bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Kardec, Kisah Nyata Tentang Spiritisme

Di abad pertengahan, ada tokoh yang namanya sempat menghebohkan. Dialah Allan Kardec, seorang penulis di Eropa yang terkenal dengan bukunya yang mengupas tentang spiritisme. Nama Allan Kardec adalah nama pena dari pria perancis Hippolyte Leon Denizard Rivail. Ia adalah seorang pendidik dengan gagasannya yang berguna dalam bidang pendidikan. 

Dalam film asal Brasil yang menggunakan bahasa Portugis ini, sutradara Wagner de Assis menyoroti kisah nyata sosok Allan Kardec yang tertarik pada spiritisme. Semua itu ia tuangkan dalam bentuk buku. Salah satu buku yang ditulisnya, Des Espirits, sudah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Bagaimana Wagner menggambarkan sosok Kardec dalam film ini? Ini dia sinopsis dan reviewnya! 

Sinopsis

Kardec_sinposis_

Kisah dalam Kardec dibuka dengan adegan di sebuah kelas sekolah dasar. Di ruangan itu ada beberapa siswa dan seorang guru berkacamata yang tengah mengawasi siswa-siswanya. Dialah Hippolyte Leon Denizard Rivail, seorang intelektual Paris dan anggota kelompok cendekiawan kota. Ia adalah seorang polyglot dan ahli bahasa. 

Profesor Rivail dikenal sebagai sosok yang punya pandangan berbeda dengan gereja katolik. Baginya, sains dan agama tidak bisa dicampurkan. Ketika tengah mengajar murid-muridnya, masuklah Padre Boutin, seorang pastor dari katolik roma yang diutus Napoleon III untuk mengajarkan prinsip-prinsip katolik pada anak-anak. 

Hal itu membuat Rivail geram dan akhirnya mengundurkan diri dari sekolah lantaran permintaannya untuk meniadakan pelajaran agama di kelasnya ditolak oleh pihak sekolah. Mereka berkata tidak sanggup melakukan protes pada pemerintah yang sangat berkuasa. 

Profesor Rivail kemudian mengajar membuka les beberapa mata pelajaran bagi anak-anak. Sang istri, Amelie Gabrielle (Sandra Corveloni) juga membuka les piano. 

Di masa itu, sedang heboh fenomena spinning table. Fenomena ini bukan ilusi mata atau tipuan sulap, melainkan sebuah fenomena yang melibatkan arwah. Kelompok orang-orang yang meyakini spinning table percaya bahwa meja tersebut digerakkan oleh arwah dan mereka dapat berkomunikasi. Para arwah ini pun menyampaikan kabar penting dari masa depan. 

Inilah awal perkenalan Rivail dengan spirit. Sang profesor melihat bahwa spinning table adalah sebuah penipuan dan kelakuan orang-orang tidak berpendidikan. Namun, koleganya berupaya membuat Rivail percaya bahwa spinning table bukanlah penipuan, seperti yang dituduhkannya. Mereka pun mengajak Rivail pada pertemuan arwah. 

Seorang medium dihadirkan untuk membuktikan keberadaan arwah dan menyampaikan perkataannya. Medium ini bisa berupa manusia yang dirasuki, bisa pula berbentuk benda, misalnya keranjang yang dipasangi pena.

Arwah yang hadir pun diajak berkomunikasi melalui pena dan kertas. Arwah tersebut akan menggerakan pena dan menuliskan apa yang ingin disampaikannya. 

Satu dua pertemuan spirit tidak membuat Rivail terkesan. Ia masih mencerna fenomena tersebut dari kacamata sains. Rivail mencoba menguak misteri di balik spinning table tersebut. Ia sempat menemukan satu trik sulap yang dapat membuat meja melayang, yakni dengan menggunakan magnet dan meja yang ditempeli besi dengan kutub yang sama. Hal ini membuat meja melayang di udara. 

Koleganya kemudian mengajak Rivail menemui medium lainnya, yakni seorang perempuan muda yang sedari kecil diberkahi kemampuan berkomunikasi dengan arwah, dua kakak beradik yang juga punya kemampuan sama, dan seorang wanita sepuh yang mampu memanggil arwah dan membiarkan tubuhnya dirasuki arwah. 

Hal yang membuat Rivail berubah pikiran adalah saat seorang medium kerasukan arwah dan menyampaikan percakapan pribadinya dengan Gabi, istrinya. Apa yang dialaminya itu mendorong Rivail melakukan riset tentang spirit dan membukukannya dengan nama Allan Kardec. 

Buku tersebut menjadi fenomenal dan terkenal di Eropa. Namun, gereja Katolik Roma menentang keras buku tersebut. Mereka menilai apa yang ditulis Rivail itu menyesatkan, menistakan agama dan perbuatan yang terkutuk. Mereka melarang peredaran buku karya Rivail dan membakar buku-buku yang telah terbit. 

Rivail bahkan sempat mencicipi dinginnya tembok penjara sebab ia bersikukuh menulis dan menerbitkan buku-buku lanjutan dari buku edisi pertama. Meskipun diboikot, dilarang edar dan dibakar, toh nyatanya buku Des Spirit yang ditulis Rivail dengan nama pena Allan Kardec ini tetap menjadi buku yang populer. 

Premis Menarik Tapi Dikemas Buruk 

Kardec_Premis Menarik Tapi Dikemas Buruk_

Secara pribadi, film-film tentang spirit atau fantasi bertema dimensi menarik perhatian saya. Hal itu disebabkan karena kebanyakan film yang mengangkat tema spirit akan memuat banyak hal yang seru untuk diketahui. Misalnya pandangan masyarakat tertentu mengenai keberadaan spirit, yang berkaitan dengan spirit yang jadi kebudayaan suatu daerah, dll. 

Saya pun berharap besar terhadap film ini. Nama Allan Kardec menjadi daya tarik tersendiri lantaran ia adalah orang yang hidupnya sangat logis dan intelek. Sayangnya, premis menarik ini dikemas dengan cara yang kurang menarik, kalau tidak bisa disebut buruk. 

Pace dalam ceritanya terasa sangat lamban. Hampir di sepanjang film kita disuguhi dialog membosankan dari para pemerannya. Beruntung, adegan Rivail dengan Gabi membuat suasana jadi lebih segar. Keintiman keduanya memberikan pemandangan yang bikin hati hangat. Namun, secara keseluruhan jalan cerita, kardec kurang apik mengemas ceritanya. 

Komunikasi dengan Arwah yang Kurang Gereget 

Kardec_Mengangkat Tentang Komunikasi dengan Arwah yang Kurang Greget_

Dalam prosesi pemanggilan arwah, kita akan diingatkan dengan film-film seperti Jelangkung dimana boneka tersebut dijadikan medium untuk berkomunikasi dengan arwah. Lalu, arwah-arwah tersebut menuliskan informasi lewat pena dan kertas. 

Tapi jangan khawatir ketakutan. Kardec bukan film horror dan pastinya kita tidak akan menemukan jumpscare yang bikin terkejut. Sebagai salah satu fokusnya, bagian mediumisasi dengan arwah menjadi hal yang diunggulkan. Sayangnya, kita mendapati bagian mediumisasi dalam film Kardec terlihat seperti monolog.

Alih-alih menarik, bagian ini menjadi yang paling lemah dieksekusi. Para medium ini hanya berdialog sendiri atau tangan sang medium tidak berhenti menulis. Berlembar-lembar kertas ditulis sesuai ucapan si arwah. 

Visual Film dan Kostum yang Terbaik 

Kardec_Visual Film dan Kostum adalah yang Terbaik_

Kedua unsur ini adalah hal yang wajib diapresiasi. Meskipun Kardec lemah dalam alur ceritanya, tapi visual film ini begitu spektakuler. Kita disajikan pemandangan kota-Kota di Perancis dengan latar abad pertengahan yang indah dengan bangunan-bangunan klasiknya. 

Pengambilan gambarnya yang dilakukan dengan wide angle juga membuat pemandangan kota Paris di abad pertengahan tampak sangat cantik. Sungai Sein yang ikonis banyak ditampilkan dalam film ini. Menonton filmnya selama 110 menit jadi tidak membosankan. 

Hal menarik lainnya adalah dari segi kostum yang dikenakan oleh para pemain. Rivail tampil layaknya gentleman dengan setelan jas dan topi serta tongkat yang tidak pernah lepas dari tangannya. Ia terlihat seperti seorang cendekiawan sejati yang berkelas. Para tuan-tuan bangsawan Perancis seolah berlomba memamerkan setelan jas mahal mereka. 

Para wanita tampak anggun dengan balutan pakaian tradisional. Gaun-gaun dengan rok mengembang dan besar yang dikenakan oleh para aktris membuat mereka seperti menggambarkan sosok wanita cantik dari abad pertengahan sejati. 

Detail pakaian pun sangat diperhatikan. Jika kamu jeli, kamu akan melihat pakaian masyarakat kelas atas yang dikenakan oleh Gabi, Ermance Dufaux (Louise D’Tuani), Julie (Leticia Braga) dibuat dengan sangat detail. 

Film Kardec mungkin kurang mendapat respon yang hangat dari penikmat film. Tapi jika dilihat dari unsur-unsur lain selain alur ceritanya, film ini sangat bisa dinikmati. Apalagi muatan sejarah di dalamnya tersaji cukup detail. 

Untuk penikmat film yang menyukai film-film abad pertengahan, Kardec bisa jadi salah satu yang menampilkan visual terbaik. Tapi kesampingkan dulu ekspektasi pada kisah dan pengembangan jalan ceritanya. Selain Kardec, Bacaterus juga punya rekomendasi film biografi lainnya yang tak kalah seru, lho.

Kardec
Rating: 
2.8/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram