bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Fullmetal Alchemist (2017)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 28 September 2021

Bagi para pengemar manga dan anime Jepang, pasti sudah mengenal dengan film live-action berjudul Fullmetal Alchemist. Film tersebut merupakan adaptasi dari seri manga dengan judul yang sama karangan Hiromu Arakawa. Manga Fullmetal Alchemist pun digadang-gadang sebagai salah satu komik Jepang yang paling laris di seluruh dunia.

Versi live-action dari seri manga ini telah ditayangkan di layanan streaming Netflix pada tanggal 1 Desember 2017 kemarin. Selain dibuatkan versi live-action, dan seri anime, Fullmetal Alchemist pun hadir dalam beragam bentuk mulai dari action figure, kartu permainan, hingga seri video game. Lalu, apakah film adaptasi ini sebaik seperti versi animenya, berikut adalah ulasan selengkapnya dari Bacaterus.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2017
  • Genre: Dark fantasy science fiction
  • Rumah produksi: Square Enix
  • Sutradara: Fumihiko Sori
  • Pemeran Utama: Ryosuke Yamada, Tsubasa Honda, Dean Fujioka, dan Ryuta Sato

Edward Elric (Ed) mempunyai seorang adik laki-laki bernama Alphonse (Al), keduanya tinggal di sebuah rumah sederhana bersama ibu mereka, Trisha. Pada suatu hari, sang ibu mendadak meninggal dunia tanpa sebab. Ed dan Al kini harus hidup sebatang kara, dan dilanda rasa sedih yang mendalam. Keduanya lalu mempunyai ide gila untuk menghidupkan kembali sang ibu dengan menggunakan teknik terlarang dalam ilmu Alkemi.

Mereka kemudian mempersiapkan berbagai macam bahan agar rencana tersebut berhasil dijalankan. Ed dan Al selanjuntya membuat lingkaran transmutasi, dan membaca sebuah mantra supaya sang ibu bisa hidup kembali. Namun sialnya, rencana mereka gagal total, dan malah membuat Ed kehilangan salah satu kaki, dan tangan dibagian tubuhnya, sedangkan sang adik kehilangan seluruh bagian tubuhnya.

Ed lalu mengorbankan tangan kanannya agar jiwa Al tetap selamat, dan ia menempatkan jiwa sang adik ke dalam sebuah baju zirah. Karena tindakannya itu, baju zirah tersebut menjadi hidup seperti sebuah robot yang berisikan jiwa dari Al. Ed selanjutnya menggunakan tangan, dan kaki palsu terbuat dari metal, yang dibuat oleh temannya seorang gadis baik hati bernama Winry.

Ed bersama dengan Al kini mulai berpetualang ke penjuru dunia untuk menemukan batu bertuah atau philosopher stone, yang bisa mengembalikan tubuh mereka seperti dulu lagi. Keduanya kemudian berada di sebuah kota, dan sedang mengejar seorang Pendeta licik bernama Cornello, yang diyakini memiliki batu tersebut.

Selepas melawan Cornello, dan berhasil mengambil philosopher stone, kondisi kota tersebut hancur porak poranda. Di saat itu juga, seorang Kolonel bernama Roy Mustang bersama pasukannya muncul untuk mengendalikan situasi yang kacau balau. Ia kemudian mengambil philosopher stone dari tangan Ed, dan menghancurkannya, lalu mengatakan jika batu milik Cornello adalah palsu.

Mustang juga memberitahu kepada Ed jika philosopher stone yang asli tidak akan bisa dihancurkan, dan mungkin batu tersebut sudah tidak ada lagi. Setelah dibawa oleh Mustang ke markasnya, Ed dan Al lalu bertemu dengan teman lama mereka, yakni Kapten Maes Hughes. Sang Kapten kemudian membawa mereka untuk diperkenalkan kepada seorang professor bernama Tucker.

Sementara itu, kelompok penjahat, trio homoncullus, yang terdiri dari Lust, Envy, dan Gluttony, sudah mengintai keberadaan Ed, dan Al sejak mereka datang di kota tersebut. Trio penjahat ini sangat terobsesi untuk membunuh. Pimpinan mereka, Lust, mempunyai kemampuan yang bisa memanjangkan kukunya lebih tajam daripada pisau manapun.

Adaptasi yang Kurang Memuaskan

Sebagai salah satu seri manga paling populer, Fullmetal Alchemist mempunyai daya tarik spesial ketika diadaptasi ke dalam bentuk live-action. Akan tetapi, pesona spesial tersebut tidak cukup memikat untuk membuat film ini terlihat istimewa, dan memuaskan. Fullmetal Alchemist bahkan tidak bisa lebih baik dari seri live action lainnya, yakni Attack on Titan, yang versi adaptasinya juga tidak terlalu bagus.

Salah satu hal minor di film ini karena ceritanya sendiri kurang digali secara apik. Entah kenapa, sajian dramanya pun terasa hanya sebagai bumbu cerita saja, dan rasanya hambar, kurang bisa dinikmati. Meski menghadirkan unsur-unsur konspirasi, dan plot twist, semuanya tidak menimbulkan efek kejut yang membuat decak kagum.

Film garapan Fumihiko Sori ini seperti kosong dalam narasi penceritaannya. Film Fullmetal Alchemist pun nampaknya terlalu terburu-buru dari awal, dan tidak menjelaskan secara jelas bagaimana konsep Alkemi dapat bekerja dalam film ini. Ed dan Al pun secara langsung tumbuh menjadi remaja, yang kemudian mereka bertarung dengan Cornello lewat kemampuan Alkemi yang mereka miliki di menit-menit awal.

Tapi, kinerja akting dari pemainnya terbilang cukup baik, dan film ini pun didukung lewat sajian visual CGI yang lumayan rapih. Meski Fullmetal Alchemist tidak bisa memikat secara penceritaannya, tapi apa yang ditampilkan oleh aspek tersebut masih bisa memberikan sisi positif di keseluruhan produksi film ini.

Selain itu, Sori cukup baik dalam menggambarkan dunia fiksi yang ada dalam cerita adaptasi Fullmetal Alchemist ini. Panorama yang ditampilkan terlihat nyaman untuk dipandang, terlebih lagi adanya sentuhan desain bangunan eropa klasik yang cukup artistik. Dalam hal visual latar tempat, film ini tampil tidak mengecewakan, dan layak untuk diapresiasi.

Terlalu Komikal

Salah satu ciri khas dari seri anime Jepang adalah rambut para karakternya yang digambarkan dengan berbagai macam bentuk, dan warna. Untuk ukuran manga, dan anime, mungkin kedua hal tersebut akan terlihat sangat menarik. Tapi, jika harus diaplikasikan ke dalam versi live-action layar lebar, atau serial, rasanya akan terasa rumit, dan aneh jika dipaksakan mesti mirip seperti yang ada di komiknya.

Permasalahan seperti itu pun melanda di dalam film Fullmetal Alchemist ini, dan bisa dibilang cukup mengganggu sepanjang jalan ceritanya. Di menit-menit awal saja kita disuguhkan Ed, dan Al, yang masih kecil dengan rambut pirangnya sama seperti seri animenya. Namun lucunya, kedua rambut dari aktor cilik tersebut jelas terlihat diwarnai dengan tidak rapih, dan warna pirangnya tidak merata.

Munculnya hal yang mengganjal tersebut bisa memunculkan asumsi bahwa proses tata rias di film ini tidak dilaksanakan secara maksimal. Apalagi, kebocoran warna pirang yang tidak sesuai itu muncul di menit-menit awal, dan diperlihatkan cukup jelas ketika kamera melakukan sorotan pada karakter Ed, dan Al. Sangat disayangkan hal itu bisa terjadi ketika para penggemar menaruh ekspektasi tinggi pada film ini.

Bukan hanya itu, selepas Ed beranjak remaja, sosoknya diperankan oleh aktor Ryosuke Yamada, dan lagi-lagi penggambarannya terlihat komikal lewat rambut pirangnya yang tidak natural. Penggambaran yang terlalu komikal pun melanda beberapa karakter lainnya, seperti Riza Hawkeye yang dibintangi oleh Misako Renbutsu. Ia nampak menggunakan wig pirang yang tampak terlihat tidak wajar, dan kurang alami.

Alih-alih berusaha untuk mirip dengan versi komiknya, film ini malah terlihat terlalu memaksakan aspek tersebut. Alhasil, sepanjang 2 jam film ini berjalan, para karakater seperti Ed, dan Riza tampil mencolok dengan warna rambutnya yang tidak alami itu.

Masih Layak untuk Mendapatkan Sekuel?

Jika dilihat dari penilaian dibeberapa situs review film terkemuka, versi live-action Fullmetal Alchemist mendapatkan hasil yang kurang memuaskan. Di situs Internet Movie Database atau IMDB, film ini mendapatkan nilai 5,2/10, sedangkan di Metacritic meraih nilai 48/100, dan hanya diulas oleh 5 kritikus. Di Rotten Tomatoes, film ini hanya memiliki ulasan positif sebanyak 28% dengan nilai rata-rata 4.82/10.

Penilaian dari ketiga situs tersebut setidaknya bisa menggambarkan bahwa film adaptasi ini sebenarnya masih belum maksimal, dan kurang tampil istimewa. Meski begitu, film ini bukan berarti tidak layak untuk melanjutkan cerita ke sekuel keduanya nanti. Apalagi, endingnya sendiri kurang memberikan akhir yang pasti, dan cenderung menggantung.

Jadi, apakah film ini masih tepat untuk mempunyai sekuel? Jawabannya tentu saja iya, terlepas dari ending yang menggantung dan hal-hal yang mengganggu di film pertamanya, Fullmetal Alchemist berpotensi menjadi film yang baik jika digarap secara maksimal, digali lebih dalam, dan jangan memaksakan untuk tampil terlalu komikal.

Seandainya Fumihiko Sori terpilih kembali untuk menggarap sekuel keduanya nanti, mungkin dirinya sudah belajar dari hal-hal minor yang membuat film pertamanya ini tampil mengecewakan. Jika Fullmetal Alchemist 2 benar-benar akan diproduksi dan terjadi, semoga film tersebut bisa memanjakan para penggemarnya yang sudah mengikuti seri anime ini sejak lama.

Fullmetal Alchemist
Rating: 
2.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram