bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film New York Minute (2004)

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 19 September 2021

Dibintangi oleh Artis ternama, bukan berarti sebuah film akan mendapatkan jaminan untuk menjadi sukses. Hal ini terjadi pada New York Minutes yang justru dikenal sebagai salah satu film terburuk sepanjang masa. Padahal film ini dibintangi oleh Ashley dan Mary-Kate Olsen yang saat itu sedang naik daun dan populer sekali.

Mengisahkan anak kembar yang memiliki kepribadian berbeda, Jane harus mengalami hari yang berat berkat ulah Roxy. Film yang disutradarai oleh Dennie Gordon dan penulis Emily Fox ini mendapatkan penilaian rendah di Rotten Tomatoes. New York Minutes mendapatkan nilai 11% dari 119 review dan hampir menjadi akhir karir bagi Olsen twins.

Pasti banyak yang penasaran dong, kenapa film New York Minutes ini bisa menjadi film yang buruk? Kamu akan mendapatkan informasi lengkapnya dibawah ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 7 Mei 2004
  • Genre: Drama, Comedy
  • Sutradara: Dennie Gordon
  • Pemeran: Ashley Olsen, Mary-Kate Olsen, Eugene Levy, Andy Richter, Jared Padelecki, Riley Smith
  • Rumah produksi: Dualstar Productions, Di Novi Pictures

Dua anak kembar Jane dan Roxy ternyata memiliki kepribadian yang saling bertolak belakang. Jane (Ashley Olsen) adalah seorang anak yang berprestasi tapi memiliki gangguan tegang. Sedangkan Roxy bercita-cita menjadi musisi dan mengidolakan Simple Plan. Mereka berdua tinggal di satu kota di pinggiran kota Long Island.

Jane berencana ke New York untuk menyampaikan pidato beasiswanya, sedangkan Roxy untuk merekam demo grup musiknya. Keduanya pergi bersama dengan menaiki kereta, tetapi tiket milik Roxy terlempar keluar. Alhasil keduanya dikeluarkan dari kereta, Roxy bertemu dengan Jim (Riley Smith) dan menggodanya.  

Ternyata Jim menyelipkan chips di tas Roxy dan membawa mereka bertemu dengan Bennie Bang. Bennie memberikan tumpangan pada keduanya untuk pergi ke New York dengan limusinnya. Tapi keduanya justru dikunci di dalam, dengan cerdiknya kedua wanita ini kabur lewat sunroof tapi buku agenda Jane tertinggal di sana.

Disisi lain, Roxy ternyata sedang menjadi buronan dari seorang perwira yang mencari anak-anak pembolos yaitu Lomax. Roxy dan Jane masuk ke kamar hotel mewah untuk membersihkan diri, hingga keduanya mendapatkan telepon ancaman dari Bennie. Ia meminta chip yang ada di tas Roxy, tapi saat itu anjing bernama Reinaldo memakan chip tersebut.

Keduanya memutuskan untuk berpisah, Jane membawa Reinaldo bertemu dengan Bennie dan menukar anjing itu dengan agendanya. Roxy yang merasa Jane selalu bertingkah seperti ibu mereka setelah kepergiannya, memilih untuk pergi ke tempat rekaman. Sementara Jane menganggap Roxy sangat urakan, tidak pernah ada untuknya dan tidak pernah serius dengan kehidupannya.

Saat berada di perjalanan, Roxy melihat limousine milik Bennie dan mengambil agenda milik Jane. Roxy mengambil tempat Jane untuk berpidato, membantu saudara kembarnya agar tidak kehilangan kesempatannya. Ditengah-tengah pidatonya, Jane datang dan mengambil alih pidato dan mengakui kesalahannya.

Saat itu juga Lomax dan Bennie datang dan perbuatan ilegal Bennie terbongkar dan Lomax menjadi pahlawan dengan menangkapnya. Sempat pesimis, Jane akhirnya mendapatkan beasiswa yang ia inginkan di Oxford. Tak lama setelah itu Roxy akhirnya bisa melakukan rekaman bersama bandnya, sementara itu Lomax menjadi polisi resmi dan menjadi fans Roxy.

Jalan Cerita Membingungkan, Tapi Masih Bisa Dinikmati

Jalan Cerita Membingungkan, Tapi Masih Bisa Dinikmati

Jika kamu ingin mencari film yang memiliki cerita yang bagus, New York Minutes mungkin bukan pilihan yang tepat. Tapi dalam segi film yang bisa membuat kamu rileks dan tertawa dengan cerita dan adegannya film ini cocok. Pasalnya saya sendiri mengakui bahwa New York Minutes bukan film yang memiliki alur yang baik.

Cerita yang diangkat di film ini bagi saya sangat tidak jelas, apa yang ingin dicapai dan apa yang ingin ditonjolkan. Beruntungnya film ini memiliki sisi komedi dan penampilan yang tidak terlalu mengecewakan dari Olsen twins. Saya juga tidak bisa mengatakan bahwa film ini ingin memberikan unsur komedia saja, karena toh komedinya tidak memuaskan.

Sejujurnya saya bingung dengan jalan cerita film ini, mulai dari dikejar pengawas sekolah hingga melakukan rekaman musik. Alur film ini sangat cepat, bahkan saya merasa sedang menonton Tom and Jerry di film ini. Meski komedinya tidak selucu mereka, komedi yang ditampilkan sejujurnya bisa membuat saya agak bertanya-tanya juga.

Bisa dibilang ini adalah film petualang Olsen twin di mimpi mereka, karena pada dasarnya saya melihat banyak ketidak singkronan. Seperti make over di salon yang berisikan orang-orang kulit hitam, entah ingin menunjukkan kesetaraan atau apa. Tapi hal ini justru terlihat ambigu, belum lagi ketika mereka berurusan dengan sindikat pembajakan film yang notabennya orang berdarah Cina.

Konfliknya dan plot twist terasa sangat berantakan dan saling membelit satu sama lainnya. Meski begitu saya bisa mengatakan bahwa film ini masih bisa dinikmati selama kamu hanya menikmati menonton saja. Tidak memperdulikan jalan cerita, tapi menyukai bagaimana kehidupan anak-anak ini terasa seperti di roller coaster.  

Akting dan Karir Olsen Twin yang Naik Turun di Film Ini

Akting dan Karir Olsen Twin yang Naik Turun di Film Ini

Sejujurnya ini adalah pertama kalinya saya menonton si kembar Ashley dan Mary-Kate Olsen berakting. Karena selama ini saya hanya tahu keduanya sebagai seorang selebriti, fashion designer dan model. Jadi ini tentu saja pengalam baru bagi saya untuk melihat kakak-adik ini berakting di layar lebar. Sejujurnya saya memiliki ekspektasi di awal film diputar, pasalnya keduanya terlihat memiliki kepribadian berbeda.

Sayangnya sepanjang film diputar, saya tidak merasakan ada yang spesial dari film ini. Baik Ashley maupun Mary Kate tidak memberikan akting yang maksimal. Berterima kasih karena mereka memiliki wajah yang cantik, camera face dan fashion yang luar biasa. Jadi meski mereka hanya diam, wajah mereka mendukung untuk terlihat seperti sedang berakting.

Tapi tetap saja, saya kurang menikmati ketika Ashley Olsen terlihat sangat tidak leluasa dengan perannya sebagai Jane Ryan. Mary-Kate mungkin terlihat enjoy dan lepas berperan sebagai Roxy yang urakan dan tidak terkendali. Tapi dari keduanya saya merasa seperti bukan melihat Olsen twin yang bermain di film ini, lebih pada satu orang bekerja keras berperan menjadi dua orang.

Jika dibandingkan dengan Lindsay Lohan kecil dalam film The Parent Trap (1998), jelas film ini masih lebih unggul. Di film ini saya melihat ada rasa canggung, karena saya melihat mereka seperti bukan anak-anak dan bukan orang dewasa juga. Apalagi beberapa adegan dalam film ini memperlihatkan Ashley Olsen memakai handuk pendek dan dalam tanda kutip “Telanjang”.

Bahkan rumor yang beredar Mark-Kate menderita anoreksia tak lama setelah film ini ditayangkan. Hal ini terlihat dari penampilan Mark-Kate yang terlihat sangat kurus dari sejak pembuatan film hingga setelah film di tayangkan. Bahkan ketika berita ini keluar, berita lain mengatakan bahwa penampilan keduanya di film ini adalah ambang kehancuran mereka.

Impian keduanya untuk merubah image dan menambah penggemar dewasa yang tentu berpikiran jernih harus tersingkir. Pasalnya di film ini keduanya mendapatkan cukup banyak kritikan, orang beranggapan film ini mungkin adalah keinginan tersembunyi si kembar. Karena di film ini kedua anak ini sangat ingin berpisah, meski pada akhirnya kembali bersama.

Eugene Levy Berhasil Membuat Film Ini Tidak Monoton

Eugene Levy Berhasil Membuat Film Ini Tidak Monoton

Meski saya cukup kecewa dengan akting dari Olsen twins, setidaknya ada satu orang yang membuat saya bisa menikmati film ini. Max Lomax adalah karakter yang menurut saya berperan penting meningkatkan heat di film ini. Pasalnya sebagai pembuat masalah utama, Lomax benar-benar menjadi orang yang membuat karakter yang diperankan Olsen twins berkembang.

Lomax datang dengan setelan seperti seorang guru yang super rapi dengan tatapan dan nada bicara yang angkuh. Ia mencari anak-anak yang membolos sekolah dan menjatuhi hukuman bagi anak-anak nakal ini. Sejujurnya saya tidak tahu apakah benar di Amerika ada polisi atau petugas yang mengatasi anak-anak membolos sekolah.

Tapi peran Lomax yang di perankan oleh Eugene Levy menjadi salah satu faktor kenapa film ini masih bisa dinikmati. Pasalnya peran Lomax di film ini adalah salah satu karakter yang tujuannya jelas dan karakternya pun cukup kuat. Untuk kualitas aktingnya, sebagai aktor senior tentu saja aktingnya tidak perlu diragukan lagi.

Saya pikir film ini tidak akan terselamatkan jika Eugene Levy tidak berperan sebagai Lomax di film ini. Meski ada trouble maker lainnya yaitu Bennie yang diperankan oleh Andy Richter yang cukup membuat kita tertawa. Apalagi ketika si Bennie ini merasa dirinya adalah orang keturunan Chinese, meski sebenarnya ia adalah orang Amerika murni.

Kehadiran kedua orang ini jelas membuat karakter yang diperankan oleh Ashley dan Mary-Kate Olsen bisa berkembang dan tidak monoton. Kedua orang ini membuat hari si kembar jadi lebih berwarna karena harus kejar-kejaran seharian.

New York Minutes: Film Terburuk dan Simbol Seks Bagi Predator

New York Minutes: Film Terburuk dan Simbol Seks Bagi Predator

New York Minutes mungkin dibintangi oleh dua kakak beradik paling populer di Amerika Serikat saat itu. Pasalnya siapa yang tidak tahu si kembar Ashley dan Mary-Kate Olsen yang sejak balita wajahnya sudah sering terlihat di televisi. New York Minutes sendiri menjadi transisi bagi keduanya dari artis cilik ke dewasa, tentu bukan hal yang mudah.

Pasalnya ketika New York Minutes di tayangkan, film ini langsung terjun ke urutan 11 sebagai film terburuk sepanjang masa. Rotten Tomatoes memberikan penilaian 11% dari 119 orang yang mereview film ini. Padahal Olsen twins ini sedang berada di puncak karirnya, berusia 18 tahun lalu memiliki banyak fans dan kehidupan yang sangat diimpikan banyak orang.

Namun setelah penayangan film ini, karir keduanya justru berada di ambang kehancuran. Berterimakasihlah pada keluarga Olsen yang sangat berpengaruh, kehidupan mereka masih terselamatkan. Pasalnya film ini dianggap tidak cocok dengan citra dan usia mereka yang notabennya masih sangat muda.

Olsen twins masih berusia sekitar 18 tahun saat mereka membuat film New York Minutes ini. Namun jika diselidiki lebih baik lagi, ternyata film ini mengandung simbol seksualisme di dalamnya. Bagaimana ketika mereka berlarian mengelilingi Manhattan hanya dengan memakai handuk. Bahkan ketika mereka jatuh ke tempat sampah dan menyadari bahwa Jane yang diperankan Ashley telanjang.

Saya pikir film ini mungkin cukup membuat banyak pria yang menontonnya berpikiran negatif. Bahkan saya baru tahu bahwa ada satu adegan dalam film ini yang dianggap simbolisme seksual. Ketika ular peliharaan Roxy menyelinap masuk ke kamar mandi melalui tangki saat mandi. Tentu saja spekulasi akan datangnya simbol seksualisme untuk pedofil makin tinggi.

Jika saya harus mengatakan apakah film ini worth? Tentu cukup worth untuk di tonton, jika kita tidak memperdulikan sisi ceritanya. Karena saya cukup menikmati menonton film ini sebagai salah satu film penghilang rasa penat.

New York Minute
Rating: 
2/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram