bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar
2
/5

Siapa sih yang tidak mengenal sosok Merry Riana? Motivator dan pengusaha berdarah Tionghoa-Indonesia ini memang sangat inspiratif. Tak heran jika novel biografinya sampai dibuatkan versi filmnya oleh Hestu Saputra, meski dalam bentuk adaptasi bebas.

Film ini dibintangi oleh Chelsea Islan yang memerankan karakter utamanya sebagai Merry Riana. Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) menjadi bukti nyata perjuangan seorang korban kerusuhan etnis di Indonesia pada tahun 1998.

Merry Riana membuktikan bahwa ia berhasil mendapatkan satu juta dollar pertamanya, selama ia berada di Singapura. Sayangnya film ini memiliki banyak sekali kekurangan, salah satunya mengenai latar cerita dan akting.

Lalu kejadian apa saja yang harus dilalui oleh Merry Riana untuk meraih cita-citanya di Singapura? Biar nggak penasaran, kamu bisa membaca sinopsis dan review Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) di bawah ini.

Sinopsis                

Review Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar
  • Tahun Rilis: 2014
  • Genre: Drama, Comedy, Romantic
  • Sutradara: Hestu Saputra, Aldo Swastia
  • Pemeran: Chelsea Islan, Dion Wiyoko, Kimberly Ryder
  • Produksi: MD Pictures

Orang bilang hidup itu untuk meraih sukses, agar kita bahagia. Tapi apa sukses itu? Apa bahagia itu?” – Merry Riana

Merry merasa bingung, ketika ia sampai di Singapura ia tidak memiliki tempat untuk bernaung. Gadis belia ini harus menantang diri, ketika ia hidup di negara asing tanpa bimbingan orang tua.

Kenapa Merry bisa ada di Singapura? Jawabannya karena gadis ini menjadi korban konflik etnis Tionghoa di Indonesia. Untuk menyelamatkan diri, kedua orang tuanya mengirim Merry Riana untuk pergi ke Singapura.

Namun impian hidup yang berbeda dari Indonesia tidak pernah didapatkannya, pasalnya Singapura membuatnya harus berjuang lebih keras.

Hari itu Merry Riana berusaha mencari jalan keluar soal tempat tinggal, untungnya ia mengetahui bahwa salah satu sahabatnya kini tinggal di Singapura. Merry menghubungi Irene dan berhasil mendapatkan tempat tinggal untuk beberapa hari.

Tapi belum satu hari lewat, keberadaan Merry di asrama Irene diketahui oleh pihak kampus. Agar Merry bisa tetap tinggal di sana, Irene mengusulkan agar Merry berkuliah di kampus yang sama dengannya.

Merry berhasil lolos tes, kini Merry dihadapkan dengan masalah keuangan untuk biaya kuliahnya. Bayangkan saja, ia harus membayar 40.000 dollar selama empat tahun mengenyam pendidikan.

Untungnya ada program beasiswa, tapi ia harus mencari orang yang bisa menjamin dirinya selama berkuliah. Dari sinilah Merry bertemu dengan Alva, pria yang agak ketus dan begitu berhati-hati terhadap uang. Demi meyakinkan Alva, Merry mati-matian mencari pekerjaan agar pria itu mau menjadi penjamin beasiswanya.

Singkat cerita Merry sudah resmi menjadi mahasiswi, tapi ia harus mencari pekerjaan untuk biaya hidupnya di Singapura. Gadis ini dengan penuh semangat mencari pekerjaan kecil yang bisa membantu finansialnya sehari-hari.

Suatu hari Merry melihat iklan investasi di internet, Merry nekat menjual laptop peninggalan sang ayah untuk mendapatkan uang investasi.

Sialnya Merry Riana ternyata tertipu iklan bodong, semua uangnya kini ludes dan ia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Untungnya hari itu ada Alva yang selalu menemaninya, bahkan Alva memberikannya pekerjaan untuk mengatasi masalah keuangan ini. Namun Merry tidak pernah menyangka, bahwa Alva akan menyatakan cinta kepadanya.

Merry tidak bisa menerima perasaan Alva, pasalnya ia tahu bahwa Irene menyukai pria itu. Tapi kesalahpahaman terjadi, Irene melihat mereka sedang berpelukan dan kini mereka berpisah.

Meski sempat renggang, hubungan Merry dan Alva kembali membaik, pasca mereka jadi rekan kerja. Bisnis saham yang mereka lakukan berhasil memberikan profit yang lumayan untuk menopang biaya hidup.

Tapi lagi dan lagi, urusan cinta membuat hubungan kerjasama ini berakhir begitu saja. Merry kini berorientasi pada uang, karena berpikir uang bisa memberikan kebahagian baginya.

Merry begitu menggebu-gebu untuk mendapatkan uang, hingga investasi yang dilakukannya gagal. Kali ini Merry harus berurusan dengan pihak berwajib, karena dituduh sebagai pelaku penipuan.

Semua uang yang dimilikinya sudah habis, tidak ada lagi sahabat yang bisa menemaninya di saat-saat susah. Bahkan Alva yang tetap membantunya, malah memberikan jarak, bahwa kini mereka tidak bisa berjalan bersama. Apa yang harus dilakukan oleh Merry?

Adaptasi Bebas yang Terlalu Modern

Adaptasi Bebas yang Terlalu Modern

Saya tahu bahwa Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) adalah adaptasi bebas dari novel aslinya. Tapi dari beberapa orang yang sudah menonton film ini, banyak yang berkata film ini terlalu bebas.

Hal pertama yang membuat saya bingung adalah latar kerusuhan etnis dan Singapura di film ini. Setahu saya kerusuhan mengenai rasial etnis tionghoa terjadi pada bulan Mei di tahun 1998.

Sementara latar Singapura dalam film ini agaknya terlalu modern, pasalnya film ini menunjukkan pemakaian ponsel dan Marina Bay Sands.

Setahu saya, Singapura baru membuka Marina Bay Sands di tahun 2010, sehingga latar ini agak kurang masuk akal bagi saya. Setelah ditelaah, saya menemukan bahwa film ini mengambil latar di tahun 2012.

Sedangkan di tahun tersebut, Indonesia sudah tidak lagi memiliki konflik mengenai rasis etnis Tionghoa. Hal ini saja sudah membuat saya berpikir, sejauh apa adaptasi bebas yang dilakukan oleh Hestu Saputra dan Aldo Swastia.

Bahkan saya baru menyadari hal ini ketika melihat latar tahun di salah satu scene yang ada di film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014).

Saya paham kenapa sutradara dan penulis memilih untuk mengubah latar dari tahun 1998 ke tahun 2012. Melakukan hampir seluruh proses syutingnya di Singapura, saya sangat memahami sulitnya untuk mengubah Singapura sesuai dengan bukunya.

Tapi perubahan latar ini mungkin bisa disebutkan sejak awal, sehingga penonton tidak bingung dengan alur ceritanya.

Terasa Kosong dan Tidak Memiliki Bonding dengan Penonton

Terasa Kosong dan Tidak Memiliki Bonding dengan Penonton

Meski tidak membaca novelnya, setidaknya saya sedikit membaca ulasan mengenai kisah hidup Merry Riana. Saya tahu bagaimana sedih dan sulitnya kehidupan Merry, pasca ia menjadi korban kerusuhan di tahun 1998. Gadis ini hidup sendirian di negeri orang dengan segala keterbatasan ekonomi, sehingga Merry harus kuliah sambil bekerja di sana.

Dalam bukunya terdapat beberapa hal penting, cara untuk mempunyai mindset positif, lalu disiplin saat bekerja, menetapkan cita-cita dan cara untuk meraihnya. Semua ini menjadi kelebihan dan keistimewaan novel Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar.

Sayangnya untuk versi film, saya tidak mendapatkan hal-hal inspiratif seperti yang ada di bukunya. Dari durasi 105 menit, entah kenapa saya tidak merasakan adanya bonding antara film dengan penonton. Maksudnya saya tidak merasakan ada hal yang spesial dari film ini, saya tidak merasa termotivasi atau kagum dengan sosok Merry Riana.  

Justru saya berpikir, bahwa film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) seperti film romantis pada umumnya. Apalagi kalau melihat sosok Merry Riana yang diperankan oleh Chelsea Islan, bagi saya karakternya sangat childish dan egois.

Bagi saya film ini lebih cocok dinamai Merry Riana: Love and Money, karena kisahnya lebih menitik beratkan soal cinta dan uang.

Akting Chelsea Islan Terasa Berlebihan

Akting Chelsea Islan Terasa Berlebihan

Dibintangi oleh aktor dan aktris muda Indonesia, saya memiliki ekspektasi sendiri saat menonton film Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014).

Terutama untuk Chelsea Islan, saya sangat excited untuk melihat kemampuan aktingnya di film ini. Entah terlalu bersemangat atau memang karakter Merry Riana asli seperti itu, tapi saya merasa ekspresi wajahnya terlalu lebay.

Chelsea Islan sudah sangat cantik meski berdandan seadanya, wajah blasterannya membuat Chelesea tidak perlu mengeluarkan effort untuk berakting.

Tapi selama saya menonton film ini, bagi saya Chelsea terlalu bernafsu dan berenergi untuk memerankan Merry Riana. Emosinya terlalu meledak-ledak, sehingga saya merasa sangat lelah saat menonton aktingnya di film ini.

Saya berharap Chelsea bisa menahan energinya, coba lebih santai dan mengatur emosinya lagi. Mungkin sutradara ingin memberikan kesan, Merry Riana adalah sosok yang pantang menyerah. Sehingga karakter Chelsea Islan dibuat penuh semangat, tapi semangat ini terasa sangat over.

Justru saya lebih suka dengan akting Kimberly Ryder, sosoknya terasa lebih menenangkan dan enak untuk dilihat. Ketika Chelsea Islan terlalu bersemangat, maka sosok Kimberly Ryder menjadi medan penenang yang membuat nafas saya lebih lega.

Begitu pula dengan Dion Wiyoko, saya menyukai karakter ambisius dalam dirinya tidak terlihat tamak seperti karakter Merry Riana di film ini.

Merry Riana: Mimpi Sejuta Dolar (2014) sebenarnya berpotensi menjadi salah satu film untuk meningkatkan semangat juang. Sayangnya film ini malah digarap seperti film romantis, sehingga sisi inspiratifnya tidak tersalurkan kepada para penonton.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram