bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Robin Hood (2018), Cerita Lain Sang Legenda

Pulang dari peperangan di Arabia, Robin menemukan kastil dan seluruh hartanya diambil oleh Sheriff of Nottingham yang korup. Bersama Yahya, dia melakukan berbagai pencurian dan sabotase dari tempat penyimpanan uang milik sheriff.

Kemudian, ia membagikannya kepada rakyat kecil. Mulai dikenal sebagai “The Hood”, dia harus terus maju melawan pemimpin yang zalim kepada rakyatnya. Robin Hood adalah film action adventure karya Otto Bathurst yang dirilis oleh Lionsgate pada 21 November 2018.

Merupakan versi semi-kontemporer dari sosok legenda, film ini menceritakan awal mula perjuangan Robin Hood bagi rakyatnya. Dipenuhi adegan action yang seru, film ini berusaha memperkenalkan kembali Robin Hood bagi generasi milenial dalam kadar yang ringan.

Sisi apa dari Robin Hood yang ingin ditampilkan dalam film ini? Untuk mengetahuinya, simak review berikut tentang film yang hanya berhasil meraup pendapatan sebesar $30 juta dari bujet produksi sejumlah $100 juta ini.

Baca Juga: 10 Film Tentang Pencurian yang Sangat Seru dan Menarik

Sinopsis

Robin Hood (2018) sinopsis_
  • Tahun Rilis: 2018
  • Genre: Action, Drama, Thriller, Adventure
  • Produksi: Appian Way, Safehouse Pictures
  • Sutradara: Otto Bathurst
  • Pemeran: Taron Egerton, Jamie Foxx, Ben Mendehlson

Robin of Loxley adalah seorang bangsawan yang hidup bahagia bersama kekasihnya, Marian, di Nottingham. Sebuah panggilan untuk maju ke medan perang di Arabia, memutuskan semuanya. Sebelum berangkat, dia menitipkan kastilnya kepada Marian.

Empat tahun lamanya dia berperang di garda depan melawan pasukan Muslim dari bangsa Moor. Dengan keahliannya memanah, Robin menjadi andalan pasukannya. Dalam sebuah penyerangan senyap, Robin nyaris tewas di tangan salah satu pejuang Muslim jika saja tidak diselamatkan oleh temannya.

Mereka kemudian mulai menginterogasi para tawanan. Tapi komandannya, Guy of Gisbourne, justru melakukan pembantaian dengan membunuh satu persatu tawanan tak bersenjata itu. Robin menghalangi eksekusi seorang tawanan yang merupakan anak pejuang Muslim yang menyerangnya tadi. Tapi dia gagal dan segera dipulangkan ke Inggris.

Robin sangat terkejut mendapati kastilnya sudah diambil alih oleh Sheriff. Ketika menemui Tuck, pendeta yang juga teman Robin, dia mengetahui bahwa Sheriff sudah mengumumkan kematiannya di medan perang dan mengambil alih semua aset milik Robin. Semua itu dilakukan untuk membiayai perang atas perintah Kardinal yang korup.

Semua warga dipaksa bekerja di pertambangan dan harta mereka diambil oleh Sheriff atas nama Kardinal lewat gereja. Robin bertemu dengan Yahya, pejuang Muslim yang pernah nyaris merenggut nyawanya.

Mereka menyusun rencana untuk mencuri uang milik Sheriff dan mengembalikannya ke rakyat. Menyadari Robin masih hidup, Marian yang kini sudah menjadi istri Will, berusaha mendekatinya lagi.

Di siang hari, Robin tampil sebagai seorang bangsawan elegan yang berada di lingkaran pemerintahan. Dia menyumbang banyak ke gereja yang kemudian menarik perhatian Sheriff.

Akhirnya, Robin mendapat kepercayaan Sheriff dan sering diajak berunding untuk mengatasi situasi di Nottingham. Sementara di malam hari, Robin melakukan aksinya sebagai pencuri uang Sheriff.

Untuk mengatasi pencurian yang semakin sering, Sheriff mendatangkan pasukan khusus di bawah pimpinan Guy of Gisbourne. Robin mulai tahu bahwa Marian dan Tuck merencanakan sebuah pemberontakan terhadap Sheriff.

Dalam sebuah pertemuan, Robin juga tahu bahwa Kardinal juga membiayai pasukan Muslim agar terus memerangi pasukan Inggris. Tujuan utama Kardinal dan Sheriff adalah kekuasaan total apabila pasukan Inggris kalah dan Raja Inggris diturunkan dari tahtanya.

Mengetahui bahwa aliran dana sering dicuri, Kardinal memerintahkan untuk mengambil seluruh harta rakyat yang masih tersisa. Pasukan pimpinan Guy menyerang perumahan rakyat dan mulai melakukan aksinya. Meski Robin mencoba menghalangi, tapi perjuangannya kali ini gagal.

Will mengajak seluruh warga untuk mengungsikan diri, tapi Marian justru menyarankan untuk bertahan dan melawan dengan Robin sebagai pemimpinnya. Mereka memutuskan untuk melawan dan mulai merencanakan sebuah penyerangan ke penyimpanan uang Sheriff.

Di tengah konfrontasi rakyat dengan pasukan Sheriff, Will memisahkan diri setelah melihat Marian semakin dekat dengan Robin. Karena kekuatan yang tidak seimbang, Robin menyerahkan diri.

Lalu, bagaimana akhir perjuangan rakyat Nottingham melawan pemimpinnya yang zalim? Berhasilkah Robin menyelamatkan rakyatnya? Tonton terus keseruan perjuangan Robin sampai akhir, ya!

Pembaharuan Kisah Sang Legenda

Pembaharuan Kisah Sang Legenda_

Kita pasti sudah mengenal sosok legenda yang dikenal dengan aksi mencuri uang negara dan membagikannya kepada rakyat yang menderita. Robin Hood seolah sudah menjadi gelar tersendiri bagi orang-orang yang melakukan aksi serupa. Sosok seperti ini selalu diharapkan oleh rakyat yang tertindas pemimpin yang zalim.

Film yang menceritakan kisah Robin Hood cukup banyak dan sejarah panjangnya terentang sejak tahun 1912 ketika pertama kali kisah Robin Hood hadir di layar lebar. Nyaris dalam setiap dekade, satu film Robin Hood diproduksi, baik itu berasal dari Hollywood juga dari perfilman Inggris.

Mungkin film Robin Hood yang paling populer adalah yang dibintangi oleh Kevin Costner. Robin Hood: Prince of Thieves (1991) menampilkan sosok Robin Hood yang elegan, nyaris setara dengan keflamboyanan James Bond.

Tentunya, lagu “(Everything I Do) I Do It for You” dari Bryan Adams yang menjadi lagu soundtrack-nya masih tetap terngiang di telinga kita hingga saat ini.

Di tahun 2010, Ridley Scott menyuguhkan sosok Robin Hood yang keras dan tangguh yang diperankan oleh Russell Crowe. Mencoba tampil lebih akurat dengan fakta sejarah, film ini lebih menekankan sisi drama daripada ketegangan perseteruan Robin Hood dengan pemerintahan yang korup.

Lalu, apa yang hendak ditampilkan oleh Otto Bathurst dalam film layar lebar pertamanya ini? Tentu saja pengenalan sosok Robin Hood kepada generasi masa kini yang terbiasa dengan pameran efek visual dalam setiap adegan action.

Dan, harapan penikmat film action cukup terpenuhi dengan semua yang ditampilkan di film berdurasi 1 jam 56 menit ini. Adegan pertarungan yang cepat, pertempuran penuh ledakan, dan penggunaan kamera handheld yang efektif, sudah cukup memuaskan dahaga kita yang mencari film pemacu adrenalin.

Bahkan penggunaan panah sebagai senjata utama, dipakai juga saat pertarungan jarak dekat. Mungkin terinspirasi dari aksi John Wick dalam menghabisi musuh-musuhnya.

Cerita yang Minim Emosi

Cerita yang Minim Emosi_

Tapi kita harus sedikit bersabar untuk melihat adegan action tersebut. Setelah keseruan pertempuran di awal film, dimana Robin pertama kali bertemu dengan Yahya, kita diminta untuk menunggu cukup lama hingga aksi Robin berseteru dengan pasukan khusus pimpinan Guy.

Dari sini tempo film berada di atas dan ditutup dengan aksi dahsyat penuh ledakan antara pasukan pemerintah menahan serangan rakyat yang memberontak.

Ben Chandler dan David James Kelly sebagai penulis naskah berusaha menampilkan kebobrokan pemerintah yang menindas rakyatnya atas nama negara dan agama. Kisah yang dipaparkan terasa relate dengan kejadian di zaman modern seperti sekarang.

Bisa dilihat dari pidato Sheriff di depan rakyatnya yang memaparkan ancaman pasukan Islam kepada Inggris. Sheriff menakut-nakuti rakyatnya apabila pasukan itu berhasil masuk ke wilayah mereka dan menghancurkan semua yang ada.

Alasannya adalah, mengutip ucapan Sheriff, “They hate us for our freedom” yang sama dengan ucapan George W. Bush setelah peristiwa 9/11.

Sheriff memungut pajak yang tinggi dan memaksa rakyatnya untuk bekerja di pertambangan agar bisa terus menerus membuat senjata adalah salah satu manipulasi untuk melanggengkan bisnis di kancah peperangan.

Karena nyatanya, Sheriff dan Kardinal membiayai pasukan Inggris dan juga pasukan Muslim agar tetap terus berperang hingga Inggris kalah.

Niat jahat ini mereka susun atas dasar haus kekuasaan. Kardinal pun, sebagai pemimpin tertinggi di keagamaan, sangat berambisi dengan kekuasaan itu. Dia menggunakan nama Tuhan untuk menghalalkan perbuatan keji, seperti menindas rakyat yang sudah miskin. Bahkan rela melakukan kudeta terselubung kepada rajanya sendiri.

Cerita yang dipaparkan dalam film ini sebenarnya cukup kompleks dan terkesan lebih besar skalanya daripada dua film Robin Hood sebelumnya. Sayangnya, dengan pondasi cerita yang bagus, nyaris tidak ada emosi yang berhasil disuntikkan di dalam setiap adegannya.

Taron Egerton seolah tampil santai dalam membawakan karakternya, bahkan di saat terjepit sekalipun. Begitupun hubungan pertemanannya dengan Yahya dan kisah cintanya dengan Marian tidak tergambarkan dengan baik.

Apalagi ditambah dengan tidak adanya chemistry diantara mereka, semakin membuat sebagian besar adegan dalam film ini terkesan tanpa rasa.

Jati diri dua sisi mata uang Robin Hood, siang sebagai bangsawan dan malam sebagai pencuri, sedikit mengingatkan kita akan sosok Bruce Wayne. Kesamaan ini terlalu identik, hanya saja dibawakan dengan santai sehingga tidak melibatkan sisi psikologis secara mendalam.

Tidak Mengikatkan Diri dengan Sejarah

Tidak Mengikatkan Diri dengan Sejarah_

Film Robin Hood kali ini tidak mau mengaitkan diri dengan sejarah yang terkesan memberatkan cerita. Apakah ini akan menjadi masalah besar bagi film ini? Memilih jalur berbeda dengan dua film sebelumnya yang memasang dengan pasti seting waktu untuk ceritanya, yaitu sekitar tahun 1190an, justru menjadi titik lemah film ini.

Bagaimana bisa menceritakan sebuah kisah yang terkait erat dengan sejarah tapi tidak mau mengaitkannya? Seolah tidak mau dipusingkan dengan pertanyaan ini, narasi Robin di awal film sudah mengindikasikan ketidakpeduliannya dengan sejarah.

Salah satu kesalahan karena permasalahan ini ialah menempatkan karakter Little John sebagai pejuang Muslim dari tanah Arabia dengan nama asli Yahya ibn Umar. Padahal dalam sumber asli dan seluruh film Robin Hood, Little John adalah salah satu sahabat dekat Robin berkebangsaan Inggris. Pembaharuan ini tidak membuat cerita menjadi lebih baik.

Hal ini juga kemudian berpengaruh dengan persenjataan dan pakaian yang dikenakan. Sungguh aneh rasanya melihat pasukan Muslim sudah memiliki alat penembak panah otomatis untuk melawan pasukan Inggris. Dan lebih aneh lagi ketika kita melihat pakaian yang dikenakan Robin Hood terkesan sangat modern, jika ditilik dari bahan dan modelnya.

Robin Hood tampil tidak lebih baik dari dua film sebelumnya, malahan beberapa kritikus sangat keras melemparkan kritik atas film ini. Banyak kelemahan disana-sini, film ini masuk nominasi Razzie Awards di tiga kategori: Worst Picture, Worst Remake, dan Worst Supporting Actor untuk Jamie Foxx.

Di atas segala kekurangannya, film dengan sinematografi yang tidak stabil ini, hanya bagus di awalnya saja, masih memiliki adegan action yang cukup bagus walau penuh dengan polesan special effect yang masih kurang detail. Jadi, apakah kalian sudah siap menyimak petualangan Robin Hood kali ini? Langsung tonton saja filmnya, ya!

Robin Hood
Rating: 
1.6/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram