bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Peppermint, Aksi Balas Dendam Seorang Ibu

Menghilang selama lima tahun setelah suami dan putrinya tewas dalam aksi penembakan, seorang ibu menuntut balas kepada semua pihak yang tidak bisa memberikan keadilan atas peristiwa yang menimpanya, terutama seorang bandar narkoba yang memerintahkan pembunuhan keluarganya.

Sangat familiar dengan premis di atas? Peppermint adalah film action thriller yang menambahkan satu lagi ke dalam khasanah genre ini dan menandakan kembalinya Jennifer Garner ke genre yang membesarkannya setelah terakhir kali terlihat beraksi di The Kingdom (2007). Film yang diarahkan oleh sutradara spesialis film action Pierre Morel ini dirilis oleh STX Entertainment pada 7 September 2018.

Bisa jadi terlalu banyak pertanyaan di benak kita sebelum menontonnya, seperti hal baru apakah yang film ini akan berikan ke dalam jenis cerita yang sudah berulang kali ditampilkan? Tapi yang pasti, sebelum menonton aksi seru Jennifer Garner ini di Netflix, simak review kami terlebih dahulu.

Sinopsis

film-peppermint-1_

Riley North bersama suaminya, Chris, sedang berada di tengah krisis finansial. Suatu hari, teman Chris mengajaknya untuk melakukan perampokan dengan target salah satu bandar narkoba terbesar, Diego Garcia. Tetapi Chris menolaknya. Diego yang mengetahui rencana ini, langsung menghabisi teman Chris dan menugaskan tiga anak buahnya untuk membunuh Chris.

Riley dan Chris sedang merayakan ulang tahun putri mereka di sebuah karnaval. Setelah membeli makanan, tiba-tiba datang mobil mendekat dan menembaki mereka. Chris dan Carly tewas di tempat, sementara Riley kritis dan dibawa ke rumah sakit. Setelah tersadar, Riley langsung disodori pertanyaan oleh Carmichel, detektif muda yang menyelidiki kasus ini.

Riley datang ke kantor polisi untuk mengidentifikasi para pelaku kriminal dan memastikan diri untuk memilih tiga orang diantaranya sebagai tersangka. Tetapi di pengadilan, Riley kalah dan tidak mendapat keadilan yang diharapkannya. Riley digiring keluar dari ruang sidang dan dibawa ke rumah sakit, tetapi dia berhasil kabur setelah memukul Carmichael, yang ikut di mobil ambulans, dengan tabung oksigen.

Lima tahun kemudian, detektif Beltran dan Carmichael menyelidiki kasus pembunuhan dengan tiga korban yang digantung di wahana ferris wheel. Tidak hanya dari kepolisian, pembunuhan ini menarik perhatian seorang agen FBI, Lisa Inman, yang langsung turun memimpin investigasi kasus ini dengan memperlihatkan beberapa bukti kamera CCTV tentang kembalinya Riley ke Los Angeles.

Sementara itu, Riley terus beraksi dengan menenggelamkan Goldman, pengacara yang menyudutkannya di pengadilan dulu, dan meledakkan rumah Henderson, hakim yang memimpin persidangannya dulu. Beberapa aksi tambahan ini semakin menguatkan bukti keterlibatan Riley di dalamnya. Sementara itu, Diego disudutkan oleh kartel partner-nya karena kehilangan dua kargo dalam seminggu.

Kemudian Riley merangsek tempat pencucian uang kartel dan membakar semuanya yang membuat Diego semakin marah. Agen Lisa menemukan mobil van milik Riley di daerah Skid Row, wilayah kumuh di timur kota Los Angeles, dimana para pengemis dan pemulung disana menganggap Riley sebagai malaikat pelindung mereka sejak kedatangannya di daerah tersebut.

Diego memasang jebakan untuk Riley dengan meledakkan gudang yang kosong. Dikira sudah tewas, ternyata Riley justru bisa masuk ke dalam mansion Diego dan melumpuhkan satu-persatu anak buahnya. Saat berhadapan dengan Diego, Riley terkejut dengan kehadiran putri Diego yang membuatnya dengan mudah diserang dan ditusuk oleh Diego.

Riley berhasil pergi dari mansion itu dan singgah di rumah Peg untuk mengobati lukanya. Setelah mengancam Peg, Riley pergi dan kembali ke daerah Skid Row. Agen Lisa memanggil detektif Carmichael untuk membuka sebuah mobil van yang diduga milik Riley. Ternyata isi mobil itu penuh dengan senapan berat. Tidak diduga, Carmichael kemudian membunuh agen Lisa dan segera menghubungi Diego.

Tidak berapa lama, Diego dan kelompoknya sudah mengepung lokasi itu. Riley yang terluka berusaha melawan mereka satu-persatu, tapi kemudian dia tersudut di atap. Dengan menggunakan smartphone milik agen Lisa, Riley melakukan live video yang disiarkan oleh stasiun TV dan langsung ditanggapi oleh kepolisian yang segera menuju ke lokasi.

Diego menyandera salah satu anak kecil warga setempat yang membuat Riley menyerah dan turun menghadapi Diego. Dengan kondisi badan yang semakin melemah karena luka tusukan dan tidak memegang satupun senjata lagi, bagaimana cara Riley untuk menuntaskan dendamnya kepada Diego? Tonton sampai habis filmnya, ya!

Keadilan Timpang yang Dituntutnya

film-peppermint-2_

Mengingat premis film Peppermint yang terlalu sama dengan film-film sejenisnya, sebut saja The Punisher (2004) dan The Brave One (2007), apalagi yang ingin diberikan oleh sutradara Pierre Morel dalam menerjemahkan naskah karya Chad St. John? Sepertinya nyaris tidak ada, semua berjalan sesuai formula dan alur ceritanya tidak menarik.

Satu hal yang membuat kita ingin menonton film ini ialah kembalinya Jennifer Garner ke genre action, setelah beberapa tahun berkutat dalam banyak film bergenre comedy dan drama yang tidak bisa mengangkat karirnya. Garner bernostalgia dengan kegemilangan karirnya di serial Alias dan perannya sebagai Elektra di Daredevil (2003) dan spin-off-nya, Elektra (2005).

Dengan nostalgia ini, Shauna Duggins yang menjadi peran penggantinya, juga teman akrab Garner sejak 19 tahun yang lalu, dibawa serta kembali. Garner mempersiapkan dirinya selama beberapa bulan dengan latihan MMA, pertarungan dengan pisau dan cara menggunakan senapan berat. Tapi sayangnya, eksekusi aksinya di dalam film tidak memperlihatkan semua hasil latihannya tersebut.

Kerja kamera yang terkesan biasa, juga sisi sinematografinya, membuat film berdurasi 1 jam 41 menit ini tampil kurang seru sebagai film action. Karakter Riley tampil seperti banyak karakter yang pernah diperankan oleh Steven Seagal di banyak filmnya yang tidak bisa dilukai atau dikalahkan, kecuali setelah dia ditusuk oleh Diego.

Penggunaan Media Sosial

film-peppermint-3_

Mungkin yang membedakan film Peppermint dengan film-film action sejenis lainnya adalah penggunaan media sosial dan teknologi internet terkini yang ditampilkan berkali-kali di layar. Kutipan beberapa tweet tentang respon publik atas aksi Riley dan penggunaan Google Map untuk melacak keberadaan Riley hanyalah beberapa diantaranya.

Dan solusi akhir film ini pun terletak pada pemanfaatan smartphone yang digunakan oleh Riley untuk membuat video live yang disiarkan di stasiun TV. Mungkin itu adalah keputusan yang tepat disaat Riley tidak lagi memiliki senjata dan berada dalam kondisi yang lemah karena terluka. Tapi anehnya, setelah itu, Riley masih bisa menerima pukulan demi pukulan Diego dan tembakan beruntun dari para polisi.

Kurang Pendalaman Karakter

film-peppermint-4_

Inilah kelemahan terbesar film dengan pendapatan sebesar $35 juta ini, yaitu naskah yang terlalu dangkal. Padahal Chad St. John sudah repot-repot membuat kisah flashback untuk kita bisa mendalami apa yang diderita oleh Riley, yaitu peristiwa penembakan yang menewaskan suami dan putrinya yang diikuti oleh ketidakadilan yang diterimanya di pengadilan. Semua itu menjadi pondasi balas dendamnya.

Meski adegan penembakan sudah dibuat sedramatis mungkin, kita masih kurang merasa empati terhadap Riley. Selain itu, ada beberapa kematian karakter yang dibuat biasa saja padahal perannya cukup krusial di dalam film, yaitu agen Lisa Inman dan detektif Carmichael. Ada pula adegan yang terasa kurang relate, yaitu saat Riley menyambangi rumah Peg dan memukulnya. Kita pasti lupa kan siapa wanita ini?

Sangat disayangkan, kembalinya Jennifer Garner ke ranah action tidak juga memperbaiki karirnya, bahkan dia masuk sebagai nominator di kategori Worst Actress pada ajang Golden Raspberry Awards, juga salah satu aktris yang membutuhkan agen baru (Actress Most in Need of a New Agent) karena buruknya karir filmnya belakangan ini menurut EDA Special Mention Awards.

Peppermint sebenarnya bisa menjadi film yang cukup seru, terutama dengan kisah balas dendam. Meski tampil seperti film-film yang menjadi referensinya, dalam standar kualitas yang rendah, film ini sebenarnya masih bisa dinikmati apabila kita hanya ingin menyimak adegan action-nya saja dan mengabaikan banyak hal klise yang muncul. Film ini sudah bisa kalian tonton di Netflix, ya!

Peppermint
Rating: 
1.7/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram