Sinopsis dan Review Passing, Tekanan Batin Seorang Wanita

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Passing
3.5
/5
PERHATIAN!
Artikel ini mengandung spoiler mengenai jalan cerita dari film/drama ini.

Memang tidak ada penggambarannya secara eksplisit, tapi peristiwa ini turut mempengaruhi tensi emosi antara Irene dan Brian di rumah.

Tarik-Ulur Emosi Penuh Empati dan Kesedihan

Tarik-Ulur Emosi Penuh Empati dan Kesedihan

Pertemanan Irene dan Clare sejak bertemu kembali memang cenderung tidak harmonis, karena sempat terjadi tarik-ulur dalam hubungan mereka.

Pertemuan pertama diwarnai dengan Irene yang menarik diri karena komentar pedas suami Clare yang membenci dan merendahkan warga kulit hitam, tapi kemudian Clare datang meminta maaf dan pertemanan mereka kembali terjalin.

Sempat muncul hasrat terlarang tapi tidak terwujud, hubungan mereka kembali merenggang ketika Clare terlihat semakin dekat dengan Brian, bahkan membuat Brian seolah-olah membela Clare terus-menerus dalam setiap perbincangan tentangnya yang pasti mengundang kecemburuan Irene.

Tapi Irene lebih banyak memendam dukanya di hati dan hanya sekali bertengkar dengan Brian tentang dugaannya ini. Sebenarnya, Irene dan Clare memiliki rasa cemburu kepada kehidupan temannya tersebut.

Clare cemburu kepada Irene yang dianggapnya mampu memegang teguh prinsipnya sebagai wanita kulit hitam dan memiliki sikap moral yang baik, sedangkan Irene cemburu kepada Clare yang lincah, berjiwa bebas dan memiliki kepribadian yang mempesona.

Chemistry Apik Bersinergi dari Kedua Aktrisnya

Chemistry Apik Bersinergi dari Kedua Aktrisnya

Dengan fokus cerita pada dua sosok wanita ini, tentu saja performa akting dua aktris yang memerankannya mendapat sorotan lebih, dan Tessa Thompson serta Ruth Negga tampil tidak mengecewakan sama sekali.

Thompson yang membawakan karakter ibu rumah tangga yang merasa insecure dengan rumah tangga dan lingkungannya, tampil total dengan gestur yang meyakinkan.

Dalam sebuah adegan dimana Irene dan Clare terlibat perbincangan dengan John yang mengucapkan kalimat-kalimat penuh kebencian dan perendahan terhadap warga kulit hitam, meski dalam nada yang sopan, membuat hati Irene terasa tercabik-cabik.

Sikapnya yang mulai gelisah tapi harus berusaha tetap tenang mengundang ketegangan yang bisa dibilang setara dengan adegan car chase di film action.

Sedangkan Negga berhasil membawakan sosok Clare yang terbiasa dengan kehidupan kelas atas, mudah berbaur dengan siapa saja, dan memiliki pesona yang mampu menyihir semua pria, bahkan Brian pun terbius olehnya meski dia tidak mengakuinya.

Dengan pendekatan apik dalam menampilkan proses tekanan batin pada sosok seorang wanita kulit hitam di era 1920an yang masih kental dengan suasana diskriminasi rasialis.

Rebecca Hall terbukti memiliki tangan dingin sebagai sutradara bertalenta yang mampu menyajikan film dengan cerita yang sensitif seperti ini dengan keintiman yang mengesankan.

Kesan klasik di film berdurasi 1 jam 38 menit ini seolah tertancap dengan kuat berkat keapikan sinematografi tanpa warna dan iringan musik jazz yang populer pada masa tersebut yang mampu membawa perasaan kita masuk lebih dalam kepada pergolakan batin Irene.

Memang masih terlalu dini, tapi sepertinya Passing akan menjadi kandidat kuat di ajang Academy Awards berikutnya. Sebelum waktunya tiba, saksikan film ini sekarang di Netflix!

«1 2
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram