bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Lone Survivor, Kisah Misi Navy SEAL yang Gagal

Ditulis oleh Dhany Wahyudi
Lone Survivor
3.5
/5

Empat anggota Navy SEAL ditugaskan untuk menjalankan misi dengan target menangkap dan membunuh seorang pemimpin Taliban yang bengis.

Awalnya semua berjalan lancar sesuai rencana, hingga mereka bertemu dengan para penggembala kambing. Pasukan Taliban datang mengepung membuat mereka tersudut dan harus bertahan hidup sembari mencari cara untuk kembali ke markas.

Lone Survivor adalah film perang karya Peter Berg yang dirilis oleh Universal Pictures pada 10 Januari 2014. Merupakan adaptasi dari buku nonfiksi karya Marcus Luttrell yang terbit di tahun 2007, film ini menceritakan perjuangan satu-satunya anggota Navy SEAL yang selamat dalam misi tersebut.

Termasuk salah satu film perang terbaik, Lone Survivor juga dinominasikan di dua kategori Oscar. Sebaik apa kualitas film ini? Simak ulasan lengkap dari salah satu film terlaris di tahun 2013 ini.

Baca Juga: 10 Film Terbaik Peraih Piala Oscar yang Harus Kamu Tonton

Sinopsis

Lone Survivor (2013)_
  • Tahun Rilis: 2014
  • Genre: Action, Drama, War, Biography
  • Produksi: Film 44, EFO Films, Spikings Entertainment, Herrick Entertainment, Envision Entertainment
  • Sutradara: Peter Berg
  • Pemeran: Mark Wahlberg, Ben Foster, Taylor Kitsch, Emile Hirsch

Empat anggota Navy SEAL, Michael Murphy, Matthew Axelson, Danny Dietz dan Marcus Luttrell ditugaskan untuk menjalani sebuah misi berbahaya yang dinamakan Operation Red Wings.

Mereka diturunkan dari helikopter di tengah malam dan berjalan menuju lokasi yang berada tepat di atas desa Taliban. Tugas mereka adalah menangkap dan membunuh pemimpin Taliban bernama Ahmad Shah.

Mereka kesulitan melakukan komunikasi dengan markas untuk menentukan tindakan selanjutnya. Ketika sedang menunggu, mereka bertemu dengan sekelompok penggembala kambing.

Seorang kakek dan dua pemuda itu ditahan oleh mereka. Mereka menemukan walkie-talkie pada sang kakek yang membuat mereka berdebat untuk menentukan arah misi selanjutnya.

Murphy memberikan tiga opsi: pertama melepaskan mereka lalu naik ke puncak gunung untuk memanggil bantuan untuk kembali ke markas, kedua mengikat mereka lalu melanjutkan misi, atau opsi terakhir adalah membunuh mereka lalu melanjutkan misi.

Suara terpecah dua. Murphy dan Marcus memilih untuk membatalkan misi, sementara Axel dan Danny memilih untuk membunuh para penggembala dan melanjutkan misi. Sebagai komandan, Murphy memutuskan untuk melepaskan mereka dan membatalkan misi.

Mereka berempat kemudian naik terus ke puncak gunung agar bisa melakukan komunikasi dengan markas. Ternyata dugaan Axel dan Danny benar adanya. Salah satu pemuda penggembala itu memberitahu pasukan Taliban akan posisi mereka.

Tidak berapa lama, mereka terkepung oleh puluhan militan Taliban yang membuat mereka tersudut di tepi jurang. Tidak ada jalan lain kecuali loncat ke jurang yang cukup dalam. Mereka terluka cukup parah karena beberapa kali terbentur batu. Tapi militan Taliban terus memburu dan mereka mencoba bertahan.

Terus mengupayakan untuk berkomunikasi dengan markas, alat komunikasi mereka tertembak yang juga melukai tangan Danny. Berusaha menuruni jurang lagi di bawahnya, Danny tertinggal karena tertembak terlebih dahulu oleh Taliban.

Mereka bertiga tidak berdaya untuk menyelamatkan Danny, karena serangan dari Taliban mengalir tiada henti. Menyadari Danny sudah tewas, Murphy kemudian nekat untuk naik ke atas tebing agar bisa menghubungi markas melalui telepon satelit.

Murphy tewas, namun markas menerima sinyal dan koordinat mereka. Lalu, markas pun mengirimkan bala bantuan. Axel dan Marcus yang terluka parah terus bertahan dengan amunisi yang semakin terbatas.

Dua helikopter tiba dan berusaha menurunkan pasukan penyelamat. Sayangnya, salah satu helikopter ditembak jatuh oleh rudal Taliban, dan helikopter lainnya langsung kembali ke markas.

Axel dan Marcus terpisah. Kehabisan amunisi dan tenaga, Axel tewas ditembak oleh Taliban. Sementara Marcus bersembunyi di balik batu besar dan bermalam di sana.

Keesokan harinya, Marcus terus berjalan dan menemukan sungai. Dia langsung menyegarkan diri. Tiba-tiba dia bertemu dengan seorang warga lokal yang berusaha menolongnya.

Pria yang bernama Mohammed Gulab itu kemudian membawa Marcus ke desanya untuk diberikan pengobatan. Sementara itu, militan Taliban mengikuti jejak Marcus dari hutan menuju desa.

Taliban kemudian merangsek ke dalam desa dan menemukan Marcus. Dia dibawa ke batang pohon untuk dipenggal. Apa yang akan dilakukan oleh Marcus untuk menyelamatkan dirinya? Tonton terus film yang semakin seru dan menegangkan ini hingga akhir untuk mendapatkan jawabannya.

Berdasarkan Kejadian Nyata

Berdasarkan Kejadian Nyata_

Lone Survivor mengambil kisahnya dari kejadian nyata yang pernah dialami oleh Marcus Luttrell, satu-satunya anggota Navy SEAL yang selamat dan juga penulis bukunya. Marcus bertindak sebagai konsultan di film ini sehingga menjaga jalan cerita tetap jujur pada faktanya.

Misi yang mereka jalani adalah salah satu operasi senyap militer Amerika yang gagal. Semua berawal dari kesulitan mereka dalam melakukan komunikasi dengan markas. Kemudian ditambah dengan kurang sigapnya armada bantuan yang seolah membiarkan mereka bertempur sendirian.

Meski menyatakan diri jujur kepada fakta yang terjadi, nyatanya durasi misi ini dihadirkan lebih pendek di dalam film.

Di dalam bukunya, Marcus mengatakan bahwa mereka berada dalam misi selama 5 hari, sedangkan di dalam film dengan durasi 2 jam 1 menit ini hanya berlangsung selama 3 hari. Tentu saja, jika disesuaikan dengan fakta di buku, durasi film akan menjadi lebih panjang dari ini.

Minim Pendalaman Karakter

Minim Pendalaman Karakter_

Film dengan sinematografi yang indah layaknya puisi ini, dibintangi oleh empat aktor yang terbiasa berperan dalam film action. Mungkin hanya Emile Hirsch saja yang jarang bermain film aksi keras.

Mereka berempat diceritakan telah bersahabat sejak di akademi, sehingga kekompakan mereka tidak diragukan lagi. Dan keempat aktor ini membawakannya dengan chemistry yang padu.

Meski tidak diceritakan bagaimana awal persahabatan mereka, setidaknya kita tahu darimana keterikatan antara mereka yang sangat kuat itu terbentuk.

Di awal film kita disuguhkan montase dari latihan para marinir Amerika yang asli. Betapa kerasnya latihan yang mereka jalani, hingga banyak diantara mereka yang mengundurkan diri. Diperlihatkan juga salah satu latihan yang membentuk rasa persaudaraan.

Sehingga ketika adegan lebih terfokus kepada empat anggota Navy SEAL yang terjun dalam misi ini, gambaran akan kentalnya persahabatan sudah terbentuk dalam benak kita.

Ditambah lagi dengan akting mereka yang sangat meyakinkan. Dalam perjalanan menuju lokasi, mereka berbicara santai hingga bercanda satu sama lain.

Dan ketika menghadapi masalah pelik, ketegangan dengan perdebatan yang sengit antara mereka juga terlihat sangat nyata. Meski seolah menjadi dua kubu dalam menentukan sikap, saat serangan datang mereka seolah tidak pernah bertengkar sebelumnya. Hati dan pikiran mereka tetap erat dan merekat.

Hanya sayang, naskah yang ditulis juga oleh Peter Berg ini tidak memberikan kedalaman karakter bagi mereka. Latar belakang kehidupan mereka hanya ditampilkan sekilas dan tidak ada yang terlihat penting.

Maka, ketika satu persatu dari mereka menemui ajal, kita masih merasa kurang simpati kepada karakter yang mereka bawakan.

Kekurangan ini juga terlihat pada alasan warga Pashtun dalam menolong Marcus. Gulab hanya berkata bahwa ini desa dia dan dia berhak menerima siapapun sebagai tamu, termasuk Marcus. Hal ini meninggalkan tanda tanya yang besar akan alasan tulus mereka.

Penuh Adegan Pertempuran Tanpa Henti

Penuh Adegan Pertempuran Tanpa Henti_

Tapi titik fokus Peter Berg, yaitu adegan action pertempuran sengit, disajikan dalam level yang sangat tinggi dan detail.

Didukung secara menyeluruh oleh militer Amerika, seluruh pergerakan dan taktik perang keempat aktor ini terlihat sangat nyata dan meyakinkan. Tidak hanya bergerak dalam berlindung dan menembak, memegang senapan, tapi juga hingga cara mereka berbicara.

Adegan baku tembak dan ledakan yang terus menyambung, membuat kita tetap terjaga untuk terus menyaksikan film yang syutingnya dilangsungkan di New Mexico ini.

Apalagi dengan penempatan kamera yang apik membuat kita seolah-olah berada di tengah-tengah pertempuran tersebut.

Terutama ketika mereka memutuskan untuk terjun ke jurang, kita dibuat menyaksikan tubuh keempat marinir ini terguling-guling, terpental dan terbentur dengan cepat saat menuruni jurang.

Seolah kita juga ikut merasakan kesakitan yang mereka derita. Hanya saja durasi untuk adegan ini dibuat cukup panjang. Mungkin ada yang terkesima, tapi ada juga yang menganggapnya terlalu berlebihan.

Suara desingan peluru, tembakan yang melukai tubuh dan ledakan yang dahsyat menggetarkan terasa dibuat maksimal dan diolah dengan baik.

Hal ini membuat kita semakin dekat dengan medan pertempuran tersebut. Jadi wajar apabila tim sound film ini masuk nominasi Oscar di kategori Best Sound Editing dan Best Sound Mixing.

Sebagai sebuah film yang menampilkan semangat patriotisme, Lone Survivor berhasil menghadirkan adegan pertempuran yang sangat baik.

Mungkin ada yang menyebut film ini sebagai propaganda saja, tapi nyatanya film ini mampu memberikan gambaran detail tentang sebuah aksi militer dalam perang, meski berakhir dengan kegagalan. Film ini wajib kalian tonton sekarang juga. Selamat menyaksikan!

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram