Bacaterus / Review Film Indonesia / Review dan Sinopsis Film Milly & Mamet, Spin-off Film AADC

Review dan Sinopsis Film Milly & Mamet, Spin-off Film AADC

Ditulis oleh - Diperbaharui 9 November 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Ya, tentu saja bukan. Siapa juga yang bilang ini adalah sekuel AADC. Meski begitu, tentu saja kisah film garapan sutradara Ernest Prakasa ini memang adalah sebuah spin-off dari film AADC. Dan peristiwanya pun mengambil waktu setelah apa yang terjadi di Ada Apa Dengan Cinta? 2. Kita akan dibawa untuk melihat lebih jauh hubungan pernikahan kedua teman Cinta, siapa lagi kalau bukan Milly dan Mamet.

Tapi bagi mereka yang merasa rindu pada Cinta dan kawan-kawan, tenang saja. Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal dan Adinia Wirasti juga muncul dalam film ini. Minus Rangga tentu saja. Bisa dikatakan, film ini adalah sebuah kisah drama rumah tangga dengan segala konflik yang terjadi di dalamnya. Tanpa berkomentar lebih lanjut, berikut pembahasannya.

Sinopsis

Milly & Mamet

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Drama, komedi
  • Produksi: Kharisma StarVision, Miles Production
  • Sutradara: Ernest Prakasa
  • Pemeran: Denis Adhiswara, Sissy Priscillia, Julie Estelle, Yoshi Sudarso

Berpisah sekian lama setelah lulus dari SMA, Mamet (Denis Adhiswara) dipertemukan kembali dengan Milly (Sissy Priscillia), Cinta (Dian Sastrowardoyo), Maura (Titi Kamal) dan Karmen (Adinia Wirasti) di sebuah acara reuni angkatan mereka.

Tentu saja kini Mamet telah dewasa, namun memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pria idola termasuk, menjadi idaman para wanita. Pertemuan kembali Mamet dengan Cinta dan kawan-kawan ternyata membawanya pada keakraban dengan Milly.

Di malam reuni tersebut, Milly ditinggalkan oleh Rama (Surya Saputra), sang kekasih yang harus memenuhi janji dengan orang lain. Melihat kekecewaan terpancar dalam diri Milly, sebagai teman yang baik, Mamet pun berusaha menghibur wanita tersebut. Hingga akhirnya, malam itu Milly memutuskan untuk pulang bersama dengan Mamet dan ‘Gatot’, mobil Volvo legendaris yang ia gunakan sejak SMA.

Di tengah jalan, Gatot mogok hingga Mamet membuat Milly duduk di pinggir jalan sementara menunggu mobil derek yang menjemput mereka. Saat itulah Mamet menuturkan pada Milly bagaimana ia memilih kuliah tata boga, agar bisa membuat makanan enak namun sehat. Cita-citanya tersebut terbersit setelah ayahnya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia.

Waktu telah berlalu, kini Mamet dan Milly telah menikah dan dikaruniai seorang bayi laki-laki bernama Sakti. Namun rupanya, Mamet belum kunjung mampu mewujudkan cita-citanya sebagai seorang chef. Sekarang, ia bekerja sebagai pimpinan di sebuah perusahaan konfeksi milik Pak Sony (Roy Marten), yang tidak lain adalah bapak mertuanya.

Kehidupan Milly dan Mamet berjalan layaknya sebuah keluarga muda yang bahagia meski Mamet sepertinya masih ingin mewujudkan cita-citanya tersebut. Hingga akhirnya, teman semasa kuliah Mamet yang bernama Alexandra (Julie Estelle) atau biasa disapa dengan Alex menghubungi dirinya. Sebagai teman baik, Mamet pun memutuskan untuk bertemu dengan Alex.

Dalam pertemuan dengan Alex tersebut, Mamet mengetahui bahwa wanita cantik bergaya tomboy itu bermaksud untuk mewujudkan impian mereka. Yaitu, memiliki sebuah restoran makanan sehat. Tentu saja hal ini membuat Mamet bersemangat, namun di satu sisi, ia tidak dapat meninggalkan kepercayaan yang telah dibebankan Pak Sony terhadap dirinya.

Pak Sony sendiri adalah seorang yang sangat tegas. Satu kali, ayah dari Milly itu mendatangi pabrik konfeksinya, tepat di saat Milly dan Mamet bersama para staf perusahaan tengah merayakan ulang tahun Mamet. Namun Pak Sony yang bermasalah dengan kesehatannya berang, setelah mengetahui menantunya mengambil keputusan tanpa menunggu kedatangan dirinya.

Pak Sony yang memiliki kadar kolesterol berlebih mengamuk, karena merasa kecewa berat atas keputusan yang diambil oleh Mamet. Sang menantu yang merasa telah mengambil langkah tepat rupanya tidak dapat menerima perlakuan tersebut, hingga Mamet memutuskan untuk mengundurkan diri dari posisi pimpinan perusahaan.

Setelah membicarakannya dengan sang istri, tekad Mamet sudah bulat. Ia menerima tawaran Alex untuk menjadi chef di restoran yang mereka dirikan bersama kekasih Alex, yaitu James (Yoshi Sudarso). Meski, Milly yang baru mengetahui bahwa Alex itu adalah seorang wanita merasa agak cemburu. Sementara ayah dari James rupanya terlibat dalam kasus pencucian uang.

Bersih Dari Kesan AADC

Bersih Dari Kesan AADC

*https://www.endahasmo.com/2018/12/ngobrol-film-milly-mamet-apakah.html

Sejujurnya, saat mengetahui bahwa Ernest telah mengembangkan judul ini, kami sempat berpikir bahwa film Milly & Mamet akan menceritakan flashback, bagaimana kisah asmara keduanya hingga mereka bisa menikah. Lalu, ada sedikit elemen Cinta & Rangga yang dimasukan ke dalamnya. Tapi kami salah. Karena, kisah ini terjadi setelah peristiwa AADC 2.

Sedikit mengecewakan memang, tapi terbayang oleh kami bagaimana Dian Sastro – mungkin juga bersama Nicholas Saputra –  akan steal the show. Nanti judulnya akan menjadi Milly & Mamet di bawah bayang-bayang Cinta & Rangga. Padahal kami percaya, bahwa Ernest mungkin bisa melakukannya tanpa merubah film ini menjadi AADC: the untold story.

Tapi pada akhirnya, kita mengetahui. Meski ketiga sobat Milly muncul, film ini tidak menonjolkan unsur AADC sedikitpun. Sebelum menyaksikannya, kami berharap Milly & Mamet menjadi panutan baru selain Cinta & Rangga. Tapi ternyata, entah apa maksud dari Ernest dan Miles membuat spin-off ini. Serius, kami tidak paham benar kemana arahnya.

Tidak Sebagus dan Tidak Seburuk Itu

Tidak Sebagus dan Tidak Seburuk Itu

Melanjutkan komentar kami di atas, kami berharap kisah Milly & Mamet bisa menjadi pasangan panutan baru dalam kancah film nasional. Namun ternyata, tidak juga. Bisa jadi ekspektasi kami berlebihan. Tapi di menit-menit awal kami sempat berharap film ini adalah sebuah drama yang lebih dari sekedar komedi rumah tangga.

Namun, ya, apa mau di kata, film ini memang adalah sebuah komedi rumah tangga yang baik-baik saja. Meski begitu, kami memuji Ernest dan kawan-kawan karena menghadirkan konflik di luar hubungan Milly & Mamet. Yaitu lebih kepada faktor eksternal hubungan seperti karir dan cita-cita.

Lantas ada cerminan dari sebuah rumah tangga yang mama-papa sama-sama sibuk kemudian si kecil agak terlupakan, hingga mulai mencuatkan konflik. Tapi menurut kami, film ini tidak bisa dibilang bagus, tapi juga tidak dapat dibilang jelek.

Komedinya pun cukup bisa membuat kamu melebarkan bibir untuk sekedar tersenyum atau terkekeh. Mungkin juga, Ernest ingin menghadirkan sebuah drama jenaka yang natural atau realistis. Jika memang itu yang ingin disajikan, bisa dikatakan Milly & Mamet memang berhasil. Meski menurut kami, masih agak terlalu datar dan anti klimaks.

Bukan Drama Romantis

Bukan Drama Romantis

Melihat judulnya memang akan membuat kita berpikir bahwa film ini adalah sebuah drama romantis. Setelah menyaksikannya, kamu akan sadar bahwa Milly & Mamet lebih pantas disebut bergenre drama komedi tanpa tambahan ‘romantis’ mengikutinya. Romantis mungkin karena mengisahkan hubungan antara suami dan istri.

Tapi Milly & Mamet lebih membawa kita pada pelajaran berumah tangga. Bagaimana baik suami maupun istri harus mampu mengambil keputusan-keputusan yang tepat. Apalagi, setelah dikaruniai seorang anak dan mewujudkan harapan memang patut didiskusikan bersama dengan matang.

Karena setelah menikah, dunia bukan hanya milik berdua lagi seperti saat berpacaran. Selain karir, ada anak, lantas keluarga yang juga perlu untuk mendapat perhatian. Dan dalam film ini, Milly dan Mamet berhasil menemukan jalan keluar untuk menjalankan ke semuanya dengan baik.

Ernest sepertinya tidak merubah gayanya di film manapun. Termasuk juga dalam Milly & Mamet. Sang sutradara tetap memancing orang untuk tertawa lewat gimmick yang ia hadirkan. Seperti tulisan-tulisan konyol yang dapat dibaca jelas, atau juga pelesetan-pelesetan yang tidak jarang mengejutkan hingga bikin ngakak di saat adegannya tidak bermaksud membuat kita tertawa.

Kecerdasan Ernest dalam membuat gimmick akan pecah di bagian akhir film, atau tepatnya pada after credit scene. Ia mengutip sebuah quote yang sempat viral saat AADC 2 tayang. Dan karena film ini secara tidak langsung berhubungan dengan AADC, rasanya seperti pisau bermata dua. Sebuah call back sekaligus sindiran. Apakah itu? Sebaiknya kamu menyaksikannya sendiri.

Demikianlah review film Milly & Mamet, semoga bisa menjadi referensi bagi kamu saat login ke akun Netflix. Sampai bertemu di review Netflix selanjutnya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *