bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis I Still Know What You Did Last Summer

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 18 September 2021

Film ini secara langsung merupakan kelanjutan dari film I Know What you did Last Summer di tahun 1997. Latar waktunya sendiri terjadi satu tahun selepas kejadian di film pertamanya tersebut. Meski memiliki benang merah, I Still Know What You Do Last Summer ternyata tidak terlalu mendapatkan respon yang baik dibandingkan dengan film terdahulunya.

Sekuel kedua ini juga hanya mampu meraup pendapatan sebanyak 84 juta dollar Amerika secara global, dengan anggaran produksi yang mencapai 24 juta dollar. I Still Know What you did Last Summer memang kurang mendapatkan ulasan yang positif, namun apakah sekuel ini menjadi film yang buruk? Nah, untuk menjawabnya berikut di bawah ini adalah pembahasan selengkapnya.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 1998
  • Genre: Slasher
  • Rumah produksi: Columbia Pictures dan Mandalay Entertainment
  • Sutradara: Danny Cannon
  • Pemeran Utama: Jennifer Love Hewitt, Freddie Prinze Jr., Brandy, Mekhi Phifer, dan Muse Watson

Julie masih tidak bisa melepaskan kenangan buruk atas kematian temannya Helen Shiver, dan Barry Cox, yang tewas secara tragis dibunuh oleh “Hook Man,” seorang nelayan keji bernama Ben Willis. Untuk menghilangkan rasa trauma, ia lalu mengikuti kelas musim panas di Boston. Suatu ketika, teman sekamarnya Julie, Karla, memenangkan hadiah liburan ke Bahama setelah mengikuti sebuah acara kuis di radio.

Julie lalu meminta pacarnya, Ray, untuk ikut serta ke Bahama. Di malam harinya, Ray beserta temannya, Dave, pergi ke Boston untuk memberikan kejutan kepada Julie. Namun, mereka berhenti di tengah jalan karena melihat ada mayat yang tergeletak. Mayat tersebut ternyata adalah patung manekin, dan secara tidak terduga juga, Ben muncul kembali dengan membunuh Dave menggunakan kailnya, sedangkan Ray berhasil melarikan diri, namun terjatuh ke bawah bukit.

Sementara itu, Julie, Karla, Tyrell, dan Will telah berada di hotel yang ada di Bahama. Mereka lalu bernyanyi di bar hotel merayakan hadiah liburan tersebut. Saat giliran Julie bernyanyi, ia melihat tulisan “I Still Know What You Did Last Summer” di sebuah layar televisi. Ia yang mulai panik lalu berlari kembali ke kamarnya dengan rasa takut.

Ben kini telah berada di hotel tempat tinggal Julie, dan siap mengincar nyawanya lagi. Namun sebelum melaksanakan rencananya itu, Ben terlebih dahulu membunuh Darick, seorang pria penjaga pelabuhan, dan beberapa orang yang bekerja di hotel tempat tinggal Julie. Selain itu, Ben juga menghancurkan radio komunikasi agar mereka terisolasi, dan tidak bisa menghubungi orang luar.

Julie kemudian menemukan mayatnya Darick dikamarnya. Saat ia menceritakan itu kepada teman-temannya, dan manajer hotel, mayat tersebut tiba-tiba menghilang. Mereka lalu tidak percaya dengan cerita yang diutarakan oleh Julie. Namun, keesokan harinya, Julie beserta yang lainnya menemukan mayat-mayat yang telah dibunuh oleh Ben.

Situasi semakin mencekam ketika Ben mulai menampakan diri, dan meneror Julie beserta teman-temannya. Di sisi lain, Ray ternyata selamat setelah jatuh ke bawah bukit karena dikejar oleh Ben. Ia pun segera bergegas pergi ke hotel tempat tinggalnya Julie untuk menyelamatkannya dari mimpi buruk yang menghantui mereka lagi.

Tidak Terlalu Menggigit

Tidak Terlalu Menggigit

Produksi film ini rasanya begitu cepat, dan langsung rilis setahun setelah film pertamanya I Know What You Did Last Summer tayang pada tahun 1997. Selain itu, cukup disayangkan juga film sekuel ini naskahnya tidak ditulis lagi oleh Kevin Williamson, yang padahal di film sebelumnya ia cukup mampu memberikan skrip pembunuhan horor yang mendebarkan, dan berkesan.

Ekspektasi I Still Know What You Do Last Summer sebagai sebuah sekuel yang mumpuni, dan bisa sukses melebihi film pertamanya ternyata berbalik dengan kenyataan. Film ini seperti mimpi buruk karena tidak menegangkan dalam menyebarkan teror pembunuhan seperti di film pertamanya, I Know What You Did Last Summer.

Sekuel kedua ini banyak membuang plot, dan motivasi yang diperlihatkan sang pembunuh, yakni Ben Willis tidak sekuat, dan mendalam seperti di film sebelumnya. Selain itu, tekanan psikologis yang dialami Julie di satu sisi masih melekat pada dirinya, namun ia seolah kehilangan arah, dan hanya bisa berteriak, ketakutan, dan mengancam Ben. Tapi di sisi lain juga, karakter Julie di sini jauh lebih berkembang dibandingkan film pertamanya.

Film ini juga seolah memberikan twist dengan mencoba memperlihatkan jika Will ternyata adalah anaknya Ben. Will dan ayahnya memang telah merencanakan akan membunuh Julie saat liburan di Bahama. Akan tetapi, entah mengapa pengungkapan identitas Will yang sebenarnya tidak memberikan efek kaget, dan sosoknya itu secara tidak langsung bisa tertebak dengan sendirinya

Sekuel yang Biasa Saja

Film ini menawarkan pemeran yang jauh lebih beragam, dan masih tetap menyoroti rasa traumatis yang mempengaruhi kehidupan psikologis Julie. Karakter baru tersebut setidaknya bisa membuat film ini terlihat lebih segar, dan mampu ikut terlibat ke dalam permasalahan yang dialami oleh Julie. Selain itu, Julie di film ini juga berubah dari gadis pintar yang tidak berbahaya menjadi sosok pemberani dalam usahanya untuk bertahan hidup dari kejaran Ben.

Meski diperlihatkan jauh lebih kuat, nyatanya di awal-awal film ini, sosok Julie masih memendam rasa ketakutan, dan kepanikan yang tinggi. Walaupun terlihat seperti itu, karakter Julie sebenarnya hanya mencoba memberanikan diri saja dengan mengintimidasi Ben dengan segala cara yang ia punya. Karakternya baru terlihat mengancam ketika teror semakin berkembang, dan Julie membawa Kapak untuk menghadapi Ben.

Di beberapa bagian, film ini mencoba membawa pendekatan yang lebih segar, namun secara plot film ini tidak berhasil membawa sensasi horor sadis yang diharapkan. Terlalu banyak lubang plot yang longgar, dan hal-hal kebetulan yang mudah ditebak. Fondasi untuk mengungkapkan jika Will adalah anaknya Ben kurang detail, dan tidak buat secara apik, bahkan terlalu rumit hingga tidak masuk akal.

Apalagi, motif balas dendam yang masih meliputi perasaan Ben tidak terlalu berapi-api seperti pada I Know What you did Last Summer. Ia di sini hanya terlihat seperti seorang pria “kurang kerjaan” yang meminta bantuan anaknya untuk membunuh perempuan bernama Julie. Daya tarik film sekuel ini terasa berkurang sensasinya, apalagi jika dilihat dari tahun perilisannya, film ini begitu cepat dirilis, dan terasa terburu-buru untuk ditayangkan.

Kurang Klimaks di Akhir

Selepas berhasil membunuh Ben, beberapa waktu kemudian Julie dan Ray diceritakan menikah dan mencoba melupakan semua peristiwa naas yang mereka alami. Keduanya pun memulai hidup baru, dan terlihat bahagia. Saat keduanya berada di rumah, secara tak terduga Ben lagi-lagi masih hidup, lalu menarik Julie ke bawah tempat tidur.

Namun, adegan tersebut selesai begitu saja, dan tidak memperlihatkan nasib Julie apakah dibunuh atau tidak. Sementara itu, Ray sedang berada di kamar mandi, ia juga tidak diketahui kondisinya apakah sudah tewas terlebih dahulu atau belum. Film ini berakhir dengan anti klimaks karena memperlihatkan situasi yang tak ada ujungnya, dimana sosok Ben kembali hidup lagi meski telah ditembak oleh Julie.

Ben pada akhirnya adalah sosok pembunuh yang maniak, dan terlalu digambarkan “overpower” karena ia mudah sekali untuk membunuh orang-orang, namun sulit untuk dihabisi. Twist akhir film ini memang mencoba membuat rasa penasaran bagi penonton, tapi nampaknya hal itu berbalik menjadi hal yang menjengkelkan.

Terlepas dari hal itu, I Still Know What You did Last Summer adalah film slasher klasik yang masih terbilang menghibur. Tapi, film ini bukanlah sebuah sekuel yang terlalu baik, dan memuaskan jika dibandingkan dengan kesuksesan film pertamanya. Meskipun demikian, jika kalian ingin menyaksikan lagi film ini, I Still Know What You did Last Summer ditayangkan kembali pada layanan streaming Netflix beberapa hari yang lalu. Selamat menonton!

I Still Know What You Did Last Summer
Rating: 
3.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram