bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film In the Shadow of the Moon (2019)

In the Shadow of the Moon adalah film bergaya fiksi ilmiah yang digarap oleh sutradara Jim Mickle dan naskahnya ditulis oleh Gregory Weidman bersama Geoff Tock.

Aktor Boyd Holbrook membintangi film ini dalam peran utama sebagai petugas kepolisian Philadelphia yang bernama Thomas Lockhart. Selain itu, Michael C. Hall berperan menjadi Holt, seorang polisi detektif sekaligus atasannya Thomas. 

Film ini memulai pemutaran perdananya pada acara Fantastic Fest di tahun 2019, dan Netflix kemudian merilisnya secara global lewat layanan streaming mereka. In the Shadow of the Moon lalu mendapatkan tinjauan yang cukup beragam.

Di situs Rotten Tomatoes, film ini memiliki rating 58% berdasarkan 53 ulasan dengan nilai rata-rata 5,7/10. Penasaran dengan aksi Boyd Holbrook di film ini? Simak sinopsis dan review-nya terlebih dahulu yuk!

Sinopsis

in-the-shadow-of-the-moon-1_
  • Tahun rilis: 2019
  • Genre: Science fiction, thriller
  • Rumah produksi: 42, Automatik Entertainment, Belladonna Productions, dan Nightshade
  • Sutradara: Jim Mickle
  • Pemeran utama: Boyd Holbrook, Cleopatra Coleman, dan Michael C. Hall

Pada tahun 1988, kota Philadelphia mengalami situasi mencekam setelah beberapa orang ditemukan tewas dengan mengalami luka pendarahan, dan kerusakan otak. Petugas polisi, Thomas Lockhart, dan rekannya, Winston Maddox, ditugaskan untuk menyelidiki kasus tersebut bersama dengan detektif Holt.

Selepas memeriksa semua korban, Thomas mendapatkan fakta bahwa mereka mendapatkan luka tusukan yang sama. Di sebuah klub malam, Thomas, Winston, dan juga Holt, menemukan korban penyerangan dengan ciri-ciri yang serupa.

Sebelum korban itu meninggal, dia memberitahu mereka bahwa pelakunya adalah seorang wanita kulit hitam, dan salah satu tangannya terluka.

Kepolisian Philadelphia lalu membuat sketsa wajah pelaku dan mengirimkan timnya untuk mencari sang pembunuh sebenarnya. Saat patroli jalanan, Thomas, dan Winston menemukan tersangka yang mencoba melarikan diri. Mereka lalu mengejarnya hingga sampai masuk ke stasiun kereta bawah tanah.

Awalnya, Winston mampu menangkapnya, akan tetapi pelaku mempunyai kemampuan bela diri, dan ia mampu menjatuhkan polisi tersebut. Thomas kemudian datang, dan berhadapan dengannya.

Wanita itu lalu menjelaskan bahwa ia mengenal Thomas dan mengetahui kisah hidupnya. Dia juga mengungkapkan kepadanya jika istrinya, Jean, akan segera melahirkan.

Thomas tidak percaya akan hal itu, dan ia pun mencoba untuk menangkapnya. Tetapi, saat akan melarikan diri pelaku tewas tertabrak kereta. Beberapa waktu kemudian, peristiwa pembunuhan tersebut tidak bisa terungkap. Polisi pun menutup kasus tersebut. Di sisi lain, Jean meninggal saat ia melahirkan seorang bayi perempuan.

Sembilan tahun kemudian di tahun 1997, Thomas merawat putrinya yang masih kecil, Amy, seorang diri. Sekarang, ia adalah detektif bersama dengan Winston, dan Holt kini menjadi atasan mereka di kepolisian. Suatu hari, peristiwa pembunuhan yang sama seperti di tahun 1988 terulang kembali. Motif pelaku yang baru ini pun masih belum dapat diketahui.

Di kantor polisi, seorang fisikawan bernama Naveen Rao menemui mereka, dan memberikan bukti bahwa kasus pembunuhan dilakukan oleh seseorang yang melakukan perjalanan waktu. Thomas, dan Winston mengabaikan teori Naveen, dan tidak mempercayai hal itu.

Pada malam harinya, mereka melacak pelaku ke sebuah lapangan terbang. Di sana, Thomas terkejut karena pelaku yang sekarang ini adalah orang yang sama dari tahun 1988. Wanita tersebut masih hidup, dan tidak menua sama sekali.

Saat hendak ditangkap, pelaku tidak sengaja menembak Winston hingga tewas. Dia pun menyandera Thomas, dan memperingatkan untuk tidak mengejarnya.

Pada tahun 2006, Thomas saat ini menjadi detektif swasta, dan sangat terobsesi untuk memecahkan kasus tersebut. Ia sekarang mempercayai teori perjalanan waktu yang sempat diungkapkan oleh Naveen Rao, yang sekarang keberadaanya menghilang secara misterius.

Thomas lalu membuka kembali catatan kasus pembunuhan 1988 dan menemui salah satu istri korban. Saat menemuinya, dia mengatakan kepada Thomas jika suaminya tengah menjalankan gerakan supremasi kulit putih, dan hendak membuat kekacauan di Amerika.

Selepas mendapatkan informasi yang akurat dan mempelajari teori perjalanan waktu, Thomas menemui Holt untuk membuka kasus pembunuhan yang belum terungkap tersebut. Thomas juga menjelaskan jika pelaku datang dari masa depan dan muncul ke masa lalu setiap 9 tahun sekali untuk membunuh para anggota yang terlibat dalam kelompok ekstrimis.

Holt tidak percaya dengan penjelasan dari Thomas dan bersikeras memintanya untuk pergi ke psikiater. Tanpa sepengetahuan Holt, Thomas mencuri lencana polisinya, dan ia kembali melanjutkan penyelidikan. Ia selanjutnya berhadapan dengan sang pelaku yang diketahui namanya adalah Rya. Namun, ia berhasil melarikan diri menggunakan mesin waktu.

Di tahun 2015, Thomas kini sudah mengetahui lokasi kemunculan Rya. Ia pun menunggunya di tepi pantai untuk menangkapnya. Akan tetapi, Thomas diculik oleh Naveen Rao yang muncul secara tiba-tiba. Thomas sekarang berada dalam situasi sulit, sedangkan Rya kembali untuk melakukan aksinya lagi.

Menyajikan Isu Rasial dan Sosial Politik

in-the-shadow-of-the-moon-2_

In the Shadow of the Moon adalah sebuah film ambisius yang mencoba menawarkan genre fiksi ilmiah dengan tema cerita perjalanan waktu. Namun, konsep time travel dalam film ini masih terasa rumit, dan mungkin akan sulit dipahami oleh sebagian penonton.

Di sisi lain, film ini cukup baik dalam memberikan rangkaian adegan lewat suguhan sinematografi yang menonjol dan juga menjanjikan. 

Pada paruh pertama, aksi kejar-kejaran antara Thomas dan sang pelaku yang bernama Rya, tersaji dengan sangat menarik. Urutan adegannya diperlihatkan cukup mengesankan dan juga mendebarkan.

Suasana tersebut pun tetap terasa sama di beberapa adegan selanjutnya. Momen-momen pengejaran Thomas dari tahun ke tahun untuk menangkap Rya adalah bagian paling menarik di sepanjang film ini.

Selain membawa narasi perjalanan waktu dan fiksi ilmiah, In the Shadow of the Moon juga menyentuh tema rasial serta sosial-politik yang membuat film ini lebih kaya dari segi cerita.

Namun sayangnya, pendekatan tersebut kurang tereksplorasi secara penuh. Isu pembunuhan orang kulit hitam, dan juga gerakan supremasi kulit putih yang akan menghancurkan Amerika terlewatkan begitu saja.

Padahal, motif pembunuhan yang dilakukan oleh Rya sangat berkaitan dengan gerakan supremasi kulit putih. Rya kembali ke masa lalu setiap 9 tahun hanya untuk membunuh beberapa anggota dan orang-orang penting di dalam gerakan itu yang nantinya akan memicu serangkaian peristiwa Perang Saudara Amerika Serikat di tahun 2024.

Menyuguhkan Sebuah Plot Twist

in-the-shadow-of-the-moon-3_

Selama kurang lebih dua jam, In the Shadow of the Moon hanya menjadi sebuah film fiksi ilmiah yang menyenangkan saja. Meskipun film ini relatif seru, dan bisa dinikmati, namun suguhan fiksi ilmiahnya tidak berjalan memuaskan. Alur ceritanya pun terasa setengah hati untuk menyoroti konflik rasial, dan juga gerakan ekstrimis supremasi kulit putih.

Sementara itu, misteri pembunuhan dalam film ini terlihat cukup menarik. Semua korban yang dibunuh oleh Rya (Cleopatra Coleman) mati dengan cara mengerikan yang sama. Sepanjang cerita, kita akhirnya mengetahui bahwa Rya bukan pembunuh biasa, dan ia melakukan itu untuk menyelamatkan Amerika di masa depan yang hancur akibat perang saudara.

Pada awalnya, Rya adalah karakter yang misterius karena mengetahui sepenuhnya kehidupan Thomas Lockhart (Boyd Holbrook).

Di sisi lain, Thomas terlihat sebagai karakter utama yang solid, dan obsesinya untuk memburu Rya dari tahun ke tahun terasa meyakinkan. Lalu, Holt (Michael C. Hall), dan Winston Maddox (Bokeem Woodbine) menjadi karakter pendukung yang lumayan apik.

Menjelang akhir cerita yang berlatar di tahun 2015, tersaji sebuah plot twist yang sepertinya sedikit dipaksakan. Rya ternyata adalah cucu dari Thomas, yang lahir tepat dimana mereka terakhir bertemu di tahun tersebut. 

Pada tahun 2042, Thomas versi tua meminta Rya melakukan perjalanan waktu ke tahun 2024 dengan menggunakan mesin canggih yang diciptakan oleh Naveen Rao (Rudi Dharmalingam). Setelah itu, kita pun dapat mengetahui jalan cerita film ini secara pasti, dan jelas.

Tetap Seru untuk Ditonton

In the Shadow of the Moon pada akhirnya kurang lebih hampir mirip dengan film Looper (2012) atau Edge of Tomorrow (2014). Perbedaan yang paling terasa adalah suguhan action dalam kedua film tersebut jauh lebih menarik dibandingkan film ini, yang tidak terlalu memberikan adegan laga yang menantang.

Secara keseluruhan, In the Shadow of the Moon terdapat sentuhan emosional dalam narasi ceritanya, misterinya cukup mendebarkan, dan perjalanan karakter Thomas Lockhart sangat menarik untuk diikuti. Tetapi kekurangannya, premis fiksi ilmiahnya rumit dan cukup membingungkan.

Film ini sudah mencoba mengeksplorasi tema ras, sosial politik, dan perang saudara dengan membungkus seluruh maknanya dalam tema perjalanan waktu dan realitas.

Meski maknanya tidak benar-benar tergali secara pasti, tetapi harus diakui filmnya tetap berjalan menyenangkan dan layak ditonton untuk bisa mendapatkan rasa keseruannya. Selamat menonton!

In the Shadow of the Moon
Rating: 
3/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram