bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Mother/Android, Dikejar Robot Saat Hamil

Seorang wanita yang sedang hamil bersama kekasihnya terpaksa harus berjalan tanpa henti demi menghindari kejaran para robot Android, untuk menuju lokasi yang dianggap aman.

Berhadapan dengan berbagai situasi sulit dalam perjalanan, mereka harus segera mencari tempat agar bisa melahirkan dengan tenang dan kemudian menentukan masa depan bayi mereka.

Mother/Android adalah film sci-fi thriller dengan tema post-apocalyptic karya perdana Mattson Tomlin yang dirilis di Amerika Serikat oleh Hulu pada 17 Desember 2021, dan oleh Netflix secara internasional pada 7 Januari 2022.

Mengusung tema pemberontakan robot, yang di film ini dinamakan Android, sepertinya sudah sering difilmkan dan terasa usang. Apakah nanti ada hal baru yang berusaha ditawarkan?

Simak review berikut yang akan mengulas semua hal tentang film yang lokasi syutingnya bertempat di sekitaran Massachusetts, termasuk kota Boston dan Lynn Woods Reservations ini.

Sinopsis

sinopsis_
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Drama, Thriller, Sci-Fi
  • Produksi: Miramax, 6th & Idaho Productions
  • Sutradara: Mattson Tomlin
  • Pemeran: Chloe Grace Moretz, Algee Smith, Raul Castillo

Di malam Natal, Georgia Olsen mengetahui bahwa dirinya sedang hamil dari hubungannya bersama sang kekasih, Samuel “Sam” Hoth.

Meski Sam mengajak Georgia untuk menikah, dia tidak menduga akan menjadi seorang ibu di usianya saat ini. Mereka kemudian pergi ke pesta Natal di rumah teman kampusnya. Georgia dan Sam terlibat perdebatan di pesta yang kemudian dilihat oleh teman-temannya.

Tiba-tiba terdengar suara lengkingan yang keras dari alat elektronik yang membuat semua perangkat elektronik di rumah itu rusak, dan robot pelayan disitu mendadak menyerang mereka, serta membunuh beberapa di antaranya.

Sam dan Georgia berhasil keluar dari rumah dan menyaksikan seisi kota dalam kekacauan akibat pemberontakan robot Android.

Sembilan bulan kemudian, Sam dan Georgia dalam perjalanan menuju Boston agar bisa keluar dari Amerika dan mencari tempat aman di Asia.

Beberapa hari kemudian, mereka sampai di sebuah kamp pertahanan militer Amerika, di mana Georgia bisa memeriksakan kehamilannya dan disarankan oleh dokter untuk melahirkan di kamp ini saja.

Sam yang tersinggung oleh ucapan Georgia yang sedang tidak stabil emosinya karena hormon kehamilan, nekat berkelahi dengan salah satu tentara sebagai taruhan atas sebuah informasi kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke Boston.

Tapi justru komandan kamp mengusir mereka. Dengan berat hati, Sam dan Georgia meneruskan langkah menembus hutan lagi.

Menurut informasi, Kota Boston dibentengi dengan ketat dan hanya bisa dimasuki lewat jalan laut yang membuat mereka harus berjalan lebih jauh lagi ke utara.

Karenanya, mereka harus masuk ke wilayah tak bertuan, yang kemungkinan terdapat banyak robot Android. Mereka menemukan sebuah rumah yang terbengkalai dan Georgia berniat untuk melahirkan di sana saja.

Tapi Sam memiliki rencana lain setelah menemukan sebuah motor dan memperbaikinya. Meski berisiko memancing kehadiran robot Android, tapi menempuh perjalanan dengan motor akan membuat mereka lebih cepat sampai di Boston. Mereka pun menerobos hutan dan dikejar oleh sekelompok robot Android di antara pepohonan.

Sam meminta Georgia untuk berjalan menyusuri sungai, sementara dia berusaha mengalihkan perhatian para robot Android.

Saat dalam situasi terdesak, Georgia dibantu oleh seorang pria misterius yang kemudian membawanya ke truk kontainer tempat dia tinggal. Pria yang mengaku bernama Arthur itu sepertinya telah kehilangan seluruh anggota keluarganya.

Meski sudah dilarang oleh Arthur, Georgia tetap bersikeras untuk menyelamatkan Sam yang disekap di markas robot Android.

Dengan menggunakan baju zirah bikinan Arthur yang bisa mengelabui pandangan robot Android, Georgia berhasil mengeluarkan Sam dari tempat dia disekap dan langsung dilarikan oleh Arthur ke Boston dengan mengendarai truk kontainernya.

Georgia terbangun dari pingsannya dan menyadari dia sudah melahirkan seorang anak laki-laki, sementara itu Sam juga sedang dirawat setelah kakinya harus diamputasi.

Saat polisi sedang mewawancarai Georgia tentang kisahnya hingga bisa sampai di Boston, mereka menemukan fakta bahwa Arthur adalah robot Android yang berniat melumpuhkan EMP (electromagnetic pulse) di kota itu.

Georgia mengambil inisiatif untuk mendahului Arthur ke ruang kendali EMP dan sempat terjebak dalam kejaran sekelompok robot Android. Georgia berhasil menyalakan EMP. Setelahnya, Georgia dan Sam berada di pelabuhan untuk menaiki kapal menuju Asia. Tapi ternyata yang boleh ikut hanyalah bayi mereka saja.

Keputusan apa yang akan diambil oleh Georgia dan Sam? Apakah mereka merelakan sang bayi dibawa ke Asia? Atau mereka mengurungkan niat dan mengasuhnya di tengah gejolak peperangan manusia dan robot Android di Amerika saja? Penasaran dengan langkah apa yang akan diambil? Tonton film ini sampai selesai, ya!

Performa Apik Chloe Grace Moretz

performa apik_

Kita harus jujur bahwa faktor utama yang membuat kita ingin menonton film ini adalah menyaksikan akting Chloe Grace Moretz yang sangat sukses sebagai bintang cilik dahulu. Sungguh penasaran rasanya kita menunggu dia kembali bermain dalam film yang bisa mencuatkan kembali namanya sebagai aktris papan atas Hollywood.

Entah kenapa beberapa film yang dibintanginya sebelum Mother/Android ini tidak memiliki kualitas yang cukup baik, sebut saja Tom & Jerry (2021), Shadow in the Cloud (2020) dan Greta (2018).

Tapi satu hal yang pasti, Chloe Grace Moretz tidak pernah mengecewakan kita dalam menampilkan talenta aktingnya, meski dalam film buruk sekali pun.

Di film ini pun dia tampil tangguh dan rela jungkir balik demi menyelamatkan janin dalam kandungannya dari kejaran para robot Android.

Emosi ibu hamil pun bisa ditampilkannya dengan baik, meski tidak terlalu diekspos, hanya di dua adegan pada setengah awal film saja. Setidaknya dia masih tampil dalam performa akting yang cukup baik.

Visualisasi Petaka Masa Depan yang Sederhana

visualisasi petaka_

Tema bencana global karena kesalahan teknologi sepertinya sudah seringkali diangkat ke dalam film, yang terbaik adalah franchise Terminator.

Tapi Mother/Android lebih dekat kepada kisah film I, Robot (2004) di mana robot ciptaan manusia memberontak melawan kreatornya dan dengan cepat menguasai seluruh wilayah di Amerika, bahkan dunia, membuat umat manusia terdesak menjadi beberapa koloni kecil.

Mungkin karena keterbatasan budget, gambaran tentang bencana global ini tidak ditampilkan dengan maksimal, yang cukup mengagumkan hanyalah di awal film ketika petaka ini mulai terjadi.

Sebagai film fiksi ilmiah di era milenial sekarang ini, film berdurasi 1 jam 50 menit ini tergolong sederhana dan seperti membuat kita menyaksikan film-film sci-fi kelas B dari era 1980-an yang buruk secara sinematografi.

Solusi yang Mengecewakan

solusi mengecewakan_

Selain mengambil referensi dari film I, Robot tadi, kisah petualangan mencari tempat yang diduga aman di tengah bencana juga sudah usang, meski tetap akan membuat kita penasaran dengan apa yang akan mereka hadapi dalam perjalanannya.

Sayangnya, naskah karya sutradara debutan Mattson Tomlin yang pernah menulis naskah film Netflix Project Power (2020) ini dangkal dan terkesan absurd.

Semua elemen yang ditampilkan hanya berupa pengulangan saja dalam level yang sangat sederhana dan adegan-adegan aksi yang menegangkan digarap seperti seadanya.

Bahkan kemudian muncul aksi-aksi absurd menjelang akhir film, yaitu dimana Georgia mengayuh kursi rodanya melewati baku-tembak yang sengit tanpa terluka dan menahan pagar dari serbuan para robot Android sendirian.

Belum sampai di sini, solusi yang diambil oleh Georgia dan Sam untuk masa depan anaknya sangat mengecewakan.

Tidak adakah pilihan lain tanpa harus merelakan bayinya dibawa jauh ke Asia? Padahal, di akhir film Georgia masih selamat dan melanjutkan perjalanan bersama sekelompok besar tentara dan pengungsi tanpa Sam. Apa yang terjadi dengan Sam? Dijamin tidak ada jawabannya!

Tampil mengecewakan di semua sektor, kecuali performa akting Chloe Grace Moretz tentunya, Mother/Android menambahkan satu lagi film buruk dalam karir aktris cantik kelahiran tahun 1997 ini.

Dengan visualisasi masa depan yang sederhana ditambah alur cerita dengan kesan pengulangan yang tidak menggigit, semakin membuat kualitas film ini berada di bawah standar.

Satu harapan bagi Chloe Grace Moretz tentunya, yaitu agar dia bisa kembali berada di jalur kebintangan dengan film-film berikutnya yang lebih baik secara kualitas, sehingga tidak membuat talenta aktingnya disia-siakan.

Pilihan dikembalikan kepada kalian apakah ingin menonton film yang sudah tersedia di Netflix ini atau tidak, tapi bagi fans Chloe Grace Moretz film ini tidak boleh dilewatkan.

Mother/Android
Rating: 
2/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram