Bacaterus / Review Film Korea / Sinopsis & Review Record of Youth, Drama Keresahan Anak Muda

Sinopsis & Review Record of Youth, Drama Keresahan Anak Muda

Ditulis oleh - Diperbaharui 3 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Siapa yang menanti-nanti drama “Record of Youth”? Kalau begitu, kamu sama dong dengan ribuan bahkan jutaan orang lainnya di seluruh dunia yang nggak sabar menunggu episode baru tiap minggunya dari drama ini. Wajar banget, sih. Soalnya, selain ceritanya yang menarik, pemainnya juga sangat dinanti penampilannya. Ini adalah drama terakhirnya Park Bo Gum sebelum enlist military.

Terus, ini merupakan proyek drama Park So Dam yang pertama setelah penampilannya di film pemenang Oscar, “Parasite“. Selain para pemainnya, tentu kita tidak bisa melupakan orang-orang di balik layar, terutama penulis dan sutradara. Penulis drama “Record of Youth” adalah Ha Myung Hee, beliau merupakan dalang di balik drama “Doctors” (2016). Lalu, drama ini diarahkan oleh Ahn Gil Ho, yang menyutradarai drama “Rooftop Prince” (2012) dan “Stranger” (2017).

Bagaimana, sudah membuatmu semakin tertarik dengan drama “Record of Youth”? Baca sinopsis dan review dari tim Bacaterus untuk drama ini, yuk!

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Romantis, Keluarga, Masa Muda, Melodrama
  • Produksi: Studio S
  • Sutradara: Ahn Gil Ho
  • Pemeran: Park Bo Gum, Park So Dam, Byeon Woo Seok, Kwon Soo Hyun, Ha Hee Ra, Park Soo Young, Han Jin Hee

Drama ini memiliki judul “청춘기록” atau yang bisa juga disebut “The Moment” dan “Youth Record”. Drama ini menceritakan tentang kehidupan anak muda menjelang usia 30 tahun, di mana merupakan ‘batas patokan’ yang menunjukkan kamu sudah sukses atau belum.

Terutama bagi laki-laki Korea Selatan, mereka merasa harus membuktikan diri terlebih dahulu sebelum mereka masuk wajib militer selama kurang lebih 2 tahun. Itulah yang dirasakan Sa Hye Joon (Park Bo Gum), Ahn Jung Ha (Park So Dam), dan Won Hae Hyo (Byeon Woo Seok).

Mereka semua berada di circle yang berdekatan, yaitu dunia entertainment. Bedanya, Hye Joon dan Hae Hyo itu model dan aktor, sedangkan Jung Ha itu makeup artist favorit mereka berdua! Tapi, cerita ini lebih banyak kita lihat dari sisi Hye Joon. Dia adalah seorang model dengan keinginan tinggi menjadi aktor.

Hye Joon adalah pria yang tampan dan cukup berbakat dalam berakting, tapi dia berasal dari keluarga miskin. Dia juga tidak mau mendapatkan peningkatan status atau pun job akting berkat sponsor (bukan endorse atau iklan), sehingga dia tidak punya ‘backingan’ di dunia entertainment. Sedangkan Hae Hyo adalah seorang model juga yang kebetulan bersahabat dengan Hye Joon sejak SMP.

Mereka berdua memulai karir modeling bersama-sama, tapi yang ‘maju’ hanya Hae Hyo. Nampaknya, itu semua tidak terlepas dari ‘dukungan’ orang tuanya yang terpandang dan kaya, terutama ibunya yang ‘menyogok’ supaya Hae Hyo mendapatkan peran di drama dan sebagainya.

Kamu mungkin berpikir, “Ah, enak jadi Hae Hyo.” Padahal, Hae Hyo sangat iri dan malu terhadap Hye Joon yang mendapatkan semuanya murni berkat kerja kerasnya sendiri.

Lalu, untuk Jung Ha, dia adalah seorang makeup artist di sebuah salon. Di sana dia masih asisten, tapi karena hasil kerjanya bagus, dia sering mendapatkan pelanggan dia diminta untuk mendadani (seperti Hae Hyo, ibunya Hae Hyo, dan Hye Joon juga).

Hal ini membuat salah satu seniornya cemburu dan merundungnya setiap kali ada kesempatan. Tapi, dia pantang menyerah karena kecintaannya pada dunia kecantikan. Di sisi lain, dia juga seorang YouTuber dan suka busking makeup-in orang-orang di jalanan. Jung Ha bekerja keras karena dia hidup sendiri. Kedua orang tuanya telah bercerai dan memiliki keluarga baru.

Jika sang ayah masih berhubungan baik dengannya (walaupun tidak menafkahi), ibunya selalu menyusahkannya seperti mengkritiknya, mendiktenya, walaupun tidak terang-terangan meminta uang tapi ibunya sering berkeluh kesah tidak memiliki uang. Jung Ha memiliki hobi fangirling, dan coba tebak siapa bias-nya? Sa Hye Joon!

Cerita tentang Actor Wannabe & Makeup Artist Wannabe

Ketika baru memulai karirnya sebagai model, Sa Hye Joon terbilang cukup sukses. Tapi, seiring bertambah umurnya, job modeling kian sepi, dan dia pun masih punya cita-cita yang belum tercapai yaitu ingin menjadi aktor.

Demi menutupi kekurangan keuangan, dia bekerja sambilan di kedai bbq dan Subway, yang mana sering mendapatkan pelanggan wanita muda yang menyukai ‘server yang tampan’. Beberapa diantara gadis-gadis itu juga sengaja datang karena tahu Hye Joon bekerja di sana. Hye Joon memang cukup terkenal sebagai ulzzang (selebgram).

Karena sudah menunda wajib militer beberapa kali, Hye Joon pun mendapatkan tekanan terus menerus dari keluarganya, memintanya berhenti bermimpi menjadi aktor dan bekerja seperti orang biasa saja (pekerjaan yang stabil seperti pegawai kantoran, dll).

Dia juga dicap ‘beban keluarga’ oleh ayah dan kakaknya. Selama ini memang yang mendukung karier entertainment-nya hanya kakek dan ibunya saja. Sempat berpikir untuk menyerah dan mendapatkan tawaran dari sponsor, tapi akhirnya Hye Joon berhasil meraih mimpinya secara perlahan dengan cara murni.

Sebelum itu, kamu mungkin bertanya-tanya kapan Hye Joon dan Jung Ha bertemu? Ketika acara Fashion Week, Hye Joon dan Hae Hyo merupakan salah satu modelnya. Jung Ha terpilih sebagai asisten seniornya yang menyebalkan sebagai salah satu makeup artist di sana. Mari kita sebut namanya supaya saya tidak perlu mengetik ‘si senior itu’, namanya adalah Jin Ju.

Karena Jin Ju penjilat dan (dulunya) merupakan makeup artist ibunya Hae Hyo sebelum berpindah ke Jung Ha, tentu Jin Ju memilih mendandani Hae Hyo dibandingkan Hye Joon. Dan, memang saat itu Hye Joon belum sepopuler Hae Hyo. Karena merasa terintimidasi dengan kehebatan Jung Ha, Jin Ju pernah berjanji untuk membuat hidup Jung Ha susah.

Seperti mempermalukan Jung Ha dihadapan Hae Hyo dan Hye Joon. Jung Ha yang sakit hati pamit undur diri dan menangis. Hye Joon yang khawatir menyusulnya dan mereka pun berbincang. Tapi, saat itu Jung Ha tidak jujur mengakui kalau dia fans, dia malah bilang ngefans sama Hae Hyo.

Kehidupan, Persahabatan, & Percintaan

Tema drama “Record of Youth” ini mirip dengan K-drama kekinian, mengedepankan karakter yang lebih real, persahabatan, dan juga mengangkat kasus yang sungguhan terjadi di masyarakat KOrea Selatan. Tapi, drama ini agak cukup banyak bumbu cintanya, jika dibandingkan dengan isu sosial, percintaan 70:30 problema kenyataan hidup (?), bisa dibilang begitu.

Karena seharusnya cerita persahabatan tiga pria: Hye Joon, Hae Hyo, dan Kim Jin Woo (teman mereka berdua yang bisa dibilang paling tidak beruntung dalam sisi ekonomi dan pekerjaan) bisa lebih menarik.

Tapi, drama ini lebih menggiring bagaimana cinta segitiga antara Hye Joon, Hae Hyo, dan Jung Ha. Lalu, Jin Woo pun tidak terlalu banyak dibahas kecuali ketika ada scene dengan adiknya Hae Hyo (iya, mereka pacaran, backstreet).

Tapi, persahabatan juga bisa dilihat dari pemeran ibu-ibu di drama ini, loh. Sebelum Hye Joon dan Hae Hyo dewasa dan terjun ke dunia entertainment bersama-sama, mereka adalah sahabat sejak kecil. Mereka tinggal di daerah yang sama tapi Hae Hyo di kawasan elitnya, sedangkan Hye Joon di perkampungannya.

Nah, Han Ae Sook (ibunya Hye Joon) bekerja sebagai asisten rumah tangga di kediaman Hae Hyo. Kebayang, gimana perasaan Hye Joon, ketika ibunya malah menjadi /maaf/ pembantu di rumah sahabatnya sendiri. Akan tetapi, saya cukup bangga dengan karakter Hye Joon masa remaja, karena dia memiliki pemikiran yang dewasa.

Walaupun awalnya terkejut dan sakit hati (dia juga sempat menjauhi Hae Hyo), tapi akhirnya dia menerima kalau ibunya menjadi ART di rumah sahabatnya sendiri bahkan sampai mereka dewasa. Karena, walaupun ibu Hye Joon pernah berhenti menjadi ART di rumah Hae Hyo, Kim Yi Young (ibunda Hae Hyo) tidak bisa kalau ART-nya bukan Han Ae Sook, nggak cocok rasanya.

Walaupun mereka sering saling sepet, saling kode, saling membanggakan anaknya sendiri, tapi mereka saling membutuhkan dan ada rasa sayang juga terselip di sana. Jadi, karena fokus cerita persahabatan antar anaknya jadi setir balik ke arah percintaan, saya malah lebih enjoy nonton adegan para ibu-ibu yang saling lempar argumen tapi tetap tidak bisa jauh satu sama lain.

Sulitnya Mendapatkan Pekerjaan (Secara Murni) di Industri Hiburan

Sepertinya di mana-mana dunia entertainment itu nggak mungkin berisi 100% orang yang jujur. Memang, ada orang-orang yang mendapatkan pamor dengan cara yang ‘baik’, tanpa backingan, gimmick, dan lain sebagainya. Tapi, akan menjadi sulit untuk bisa mencapai ‘kesuksesan’ yang diinginkan jika seperti itu.

Hal ini digambarkan oleh Hye Joon yang merupakan model (yang tidak terlalu terkenal), berasal dari keluarga miskin, berambisi untuk menjadi aktor, dan memiliki nilai martabat yang tinggi. Bayangkan betapa sulitnya dia bisa meraih mimpinya?

Di sudut lain, kamu mungkin mengatakan kalau Hae Hyo enak. Dia anak orang kaya yang terpandang, dia juga nampaknya memiliki jalur karir yang mulus.

Tapi, di balik itu semua, ternyata ada permainan yang dilakukan ibunya. Seperti menaikkan jumlah followers di akun sosmed anaknya, ‘berbicara’ dengan sutradara hingga akhirnya anaknya yang terpilih dalam proyek drama, dan masih banyak lagi. Usut punya usut, itu dilakukan ibunya bukan hanya karena ‘ingin anaknya lebih unggul’, akan tetapi karena dia ditekan juga oleh suaminya.

Won Tae Gyung, ayah Hae Hyo, adalah seorang profesor tersohor. Dia menginginkan kedua anaknya mengikuti jejaknya, berkarir di dunia pendidikan atau pekerjaan tetap apapun yang bergengsi. Ketika Hae Hyo ingin terjun ke dunia entertainment, ayahnya tidak melarang, akan tetapi dia mengultimatum istrinya untuk memastikan Hae Hyo ‘tidak memalukan’. Baginya, anak adalah investasi. Dia harus memiliki anak-anak yang sukses supaya tidak merasa malu.

Walaupun sama-sama kurang bahagia, Won Hae Na (Adik Hae Hyo) setidaknya tidak terlalu dicerca oleh ayahnya karena dia setuju untuk berkuliah di jurusan hukum sesuai keinginan sang ayah. Walaupun dia juga mendapatkan punggung dingin dari ibunya karena ketahuan berpacaran dengan Kim Jin Woo.

Hubungan ini ‘terlarang’ karena Jin Woo adalah (sahabat Hae Hyo dan Hye Joon, sudah mengenal Hae Na sejak kecil, dan dia juga miskin. Jadi, apa kamu masih tega bilang hidup Hae Hyo lebih enak? Saya pikir setiap orang memiliki struggle-nya masing-masing yang orang lain tidak tahu, jadi kita tidak bisa seenaknya men-judge enaknya kehidupan orang lain tanpa tahu cerita dari sisi lainnya.

Apalagi saat Hye Joon jadi lebih terkenal darinya, Hae Hyo mendapatkan teguran keras dari sang ayah dan ibu. Dia juga lambat laun tahu kalau semua yang telah dia peroleh selama ini ada sangkut paut dari ibunya juga, padahal selama ini dia pikir karena kerja kerasnya saja lah dia bisa ada di posisi sekarang. Akhirnya, dia menjadi malu dan merasa harus bersaing dengan sahabatnya sendiri, Hye Joon.

Memperlihatkan ‘Cara Kerja’ Dunia Entertainment Korea Selatan

Misalnya kamu menghujat seseorang (biasanya pesohor) secara online, maka kamu dan orang yang dihujat akan diminta datang ke kantor polisi untuk menyelesaikannya secara ‘kekeluargaan’.

Kamu akan diminta menyebutkan kalimat yang kamu ketikkan sebelumnya ke depan muka orangnya langsung (tapi kalau artis bisa saja diwakili oleh manager atau pihak manajemen). Malu banget, nggak, sih?

Nanti, terserah orangnya mau maafin kamu atau ngga. Bisa juga orang itu tetap melanjutkan proses tuntutan dan akhirnya kamu dipenjara (tidak lama, biasanya hanya satu atau beberapa hari) atau didenda sejumlah uang. Dan, ini bakal mencoreng nama kamu seumur hidup, karena kamu jadi punya catatan kejahatan.

Kalau misalnya sebelumnya kamu mendapatkan beasiswa di kampus, itu bisa dicabut, dan kamu juga bisa saja dikucilkan orang-orang sekitarmu yang mengetahui hal ini.

Mirip Film “Parasite”

Konflik kasta sosial lumayan sering dibahas di drama ini, mirip dengan tema utama film “Parasite“. Saya sangat suka perpindahan scene ketika keluarga Won yang tajir melintir makan-makan mewah tapi terkesan formal dan tidak akrab, sedangkan keluarga Sa yang miskin makan-makan seadanya tapi terkesan hangat (padahal mereka sering bertengkar, tapi sebenarnya saling sayang dan peduli).

Terus, scene saat Hye Joon dan Hae Hyo bertemu pada malam hari di episode 14. Hye Joon bilang, “Dari rumahmu, kau tidak bisa melihat rumahku. Tapi, dari rumahku, kami bisa melihat rumahmu. Hal itu membuatku ingin menjadi orang kaya.”

Seperti yang sudah saya katakan di atas, mereka berdua tinggal di satu daerah tapi beda kawasan, scene ini sebentar tapi sangat menyentuh. Visualisasi ketika sisi perumahan orang kaya terang benderang sedangkan sisi perumahan orang miskin gelap, itu sangat keren, sih.

Oh ya, masih berhubungan dengan pendapat saya sebelumnya, keluarga yang kaya raya sering digambarkan sebagai tempat yang mencekam, tidak bebas, penuh pra-anggapan, dan sebagainya. Sedangkan keluarga miskin digambarkan sering bertengkar (mostly urusan ekonomi) tapi jauh lebih bahagia. Saya tidak tahu ini hanya stereotype saja atau memang banyak terjadi di Korea Selatan.

Keluarga Won menganggap anak-anak mereka item yang harus diatur kehidupannya sejak lahir hingga dewasa, tidak dibiarkan memiliki keputusan sendiri. Itu sangat jelas divisualisasikan. Seperti ibu di keluarga Won yang mengatakan “Hidup ibu akan menjadi bahan tertawaan ayahmu jika ia tahu kau berpacaran dengan Jin Woo ” kepada Hae Na, anak gadisnya.

Pertama, dia memang tidak ingin anaknya berhubungan khusus dengan orang miskin. Kedua, dia tidak mau menjadi bulan-bulanan suaminya. Karena, jika kamu menonton drama ini pasti tahu suami istri Won ini memiliki hubungan yang tidak sehat. Seperti mereka satu kamar tapi kasurnya terpisah, selalu bertengkar. Pokoknya tidak harmonislah!

Di sisi lain, keluarga Sa yang kekurangan uang memang sering bertengkar, akan tetapi sebenarnya mereka saling peduli hanya saja gengsi untuk menunjukkannya. Sejak awal drama dimulai, penonton bisa melihat kalau sang ayah dan kakak di keluarga Sa tidak mendukung Hye Joon untuk meneruskan karir dunia hiburannya.

Akan tetapi, setelah akhirnya Hye Joon berhasil, ternyata ayahnya diam-diam mencari tahu tentang kegiatan anaknya, sang kakak ternyata membalas komentar jahat tentang adiknya. Ini menunjukkan sebenarnya mereka saling sayang walaupun di luar nampak sering bertengkar.

Tidak Hanya Anak Muda Saja, Tapi Orang Tua Juga Punya Keresahan

Memang, judul dan tema drama ini lebih berfokus pada keresahan yang dirasakan mayoritas anak-anak muda di Korea Selatan. Akan tetapi, para orang tua pun ternyata memiliki keresahan tersebut. Seperti ayah dan kakak Hye Joon yang khawatir akan masa depan Hye Joon, ibu dan ayah Hae Hyo juga begitu (walaupun caranya kurang.. tepat), lalu kakek Hye Joon yang selama ini hidup sebagai ‘beban keluarga’ tapi akhirnya baru bisa menggapai kesuksesan saat usianya hampir 80 tahun.

Drama ini mengajarkan banyak hal, sungguh. Overall, drama ini memang tidak sempurna, tapi worth it untuk ditonton. Ceritanya ringan, tidak terlalu bikin penonton stres, dan ada sisi komedinya juga. Ada pesan moral yang bisa penonton tangkap juga, seperti tidak ada kata terlambat untuk belajar (seperti kakek Hye Joon yang baru jadi model dan artis di usianya yang hampir 80 tahun).

Lalu jangan menyerah dan selalu jujur (kita bisa lihat dari kehidupan Hye Joon dan Jung Ha). Dan, tentunya ada dua pemain yang bikin drama ini ditunggu-tunggu, tapi setelah menonton kamu akan menaydari kalau semua aktor dan aktrisnya bagus-bagus, tidak hanya Park Bo Gum dan Park So Dam saja. Bagaimana kesanmu setelah menonton drama “Record of Youth”?

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *