bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Harry Potter and The Order of The Phoenix

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 11 September 2021

The Order of the Phoenix merupakan sebuah organisasi rahasia dalam seri buku fantasi fiksi Harry Potter, yang ditulis oleh J.K Rowling. Organisasi tersebut didirikan oleh Albus Dumbledore untuk melawan Lord Voldemort dan para pengikutnya, Pelahap Maut alias Death Eaters.

Sekuel kelima ini ditulis oleh Michael Goldenberg, dan menjadi satu-satunya film dalam franchise film Harry Potter yang skenarionya tidak dikerjakan oleh Steve Kloves lagi. The Order of the Phoenix meraih cukup banyak apresiasi yang baik, salah satunya tiga penghargaan di ITV National Movie Awards seperti Film Keluarga Terbaik, Aktor Terbaik untuk Radcliffe dan Aktris Terbaik untuk Emma Watson. 

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun rilis: 2007
  • Genre: Fantasy, Fiction
  • Rumah produksi: Warner Bros. Pictures, dan Heyday Films
  • Sutradara: David Yates
  • Pemeran Utama: Daniel Radcliffe, Rupert Grint, Emma Watson, Helena Bonham Carter, Robbie Coltrane, Warwick Davis, Ralph Fiennes

Lord Voldemort kini telah muncul kembali, dan tengah mempersiapkan para pasukannya. Akan tetapi, sebagian para penyihir, serta Kementerian Sihir tidak mempercayai hal itu, dan malah menganggap jika Harry Potter dan Albus Dumbledore dianggap menyebar kabar bohong akan kemunculan Voldemort.

Karena respon yang tidak hangat tersebut, Dumbledore lalu mendirikan sebuah organisasi bernama The Order of the Phoenix, yang diikuti oleh sebagian penyihir yang percaya tentang kehadiran sang Dark Lord tersebut. Mereka kemudian menggunakan kediaman dari Sirius Black, ayah baptis dari Harry Potter, sebagai markas besarnya.

Sementara itu, Harry sekarang sedang berada di dunia Muggle bersama dengan saudaranya bernama Dudley Dursley, manusia biasa yang tidak mengetahui mantra sihir. Para Dementor tiba-tiba muncul, dan hendak menyerang dirinya. Harry mampu mengusirnya dengan sihir patronus miliknya, dan menyelamatkan nyawa Dursley yang hampir tewas dihisap oleh salah satu Dementor.

Sekembalinya ke Hogwarts, Harry menghadapi persidangan karena mengeluarkan sihir di dunia Muggle, dan semua yang hadir tidak percaya jika ada Dementor yang menyerangnya di dunia tersebut. Namun, Dumbledore berhasil membela Harry, dan ia lepas dari segala tuduhan yang diarahkan kepadanya.

Harry, Ron, Hermione, serta teman-temannya yang lain lalu mendapatkan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam baru, yang berasal dari Kementerian Sihir bernama Dolores Umbridge. Guru tersebut ternyata kerap berseteru dengan Harry, serta mempunyai niat licik untuk mengontrol sekolah Hogwarts.

Saat kontrol Dolores terhadap Hogwarts semakin tinggi, Ron dan Hermione membantu Harry untuk membentuk kelompok rahasia bernama Dumbledore's Army atau Laskar Dumbledore. Kelompok tersebut kemudian terdiri dari Ron, Hermione, Ginny, Neville Longbottom, Luna Lovegood, Fred & George, Cho Chang, dan beberapa siswa dari asrama lainnya.

Dalam kelompok tersebut, Harry melatih semua teman-temannya itu dalam menggunakan mantra pertahanan. Di sisi lain, Dolores pada akhirnya merekrut murid dari asrama Slytherin untuk menyelidiki kelompok Laskar Dumbledore.

Singkat cerita, Harry pergi menuju ke Kementerian Sihir untuk menemukan botol ramalan, yang diincar oleh Voldemort, di Departemen Misteri. Harry, dan teman-temannya ternyata dijebak karena para Pelahap Maut sudah menunggu di sana.

Ketika semuanya berusaha menyelamatkan diri, anggota Order of the Phoenix seperti Sirius Black, Remus Lupin, Nymphadora Tonks, Kingsley Shacklebolt, dan Mad-Eye Mood datang tepat waktu untuk membantu mereka. Akan tetapi, Sirius tewas ditangan Bellatrix, dan Lord Voldemort pun muncul untuk segera membunuh Harry Potter.

Ancaman Semakin Meningkat

Ancaman Semakin Meningkat

Harry Potter and the Order of the Phoenix telah tumbuh semakin jauh dari sisi karakter maupun ceritanya. Film ini telah melepaskan kepolosan dari sosok Harry yang lugu sebagai anak kecil di dua film pertamanya, dan berubah menjadi remaja penuh konflik dengan Voldemort. Akan tetapi, the Order of the Phoenix masih memiliki banyak pesona magis seperti film-film sebelumnya,

Perbedaannya, dalam film ini kehidupan Harry Potter lebih banyak diliputi rasa ancaman yang berbahaya. Raut wajahnya tidak sebahagia dulu, dan kembalinya Voldemort membuat pikirannya bisa terkoneksi dengan apa yang dipikiran oleh sang Dark Lord tersebut. Akibatnya, ia lebih banyak berususan dengan bagaimana cara menyelamatkan dirinya, temannya-temannya, hingga mengalahkan Voldemort

Di awal film, kita pun secara langsung bisa melihat perubahan gestur Harry yang mulai tidak nyaman akan situasinya. Hal itu ia perlihatkan dengan mengeluarkan ilmu sihirnya karena Dementor bisa muncul di kediaman pamannya sendiri. Perasaan cemas karena Dementor tiba-tiba menyerangnya adalah peristiwa yang tidak bisa ia duga, dan ia terpaksa melanggar aturan mengeluarkan mantra di dunia Muggle

Setelah melewati tahun-tahun di Hogwarts yang tidak terlalu mengancam, disinilah ujian sebenarnya yang harus dihadapi oleh Harry. Selepas Cedric tewas di film sebelumnya, kecemasannya tentunya semakin meningkat karena Voldemort beserta Para Pelahap Maut sedang mengincar nyawanya. Sebagai seorang penyihir, ia menyadari ilmu sihirnya itu bukanlah untuk bersenang-senang, namun digunakan dalam menghadapi kejahatan dari Voldemort.

Terbentuknya Laskar Dumbledore

Terbentuknya Laskar Dumbledore

Lord Voldemort bersiap menjadi mimpi buruk, dan meneror Harry Potter serta dunia sihir Hogwarts. Sang protagonist utama, Harry, dan teman-temannya pun kini tengah berada di persimpangan jurang karena situasi kehancuran akan segera tiba. Harry pun memiliki alasan kuat untuk khawatir karena waktu nyamannya di Hogwarts akan segera berakhir, dan berganti dengan masa-masa kelam penuh kematian.

Sebagai “the chosen one,” yang dipilih di masa kanak-kanak karena kekuatan sihir istimewanya, Harry Potter pun memiliki beban untuk mengalahkan Lord Voldemort, walaupun kekuatannya sekarang tidak sebanding dengannya. Di sisi lain, Kementerian Sihir bersikap pragmatis, dan bergerak lamban karena terkungkung dalam keyakinan kuno, dan menganggap peringatan Harry sebagai kebohongan semata.

Alih-alih untuk mempersiapkan perlawanan akan kemunculan Voldemort, Kementerian Sihir malah mengirimkan guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam baru, Dolores Umbridge, yang sejatinya mempunyai niat untuk mengontrol keseluruhan sekolah Hogwarts.

Langkah itu pun pada akhirnya membuat pemberontakan sebagian siswa, dimana Laskar Dumbledore didirkan oleh Harry agar teman-temannya bisa mempelajari mantra pertahanan dari serangan para Pelahap Maut.

Laskar Dumbledore pada akhirnya menjadi satu kelompok yang menarik dalam perjalanan Harry Potter. Ia mampu mengembangkan dirinya sebagai sosok “leader,” dan dapat dipercaya oleh teman-teman yang lainnya, selain Ron, dan Hermione. Selain itu, dalam Laskar Dumbledore juga Harry mendapatkan kisah asmara pertamanya dengan seorang gadis keturunan Asia bernama Cho Chang.

Alur Cerita Masih Tetap Terjaga dan Menghibur

Alur Cerita Masih Tetap Terjaga dan Menghibur

Tidak dapat disangkal jika Harry Potter and the Order of the Phoenix adalah sekuel yang dibuat dengan cara yang lumayan baik dalam keseluruhan franchise film Harry Potter. Jalan cerita film ini tetap terjaga meski penulis skenarionya telah berubah dari Steve Kloves menjadi Michael Goldenberg. Begitu juga dengan sutradaranya yang beralih dari Mike Newell yang digantikan oleh David Yates.

Walaupun adanya penggantian nama-nama kreatif di balik layarnya, proses pengembangan produksi film Harry Potter ini masih terasa solid mulai dari alur ceritanya, visual CGI, hingga pengembangan masing-masing karakter. The Order of the Phoenix kembali memberikan atmosfer kelam dengan memperlihatkan kondisi kecemasan Harry, yang semakin meningkat, atas teror yang diberikan Voldemort kepadanya.

Pada review aggregator Rotten Tomatoes, film ini memiliki rating persetujuan 77% berdasarkan 257 ulasan, dengan nilai 6.9 / 10. Konsensus ulasan dari situs tersebut mengatakan, "Tidak mudah mengambil buku Harry Potter dengan halaman terpanjang, dan menyederhanakannya menjadi film Harry Potter dengan durasi terpendek. Tetapi, sutradara David Yates melakukan pekerjaan yang luar biasa, menciptakan Order of the Phoenix yang menghibur dan penuh aksi.”

Selain dari Rotten Tomatoes, film ini pun pada akhirnya juga meraih banyak ulasan dengan respon yang sangat positif. Meski telah dirilis lama pada tahun 2007 lalu, Harry Potter and the Order of the Phoenix masih menjadi bagian paling populer dalam keseluruhan seri film Harry Potter.

Harry Potter and The Order of The Phoenix
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram