bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Paul, Apostle of Christ (2018)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 21 Mei 2021

Luke datang ke Roma untuk mencari Paul, sang Rasul, yang telah menjadi tahanan Kaisar Nero untuk menceritakan kisahnya sebelum dieksekusi mati. Paul, Apostle of Christ adalah film drama religi yang mengambil sumber ceritanya dari kitab Injil dan memfokuskan cerita di saat-saat terakhir kehidupan Paul yang dirilis pada 23 Maret 2018 oleh Sony Pictures.

Kisah penuh inspirasi yang bisa meneguhkan iman ini diperankan oleh Jim Caviezel (yang juga bertindak sebagai produser eksekutif), James Faulkner dan Olivier Martinez dibawah arahan Andrew Hyatt yang juga berperan dalam mengolah cerita dan naskah film ini yang mengambil lokasi syuting di Malta dimana salah satu daerahnya adalah tempat karamnya perahu yang ditumpangi oleh Paul dan Luke dahulu.

Kini, film ini sudah bisa ditonton ulang di Netflix dan simak review kami terlebih dahulu tentang film yang meraih Best Christian Movie pada Plugged In Movie Awards ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2018
  • Genre: Adventure, Biography, Drama, History
  • Produksi: Affirm Films, ODB Films
  • Sutradara: Andrew Hyatt
  • Pemeran: Jim Caviezel, James Faulkner, Olivier Martinez

Luke si Yunani masuk ke Roma di saat kaum Kristiani sedang mengalami cobaan berat dari Kaisar Nero yang menganggap agama Kristen adalah pengkhianatan terhadap dewa-dewa Romawi dan menyiksa para penganutnya dengan membunuh atau membakarnya layaknya lilin di sepanjang jalan kota Roma. Luke disambut oleh Aquila dan Priscilla yang masih bingung antara meninggalkan Roma atau tetap bertahan.

Paul, sebagai pemimpin umat Kristen di Roma, ditahan di Penjara Mamertine atas tuduhan melakukan pembakaran setengah kota Roma oleh Kaisar Nero. Luke berhasil bertemu dengan Paul di setiap malamnya untuk berbincang dan mendapatkan ilmu tentang iman darinya, serta meyakinkan Paul untuk bisa memberikan wasiat kepada umat Kristen yang akan disebarkan oleh Luke.

Paul mulai menceritakan kisahnya sejak dia belum masuk Kristen dan tumbuh sebagai pemuda Yahudi yang taat di Tarsus. Saul, nama aslinya, membenci penganut Kristen yang dianggapnya pengkhianat dalam agama Yahudi dan melakukan banyak pembunuhan mulai dari temannya sendiri hingga seorang gadis kecil. Bahkan Saul meminta dikirimkan ke Damaskus untuk mengejar para penganut Kristen ini.

Disinilah dia mendapat hidayah lewat pengalaman spiritual saat mengalami kebutaan dan disembuhkan oleh Ananias, salah satu murid Yesus. Saul masuk Kristen dan mengubah namanya menjadi Paul. Dia berkhotbah hingga mencapai kota Roma dimana ajarannya ditentang oleh Kaisar Nero yang membakar setengah kota Roma dan melayangkan tuduhan pelakunya adalah Paul.

Sementara itu, golongan pemuda dari umat Kristen di penampungan tidak sabar untuk melakukan balas dendam kepada pemerintah Roma atas perlakuan tidak adil kepada mereka, terutama setelah salah satu pemuda ditemukan tewas di jalanan. Cassius memimpin para pemuda untuk melepaskan Paul dan Luke dari penjara, tetapi mereka berdua justru menentang tindakan ini.

Mauritius, pimpinan penjara, menaruh simpati kepada Paul karena dia tahu bahwa Paul hanyalah kambing hitam dari aksi kaisarnya. Mauritius juga sedang menghadapi masalah keluarga yang pelik dimana putri kesayangannya sedang sakit parah dan tidak bisa disembuhkan oleh para tabib Romawi, bahkan dia sudah berkali-kali melakukan korban untuk dewa-dewa yang tidak juga menjawab permintaannya.

Ketika kondisi putrinya sudah semakin kritis dan tabib Romawi menyerah, atas saran Paul, Mauritius memanggil Luke di penjara untuk mengobati putrinya. Dengan sigap Luke melakukan tindakan pengobatan dan meminta Mauritius untuk mengambil peralatannya di penampungan rahasia umat Kristen. Putri Mauritius akhirnya sembuh tapi hal ini tidak mengubah pandangannya kepada Kristen.

Paul dieksekusi mati, Luke menyebarkan wasiat Paul dari Roma dengan banyak membuat salinan untuk umat Kristen di daerah lain, Aquila dan Priscilla beserta beberapa orang lainnya akhirnya keluar dari Roma secara sembunyi-sembunyi demi keselamatan nyawa mereka.

Ringkasan Sejarah Hidup Paul, Sang Rasul

Ringkasan Sejarah Hidup Paul, Sang Rasul

Paul yang dilahirkan di Tarsus (saat ini adalah daerah di Turki) sekitar tahun 5 M adalah salah satu tokoh penting dalam agama Kristen, terutama di zaman Kerasulan di abad pertama lahirnya agama ini. Di dalam Paul, Apostle of Christ ini diceritakan, meski secara sekilas, apa yang dilakukan Paul sebelum dia masuk Kristen setelah mendapat hidayah di Damaskus.

Paul langsung mendapat tugas sebagai misionaris bersama Barnabas dari Antiokhia ke Siprus lalu ke Anatolia dan kembali ke Antiokhia. Kemudian dia ke Yerusalem untuk menjadi anggota dewan. Perdebatan tentang hukum sunat yang terjadi, membuat Paul memutuskan untuk melakukan tugas misionaris kembali ke Antiokhia dan Tarsus, kampung halamannya, kemudian menetap lama di Corinth.

Tugas misionarisnya berlanjut dan Paul menempuh perjalanan hingga ke Efesus, daerah Yunani sekarang. Paul mulai mengumpulkan pengikut lewat khotbah-khotbah yang dilakukannya di setiap tempat, hingga mencapai Makedonia dan wilayah sekitar Yunani lainnya. Paul juga berjalan hingga ke kota Roma dan wilayah sekitar Spanyol, sebelum akhirnya kembali ke Yerusalem.

Kunjungan terakhirnya ke Yerusalem ini berakhir dengan penangkapan atas dirinya karena fitnah yang dilakukan oleh kaum Yahudi. Paul kemudian diamankan oleh pemerintah Romawi karena ada dugaan rencana pembunuhan terhadapnya yang kemudian memindahkannya ke wilayah Tel Aviv sekarang. Atas saran dari seorang jendral Romawi, Paul diminta datang ke Roma untuk mendapatkan kewarganegaraan.

Kapal yang ditumpanginya karam di Malta dan dia berjalan menuju Roma. Paul mendirikan gereja di Roma dan menjadi pemimpin agama Kristen disana hingga dia dituduh atas pembakaran setengah kota Roma oleh Kaisar Nero yang membenci umat Kristen. Cerita film ini dimulai di fase akhir hidup Paul menjelang eksekusi matinya yang diceritakan ulang oleh Luke.

Para Aktor Langganan Film Religi

Para Aktor Langganan Film Religi

Ada hal unik dari para pemeran di film Paul, Apostle of Christ ini, yaitu mereka pernah membintangi film-film religi lain sebelumnya. Jadi film ini bukanlah pengalaman pertama mereka berperan dalam film yang mengambil kisah dari kitab Injil. Seperti yang kita tahu, Jim Caviezel pernah sukses dalam perannya sebagai Yesus di film kontroversial The Passion of the Christ (2004).

Joanne Whalley yang berperan sebagai Priscilla pernah membintangi miniseri A.D. The Bible Continues (2015) dan kisah Nuh di The Ark (2015). Pemeran Aquila, John Lynch, pernah tampil di The Nativity (2010) dan Killing Jesus (2015). Sedangkan pemeran Paul, James Faulkner, pernah memerankan sosok Pope Sixtus IV di serial Da Vinci’s Demons.

Paling tidak, dengan pengalaman mereka, film Paul, Apostle of Christ sedikit lebih berisi dari sisi akting. Meski tempo film terkesan lambat dan banyak adegan yang tidak tergarap dengan baik, setidaknya akting mereka tidak mengecewakan. Keotentikan lokasi dan fakta sejarah yang akurat juga menjadi kelebihan lain film yang digarap dengan bujet hanya sebesar $5 juta ini.

Sejatinya, Hidup Kita Ini Adalah Sebagai Hamba

Sejatinya, Hidup Kita Ini Adalah Sebagai Hamba

Paul, Apostle of Christ menggambarkan cobaan besar yang diderita oleh umat Kristen di awal-awal penyebaran agama ini, terutama di wilayah kekuasaan Romawi. Pembantaian yang dilakukan Kaisar Nero dan penyebaran fitnah kepada kaum Nasrani ini memang melewati batas kemanusiaan. Tetapi Paul, sang Rasul, tetap berpegang teguh dengan pemahaman “membalas kejahatan dengan kebaikan”.

Meski dipenjara dan disiksa, Paul tidak berusaha untuk membuat pemberontakan atau perlawanan kepada pemerintah Romawi, justru dia meminta kepada kaumnya untuk bersabar dan bertahan serta tetap menyebarkan kebaikan. Disinilah keteguhan iman itu diuji, apakah iman itu akan runtuh atau justru semakin kuat menancap di dalam hati.

Sejatinya, kita ini diciptakan oleh Tuhan sebagai hamba. Selanjutnya tergantung kita ingin menjadi hamba apa/siapa. Apakah menjadi hamba harta? Atau hamba kekuasaan? Atau hamba lainnya yang berorientasi keduniaan? Dan yang pasti terbaik adalah menjadi hamba Tuhan, karena dijanjikan selamat di akhirat kelak.

Dunia ini hanyalah sementara, di akhirat nanti hidup yang kekal selamanya, dan kita butuh bekal yang banyak untuk kehidupan abadi itu. Apa bekal yang terbaik? Yaitu amal kebaikan selama di dunia. Makanya, dunia adalah ladang bagi kita untuk mengumpulkan amal kebaikan sebanyak-banyaknya. Semoga di akhirat nanti kita menjadi orang yang beruntung.

Pesan inilah yang tersirat dan ingin disampaikan lewat film Paul, Apostle of Christ dimana Luke berpesan kepada para tahanan yang akan menghadapi eksekusi esok harinya untuk tetap berbahagia dengan janji Tuhan dan kesakitan di dunia ini akan segera berakhir karena bersifat sementara. Untuk memperteguh keimanan ini, kita dituntut untuk lebih banyak lagi belajar agama dengan baik dan benar.

Pada akhirnya, film religi seperti Paul, Apostle of Christ ini memang bisa menginspirasi dan meneguhkan kembali keimanan. Meski kualitas film ini masih jauh jika dibandingkan film bertema sama yang sudah pernah dibuat sebelumnya, setidaknya kita bisa menambah wawasan tentang sekelumit kehidupan Paul menjelang akhir hayatnya. Jadi tidak ada ruginya kita menonton film ini di layar Netflix, ya!

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram