bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Drama John Q (2002)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 11 September 2021

Keluarga kecil John hidup bahagia walau tidak kaya raya, hingga suatu hari, putra mereka, Mike tiba-tiba pingsan dan berhenti bernapas.

Begitu dibawa ke rumah sakit, pihak dokter dan direktur mengatakan bahwa Mike harus menjalani cangkok jantung jika ingin punya harapan hidup lebih panjang. Masalah mulai muncul saat asuransi milik John ternyata tidak membiayai pengobatan sebesar itu.

Mencoba mencari bantuan ke berbagai pihak, John tetap kesulitan memenuhi biaya cangkok jantung yang sangat besar. Sementara itu Mike terancam dikeluarkan dari rumah sakit padahal lelaki itu sudah memasukkan sejumlah uang. Gelap mata dan putus asa, John melakukan tindakan nekat.

Ingin tahu kelanjutan cerita dalam film John Q (2002)? Anda bisa membaca sinopsis dan ulasannya lebih dulu di bawah ini!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 15 Februari 2002
  • Genre: Thriller, Drama
  • Produksi: Evolution Entertainment, A Burg/Koules Production
  • Sutradara: Nick Cassavetes
  • Pemeran: Denzel Washington, Kimberly Elise, Daniel E. Smith, James Woods

Seorang wanita mengalami kecelakaan, ditabrak truk besar dari arah depan setelah gagal menyalip truk besar lain di depannya. Scene berpindah saat mobil milik Denise (Kimberly Elise), istri John Quincy Archibald (Denzel Washington) diderek paksa karena masalah tunggakan.

John dan keluarga kecilnya, termasuk sang putra Mike (Daniel E. Smith) hidup bahagia walau tampaknya mengalami masalah keuangan.

John berusaha mendapatkan pekerjaan sampingan untuk menutupi kekurangan ekonomi keluarga. Dengan pengalaman bekerja bersama alat-alat berat selama 15 tahun, dia yakin diterima. Cerita berlanjut saat tiba-tiba Mike pingsan di tengah pertandingan baseball yang disaksikan kedua orangtuanya.

John dan Denise segera membawa Mike ke rumah sakit karena sang putra berhenti bernapas. Setelah mendapat pertolongan, anak lelaki itu dirawat. Mike terancam gagal jantung. Pihak rumah sakit diwakili direktur Rebecca Payne (Anne Heche) dan Kepala Kardiologi, Dr. Raymond Turner (James Woods) terlihat mengadakan pertemuan dengan John dan istrinya.

Dr. Turner memperlihatkan hasil rontgen keadaan jantung Mike, yang ternyata berukuran tiga kali lebih besar dibanding jantung anak seusianya yang sehat.  Ada cacat septum di beberapa bagian yang memicu miopati dan dapat berakibat pada edema paru-paru dan ektopi ventrikel ganas.

Intinya jantung Mike tidak cukup memompakan darah sehingga darah menumpuk di paru-paru. Anak itu butuh cangkok jantung atau divonis akan meninggal. Rebecca menyampaikan pilihan lain, yaitu mengobatinya sembari membuat Mike merasa senyaman mungkin. John dan Denise diminta untuk mulai memikirkan kualitas hidup.

Denise masih tidak percaya putranya mengalami kondisi yang separah ini. Turner kembali menjelaskan bahwa Mike memang tampak sehat, tapi dia pasti mudah lelah dan akan lebih banyak tertidur, hingga suatu hari dia tidak akan bangun lagi. Walau begitu, mereka harus menerima fakta bahwa hidup Mike mungkin tidak akan lama lagi.

Menurut Rebecca, cangkok jantung punya risiko yang sangat tinggi. Mike bahkan bisa meninggal saat operasi. Dia tidak menyarankan untuk melakukan itu.

Namun, bila Mike tidak dioperasi, waktu hidupnya hanya tersisa hitungan bulan, bahkan mungkin hari. Saat John bertanya apa yang akan Turner pilih jika hal ini terjadi pada putranya, dokter itu menjawab akan melakukan cangkok.

John setuju tapi Rebecca menyampaikan bahwa proses cangkok tidak semudah itu. Ada pertimbangan lain sebelum Mike bisa masuk daftar donor. Dia lalu mengatakan bahwa biaya operasi cangkok sangat mahal. Asuransi yang dimiliki John tidak bisa dipakai untuk prosedur sebesar itu. Ketika John bertanya berapa besar biayanya, Rebecca menjawab sekitar $ 250.000 dollar.

Rumah sakit butuh uang muka sebesar 30% sebelum memasukkan nama pasien di daftar penerima. Artinya John harus menyiapkan uang sebesar $ 75.000 dollar.

Dua pasangan suami istri itu memutuskan untuk membawa Mike pergi dari rumah sakit, tapi Dr. Ellen Klein (Larissa Laskin) mengejar dan memberi tahu beberapa hal yang bisa dilakukan John untuk meringankan biaya cangkok yang dibutuhkan Mike.

Dia menyarankan John untuk kembali menemui perusahaan asuransi, tanya SDM di rumah sakit untuk bantuan medis karena ada uang di sana, ada juga Layanan Anak, atau ada Medicaid.

Ellen menginginkan Mike tetap ada di rumah sakitnya dan mendapat perawatan. John mengikuti saran tersebut dan pergi menemui asuransi untuk mendapatkan penjelasan mengenai premi yang dia terima.

John kaget karena selama bertahun-tahun kerja, dia hanya mendapat asuransi maksimal $20.000 dollar. John lantas disarankan untuk mengajukan banding yang akan diproses dalam tujuh hari kerja. Bersama Denise, dia berusaha mencari bantuan biaya ke berbagai pihak.

Sayang, usahanya belum juga berhasil karena John menerima penolakan di sana-sini. Satu kabar baik yang dia terima, upaya bandingnya disetujui.

Namun, saat mengajukan surat banding tersebut ke pihak rumah sakit, Rebecca menolaknya karena surat yang dibutuhkan bukan surat banding melainkan surat keluhan. John bertambah bingung karena biaya perawatannya sendiri sudah mencapai $ 30.000 dollar sementara dia merasa tidak ada satu pun yang membantu. Dia muak diabaikan.

John memutuskan untuk menjual barang-barang di rumahnya. Beruntung teman-teman Gereja dan teman kerja John serta Denise, Jimmy Palumbo (David Thornton) dan istrinya, Gina Palumbo (Laura Harring), pada akhirnya juga turut membantu. Cerita berlanjut saat John dan Jimmy menemui Tuck Lampley (Paul Johansson), seorang pembawa acara di sebuah televisi.

Jimmy dan John meminta bantuan dalam bentuk apa pun padanya. Terutama hal-hal yang bisa dilakukannya seperti membuat segmen khusus di televisi untuk menerima donasi.

Lampley bersedia membantu tapi dia juga harus membicarakan hal ini dengan atasannya. Lantas, akankah John akhirnya mampu mengumpulkan biaya yang dibutuhkan? Apakah Mike bisa tertolong?

Soroti Sistem Rumah Sakit yang Tak Memihak Rakyat Miskin

Soroti Sistem Rumah Sakit yang Tak Memihak Rakyat Miskin

Kesan pertama setelah menonton John Q (2002) yang bisa Anda rasakan adalah bahwa film ini cukup berani mengangkat tema mengenai isu yang sensitif, yaitu jenis pelayanan publik yang berhubungan dengan nyawa seseorang. Sejak awal, alur film menampilkan masalah tersebut dengan cukup jelas.

Dalam scene ketika John dan istrinya menghadapi penjelasan Rebecca, terasa sekali bahwa orang-orang yang tak punya uang, berhadapan paling depan dengan risiko terburuk dalam pelayanan kesehatan. Sorotan lain yang lebih rinci mengenai isu ini adalah ketika seorang perawat menjelaskan tentang HMO (Health Maintenance Organization).

Dia juga mengatakan bahwa hukum bisa diakali oleh pihak rumah sakit, sehingga tetap saja siapa pun yang ketahuan tak punya uang, akan diminta pulang dari sana. Dialog lebih sederhana yang memperlihatkan permasalahan ini diucapkan oleh salah satu karakter bernama Lester Matthews, diperankan Eddie Griffin.

Dialognya menyinggung soal sumpah dokter untuk merawat yang sakit, yang nyaris sekarat tapi sumpah tersebut seolah batal jika pasien tak punya asuransi kesehatan. Sindiran yang diselipkan melalui dialog menambah detail alur cerita sehingga keresahan dalam film ini tersampaikan.

Emosi yang Kurang Terbangun dalam Cerita

Emosi yang Kurang Terbangun dalam Cerita

Sayangnya, dalam durasi sekitar 116 menit, terutama pada bagian-bagian penting yang diandalkan untuk dapat menarik emosi penonton, yaitu ketika scene penyanderaan, ia tidak dieksekusi dengan baik. Script sudah kuat, tapi pembawaan karakter John Q oleh Denzel Washington tidak terlalu berhasil menarik emosi keluar.

Perasaan iba yang diharapkan dapat ditularkan pada penonton, tidak terlalu kuat seperti premisnya. Anda akan merasakan adegan penyanderaan sebagai sesuatu yang dilebih-lebihkan. Bagian saat John menyandera dokter, mengunci pintu bahkan sampai menggunakan rantai pun jadi sekadar aksesori belaka.

Belum lagi scene ketika banyak sekali polisi melakukan pengepungan dengan menampilkan beberapa skema penangkapan dan penembakan John. Singkatnya, karakter utama film ini tidak cukup berhasil membangun emosi yang diinginkan sehingga scene-scene tersebut terasa berlebihan, kecuali adegan saat John bicara dengan Mike di sambungan telepon.

Alur Cukup Lambat

Alur Cukup Lambat

Dari awal hingga sekitar 35 menit pertama, alur film ini cukup cepat. Anda diajak melihat upaya John Q mengumpulkan uang, berusaha mendatangi banyak tempat untuk mencari pertolongan dalam alur dan tensi yang cepat. Namun, untuk menit-menit selanjutnya, bersiap saja memasuki alur yang cukup lambat. 

Perhatian pada film ini memang dipusatkan pada adegan penyanderaan yang dilakukan John Q. Hanya, penceritaannya terlalu panjang dan terdapat subkonflik yang rasanya tidak terlalu relevan dengan konflik utama. Di sana terdapat pula beberapa karakter yang tidak berperan banyak sehingga terasa sebagai pelengkap saja.

Hal menarik dalam film ini adalah terdapat gambaran suasana mengharukan melalui beberapa tampilan sinematografi yang memperlihatkan keadaan di rumah sakit dan kesibukan di sana, kerumunan orang dan emosi massa yang mendukung sikap John.

Walau juga tidak terlalu kuat, ada unsur lain yang membuat drama thriller ini masih bisa dinikmati dan terasa hangat. Ingin tahu keseluruhan cerita film John Q? Ia bisa Anda saksikan di Netflix sekarang juga!

John Q
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram