Sinopsis & Review Percy Jackson: Sea of Monsters (2013)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Percy Jackson: Sea of Monsters
3.7
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Pengembangan Karakter yang Lebih Baik dan Lugas

Sebagai film yang memang diperuntukkan untuk remaja, hal yang paling saya soroti adalah seberapa kuat karakter-karakter di dalamnya. Pasalnya film ini mungkin saja bisa menginspirasi para remaja untuk mengembangkan karakter mereka di dunia. Makannya saya sangat penasaran juga denganpengembangan karakter dari Percy Jackson dan kawan-kawan.

Sejujurnya saya tidak memiliki banyak harapan, pasalnya film pertamanya membuat saya agak kecewa. Karena baik dari segi plot dan karakternya sangat tidak memuaskan dan membuat saya cukup kebingungan. Tapi saya justru mendapatkan hal lain dalam Percy Jackson: Sea of Monsters ini, dimana saya menyukai bahwa karakter utamanya bersinar dengan baik. Saya menyukai bagaimana framing Percy Jackson kini terlihat lebih lugas dan tidak abu-abu lagi.

Saya melihat Percy lebih percaya diri, tentu Logan Lerman sepertinya sudah menemukan bagaimana caranya untuk membangkitkan jiwanya di film ini. Saya suka bagaimana Percy memperlihatkan bahwa dirinya adalah pemeran utama dalam film ini. Percy lebih percaya diri dan tahu apa yang akan dia lakukan dan seperti sudah menemukan karakter dirinya dalam film ini.

Saya melihat bagaimana perkembangan akting, penjiwaan hingga script nya jauh lebih baik dari sebelumnya. Tentu ada karakter lain yang membuat saya merasa bahwa film ini memang digarap dengan baik. Karakter baru seperti Tyson yang diperankan Douglas Smith dan Dionysius oleh Stanley Tucci adalah karakter yang sangat menarik.

Pasalnya mereka membuat film ini berkembang lebih baik dan membantu karakter lainnya ikut berkembang. Saya suka sisi humor yang dari Dionysius yang konsisten selalu salah menyebut nama dari murid-muridnya. Tyson sendiri terlihat mirip dengan Percy di film pertamanya, tapi karakternya terlihat lebih clean sebagai anak yang hidup di lingkungan yang jauh dari manusia.

Clarissa tanpa sengaja mengambil cahaya Annabeth sebagai wanita paling tangguh. Meski penggambaran karakternya terlihat sangat menyebalkan, mirip dengan penggambaran Annabeth di film pertama. Grover tetap stabil meski scene-nya lebih sedikit dari sebelumnya, tapi tetap saja dia adalah karakter terbaik dalam seluruh film ini.

Annabeth justru melempem dan terlihat terpaku menjadi karakter kuat dalam tubuh yang lemah. Maksudnya Annabeth hanya memiliki mulut yang agak tajam dengan kepribadian keras. Jujur Alexandra Daddario membuat saya kehilangan ketertarikan padanya, padahal saya menginginkan ada sisi lain dari dirinya.

Rasa Harry Potter yang Lebih Kental tapi Efek Visualnya Buruk

Sebenarnya saya agak kaget ketika mengetahui bahwa Percy Jackson: Sea of Monsters ternyata tidak digarap oleh Chris Columbus. Pasalnya sepanjang saya menikmati menonton film ini, ada banyak kesan dan vibes Harry Potter didalamnya. Hal ini sangat terasa ketika berbagai hewan mitologi Yunani lebih banyak muncul di film ini.

Salah satu adegan yang membuat saya Dejavu adalah ketika Percy dan ketiga kawannya menaiki taxi yang dikemudikan oleh tiga wanita buta. Jujur saja saya langsung mengingat adegan Ron dan Harry saat menaiki mobil ajaib yang bisa terbang. Saya merasa kagum dan aneh karena kenyataanya film ini digarap oleh Thor Freudenthal, lalu Chris Columbus dan Karen Rosenfelt membantu proses produksinya.

Meski memiliki kemiripan dengan Harry Potter, bagi saya keseluruhan cerita yang ditulis oleh Marc Guggenheim tetap memiliki rasanya sendiri. Hal yang paling saya sayangkan adalah efek-efek yang ada di film ini sangat-sangat kurang. Pasalnya saya merasa CGI untuk film ini sangat buruk dan benar-benar mengurangi kemegahan dari filmnya. Tidak ada kemajuan dalam pembuatan efek spesial untuk film ini, kita bisa melihat sendiri seberapa amatir efeknya.

Setiap makhluk mitologi muncul. Kita bisa melihat bahwa efeknya kurang sempurna dan lembut. Tidak usah jauh-jauh, kita bisa melihat tanduk dan tubuh Grover terlihat seperti animasi murah. Belum lagi Tyson yang digambarkan sebagai setengah Dewa dan Cyclop, efek di wajahnya sangat-sangat tidak mulus. Saya bisa mengatakan bahwa Gollum dalam The Lord of the Rings jauh lebih baik dibanding wajah Tyson.

Mitologi Yunani Versi Modern yang Agak Membingungkan

Selain mengenai efek visualnya yang sangat-sangat disayangkan berakhir dengan kata gagal. Hal lain yang sangat saya soroti adalah menggabungkan hal modern dengan mitologi Yunani. Jujur memang tidak semuanya terasa fail, tapi kebanyakan terasa sangat aneh. Pasalnya saya masih tidak mengerti bagaimana bisa banteng mitologi dibuat versi mesin berteknologi tinggi.

Hal paling aneh, bagaimana bisa mesin itu kalah karena “pedang terkutuk” Percy? Bagaimana bisa? Ini agak aneh. Lalu memasuki pabrik pengiriman barang ke Olympus yang dimiliki oleh Hermes ayah dari Luke Castellan. Produk-produk seperti tape ajaib yang bisa membuat black hole atau menghilangkan benda dan termos angin Hercules.

Ini semua membuat saya sangat kebingungan, karena bagaimana bisa semodern ini? Disisi lain, saya menyukai dimana film keduanya membawa aspek mitologi Yunani lebih banyak dibanding sebelumnya. Saya tidak kehilangan kenyataan bahwa Percy Jackson dan Tyson adalah anak-anak dari Dewa Yunani. Di sisi lain modernisasi dari kehidupan para Dewa dan antek-anteknya terlalu ekstrim.

«1 2 3»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram