Sinopsis dan Review Film Indonesia Kukira Kau Rumah (2022)

Ditulis oleh Suci Maharani R
Kukira Kau Rumah
2.5
/5

Banyak orang yang berpikir, jika orang yang terkena gangguan mental harus diisolasi dari kehidupan sosial. Padahal bukan hal ini yang mereka butuhkan, tapi dukungan dan kasih sayang dari orang-orang terdekatlah yang mereka butuhkan.

Inilah yang terjadi kepada Prilly Latuconsina, yang mengalami bipolar dan dikekang oleh sang ayah hingga ia harus sembunyi-sembunyi untuk kuliah.

Kukira Kau Rumah (2022) adalah kali pertama bagi Umay Shahab bekerja dibalik layar sebagai sutradara. Untuk debut pertamanya, Umay Shahab bisa dikatakan cukup sukses meski ada beberapa hal lainnya yang masih perlu diperbaiki.

Terutama soal alur hingga mengarahkan emosi yang tepat, meski begitu filmnya berhasil mendapatkan penonton hingga lebih dari 2 juta.

Lalu hal apa yang harus dilewatkan oleh Prilly Latuconsina selama ia mengalami bipolar? Biar nggak penasaran lagi, kamu wajib banget untuk membaca sinopsis dan review-nya di bawah ini.

Baca juga: Ada Drama hingga Horor, Ini 10 Film Terbaik Prilly Latuconsina

Sinopsis

Sinopsis

Niskala memang berbeda dengan gadis pada umumnya, pasalnya emosi yang dimilikinya memang tidak terkontrol.

Itulah kenapa ia membutuhkan kehadiran kedua sahabat baiknya, yaitu Dinda dan Oktavianus yang selalu menemaninya.

Keduanya selalu berusaha untuk menenangkan Niskala, jika gadis itu sudah mulai bereaksi dan meluapkan amarahnya.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa Niskala bukanlah seorang gadis yang kasar dan pemarah, tapi ia mengidap bipolar. Penyakit mental ini sudah menggerogoti hidup Niskala sejak gadis ini masih duduk dibangku SMA.

Hal ini tidak hanya menyakitkan bagi Niskala, bahkan kedua orang tuanya juga merasakan penderitaan yang sama. Sekarang Niskala diam-diam berkuliah di jurusan Ilmu Komunikasi bersama kedua sahabatnya.

Seperti biasa, emosinya memang sulit untuk dikendalikan terutama saat ia sedang berdebat dengan siswa lainnya. Suatu hari, ada seorang senior yang sempat mengatakan bahwa tugas yang dikerjakan Niskala memakai teori yang salah.

Gadis ini merasa sangat tersinggung, namun saat dosen memberikannya nilai sempurna, Niskala langsung memaki-makin seniornya itu.

Pria itu bernama Pram, yang akhirnya memberikan mereka traktiran untuk makan di kafe tempatnya bekerja. Tapi bukan makanan yang Niskala inginkan, melainkan ia ingin mendengarkan Pram bernyanyi di atas panggung.

Sayangnya ketika Pram nekat bernyanyi, semua pelanggan kafe malah kabur dan Pram juga mendapatkan teguran dari atasannya.

Niskala merasa tidak enak atas kejadian ini, tapi dari sinilah kedekatan mereka mulai terjalin. Niskala merasa Pram telah memberikan kebahagiaan baru dalam hidupnya, begitu juga dengan Pram. 

Ia merasa berbagai kenangan pahit mengenai keluarga dan kesulitannya sekarang telah hilang, semua ini berkat Niskala.

Gadis ini membuatnya percaya diri, bahwa ia bisa menjadi seorang musisi dan penyanyi yang baik. Kedua anak muda yang hidup dalam luka ini, akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan yang mereka idam-idamkan selama ini.

Di sisi lain, kedekatan ini membuat Niskala lalai dari perkuliahannya yang membuat sang ibu khawatir. Kepercayaan yang ibunya berikan, malah dikhianati begitu saja oleh Niskala yang entah pergi kemana.

Bahkan yang membuat ibunya takut, jika ayah Niskala tahu bahwa putrinya tidak terisolasi di rumah. Kira-kira bisakah Niskala menyembunyikan perkara kuliah dan kekasihnya ini dari kedua orang tuanya?  

Ide Ceritanya Menarik, Tapi Eksekusinya Kurang Memuaskan

Ide Ceritanya Menarik, Tapi Eksekusinya Kurang Memuaskan

Tidak ingin terlalu banyak basa-basi, sejujurnya saya merasa sangat bingung dengan Ku Kira Kau Rumah (2022). Diadaptasi dari lagu berjudul sama karya Amigdala, bagi saya film ini memberikan banyak sekali ruang kosong.

Film ini memiliki ide cerita soal kehidupan seorang gadis muda bernama Niskala dengan penyakit bipolar. Tentu ini adalah ide yang sangat menarik.

Namun dalam eksekusinya, bagi saya Umay Shahab baik sebagai sutradara dan penulis skenario masih terasa sangat mentah.

Bahkan skripnya juga dikerjakan oleh Monty Tiwa dan Imam Salimy, tapi  jujur saja ekspektasi saya memang jauh lebih besar. Kenyataannya, kolaborasi ketiganya malah memberikan kisah yang penuh plot hole dimana-mana.

Soal alur, dari pembukaan saja film ini tidak memberitahu sebenarnya apa sih yang terjadi kepada Niskala? Saya pikir mereka melakukan research soal bipolar, tapi tidak dimasukan sebagai alur.

Tidak ada narasi yang menjelaskan apa itu bipolar? Kenapa Niskala bisa terkena bipolar dan bagaimana cara menyembuhkannya? Semua ini tidak dijelaskan sedikitpun.

Dibanding disebut sebagai film soal penderita bipolar, film ini hanya mengisahkan lika-liku pasangan dengan masalah mental.

Bahkan untuk karakter Pram, background story mengenai karakter benar-benar sangat minim. Bagi saya film ini hanya mengejar sisi romance saja, dengan berbagai kata-kata puitis yang jatuhnya malah terasa sangat cheesy.  

Jourdy Pranata Kurang Menjiwai Karakternya

Jourdy Pranata Kurang Menjiwai Karakternya

Tadi saya sudah menjelaskan bahwa background story untuk karakter Pram, benar-benar sangat mini. Hal ini ternyata sangat berpengaruh dengan kinerja akting yang diberikan oleh Jourdy Pranata.

Saya tidak ingat pernah menonton film yang dibintanginya, tetapi penampilannya memang kurang memuaskan. Jourdy Pranata seperti tidak paham dengan karakternya, padahal Prilly Latuconsina cukup totalitas.

1 2»
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram