Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis & Review Purple Rain, Debut Layar Lebar dari Prince

Sinopsis & Review Purple Rain, Debut Layar Lebar dari Prince

Ditulis oleh - Diperbaharui 28 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Purple Rain menampilkan seorang seniman yang bernama lengkap Prince Rogers Nelson sebagai bintang utamanya. Film Netflix ini juga memperlihatkan bakat akting dari Prince yang memerankan seorang penyanyi bernama The Kid.

Selain itu juga, beberapa adegan dalam film ini menyuguhkan rangkaian konser yang telah dijalani oleh Prince sepanjang karir bermusiknya. Setelah perilisannya, Purple Rain lalu meraih penghargaan Oscar untuk kategori Best Original Song Score, serta meraup pendapatan sekitar 72 juta dollar di seluruh dunia.

Sinopsis

Purple Rain

*https://www.moviefone.com/2019/07/27/purple-rain-trivia-prince/

  • Tahun rilis: 1984
  • Genre:  Rock musical drama
  • Rumah produksi: Purple Films
  • Sutradara: Albert Magnoli
  • Pemeran Utama: Prince, Apollonia Kotero, Morris Day, Olga Karlatos, dan Clarence Williams III

The Kid merupakan seorang vokalis di sebuah band bernama The Revolution yang berasal dari Kota Minneapolis. Dalam kehidupan di keluarganya, ia mempunyai ayah dan ibu yang sering bersikap kasar kepada dirinya. The Kid menghabiskan setiap harinya untuk latihan bermusik, dan di malam harinya ia selalu tampil di klub malam First Avenue bersama bandnya.

Di dalam klub malam tersebut terdapat tiga band yang selalu mendapatkan jatah untuk tampil, mereka diantaranya adalah The Revolution, The Time dan The Modernaires.

Salah seorang personel The Time, Morris Day, menyadari jika anggota band dari The Revolution, Wendy, dan Lisa merasa kesal dengan sikap yang ditunjukan oleh The Kid. Karena melihat adanya perseteruan, Morris menghasut pemilik First Avenue, Billy Sparks, untuk mengganti The Revolution dengan sebuah girlband yang akan dibentuk olehnya.

Morris lalu memilih pacarnya The Kid yang bernama Apollonia untuk menjadi leader dalam girlband yang ia bentuk tersebut. Dirinya mulai berbohong dan mengatakan kepada Apollonia jika The Kid tidak mau membantu dalam proyeknya ini karena terlalu fokus dengan karirnya sendiri.

Apollonia kemudian menyetujui menjadi pemimpin dalam girlband yang selanjutnya dikenal dengan nama Apollonia 6.  Ia selanjutnya menemui The Kid untuk memberitahukan hal tersebut. Namun, sang pacar malah menjadi marah, dan menamparnya cukup kerasa.

Sementara itu saat berada di First Avenue, The Kid sudah merasakan mulai adanya perpecahan dalam bandnya. Di atas panggung ia tampil lepas kontrol dan malah mempermalukan pacarnya Apollonia di hadapan penonton.

Kejadian itu membuat Apollonia menangis, dan mengundang kemarahan dari Morris Day. Billy yang kecewa lalu menghampiri The Kid, dan mengatakan bahwa dirinya telah menyia-nyiakan bakat musiknya karena membawa masalah pribadi ke atas panggung.

The Kid yang lusuh lalu pulang ke rumah menyadari kesalahannya. Setibanya di sana, ia terkejut karena menyadari ibunya menghilang entah kemana, sementara ayahnya mati bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri.

Ia dilanda stress karena kejadian tersebut, dan pergi ke ruang bawah tanah untuk melampiaskan rasa frustasinya. Pada keesokan paginya, The Kid mengambil sebuah kaset yang berisikan trek lagu berjudul “Slow Groove” yang dibuat oleh Wendy dan Lisa.

Dari komposisi trek tersebut ia lalu menciptakan sebuah lagu berjudul “Purple Rain” yang didedikasikan untuk mendiang ayahnya. Lagunya itu kemudian ia bawa saat The Revolution tampil kembali di First Avenue. Saat lagu itu berakhir, The Kid lalu bergegas turun panggung dan berniat pergi menggunakan sepeda motornya.

Sebelum ia pergi menghilang, respon penonton ternyata sangat senang terhadap lagu Purple Rain yang begitu emosional. The Kid mengurungkan niatnya untuk pergi, ia lantas kembali lagi ke First Avenue dan langsung disambut penuh suka cita oleh semua penonton yang ada, termasuk Apollonia, Bill, hingga Morris.

Alur Cerita Hingga Karakter Prince Berpadu Cukup Baik

Alur Cerita Hingga Karakter Prince Berpadu Cukup Baik

*https://timeline.com/prince-purple-rain-movie-147e38d30f78

Walaupun Purple Rain adalah debut film layar lebar pertamanya, namun Prince tidak terlalu terlihat gugup dan canggung di film ini. Prince menciptakan kejutan karena ternyata tampil sesuai dengan kapasitas yang dimiliki dirinya.

Bagi yang pertama kali menontonnya Purple Rain setidaknya bisa langsung terpikat oleh Prince, meski secara langsung tidak menggemari sosok pria flamboyan ini. Cerita dalam film ini disajikan begitu sederhana, dan aura kuat yang dibawakan oleh Prince membuat alurnya menjadi semakin menyenangkan.

Prince setidaknya cukup mampu menggambarkan The Kid sebagai seorang musisi yang keras kepala, namun jauh di dalam hatinya ia ternyata rapuh. Ia kerap menggunakan musiknya sebagai pelampiasan emosi yang tidak bisa ia luapkan di kehidupan sehari-hari.

Lewat hal tersebut karya musik yang diciptakan Prince terasa personal hingga akhirnya ia menciptakan lagu Purple Rain. Karena terlalu berfokus para urusan pribadinya, ia mulai berada di ujung tanduk ketika mengalami perpecahan di dalam The Revolution, dan terancam kehilangan posisinya. Padahal, band yang ia rintis itu sedikit lagi akan mengalami pencapaian yang luar biasa.

Sosok Prince ternyata diperlihatkan juga sebagai sosok yang kharismatik lewat pendekatan asmaranya dengan Apollonia. Keduanya menampilkan lika-liku hubungan rumit diantara dua seniman yang satu sedang naik daun, dan yang satunya lagi tengah berada dalam kondisi terpuruk. Prince dan Apollonia rasanya cukup memikat dan memberikan kisah hubungan yang menarik untuk diikuti.

Selain tentang Prince, Purple Rain juga menawarkan sebuah cerita yang menyentuh lewat pendekatan cinta yang tidak terlalu berlebihan. Visual dalam film ini juga cukup baik dan sesuai dengan kualitasnya yang ada di periode 80an.

Purple Rain setidaknya menjadi salah satu film drama musikal rock yang bisa menarik simpati bagi yang menontonnya. Meski di awal-awal alurnya cukup lambat, namun saat menuju akhir film ini menyuguhkan sesuatu yang klimaks dengan penampilan Prince yang memukau di atas panggung.

Secara keseluruhan, film ini mempunyai cerita yang tersusun cukup apik, dan alurnya terasa sangat jelas. Kisah konflik personal dan bagian romansanya pun disajikan begitu solid, dan hasil akhirnya bisa dibilang cukup memuaskan untuk sebuah film jadul keluaran tahun 1984.

Perjalanan Karir Bermusik dari Prince

Perjalanan Karir Bermusik dari Prince

*https://www2.bfi.org.uk/news-opinion/sight-sound-magazine/reviews-recommendations/review-purple-rain

Purple Rain bukan hanya menjadi debut layar lebarnya sebagai aktor di industri perfilman, namun film ini juga menggambarkan jejak bermusiknya secara pribadi. Purple Rain pun bisa dibilang menjadi film semi-autobiografi yang dimana secara nyata memperlihatkan sosok Prince sebagai seorang musisi yang unik bergaya androgini.

Di lain sisi juga, beberapa pemeran di film ini menggunakan nama asli mereka, seperti Morris Day, Apollonia, Wendy, dan Lisa. Selain itu, nama grupband Apollonia 6 sebenarnya mereferensikan kepada kelompok trio penyanyi wanita, Vanity 6, yang menjadi band pembuka saat Prince melakukan tur konser di tahun 1981-1982.

Film ini juga secara langsung menjadi sebuah medium untuk memperkuat reputasi Prince yang hebat pada masanya. Meski aksi penampilan dan gaya musiknya menimbulkan sikap kontroversial, setidaknya Prince cukup berani dan percaya diri menonjolkan siapa dirinya kepada para penggemarnya maupun penonton umum.

Sebagai seorang debutan di dalam dunia perfilman, Purple Rain juga bisa dibilang menjadi salah satu pencapaian terbaik dari Prince dalam dunia akting. Karena setelah itu, Prince cukup eksis dengan tampil di beberapa film musikal seperti Under the Cherry Moon dan berakting kembali di sekuel Purple Rain yang berjudul Graffiti Bridge (1990).

Dengan bermain dalam Purple Rain, Prince telah mengangkat citranya baik secara positif maupun dengan segala kontroversinya. Selain itu, nampaknya pada era 80an film ini cukup mampu menampilkan visual yang menarik dengan sinematografi yang cukup solid memperlihatkan kehidupan di kota Minneapolis.

Purple Rain pada akhirnya bisa dibilang menjadi salah satu film musikal yang cukup sukses di eranya, dan masih layak untuk ditonton pada zaman sekarang. Seperti sebuah genre musik, film ini ingin menampilkan unsur romantis pop yang dibalut lewat balutan drama musikal, dan kisah kehidupan dari The Kid serta hubungan asmaranya dengan Apollonia.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *