bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Logan (2017), Ketika Wolverine Menua

Seiring dengan berjalannya waktu, semua makhluk hidup akan menua. Perubahan-perubahan akan mulai terlihat secara perlahan-lahan. Bentuk tubuh pasti akan berubah, berbanding lurus dengan stamina yang melemah. Begitu juga dengan pola pikir yang nggak akan mungkin sama secara keseluruhan dengan diri kita di masa lalu.

Apa yang akan terjadi kalau superhero seperti Wolverine menua? Walau punya kemampuan regenerasi terbaik di antara mutan lainnya, Wolverine atau Logan nggak bisa menghindar dari yang namanya penuaan. Bagaimana kehidupan Logan di saat usianya menua? Sebelum nonton filmnya, simak dulu sinopsis dan reviewnya yuk!

Sinopsis

Sinopsis & Review Logan (2017), Ketika Wolverine Menua 1
  • Tahun Rilis: 2017
  • Genre: Superhero
  • Produksi: 20th Century Fox, Marvel Entertainment, Kinberg Genre, Hutch Parker, TSG Entertainment
  • Sutradara: James Mangold
  • Pemain: Hugh Jackman, Patrick Stewart, Boyd Holbrook, Stephen Merchant, Dafne Keen

Di tahun 2029, sudah nggak ada lagi mutan yang lahir dalam 25 tahun terakhir. Logan yang mulai menua, mulai kehilangan kemampuannya untuk regenerasi. Dia bekerja sebagai sopir limosin di El Paso, Texas. Dia kini tinggal dengan Caliban, mutan yang bisa melacak lokasi mutan lain untuk mengurus Xavier yang sudah berusia 90 tahun.

Di satu kesempatan, Logan mengantar Gabriela Lopez, seorang mantan perawat di perusahaan bioteknologi bernama Alkali-Transigen. Gabriela menyebut bahwa tujuannya adalah Eden dan dia akan berangkat bersama sang anak, Laura. Keesokan harinya, ketika menjemput Gabriela, Logan menemukan perempuan itu sudah tewas.

Logan kemudian didatangi oleh pasukan perusahaan Transigen bernama The Reavers, lengkap dengan pemimpin keamanannya yang merupakan cyborg, Donald Pierce. Donald merupakan pembunuh dari Gabriella dan dia sedang mencari Laura. Pertarungan pun nggak dihindarkan. Laura yang bersembunyi di limosin berusaha melarikan diri.

Logan meminta Caliban untuk melacak lokasi Laura. Setelah bertemu, Logan mengamankan Laura. Logan curiga karena Laura punya kemampuan yang sama dengannya. Di ponsel milik Gabriella, terdapat sebuah video yang menunjukkan bahwa Transigen menciptakan anak yang disuntikkan genetik mutan.

Karena sulit dikendalikan, anak-anak itu kemudian dibunuh. Gabriella dan rekan-rekan perawat yang lain mencoba menyelamatkan anak-anak itu. Di Oklahoma, Logan mengetahui bahwa Eden yang dituju Laura berasal dari komik X-Men dan mengatakan bahwa tempat itu nggak nyata.

The Reavers datang dan mencoba masuk ke dalam bangunan. Xavier mengalami kejang yang membuat sebagian The Reavers tewas saat sedang bertarung dengan Logan dan Laura. Caliban diculik oleh The Reavers sementara Logan, Laura dan Xavier melarikan diri.

Di perjalanan, Logan, Laura dan Xavier menolong keluarga Will Munson dalam kecelakaan lalu lintas. Keluarga Munson menawarkan supaya Logan dan yang lain makan malam bersama.

Ketika menolong keluarga Munson yang lahannya dicurangi sebuah perusahaan, Logan didatangi oleh Zander Rice. Rice adalah kepala dari Transigen. Dia membawa kloningan Logan, namanya X-24. X-24 punya kemampuan yang prima sebagaimana Logan sewaktu muda.

X-24 langsung menghabisi keluarga Munson kemudian menyerang Logan. Bahkan dia menyerang pasukan Transigen yang mengiranya sebagai Logan. Caliban yang berada di dalam mobil pengawasan di lokasi, meledakkan granat yang melukai Rice. Sementara itu, X-24 terlalu kuat untuk Logan. Will yang ternyata masih hidup menabrakkan mobilnya ke X-24 sampai terjepit.

Will kemudian menembak X-24 tiga kali sampai nggak bisa bergerak. Logan dan Laura pun melarikan diri sambil membawa tubuh Xavier. Setelah menguburkan Xavier, Logan pingsan. Laura membawanya ke dokter.

Setelah siuman, Laura untuk pertama kalinya bicara dalam bahasa Spanyol. Dia menantang Logan untuk membawanya dan membuktikan bahwa tempat di North Dakota bukanlah Eden. Sesampainya di Eden, ada banyak anak-anak Transigen lain yang tiba lebih dulu.

Logan memberi peluru yang disimpannya dari Weapon X untuk digunakan bunuh diri dan memberikannya pada Laura. Logan merasa tugasnya mengantar Laura ke Eden sudah selesai dan nggak mau menyeberang ke Kanada yang dianggap lebih aman. Ternyata di Eden, sudah dikepung oleh The Reavers dan X-24 yang kembali hidup. Bisakah Logan dan Laura menyelamatkan diri?

Penuh Atmosfer Gelap

Sinopsis & Review Logan (2017), Ketika Wolverine Menua 3

Dalam film Logan, Logan dan Xavier digambarkan sudah jauh menua. Selain perubahan kondisi fisik yang ditampilkan, atmosfer film pun dibuat murung. Mereka tinggal di sebuah bangunan pabrik yang sudah nggak diurus.

Untuk menjaga kesehatan Xavier, Logan terpaksa bekerja sebagai sopir limosin. Untuk ukuran film superhero, film ini secara berani menampilkan kenyataan pahit yang jarang diangkat.

Bukan hanya dari tempat tinggal, tapi dalam banyak adegan, berkali-kali digambarkan bagaimana kondisi Logan yang sudah menua. Bukan hanya menua secara fisik tapi Logan juga menjadi pribadi yang rapuh, frustasi dan juga apatis.

Dibanding film-film X-Men yang lain, Logan merupakan salah satu yang paling gelap tapi terasa sangat believable. Secara sinematografi, film ini berhasil menampilkan angle yang terasa efisien dalam setiap adegan, terutama dalam adegan laga.

Baca juga: Penggemar X-Men? Simak Urutan Film X-Men Ini Dulu Yuk!

Motif Villain yang Kuat

Sinopsis & Review Logan (2017), Ketika Wolverine Menua 5

Keistimewaan Logan bukan hanya karena keberadaan X-24 yang memiliki kemampuan Logan di masa muda, tapi juga otak dari villain utama yaitu Zander Rice. Rice yang merupakan seorang ilmuwan, ketika kecil harus kehilangan ayahnya yang tewas. Ayahnya bekerja di Alkali dan harus tewas oleh Wolverine ketika Wolverine beserta mutan lainnya berusaha untuk melarikan diri.

Motif balas dendam pada mutan itu yang membuat Rice menciptakan virus sehingga mutan nggak bisa dilahirkan lagi. Nggak cukup sampai di situ, dia kemudian mengembangkan genetik mutan kepada anak-anak yang akan dijadikan senjata untuk berbagai proyek. Pendalaman karakter yang solid untuk Rice melengkapi karakter-karakter lainnya yang juga digambarkan secara baik.

Unsur Drama dan Laga yang Proporsional

Sinopsis & Review Logan (2017), Ketika Wolverine Menua 7

Apa yang diharapkan dari film superhero selain adegan-adegan laga ketika superhero melawan villain? Logan nggak melewatkan kesempatan itu dan menampilkan adegan-adegan laga yang luar biasa. Bahkan menjurus ke arah brutal. Makanya, film ini diklasifikasikan sebagai film rated R atau film yang hanya boleh ditonton untuk yang sudah cukup dewasa.

Selain adegan brutal yang masih bisa ditolerir, Logan juga kental dengan unsur drama. Dalam film ini, digambarkan kesulitan Logan menjalani hidup. Ketika Laura hadir dengan kemampuan mirip dengan dirinya, Logan mulai berpikir bahwa Laura adalah anak kandungnya. Alhasil, hubungan ayah dan anak di film ini berhasil dibangun dengan emosional karena cerita yang tertata rapi.

Unsur drama dan laga dikemas dengan proporsional. Nggak ada salah satu unsur yang terlalu mendominasi sehingga genre film yaitu superhero tetap terasa. Durasi yang cukup panjang yaitu 137 menit pun nggak begitu terasa saking serunya film ini. Di satu sisi begitu terasa emosional tapi di sisi lain bisa bikin berdecak kagum dengan adegan-adegan laganya.

Logan merupakan penutup dari trilogi Wolverine. Sebagai penutup, film ini berhasil menyajikan menjadi klimaks yang memuaskan penonton. Bahkan bagi yang belum pernah nonton film Wolverine sebelumnya, Logan tetap bisa dinikmati tanpa berkurang kadar keseruannya. Apakah Logan akan menjadi film Wolverine favoritmu? Bagikan kesanmu di kolom komentar, teman-teman!

Logan
Rating: 
4.5/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram