bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Anime Howl’s Moving Castle (2004)

Satu lagi film yang sangat recommended untuk para pencinta anime yaitu Howl’s Moving Castle. Film ini merupakan salah satu film sukses yang dirilis oleh Studio Gibhli, disutradarai oleh Hayao Miyazaki serta diproduksi oleh Tosiho Suzuki. Howl’s Moving Castle diadaptasi dari novel bahasa Inggris karya Diana Wynne Jones dengan judul yang sama. 

Howl’s Moving Castle merupakansalah satu film terlaris di Jepang dan pada 5 September 2004 tampil perdana di Festival film Venesia. Jadi tak heran jika film ini masuk nominasi Best Animated Feature pada Academy Award ke-78 tahun 2006. Kalau kamu tertarik dengan filmnya, yuk baca dulu sinopsis dan review-nya di sini.

Baca juga: Film Anime Terbaik yang Dibuat oleh Studio Ghibli

Sinopsis

Review Howl’s Moving Castle_sinopsis_
  • Tahun Rilis          : 2004
  • Genre                   : Romance, Family, Adventure, Fantasy, Sci-Fi
  • Produksi              : Studio Ghibli
  • Sutradara            : Hayao Miyazaki
  • Pengisi Suara     : Chieko Baisho, Takuya Kimura, Akihiro Miwa, Tatsuya Gashuin, Ryunosuke Kamiki, Haruko Kato, 

Sophie adalah gadis berumur 18 tahun dan anak seorang pengrajin topi di toko topi peninggalan ayahnya. Sebenarnya ia adalah seorang gadis yang cantik, tetapi ia selalu tidak percaya diri. Sophie selalu menganggap bahwa dirinya kurang cantik dan menarik, tidak seperti adiknya yang bernama Lattice.

Pada suatu hari, Sophie dalam perjalanan menuju Lattice yang bekerja di toko lain dan bertemu dengan seorang penyihir tampan yang menjadi pembicaraan semua gadis. Dia bernama Howl. Howl sedang dikejar oleh seorang penyihir lain yang akhirnya berhasil lolos dan mengantarkan Sophie ke toko tempat Lattice bekerja.

Lattice mengingatkan Sophie agar berhati-hati terhadap Howl, karena beredar rumor bahwa Howl memakan jantung wanita cantik. Namun Sophie menganggap dirinya tidak cantik, jadi ia tidak mengkhawatirkan hal tersebut. 

Ternyata penyihir yang sempat mencoba menangkap Howl adalah The Witch of Waste. Pada malam harinya ia mendatangi toko Sophie untuk minta dibuatkan satu topi. Namun Sophie menolak dengan alasan tokonya sudah tutup. Penyihir tersebut marah dan mengutuk Sophie menjadi seorang nenek tua berusia 90 tahun, tapi Sophie tidak bisa memberitahu siapa pun tentang kutukan tersebut. 

Tidak ingin mengejutkan ibu dan adiknya, Sophie memutuskan untuk pergi dari rumah dan mencari cara agar kutukanya bisa hilang dengan pergi ke the Waste atau lembah tempat pembuangan para penyihir. Di lembah itu, Sophie bertemu dengan orang-orangan sawah yang berhasil ditolongnya dan kemudian memberinya sebuah tongkat untuk membantu berpijak.

Orang-orangan sawah tersebut kemudian mengantarkannya ke kastil bergerak milik Howl yang akhirnya bertemu dengan setan api bernama Calcifer dan asisten Howl bernama Markl. Shopie pun menawarkan diri untuk menjadi tukang bersih-bersih di kastil tersebut. 

Ternyata kastil tersebut memiliki pintu yang ajaib yang dikendalikan oleh Calcifer. Setiap bel pintu kastil berbunyi, Calcifer akan memberikan peringatan dan Markl akan melakukan penyamaran menjadi seorang laki-laki tua. 

Pada saat bunyi bel pertama, datang orang yang menanyakan keberadaan penyihir Jenkins. Namun, saat Markl membuka pintu untuk yang kedua kalinya, Sophie melihat orang dan tempat yang berbeda. Orang itu bertanya tentang penyihir Pendragon. Sophie berpikir mengapa ada Jenkins dan Pendragon di kastil itu? Padahal di sini hanya dihuni Howl sang pemilik kastil, Markl dan Calcifer. 

Ia pun penasaran dan membuka kenop pintu berulang-ulang yang membawanya ke tempat berbeda. Saat dirinya masih terheran-heran, Howl datang dari balik pintu. Lalu, siapakah Howl? Pendragon atau Jenkins? Bisakah Howl membantu Sophie mematahkan kutukan yang diberikan penyihir buangan? 

Mahakarya yang Imajinatif

Review Howl’s Moving Castle_Mahakarya yang Imajinatif_

Film ini merupakan film terbaik. Di dalamnya menampilkan karakter wanita yang kuat, penyihir yang rupawan, kutukan juga penjahat. Elemen yang paling menarik dari film ini adalah tentang kastil bergerak Howl yang bergaya Steampunk dan punya desain unik karena ditopang oleh dua kaki seperti cakar ayam.

Kita akan menemukan beberapa detail seperti sarapan dan makan siang yang dikemas layaknya makan di restoran cepat saji, padahal kita menemukannya di kastil yang biasanya menyuguhkan makanan mewah ala kerajaan. Hal-hal ini memberikan kesan eksentrik untuk filmnya. 

Dilansir dari laman situs Loud and clear review, Miyazaki menyuguhkan pembukaan film dengan indah. Adegan diawali dengan kemunculan kastil dari balik kabut yang tebal. Kastil tersebut berpindah tempat dengan bergerak melompat-lompat.

Kemunculan kastil dari kejauhan dengan latar alam telah digunakan di banyak film Studio Ghibli lainnya, terutama di Nausicaa in the Valley of the Wind (1984) dan Laputa – Castle in the Sky (1986). Di film tersebut kita bisa menyaksikan objek asing yang muncul dari kejauhan secara alami. Bagian pembuka film yang seperti ini paling sering digunakan Miyazaki. 

Karakter imajinatif yang unik juga ada pada Calcifier, Sang Api Iblis pemakan cangkang telur dan sisa makanan. Meskipun seorang iblis api dengan kekuatan yang hebat, ia tetap suka mengeluh dan menyukai pujian.

Ada juga karakter Howl yang disebut sebagai tokoh penyihir hebat yang juga memiliki keunikan. Ia akan mengeluarkan lendir hijau ketika merasa frustasi. Di dalam film, diceritakan Howl frustasi saat rambutnya berubah warna karena menganggap hal itu membuatnya jadi tidak tampan. Howl mengeluarkan lendirnya dan membuat semua orang di kastil menganggapnya berlebihan atau lebay.  

Film yang Berbeda dari Novel Aslinya

Review Howl’s Moving Castle_Film yang Berbeda dari Novel Aslinya_

Film yang disutradarai oleh Hayao Miyazaki ini berbeda dengan versi novelnya. Alur ceritanya mirip, tapi versi film dibumbui dengan gaya Miyazaki. Versi film bercerita tentang Sophie yang karakternya mengalami perkembangan. 

Shopie yang selalu menganggap dirinya wanita biasa dan tidak percaya diri dibanding saudara perempuannya yang cantik serta populer dikalangan para gadis, akhirnya berubah. Dia berkembang menjadi pribadi yang bisa menerima bahwa dirinya juga merupakan wanita yang cantik dan memiliki keahlian khusus selain menjadi populer.  

Adegan dalam film berlatarkan masa perang dan alur utamanya berisikan bagaimana Howl menjauhi perang dengan alasan pasifisme, yang menentang perang. Cerita ini juga sedikit berbeda dengan cerita di novel.

Perbedaan lainnya terletak pada kisah hubungan Howl dan Sophie yang dalam novel sering terlibat dalam perdebatan, tapi di film adegan tersebut tak banyak ditampilkan. 

Di dalam novel, penyihir yang mengutuk Sophie seharusnya dibunuh oleh Howl, sedangkan dalam film penyihir tersebut dibiarkan hidup. Selain itu, tokoh Sophie dalam film digambarkan memiliki kemampuan menyampaikan kekuatan pada benda mati, sedangkan dalam novel hal tersebut tidak dijelaskan. 

Di dalam novel pun dijelaskan bahwa Sophie memiliki dua saudara, tapi di film ia hanya mempunyai satu saudara perempuan. 

Meskipun begitu, Wynne Jones, penulis novel Howl’s Moving Castle, tetap merasa puas dengan hasil akhir film tersebut. Seperti dilansir dari Wikipedia, Jones berkata bahwa film ini luar biasa walaupun dirinya tidak terlibat dalam pembuatannya. Cerita dalam film berbeda dari bukunya dan memang seharusnya seperti itu. Namun film ini tetap luar biasa. 

Transformasi Fisik dan Emosional pada Semua Karakter

Review Howl’s Moving Castle_Transformasi Fisik dan Emosional pada Semua Karakter_

Secara keseluruhan semua karakter utama dalam film ini mengalami transformasi, baik itu karena kutukan, sihir atau penyamaran. Contohnya saja Sophie, dia dikutuk menjadi wanita tua oleh seorang penyihir yang bernama The Witch of the waste. Ada juga asisten Howl, Markl, yang aslinya adalah anak-anak, tapi ketika pergi keluar dia menyamar menjadi lelaki tua.

Transformasi visual yang paling ikonik adalah saat Howl menjadi seekor burung besar. Kemudian The witch of the waste pun mengalami transformasi menggunakan sihirnya untuk menjadi wanita muda, meskipun pada akhirnya dia kembali jadi wanita tua tak berdaya saat kehilangan kekuatan sihirnya. 

Transformasi ini diperlihatkan dalam visual yang indah, sehingga memperkaya cerita dengan banyak elemen magis. Yang lebih penting adalah transformasi tersebut menambahkan keragaman untuk karakter-karakter dalam film. 

Berisi Pesan Moral yang Menyentuh 

Review Howl’s Moving Castle_Berisi Pesan Moral yang Menyentuh_

Film ini fokus pada karakter Sophie yang memberikan pesan moral yang sangat bagus untuk para penonton. Sophie menunjukan tentang kekuatan hati untuk mengasihi. Siapa pun akan melakukan segala cara untuk orang yang kita kasihi. Dalam film dikisahkan Sophie melakukan segala cara untuk menyelamatkan orang terkasih yaitu Howl. 

Namun, yang paling berkesan adalah ketika ia menyelamatkan dan mengasihi penyihir yang seharusnya menjadi musuhnya karena telah mengutuk dan menjadikannya wanita tua berusia 90 tahun. Inilah yang membuat orang-orang sekitar menyayangi Sophie. Film ini berakhir manis dengan plot twist di akhir cerita.

Howl’s Moving Castle menggabungkan fantasi, realisme serta ilmu pengetahuan yang diramu menjadi film animasi menakjubkan. Banyak hal yang dapat diambil dari film karya Hayao Miyazaki ini. 

Meskipun berbeda dari novel asli yang menjadikannya dikritisi oleh beberapa kritikus film, Howl’s Moving Castle ini tetap sebuah mahakarya yang sukses menyabet beberapa penghargaan. Jadi, sebenarnya siapa yang akan mematahkan kutukan Shopie?

Kalau masih ingin mencari referensi film animasi lainnya, jangan ragu untuk mampir ke artikel
Daftar Film Animasi Terbaik Sepanjang Masa ini ya.

Howl's Moving Castle
Rating: 
4.7/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram