bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review I Am Legend, Hidup Bersama dengan Mutan

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 11 September 2021

Sebagai seorang ahli virologi Angkatan Darat AS, Dr. Robert Neville harus hidup sendirian New York. Virus yang awalnya sebagai obat kanker, justru merubah manusia menjadi mutan. Dr. Robert Neville yang hidup sendirian, terus melakukan penelitian pada para mutan. Namun mutan terakhir yang ia jadikan objek penelitian justru mengundang kemarahan muran lainnya.  

Film yang sempat ditunda pembuatannya ini disutradarai oleh Francis Lawrence dan skenarionya ditulis oleh Akiva Goldsman dan Mark Protosevich. I Am Legend mendapatkan rating 68% dari 215 review dan berhasil menjadi Box Office dengan pendapatan $585 juta.

Ingin tahu bagaimana nasib dari Robert Neville melawan para mutan yang terinfeksi virus ini? Kamu akan menemukan jawabannya di bawah ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal Penayangan: 14 Desember 2007
  • Genre: Thriller, Horror, Fantasy
  • Sutradara: Francis Lawrence
  • Pemeran Utama: Will Smith, Alice Braga, Dash Mihok
  • Produksi: Village Roadshow Pictures, Weed Road Pictures, Overbrook Entertainment, Heyday Films, Original Film

Upaya untuk merekayasa ulang virus campak secara genetik untuk menyembuhkan kanker menjadi mematikan, menginfeksi 99% populasi dunia, mengubah mereka yang tidak dibunuh menjadi mutan vampir, albino, kanibalistik yang disebut Darkseekers, yang sangat rentan terhadap sinar matahari, dan mangsa pada sedikit orang yang tidak terpengaruh.

Dr. Robert Neville menjadi satu-satunya orang yang selamat dan kebal dari serangan virus bersama anjingnya Sam. Mereka berusaha bertahan hidup dalam keadaan terisolasi dari kehidupan di Manhattan yang sepi. Namun Dr. Neville tetap percaya bahwa masih ada mereka yang selamat dan ia membuat pengumuman lewat siaran radio.

Keseharian Dr. Neville sangat sederhana, ia tetap berusaha mempertahankan rutinitas seperti orang-orang pada umumnya. Ia menonton tv sambil sarapan, pergi ke toko kaset untuk mengembalikan dan meminjam kaset baru. Dr. Neville juga menyempatkan diri untuk menyapa beberapa manekin yang ada disana dan berbicara sendirian.

Saat kembali ke rumah Dr. Neville melakukan penelitian yang berobjek pada tikus-tikus, untuk mencari obat untuk virus ini. Saat malam Dr. Neville menutup semua jendela dan meringkuk bersama Sam, ia merasakan takut dan frustasi saat mendengar suara teriakan darkseekers. Hingga suatu hari Dr. Neville memiliki ide untuk kembali melakukan percobaan langsung pada darkseekers

Pasalnya salah satu tikus percobaan, menunjukkan perkembangan baik melawan virus. Dr. Neville membuat rencana untuk menjebak dan berhasil membawa pulang satu darkseeker. Ia langsung memulai penelitiannya, sayangnya hal itu tidak berhasil dan makin membuat Dr. Neville frustasi. Saat Dr. Neville sedang pergi keluar dengan Sam, ia terkenal jebakannya sendiri. 

Dr. Neville Pingsan dan terbangun di sore hari berkat gong-gongan Sam. Berhasil melepaskan diri, kaki Neville terluka karena tertusuk pisaunya sendiri. Namun salah satu darkseekers justru muncul membawa dua anjing yang terinfeksi untuk menyerangnya. Akibatnya Sam meninggal dunia setelah menolong Dr. Neville, hal ini jelas membuat Dr. Neville makin kehilangan akal. 

Ia mendatangi toko kaset dan memohon agar membalas sapaannya. Dr. Neville yang kalap menantang para darkseekers dan hampir terbunuh, namun diselamatkan oleh Anna dan Ethan. Penelitian Dr. Neville akhirnya menemukan titik terang, dimana tubuh darkseekers itu terlihat lebih stabil. Namun tak lama rumahnya diserang oleh sekumpulan darkseekers

Mereka datang untuk mengambil salah satu dari mereka yang diculik oleh Dr. Neville. Menyadari hal ini Dr. Neville merelakan darkseekers yang ia jadikan objek penelitian untuk kembali ke kelompoknya. Dr. Neville, Anna dan Ethan memutuskan untuk melakukan perjalanan ke kamp korban di Bethel. Mereka juga tetap melakukan siaran radio untuk mengarahkan para survivor lainnya kepada mereka.

Diawali dengan Ketegangan, Tapi Ending Mengecewakan

Diawali dengan Ketegangan, Tapi Ending Mengecewakan

Pada awalnya saya berpikir bahwa I Am Legend adalah film yang bertema mengenai zombie seperti Resident Evil (2002). Pasalnya film ini mengangkat mengenai kegagalan suatu penelitian yang membuat terjadinya penyebaran virus yang merubah manusia. Namun setelah menonton film ini, bukan zombie yang saya dapatkan tapi darkseekers.

Jadi harapan saya yang awalnya akan tercengang dengan wujud zombie yang menakutkan dan liar buyar. Disisi lain, saya menemukan bahwa film ini mengangkat bagaimana virus yang awalnya dikembangkan sebagai obat kanker justru membuat manusia menjadi mutan. Tapi bukan juga mutan seperti di film X-Men (2000), saya sendiri tidak yakin mutan seperti apa para darkseekers ini.

Darkseekers ini bisa dikatakan sebagai campuran dari zombie dan vampir. Dimana mereka memiliki ketertarikan pada darah, memiliki penciuman yang tajam dan tidak bisa hidup dibawah sinar UV. Sebagai orang yang bertanggung jawab Robert Neville memang menjalankan tugasnya untuk mencari obat penyembuh dari virus tersebut di ground zero (TKP utama).

Memakai para mutan sebagai objek penelitian secara langsung, hal ini justru membuat mutan lainya makin ganas. Para para darkseekers menyerangnya, Lalu out of nowhere, dua orang datang menyelamatkannya dari pembantaian darkseekers. Saya berpikir mungkin ini adalah plot twist untuk mngembangkan cerita dan karakter Dr. Neville.

Nyatanya ini adalah plot hole yang membuat ceritanya makin ulit untuk dimengerti dan tidak tahu kemana arahnya. Saya kira para mutan ini memang benar-benar haus darah, nyatanya tidak seperti itu juga. Saya justru mendapatkan plot twist yang memang mencengangkan. Hingga di akhir kita diberikan pertunjukkan romance dari dua darkseekers, apakah ini Warm Bodies (2013)? Jelas bukan.

Hal ini tentu bukan sesuatu yang saya bayangkan dari para darkseekers yang dianggap berbahaya dan haus darah. Teori kemunculan Anna dan Ethan bahwa mereka dikirim oleh tuhan untuk menyelamatkannya, membuat film ini makin tidak terarah. Ini jelas sangat mengecewakan, karena saya kira Robert Neville benar-benar akan menjadi “Legenda”.

Mungkin diakhir ia menjadi satu-satunya yang selamat, atau meski mati darah Robert Neville akhirnya menjadi kunci sebagai penyembuh para darkseekers. Nyatanya ini tidak benar, saya tidak merasakan adanya “Legenda” di akhir film karena justru plot twist-nya mengecewakan. Saya sangat menyayangkan bagaimana di pertengahan hingga akhir film ini muncul dengan plot hole.

Apalagi film ini memang diangkat dari buku I Am Legend karya Richard Matheson dan The Omega Man karya Joyce H. Carrington. Namun ending yang dibilang agak kagok ini sangat tidak memuaskan dan jauh dari harapan. Membuat saya berpikir bahwa, para mutan ini mungkin akan membuat koloni beberapa tahun kemudian setelah bermutasi.

Penampilan Will Smith yang Sangat Memukau

Penampilan Will Smith yang Sangat Memukau

Meskipun film ini memberikan akhir yang cukup mengecewakan, tapi penampilan Will Smith di film ini memang “Legenda”. Pasalnya saya sebagai penonton bisa merasakan bagaimana stresnya hidup sendirian di kota besar. Bisa dibayangkan, kota yang biasanya penuh dengan hiruk pikuk dan orang-orang berlalu lalang kesana kemari.

Kota itu berubah menjadi kota mati, tidak ada satu orangpun yang beraktivitas di pagi hingga sore hari. New York yang menjadi kota impian bagi banyak orang, seakan terkena bencana besar yang menghancur setiap bangunan. Kini setiap gedungnya bukan di isi oleh manusia, melainkan para darkseekers yang bersembunyi dalam kegelapan.

Will Smith yang memerankan Robert Neville membuat kita terpukau dengan pembawaanya sebagai satu-satunya manusia yang tersisa di New York. Usahanya untuk tetap waras, membuat para penonton film ini terkesima. Dalam hal ini kita bisa mengatakan bahwa Dr. Robert Neville sudah benar-benar gila dan mengalami depresi berat.

Berusaha menjalani hidup senormal mungkin, mendengarkan siaran radio dan menonton TV hingga menyewa kaset. Menempatkan manekin di toko kaset dan berbicara pada mereka seakan manakin ini hidup. Will Smith memberikan emosi setiap kali ia berbicara dengan manekin-manekin yang disimpan di toko kaset yang sering didatanginya.

Setiap malam ia meringkuk bersama Sam, anjing yang menemaninya selama ini. Saat itu dalam diam kita akan bisa melihat betapa ketakutannya seorang Robert Neville mendengarkan suara para darkseekers. Akhir kewarasan Robert Neville dibuktikan dengan ia menembak manekin yang ia percayai adalah Fred.

Di Grand Central Terminal, ia menembak Fred karena merasa bahwa manekin itu menjadi ancaman karena terpapar virus. Di saat itu juga ia harus kehilangan Sam, satu-satunya sahabat yang ia miliki karena terinfeksi virus setelah melawan anjing mutan. Robert Neville membunuh sahabatnya Sam di dalam labnya setelah mencoba menyelamatkan anjing itu dengan cara disuntik mati.

Robert Neville kembali ke toko kaset dan berbicara pada manekin wanita, dimana sebelumnya ia berjanji pada Sam untuk menyapanya. Hal paling menyedihkan adalah saat Robert Neville memohon pada satu manekin untuk membalasnya “tolong katakan halo padaku”. Ini sangatlah menyedihkan, kewarasan hilang karena harus hidup sendiri dan terisolasi dari peradaban.

Scene ini menjadi salah satu scene terbaik sepanjang film I Am Legend ini, saya merasakan bagaimana emosi dan frustasi di dalamnya. Kehilangan satu-satunya teman yang sangat berarti bagi hidupnya, di tengah-tengah tinggal bersama para darkseekers. Film ini juga membuat para penontonnya lebih aware bahwa kesendirian adalah hal yang sangat menakutkan yang menggerogoti kehidupan mu.

Proses Pembuatan Film yang Cukup Sulit

Proses Pembuatan Film yang Cukup Sulit

Berhasil menjadi film Box Office dengan total penghasilan $585 juta di seluruh dunia. Bahkan I Am Legend berhasil mengalahkan The Lord of The Rings: The Return of The King (2003) menjadi film dengan pembukaan terbesar. Tapi tahu tidak kalau film I Am Legend mengalami banyak sekali kesulitan selama proses pembuatannya.

Dikutip dari Wikipedia, Warner Bros membeli hak cipta dari novel Richard Matheson tahun 1954, I Am Legend 1970 dan adaptasinya The Omega Man 1971 berada di dalamnya. Warner Bros sudah merencanakan pembuatan film I Am Legend dengan menyewa penulis Mark Protosevich. Aktor ternama seperti Tom Cruise, Michael Douglas dan Mel Gibson digadang-gadang jadi pemeran utamanya.  

Namun tahun 1997, Arnold Schwarzenegger dikonfirmasi jadi pemeran utamanya, namun penulis film ini diganti oleh John Logan. Ada banyak perubahan dan sudut pandang yang ditampilkan dalam skenario kedua dari penulis baru ini. film ini menjadi film bergenre fiksi ilmiah dan thriller psikologis, dimana satu jam pertamanya tidak berdialog dan akhirnya suram.

Di Tahun 1997, Scott menulis ulang naskah film ini demi mengurangi pembengkakan anggaran sebabnya $20 juta. Tapi proyek ini dibatalkan pada tahun 1998 dengan alasan masalah anggaran, pasalnya saat itu tiga film dari Scott juga ikut gagal. Di tahun 1998 Rob Bowman bergabung di proyek ini, namun kembali gagal dimulai karena ia menginginkan Nicolas Cage sebagai pemeran utamanya.

Pada Maret 2002, Arnold Schwarzenegger yang awalnya pemeran utama menjadi produser untuk film I Am Legend. Ia bernegosiasi dengan Michael Bay dan memilih Will Smith sebagai pemeran utamanya, lalu mulai merancang ulang segalanya. Tidak semulus dugaan, film ini sempat terjegal karena presiden Warner Bros tidak menyukai skenarionya.

Tahun 2004 film ini kembali dan pada September 2005 Francis Lawrence ditunjuk sebagai sutradaranya. Lawrence merancang segalanya dan menginginkan adaptasi dari buku dengan inspirasi dari Goldsman untuk membuat New York sepi.

Hal-Hal yang Tidak Disadari Diselipkan dalam Film

Hal-Hal yang Tidak Disadari Diselipkan dalam Film

I Am Legend mungkin dikenal sebagai film fiksi thriller yang cukup membuat tegang para penonton. Tapi sadar tidak, dalam film ini terdapat beberapa hal unik yang sengaja di selipkan. Salah satunya adalah munculnya iklan besar mengenai film Batman vs Superman. Hal ini terlihat saat Robert Neville berjalan-jalan di Time Square.

Kemunculan iklan Batman vs Superman ini jelas menimbulkan pertanyaan, apalagi film tersebut muncul satu dekade setelah I Am Legend rilis. Dikutip dari Screenrant, penambahan logo Batman vs Superman ini ternyata merupakan lelucon belaka. Hal ini diungkapkan langsung oleh sang sutradara Francis Lawrence, akan lucu jika film crossover Batman vs Superman dibuat dalam dunia I Am Legend.

Pasalnya Akiva Goldsman penulis dari I Am Legend ternyata sudah disewa sebagai penulis film crossover Batman/Superman untuk awal tahun 2000-an. Namun proyeknya di tangguhkan dan Warner Bros memilih memproduksi trilogi Dark Knight dan Superman Returns. Uniknya baik Goldsman dan Lawrence tidak tahu bahwa film crossover Batman vs Superman benar-benar dibuat.

Fakta lainnya adalah Willow Smith yang merupakan putri kandung dari Will Smith melakukan debut akting dalam film I Am Legend. Dalam film ini Willow berperan sebagai Marley Neville putri Robert Neville dalam adegan kilas balik. Hal ini memang sempat mengundang beberapa komentar miring, bahkan banyak orang yang mengatakan bahwa ia mempraktekan nepotisme.

Seperti yang ditulis oleh Scott Weinberg di Rotten Tomatoes, ia bergurau bahwa mungkin selanjutnya akan ada skenario film berjudul “Nepotism: It Rocks”. Saat membintangi I Am Legend bersama ayahnya, Willow masih berusia sekitar 6 tahun saat itu. Ini juga menjadi pertama kalinya bagi Willow Smith untuk melakukan akting didepan kamera.

Bagaimana, apa kalian tertarik untuk menonton I Am Legend? Film ini mungkin akan membuat beberapa orang merasa Dejavu karena mengingatkan kita dengan isolasi yang dilakukan selama pandemic. Bahkan Will Smith pun menegaskan bahwa I Am Legend bukanlah film yang menggambarkan soal Corona. Pasalnya banyak orang yang beranggapan bahwa film ini berlatar kehidupan di tahun 2021.

I Am Legend
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram