu adalah cara untuk dekat dengan Tuhan.

Film dengan perspektif seperti ini tentunya membutuhkan aktor yang memiliki performa akting prima, dan Morfydd Clark berhasil mengemban tugasnya dengan sangat baik.

Kita dibuat yakin akan pergulatan dan keresahan jiwanya, tidak hanya dari mimik wajahnya yang jarang tersenyum, tetapi juga dari gestur tubuhnya, baik dalam bergerak hingga cara berjalannya.

Totalitas akting Clark langsung menuai pujian dan membuat dirinya dinominasikan sebagai Best Actress di beberapa ajang penghargaan film di Inggris, antara lain di British Independent Film Awards. Sedangkan di London Film Critics Circle Awards, Clarke berhasil dinobatkan sebagai British Actress of the Year.

Tentunya kita mengharapkan karir yang cemerlang dari aktris asal Wales ini dimana dia sudah ikut meramaikan serial His Dark Materials, Clark nanti akan tampil di serial The Lord of the Rings yang rencananya akan dirilis tahun 2022 nanti.

Potensi Besar Sutradara Rose Glass

Memang Saint Maud adalah film debutnya sebagai sutradara film, tapi sebelumnya sutradara wanita yang masih muda ini sudah menghasilkan lima film pendek yang seluruhnya bergenre horror yang sepertinya adalah genre yang menjadi spesialisasinya.

Maka ketika dipercaya mengarahkan film feature, dia sudah memiliki gaya tersendiri dalam menciptakan nuansa horror yang mencekam.

Saint Maud sebenarnya memang bukanlah film horror karena tidak ada satu pun hantu yang muncul di dalamnya, tapi film ini lebih dekat kepada thriller psikologis.

Sosok Maud dijadikan sebagai seolah studi kasus bagi mahasiswa jurusan psikologi dalam mempelajari efek kesendirian dan menarik diri dari kehidupan sosial serta pengaruh salah tafsir dalam memahami agama.

Rose Glass dengan teliti mengarahkan kerja kamera dan pergerakannya, terkadang dalam posisi miring bahkan ada yang terbalik, juga sinematografi yang unik demi menciptakan atmosfir kegelisahan dan efek halusinasi pada diri Maud. Diimbuhi pula dengan score gubahan Adam Janota Bzowski yang semakin menambah kekelaman adegan-adegannya.

Intinya, Saint Maud adalah film indie yang mengungkap sisi kejiwaan yang berhasil menciptakan atmosfir kelam dan menegangkan meski dengan cerita yang sederhana saja.

Berkat pengarahan apik Rose Glass, film ini dinominasikan di ajang British Academy Film Awards di kategori Outstanding British Film dan Outstanding Debut by a British Writer, Director or Producer.

Rose Glass berhasil dinobatkan sebagai Best Debut Director di ajang British Independent Film Awards seiring dengan Ben Fordesman sebagai Best Cinematography.

Sedangkan dari London Film Critics Circle Awards, selain menang sebagai British Film of the Year dan British Actress of the Year untuk Morfydd Clark, satu kemenangan lagi adalah untuk Rose Glass sebagai Breakthrough British Filmmaker of the Year.

Dengan semua pujian dan penghargaan di atas, rasanya Saint Maud sudah selayaknya menjadi film yang wajib ditonton, terutama bagi penyuka film indie bergenre horror. Sudah bisa disimak di Netflix sekarang, jadi jangan tunggu lebih lama lagi untuk menontonnya.

Saint Maud
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram