bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis Film Harry Potter and The Goblet of Fire

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 11 September 2021

Harry Potter and The Goblet of Fire adalah sekuel keempat dalam franchise populer Harry Potter hasil adaptasi dari novel best-seller karya J.K Rowling. Film ini menikmati kesuksesan yang luar biasa di kancah box office dengan menghasilkan 896 juta dollar di seluruh dunia, dan menjadikannya sebagai film terlaris pada tahun 2005.

Atas kesuksesan yang diraih oleh film ini, The Goblet of Fire kemudian masuk nominasi di ajang Academy Award tahun 2006 untuk kategori Best Art Direction, dan memenangkan BAFTA Award dalam kategori Best Production Design. Pada situs Rotten Tomatoes, The Goblet of Fire mendapatkan rating 88% berdasarkan 255 ulasan, dengan nilai 7.44/10, serta di situs IMDB film ini berhasil meraih nilai 7.7/10.

Sinopsis

Sinopsis

Harry Potter bangun dari mimpi buruknya, dimana ia menyaksikan seorang pria bernama Frank Bryce terbunuh setelah melihat Lord Voldemort bersekongkol dengan Peter Pettigrew. Setelah dari itu, Harry bersama dengan Ron, dan Hermione menghadiri pertandingan Piala Dunia Quidditch antara Irlandia dan Bulgaria.

Pada saat pertandingan berlangsung, para Pelahap Maut alias Death Eaters tiba-tiba meneror kamp, dan membakari semua tenda yang ada. Pria yang muncul dalam mimpi buruk Harry sekilas muncul di lokasi tersebut, dan melepaskan Dark Mark (Tanda Kegelapan) sebagai simbol dari Voldemort ke langit-langit.

Ketika mereka semua kembali ke Hogwarts, Albus Dumbledore memperkenalkan Alastor "Mad-Eye" Moody sebagai guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam yang baru. Dumbledore juga mengumumkan bahwa Hogwarts akan menjadi tuan rumah Turnamen Triwizard, di mana tiga sekolah sihir bakal bersaing dalam turnamen tersebut.

The Goblet of Fire alias Piala Api lalu menyeleksi para juara dari setiap sekolah sihir untuk ikut bagian dalam turnamen. Cedric Diggory dari Hufflepuff selanjutnya mewakili Hogwarts, Viktor Krum mewakili Durmstrang Institute dari Eropa Timur, dan Fleur Delacour mewakili Akademi Sihir Beauxbatons dari Perancis.

Akan tetapi, Piala Api tiba-tiba memilih nama Harry Potter sebagai perwakilan keempat. Hal itu pun membuat seisi ruangan menjadi kaget karena Harry masih di bawah umur untuk mengikuti turnamen tersebut. Dumbledore pun tidak bisa menghalangi keputusan itu karena Harry telah terikat kontrak oleh pilihan yang diberikan The Goblet of Fire.

Pada misi pertama, mereka harus mengambil sebuah telur emas yang dijaga oleh seekor naga. Harry berhasil mengambil telur itu yang berisi informasi tentang tantangan kedua. Di misi kedua, keempatnya mesti menyelam ke bawah air untuk menyelamatkan seseorang yang berharga bagi mereka.

Untuk misi yang terakhir, mereka harus mendapatkan Triwizard Cup, yang terletak di sebuah labirin. Harry dan Cedric lalu berhasil mengalahkan Fleur, dan Viktor, serta meraih piala itu secara bersama-sama. Piala tersebut ternyata adalah Portkey, yang bisa membawa mereka ke tempat tertentu.

Harry dan Cedric kemudian berada di sebuah kuburan, dimana ternyata Peter Pettigrew tengah menunggu kedatangan mereka. Pettigrew lalu membunuh Cedric, dan berhasil membangkitkan Lord Voldemort, yang kemudian langsung memanggil para Pelahap Maut.

Voldemort lalu menantang berduel dengan Harry untuk membuktikan bahwa dia adalah penyihir yang paling hebat. Pertarungan keduanya berlangsung cukup sengit, namun Harry berhasil melarikan diri menggunakan Portkey. Suasana bahagia menjadi duka saat semua orang mengetahui jika Cedric sudah meninggal, dan Harry pun memberi tahu Dumbledore bahwa Voldemort kini telah kembali lagi.

Turnamen Triwizard yang Mendebarkan

Turnamen Triwizard yang Mendebarkan

Dalam The Goblet of Fire, Harry Potter (Daniel Radcliffe), yang kini berusia 14 tahun telah dipilih secara misterius untuk menjadi satu-satunya kontestan di bawah umur pada Turnamen Triwizard. Ia dan Cedric, yang sama-sama dari Hogwarts, mesti bersaing dengan Viktor Krum, serta Fleur Delacour untuk misi-misi yang sangat berbahaya.

Pada tantangan pertama, Harry serasa berada dalam arena gladiator penuh batu, dan ia harus mengecoh naga besar untuk mengambil telur emasnya. Adegan tersebut kemudian diperlihatkan sebagai sebuah duel yang cukup mendebarkan, dan asyik untuk ditonton.

Harry yang terperangkap oleh semburan api dari sang Naga tersebut berhasil melompat keluar menaiki sapu Quidditch miliknya. Dalam sebuah adegan yang intens, Harry terbang di udara sembari dikejar-kejar oleh Naga, yang nampak terlihat murka kepadanya.

Duel yang disajikan pada bagian awal film ini langsung menghentak, dan menjadi pembuka yang baik dalam menggambarkan betapa bahayanya Turnamen Triwizard. Selanjutnya, misi di bawah air pun tidak kalah mendebarkannya dengan yang pertama. Harry pun berhasil menyelamatkan Ron, sekaligus Gabrielle, adik perempuan dari Fleur Delacour, yang gagal menyelesaikan misinya.

Semua misi yang disajikan dalam Turnamen Triwizard terasa menegangkan lewat intensitas bahayanya masing-masing. Tetapi, misi terakhir menjadi bagian yang paling miris, dan juga menyedihkan, dimana sang Dark Lord Voldermort berhasil dibangkitkan kembali oleh Pettigrew, serta Cedric Diggory harus tewas pada babak akhir tersebut.

Masih Tetap Intens dan Ajaib

Masih Tetap Intens dan Ajaib

Harry Potter and The Goblet of Fire diarahkan oleh seorang sutradara asal Inggris bernama Mike Newell, dan skenarionya masih ditulis oleh Steve Kloves. Newell, tidak seperti sutradara Alfonso Cuarón, yang menggarap The Prisoner of Azkaban sedikit lebih gelap. Di film ini, ia kurang terasa memberikan aliran emosional pada jalan ceritanya, namun tetap menyenangkan dinikmati hingga alur film selesai.

Di sisi lain, sajian turnaman Triwizard yang ditampilkan rasanya cukup megah dengan duel intens yang memacu ketegangan. Semua babak pada turnamen tersebut dipentaskan lewat set piece yang mumpuni, dan mencapai puncaknya di bagian akhir kompetisi. Turnamen Triwizard secara tidak langsung menegaskan ketangguhan Harry saat berada dalam tekanan, termasuk ketika berhadapan dengan Voldemort.

Selain itu, trio sahabat Harry Potter, Ron Weasley, dan Hermione Granger di film ini tetap tampil apik, dan terkadang membuat geregetan bagi kita yang menontonnya. The Goblet of Fire juga masih membawa aura magis yang antik sekaligus menggagumkan lewat ilmu-ilmu sihir yang dipertontonkan. Film ini memang tidak kelam seperti film sebelumnya, tetapi masih sangat memikat karena eksekusinya ceritanya tetap memuaskan.

Pada sekuel keempat ini, The Goblet of Fire memberikan sajian mencengangkan karena kemunculan Lord Voldemort, yang bersiap kembali untuk meneror dunia sihir Hogwarts. Sementara itu, aktor Brendan Gleeson, sebagai profesor Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, Alastor ”Mad-Eye” Moody, berhasil memberikan penampilan yang menggelikan sekaligus intimidatif di balik bola mata palsunya.

Kemunculan Voldemort yang Sensasional

Kemunculan Voldemort yang Sensasional

Sudah tidak bisa dipungkiri lagi jika Lord Voldemort atau sering disebut dengan inisial “You-Know-Who” adalah sosok penyihir kejam yang tak kenal ampun. Kemunculan perdananya di layar penuh dalam Harry Potter and The Goblet of Fire ini langsung memberikan aura ancaman yang berbahaya. Kehadirannya itu tidak mengecewakan, dan menambahkan atmosfer film ini semakin jauh lebih menantang.

Sosok Voldemort sendiri diperankan oleh aktor Inggris Ralph Fiennes. Karakter jahat ini digambarkan dengan kepala pelontosnya, dan terlihat tidak memiliki tulang hidung. Sebagai seorang yang keji, ia juga menjadi pemimpin Death Eaters alias Pelahap Maut. Pada pertemuannya dengan Harry di saat Cedric tewas, Voldemort nampak jauh lebih kuat, dan memberikan potensi ancaman yang menakutkan.

Ralph Fiennes menangani sendiri penampilan jahatnya sebagai Voldemort dengan sangat baik. Untungnya juga, adegan epiknya itu mampu disajikan penuh sensasional, dan menyeramkan. Kemunculannya di hadapan Harry secara tidak langsung memastikan bahwa ia muncul kembali, dan semakin kuat untuk menebarkan ketakukan di dunia sihir Hogwarts.

Pada akhirnya, dengan hadirnya Lord Voldemort di film ini memang harus diakui adalah momen yang sangat berkesan. Lewat auranya yang sangat jahat, Voldemort juga adalah salah satu karakter villain fiksi yang ikonik, dan populer di seluruh dunia. Harry Potter and The Goblet of Fire pun selanjutnya tetap dirasa mumpuni sebagai salah satu franchise film Harry Potter yang mempunyai jalan cerita yang menarik.

Harry Potter and The Goblet of Fire
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram