Sinopsis & Review Film Mangkujiwo, Lahirnya Sang Kuntilanak

Ditulis oleh Aditya Putra
Mangkujiwo
3
/5

Film horor asal Indonesia memiliki kadar seram tersendiri. Tiga mahluk astral yang paling sering diangkat ke dalam film adalah pocong, kuntilanak dan genderuwo. Ketiga makhluk itu disebut-sebut hidup di sekitar kita.

Dibanding makhluk lainnya, ketiga makhluk itu yang paling mudah relate dengan banyak orang. Maka dari itu, setelah menonton mereka di film, sosoknya sering terbayang-bayang.

Film berjudul Kuntilanak pertama kali dirilis pada tahun 2008. Tahun 2018, film lain dengan judul serupa pun dirilis. Kedua film itu sama-sama memunculkan sosok kuntilanak dengan media cermin. Film Mangkujiwo menceritakan awal mula lahirnya sosok kuntilanak itu. Bagaimana sinopsis dan review filmnya? Yuk kita bahas.

Sinopsis

mangkujiwo-2_

Pada tahun 50-an, seorang wanita bernama Kanti (Asmara Abigail) sedang mengandung. Warga desa menganggapnya sebagai pembawa kutukan. Kanti pun dipasung di sebuah kandang kerbau.

Kemudian Brotoseno (Sujiwo Tejo), seorang abdi raja, menjemput Kanti. Dia ditemani oleh Sadi, pelayannya yang tunawicara. Brotoseno berniat merawat Kanti. Permintaan dikabulkan, Kanti dilepaskan dan ikut dengan Brotoseno.

Brotoseno membawa Kanti ke rumahnya. Kanti ditempatkan di sebuah ruangan khusus. Kaki dan tangannya lagi-lagi dipasung.

Brotoseno mengatakan bahwa dia akan membantu Kanti balas dendam. Namun ternyata Brotoseno mulai menjalankan ritual ilmu hitam. Ritual itu dilakukan dengan posisi Kanti menghadap sebuah cermin antik bernama Pengilon Kembar.

Pengilon Kembar merupakan sebuah cermin di Loji Pusaka. Cermin itu dipercaya menyimpan kekuatan mistis luar biasa. Bahkan cermin itu bisa memberikan pertanda kalau akan ada bahaya.

Brotoseno memiliki separuh dari cermin Pengilon Kembar tersebut sedangkan separuh lagi disimpan oleh pengusaha yang juga pernah menjadi abdi raja yaitu, Tjokro Kusumo.

Berselang 19 tahun kemudian, Uma bekerja di hotel. Di hotel itu sedang ada negosiasi. Karmila, Kolonel Herma,n dan Pulung tengah tawar-menawar harga barang pusaka dengan Raymond.

Karmila dan dua rekannya marah karena harga yang ditawarkan Raymond terlalu rendah. Herman menusuk Raymond sampai meninggal. Uma melihat Raymond sudah tergeletak di lantai. 

Herman berhasil menangkap dan menyiksa Uma. Pulung diminta untuk menenangkan Uma, tapi malah mencoba memerkosa gadis itu. Uma kemudian menembangkan sebuah lagu. Dia kemudian mematahkan leher Pulung.

Dia kemudian pulang ke rumah ayahnya, Brotoseno. Meskipun hubungan Uma dan ayahnya nggak begitu akur tapi Uma merasa rumah adalah tempat paling aman baginya.

Nyi Kenanga, pelayan Tjokro, memberi saran agar cermin Pengilon Kembar disatukan lagi. Ini berati Tjokro harus menghampiri Brotoseno. Namun Tjokro marah besar karena nggak sudi berurusan dengan Brotoseno.

Tak lam, Herman mendatangi rumah Brotoseno. Dia memberi tahu bahwa Uma sudah membunuh Pulung, anak dari Tjokro. Nyi Kenanga mendatangi Brotoseno. Dia mengungkapkan keinginannya untuk menyatukan Pengilon Kembar. 

Brotoseno menganggap remeh niat Nyi Kenanga. Herman mendatangi rumah Brotoseno untuk membunuh Uma. Saat tengah disiksa Herman, Uma kerasukan. Herman pun didorong ke dalam wadah berisikan air panas sampai mati.

Karmila yang penasaran kemudian mencari tahu permasalahan Brotoseno dan Tjokro pada Nyi Kenanga. Nyi Kenanga hanya memberi tahu bahwa keduanya akan berperang.

Brotoseno memperlihatkan ruang tersembunyi di rumahnya pada Uma. Dia kemudian menceritakan bahwa Uma merupakan anak Kanti.

Dulu, Kanti dipasung oleh Tjokro untuk merusak nama Brotoseno. Kanti sebenarnya dibunuh oleh Tjokro namun kematian Kanti dibuat seolah-olah ia mengakhiri hidup dengan gantung diri. Uma pun merasa dendam pada Tjokro.

Namun ternyata, Brotoseno berbohong mengenai cerita Kanti dan Uma. Sebenarnya Uma merupakan anak hasil hubungan gelap Tjokro dan Kanti. Brotoseno hanya menyiapkan Uma agar kelak menjadi penerus Kanti.

Brotoseno ingin balas dendam pada musuh bebuyutannya, Tjokro. Uma dijadikan alat untuk mewujudkan keinginan Brotoseno. Akankah keinginan balas dendam Brotoseno tercapai?

Banyak Elemen dalam Cerita

mangkujiwo-3_

Mangkujiwo sekilas nggak terlihat sebagai film yang akan mengangkat awal mula sosok kuntilanak. Kita akan dibawa mendalami berbagai ritual ilmu hitam yang dilakukan Brotoseno untuk Kanti.

Dari awal, kita digiring untuk mengetahui bahwa ada dua sosok abdi raja yang berseteru. Dua sosok itu adalah Brotoseno dan Tjokro. Kemudian, ada juga sosok Kanti yang nantinya akan dijadikan alat oleh Brotoseno.

Sosok Brotoseno menguasai ilmu hitam. Dia nggak menggunakan kemampuannya itu untuk langsung balas dendam pada Tjokro.

Karakter Tjokro digambarkan hanya bisa dikalahkan oleh keturunannya sendiri. Pengungkapan motif perseteruan Brotoseno dan Tjokro ini nggak diungkap sejak awal. Hasilnya, kita kebingungan dari awal karena cerita melompat-lompat.

Film karya sutradara Azhar Kinoi Lubis ini nggak hanya mengangkat elemen balas dendam. Ada juga elemen pengkhianatan yang terselip dalam ceritanya.

Semua karakter utama di film ini diberikan pendalaman yang cukup solid. Masing-masing diberi kesempatan untuk memperlihatkan motif mereka. Hanya saja, cara penyampaiannya begitu rumit. Kita harus memperhatikan betul setiap dialog. Perlu effort yang besar kalau ingin benar-benar memahami alur ceritanya.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram