bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Aksi Komedi National Security (2003)

Menjadi petugas keamanan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ada resiko besar yang dipertaruhkan. Mereka bisa terluka bahkan bukan nggak mungkin juga bertaruh nyawa ketika menjalankan tugasnya.

Oleh sebab itu, petugas keamanan harus memiliki kemampuan khusus terutama ketika dihadapkan dengan situasi yang sulit.

Dalam bertugas, petugas keamanan bisa menjadi salah satu komponen yang membantu kepolisian sebagai aparat berwajib. Bahkan bukan nggak mungkin, sebelum polisi datang, petugas keamanan-lah yang langsung berhadapan dengan kriminal.

Di film National Security, ada dua petugas keamanan yang berupaya menjadi pahlawan dengan memecahkan kasus besar. Kisahnya bisa di simak di sinopsis dan review film berikut ini.

Baca juga: Sinopsis dan Review Film Aksi Komedi Game Night (2018)

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2003
  • Genre: Comedy, Action
  • Produksi: Columbia Pictures
  • Sutradara: Dennis Dugan
  • Pemain: Martin Lawrence, Steve Zahn, Colm Feore, Bill Duke, Eric Roberts

Hank Rafferty dan Charlie Reed adalah dua orang anggota LAPD yang menyelidiki sebuah gudang berisi barang-barang curian. Ketika mengejar para pencuri, Charlie harus meregang nyawa karena tertembak.

Sementara itu, Earl Montgomery adalah seorang pemuda yang berupaya menjadi polisi lewat jalur akademi kepolisian. Sayang, keinginan itu musnah karena tindakan Earl yang meledakkan mobil polisi ketika seleksi.

Hank diperingatkan oleh atasannya, Detektif Frank McDuff untuk nggak lagi menginvestigasi kasus yang menewaskan Charlie. Ketika bertugas di luar, dia melihat Earl yang sedang mencoba membuka kunci mobil dengan cara memasukkan tangan dari jendela.

Merasa curiga akan ada pencurian mobil, Hank pun menghampiri Earl. Hank mencoba menanyai Earl untuk melihat apakah Earl melakukan pencurian atau nggak.

Earl malah memancing amarah Hank dengan tuduhan Hank bertindak rasis. Hank mencoba menangkap Earl tapi Earl ketakutan melihat lebah sebagaimana dia alergi lebah.

Hank mencoba mengusir lebah menggunakan tongkatnya. Seorang warga merekam tindakan itu dan terlihat seolah-olah Hank mencoba memukuli Earl.

Earl diamankan ke kepolisian. Dia menyatakan bahwa Hank menyerangnya sampai wajahnya memar, padahal disengat oleh lebah.

Tuduhan itu dibantah oleh Hank tapi barang bukti berupa video berkata lain. Alhasil, Hank pun diberi tuntutan penyerangan terhadap warga sipil dan dijebloskan ke dalam penjara selama enam bulan.

Setelah keluar dari penjara, Hank bekerja sebagai petugas keamanan. Pekerjaan barunya itu nggak menghentikan niatnya untuk menginvestigasi kematian Charlie.

Ketika bertugas, Hank menghampiri sebuah gudang yang alarmnya berbunyi. Earl ternyata bekerja di perusahaan keamanan yang sama dan sedang bertugas di gudang itu juga.

Hank yang menyelidiki gudang harus berhadapan dengan sekelompok pencuri. Earl mencoba membantu tapi komplotan pencuri itu berhasil melarikan diri.

Hank dan Earl pun mencoba untuk bekerja sama mengejar komplotan pencuri. Di jalan, mereka berdua diberhentikan oleh polisi karena berkendara di atas kecepatan yang ditentukan.

Hank dan Earl menemukan sebuah ponsel milik salah satu komplotan pencuri. Mereka mulai melacak di mana pencuri itu beroperasi. Petunjuk itu mengarah pada sebuah truk berisikan drum.

Ketika menyelidiki drum, alarm di truk itu berbunyi. Baku tembak bersama komplotan pencuri pun terjadi. Hank dan Earl berhasil melarikan diri menggunakan truk itu.

Hank dan Earl menyelidiki isi dari truk. Ada puluhan drum tempat penyimpanan bir yang ternyata terbuat dari campuran logam berharga jutaan dollar.

Kebingungan mencari tempat aman, Hank membawa truk ke rumah mantan kekasihnya, Denise. Denise sendiri memutuskan hubungan dengan Hank setelah Hank ditangkap oleh polisi.

Dari berbagai petunjuk yang ada, Hank dan Earl mulai menyadari bahwa ada pihak dari kepolisian yang bekerja sama dengan para penjahat. Mereka pun mulai mencari data pemilik dari truk.

Pada malam harinya, mereka berdua melakukan pengawasan di rumah pemilik truk. Ternyata ada orang dari kepolisian yang mereka kenal. Siapakah dia? Bisakah Hank dan Earl memecahkan kasus yang mereka selidiki?

Cerita Terlalu Predictable

Cerita Terlalu Predictable

National Security adalah tipikal film buddy cop. Yang membedakan adalah dua polisi yang mencoba memecahkan kasus nggak akur satu sama lain.

Tapi elemen itu perlahan-lahan menghilang di third act dan membuat cerita bergulir layaknya film-film bertema serupa. Akhirnya, film ini jatuh ke dalam tipikal film from zero to hero.

Nggak ada yang salah dengan cerita from zero to hero tapi Martin Lawrence sudah terlampau sering bermain dalam cerita yang sama.

Alhasil, kita seperti menonton pengulangan dari film-film lain yang dibintanginya. Padahal relasi yang jauh dari kata akur dari Hank dan Earl merupakan senjata andalan sejak awal film.

Karakter Hank dan Earl praktis menjadi yang diberi pendalaman karakter. Atasan Hank di kepolisian, Denise dan karakter lain nggak diberi kesempatan yang cukup untuk membuat film mengikat secara emosional.

Walau begitu, Hank dan Earl yang menjadi fokus di film ini cukup memberikan dinamika yang menarik. Selain banyak menggunakan unsur komedi, film ini juga menyertakan berbagai adegan action khas film buddy cop.

Adegan tembak-menembak, kejar-kejaran mobil disertakan ke dalam cerita walau terasa kurang masuk akal. Secara sinematografi, film ini nggak memberi sajian spesial. Editing ketika adegan laga pun nggak dikemas dengan maksimal.

Lelucon tentang Rasisme

Lelucon tentang Rasisme

National Security banyak dikritik karena terlalu sering melempar lelucon yang berhubungan dengan rasisme. Karakter Earl di film ini secara terus-menerus playing victim dengan seolah-olah menjadikan dirinya korban atas perilaku rasisme.

Padahal hal itu dia lakukan semata-mata untuk melindungi diri. Tapi lelucon yang membuat Hank di dalam cerita masuk penjara, dianggap sudah melewati batas.

Ada juga lelucon tentang pernikahan sejenis yang nggak disetujui oleh Earl. Hal itu semata-mata dilakukan Earl karena menganggap Denise, yang juga keturunan Afrika-Amerika, terlalu atraktif untuk seorang Hank.

Candaan konyol seperti ini merupakan tipikal yang dilempar Lawrence, tapi dengan frekuensi yang sangat sering di film ini, menjadikan karya sutradara Dennis Dugan ini sebagai sasaran kritik.

Sosok Earl yang memutarbalikan fakta tentang rasisme dianggap sebagai preseden buruk dan stereotip orang Afrika-Amerika. Terlebih di Amerika, masalah rasisme dianggap sebagai salah satu yang sensitif.

Mungkin film ini mencoba mengangkat posisi terbalik ketika orang Afrika-Amerika yang bersikap rasis terhadap kulit putih tapi cara pengemasannya kurang proporsional.

Chemistry Steve Zahn dan Martin Lawrence

Chemistry Steve Zahn dan Martin Lawrence

Keunggulan paling utama National Security adalah adegan-adegan yang menampilkan karakter Hank dan Earl. Steve Zahn bisa masuk ke dalam karakter Hank yang kaku, patuh pada peraturan tapi punya masalah dengan temperamen.

Sementara Martin Lawrence sebagai Earl sebaliknya, dia bisa bertindak melanggar peraturan dan mengesalkan. Perbedaan sifat yang bertolak belakang antara Hank dan Earl inilah yang menjadikan cerita di film ini terasa menarik.

Adegan pertengkaran keduanya di rumah Denise menjadi bukti betapa cairnya kedua aktor memperlihatkan hubungan saling membenci. Dan adegan di atas gedung ketika mengawasi gudang bisa menjadi cermin keduanya juga bisa berhasil membuat adegan yang terasa menyentuh.

National Security merupakan tipikal film yang memberikan komedi ringan. Sayangnya, komedi yang diangkat terlalu sensitif untuk dikonsumsi masyarakat luas. Durasi selama 88 menit terasa cepat sebagaimana film ini seperti enggan berbasa-basi.

Adegan Earl meledakkan mobil ketika seleksi masuk akademi kepolisian menjadi salah satu adegan paling ikonik dari film ini. Ada film buddy cop favorit kamu? Tulis di kolom komentar yuk, guys!

National Security
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram