Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Ready Player One, Biasnya Batas Kita

Review & Sinopsis Ready Player One, Biasnya Batas Kita

Ditulis oleh - Diperbaharui 1 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Saat ini, keberadaan HP sudah nggak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Fungsinya bukan hanya sebagai alat komunikasi tapi semakin meluas. Bisa digunakan untuk transaksi elektronik, media sosial, dan yang sedang digandrungi, bermain gim. Ya, sekarang orang-orang nggak harus mempunyai console tertentu, cukup dengan HP-nya untuk bermain gim versi mobile.

Film Ready Player One

Film Ready Player One mengangkat cerita tentang kecintaan orang-orang bermain gim. Hanya saja, latar waktunya mengambil dari masa depan. Alat yang digunakan adalah semacam VR. Ketika berhasil menyelesaikan misi, maka bisa ditukarkan dengan uang sungguhan. Hanya saja, pertarungan di dunia gim bisa melebar lebih jauh. Simak review dan sinopsisnya, yuk!

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Science Fiction, Adventure, Action
  • Produksi: Warner Bros. Pictures
  • Sutradara: Steven Spielberg
  • Pemain: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, T.J. Miller, Simon Pegg

Di tahun 2045, diceritakan kehidupan manusia dipenuhi oleh polusi dan kemiskinan yang merajalela. Untuk menghibur diri, orang-orang mencari pelarian. Salah satu pelariannya adalah bermain gim. Oasis merupakan sebuah dunia virtual reality yang menyediakan berbagai permainan. Orang-orang suka memainkannya karena bisa mendapatkan hadiah berupa uang.

James Halliday dan Ogden Morrow merupakan dua orang di balik lahirnya Oasis. Keduanya nggak berhenti menciptakan inovasi sehingga orang-orang nggak mudah bosan ketika bermain di Oasis. Sayangnya, Halliday harus tutup usia. Dengan avatarnya, Anorak, ia mengirim pesan sebuah gim yang bisa dimainkan. Hadiahnya nggak main-main melainkan mendapat kepemilikan Oasis.

Sinopsis

Gim yang dibuat Halliday mengharuskan para pemain mencari Easter Egg. Oasis merupakan magnet besar yang menjadi idaman para pemain gim. Selain punya nama besar, ia juga bisa menghasilkan penghasilan yang nggak sedikit. Hal itu juga yang mendorong Nolan Sorrento, CEO perusahaan gim IOI untuk turut serta.

Padahal, dia merupakan otak di balik rival utama Oasis. Maka dari itu, dia membentuk tim khusus untuk memenangkan perlombaan. Wade Watts adalah seorang remaja belasan tahun di Columbus, Ohio. Ketekunannya bermain gim membuat dia punya banyak teman yang bermain gim serupa. Hanya saja teman itu sebatas di dunia virtual.

Wade menggunakan avatar Parzival dan mengikuti perlombaan awal di gim yaitu ajang balapan bersama Aech dan Art3mis. Avatar terakhir merupakan seorang wanita, yang diam-diam ditaksir oleh Wade. Wade sering berkunjung dan melihat-lihat jurnal milik Halliday. Nggak disangka, kegiatan itu justru memberinya clue tentang bagaimana memenangkan permainan pertama.

Mereka bertiga akhirnya keluar sebagai pemenang. Nama mereka bersatu menjadi salah satu dari lima besar peraih poin tertinggi. Sorrento mulai bertanya-tanya tentang identitas Parzival. Dia berniat untuk memberinya uang demi bisa bermain demi tim IOI. Art3mis membaca jurnal buatan Halliday yang menyatakan pernah mengajak kencan istri Morrow ke sebuah klub.

Wade dan Art3mis datang ke klub tersebut untuk mencari clue. Wade mengungkapkan dirinya siapa dan menyatakan perasannya. Orang-orang suruhan IOI datang lalu menyerang Wade dan Art3mis. Wade ditinggalkan oleh Art3mis yang mengungkapkan fakta menyedihkan. Ayahnya meninggal dan mempunyai hutang pada IOI.

Percakapan itu terdengar oleh pemain Oasis yang lain, i-R0k. Dia kemudian menyampaikan temuannya itu pada Sorrento. Sorrento mulai menghubungi Wade dengan menawarkan uang. Tawaran tersebut ditolak mentah-mentah. Sorrento yang marah mulai menghancurkan rumah Wade dan membunuh Alice, ibu dari Wade.

Permainan di dunia virtual itu dibawa ke dunia nyata dengan satu tujuan, kepemilikan Oasis. Bisakah Wade selamat? Bisakah hutang ayah Art3mis dibayar? Film bergenre fantasi ini menyiratkan pesan tentang perkembangan jaman dengan cara yang seru dan menyenangkan.

Adaptasi dari Buku

Adaptasi dari Buku

Film Ready Player One merupakan adaptasi dari buku yang berjudul sama. Buku itu dikarang oleh Ernest Cline. Dianggap sebagai orang yang paling memahami Ready Player One, Cline diikutsertakan dalam film. Bukan, bukan sebagai aktor melainkan di belakang layar. Dia bertanggung jawab dalam hal screenplay bekerja sama dengan Zak Penn.

Steven Spielberg, sutradara dari film ini sudah punya reputasi mentereng soal mengadaptasi buku menjadi film. Salah satu karya yang melejitkan namanya, Jurassic Park, pun berasal dari buku. Hanya saja, dia selalu berani untuk membuat perbedaan dalam karyanya dibanding bukunya. Hal tersebut dilakukan kembali di filmnya yang ke-33 ini.

Sinematografi Ciamik

Sinematografi Ciamik

Di film Ready Player One, kita akan disuguhi pemandangan di tahun 2045. Nggak cukup sampai di situ, visualisasi dunia virtual reality dibuat dengan begitu cantik. Kita seperti dibawa benar-benar masuk ke dunia tersebut. Pergerakan kamera, tone color  yang dipilih pun seperti dibuat untuk memanjakan mata kita yang menonton.

Orang yang bertanggung jawab untuk sinematografi film ini adalah Janusz Kaminski. Dia pertama kali bekerja sama dengan Spielberg untuk film Schindler’s List pada tahun 1993. Sejak saat itu, keduanya sering bekerja sama dan menghasilkan karya-karya yang ikonik. Karya terbaiknya adalah Saving Private Ryan yang berhasil memenangkan Best Cinematography di Academy Award.

Referensi Budaya Pop

Referensi Budaya Pop

Salah satu kemiripan yang dibawa dari buku ke dalam film oleh Spielberg adalah referensi pada budaya pop. Bahkan budaya pop yang dimasukkan pun nggak tanggung-tanggung. Dari mulai dari dekade 70-an sampai 2000-an dimasukkan. Budaya pop itu mengambil dari komik, anime, serial televisi, film, musik sampai gim.

Bukan hal mudah untuk memasukkan budaya pop ke dalam film. Apalagi jumlahnya yang ratusan. Nama besar Spielberg menjadi alat yang digunakan untuk memudahkan mendapat izin penggunaannya. Blade Runner yang menginspirasi buku dan film, berhasil didapat dan beberapa aktornya bermain di film ini.

Izin menampilkan The Shining sebagai fitur dari gim didapat dengan mudah karena Spielberg berteman dengan sutradara filmnya, Stanley Kubrick. Butuh waktu bertahun-tahun bagi Spielberg untuk mendapat izin menggunakan karya orang lain di filmnya. Dari dunia musik saja terdiri dari nama-nama besar seperti Prince, New Order, Blondie, Bee Gees sampai Bruce Springsteen.

Sarat akan Pesan

Sarat akan Pesan

Ready Player One bukan hanya hadir untuk memberi hiburan, tapi juga sarat akan pesan. Pesan itu nggak disampaikan secara langsung tapi bisa terlihat dari penggambaran karakter dan latar dalam film. Dibuka dengan memperlihatkan kehidupan di masa depan yang muram, merupakan sebuah peringatan tentang kemungkinan yang akan terjadi kalau manusia nggak berpikir jauh.

Penggunaan gim dengan dunia virtual reality yang berbeda dari dunia nyata bisa jadi sindiran keras. Bagaimana pun kehidupan seseorang berada di dunia nyata. Konflik dibuat meningkat ketika melibatkan Wade yang diperankan Tye Sheridan dan Sorrento yang diperankan Ben Mendelshon.

Konflik itu bukan lagi di dunia virtual, tapi mulai merembet dari dunia virtual ke dunia nyata. Selain itu, pesan paling jelas akan terlihat di akhir film yang bisa menjawab pertanyaan apa sebenarnya Easter Egg. Kalau kamu penasaran juga, segera luangkan waktu buat nonton filmnya ya teman-teman.

Film Ready Player One merupakan tontonan yang bisa dinikmati oleh orang dari berbagai usia. Selain menyajikan hiburan yang seru, membawa budaya pop dari masa lalu ke masa kini menjadi magnet tersendiri. Setelah nonton, kamu bisa membagikan hal yang paling kamu suka dari film ini di kolom komentar teman-teman!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *