Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Gran Torino, Veteran Pelindung Minoritas

Sinopsis dan Review Gran Torino, Veteran Pelindung Minoritas

Ditulis oleh - Diperbaharui 22 September 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Walt Kowalski, veteran Perang Korea yang suka menggerutu membantu tetangganya, Thao Lor, pemuda keturunan suku Hmong yang pernah mau mencuri harta berharganya, yaitu sebuah mobil Gran Torino keluaran 1972. Clint Eastwood menyutradarai dan membintangi film drama berkualitas ini yang pernah bertengger di puncak box-office.

Menurut para fans Eastwood, Gran Torino seolah menjadi salam perpisahannya dari film-film action sejenis dimana karakter yang diperankan olehnya berwatak keras dan suka bertindak tanpa berpikir panjang serta suka berkata kasar atau berupa sindiran, seperti yang pernah diperaninya dalam Dirty Harry [1971] dan beberapa sequel-nya yang sangat populer.

Seberapa baguskah kualitas film dimana Eastwood selalu menodongkan pistol meski sampai akhir film hanya satu kali dia menembakkan senjatanya dan satu jiwa saja yang menjadi korban?

Siapakah korban yang dimaksud? Kami akan ulas film yang juga didukung oleh kedua putra Eastwood ini, yang satu ikut berakting, dan satunya lagi sebagai pengarah musik. Spoiler alert di akhir sinopsis!

Sinopsis

Review Gran Torino

  • Tahun: 2008
  • Genre: Drama
  • Produksi: Double Nickel Entertainment, Malpaso Productions, Village Roadshow Pictures
  • Sutradara: Clint Eastwood
  • Pemeran: Clint Eastwood, Bee Vang, Ahney Her

Walt Kowalski (Clint Eastwood) adalah seorang veteran Perang Korea dan pensiunan pekerja pabrik mobil yang baru saja ditinggal wafat oleh istrinya.

Lingkungan tempat tinggalnya yaitu di Highland Park, Michigan, yang dahulu dihuni oleh keluarga Amerika kelas pekerja, kini sudah didominasi oleh banyak keluarga imigran Asia, yaitu suku Hmong yang berasal dari kawasan sekitar Laos.

Merasa terasing di wilayahnya sendiri, Walt menolak saran putranya untuk pindah ke komunitas pensiunan, sejenis panti jompo eksklusif, dan tetap tinggal berdua bersama anjing kesayangannya.

Dia sering mengalami batuk berdarah, besar kemungkinan dari kebiasaan merokoknya, tetapi tidak ada seorang pun dari kedua putranya tahu akan penyakit yang diidap olehnya.

Wilayah sekitar tempat tinggalnya dipenuhi oleh berbagai macam gangster dari beberapa etnis, antara lain dari suku Hmong, Latin, dan Afrika-Amerika.

Walt selalu menenteng senjata kemana pun dia pergi untuk menjaga dirinya dari kumpulan gangster berdarah muda ini. Kebiasaannya menggerutu tidak bisa diredam, bahkan oleh seorang pendeta muda yang mencoba untuk dekat dengan dirinya.

Di suatu malam, Thao (Bee Vang), salah satu anggota keluarga tetangga barunya, berusaha mencuri mobil Gran Torino milik Walt dari garasi, tetapi gagal.

Diketahui besoknya, ternyata Thao melakukan itu atas paksaan sepupunya yang merupakan anggota gangster sebagai persyaratan Thao untuk bergabung ke dalam gang mereka. Ketika mereka menyerbu rumah Thao, Walt membelanya.

Karena itulah Walt kemudian mendapat penghormatan dari komunitas suku Hmong disana karena dianggap sebagai pelindung. Sebagai penebus kesalahan, ibu Thao menyerahkan Thao kepada Walt untuk bekerja kepadanya, dan Sue (Ahney Her), kakak Thao, memperkenalkan Walt kepada komunitas Hmong beserta seluruh kebudayaannya.

Anggota gang terus memaksa Thao bergabung ke dalam kelompoknya, tetapi kemudian Walt datang ke markas mereka dan mengancam mereka supaya menjauh dari keluarga Thao.

Bukannya berhenti, malahan mereka menembaki rumah Thao dan melukainya, bahkan memperkosa dan menyiksa Sue. Tetapi karena mereka tidak mau berbicara tentang kejadian itu, polisi tidak bisa berbuat apa-apa.

Thao meminta Walt untuk menemaninya membalas dendam, tetapi Walt memilih untuk bersabar. Di hari itu, Walt membeli setelan jas baru, memotong rambutnya di barbershop, dan melakukan pengakuan dosa di gereja. Sorenya, Walt mengunci Thao di basement-nya dan pergi menuju markas gang. Thao berhasil keluar dari basement dibantu oleh Sue.

Walt memancing emosi para anggota gang yang sudah menodongkan senjata mereka kepadanya di depan markas. Walt meletakkan sebatang rokok di mulutnya dan meminta korek api kepada para anggota gang.

Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam jaket dan melakukan gerakan seolah-olah menarik pistol dari dalam jaketnya. Langsung saja para anggota gang menembaknya.

Ternyata yang diambilnya adalah korek api zippo dengan lambang kesatuan perangnya dulu. Polisi kemudian menahan semua anggota gang dan warga sekitar menjadi saksi atas peristiwa ini. Thao dan Sue yang sampai di lokasi bersedih karena kehilangan Walt. Pemakaman Walt dihadiri oleh anggota keluarga, para tetangganya, dan komunitas Hmong.

Pengacara Walt membacakan warisan yang isinya sangat mengejutkan bagi anak-anaknya. Rumah yang ditinggali oleh Walt diwakafkan ke gereja dan mobil Gran Torino diberikan kepada Thao dengan syarat dia tidak boleh memodifikasinya.

Sangat mengejutkan, anak-anaknya sama sekali tidak mendapat warisan! Itulah yang didapat anak jika mereka tidak peduli dengan orang tuanya.

Walt, Sang Veteran Pelindung Tetangganya

Walt, Sang Veteran Pelindung Tetangganya

Di awal film, saat pemakaman istrinya, Walt seperti mau meledak dari gerutuannya. Dia sangat tidak senang melihat pakaian yang dipakai oleh cucunya, pendeta muda yang memimpin acara, dan mobil pabrikan Jepang yang dikendarai oleh putranya. Pokoknya, Walt tidak senang dengan semua hal yang menurutnya tidak sesuai dengan tradisinya yang sangat old school.

Ketika mengetahui tetangganya adalah keluarga dari sebuah suku di Asia, dia semakin menggerutu setiap harinya dan selalu berbicara dalam nada yang rasis, apalagi dia adalah veteran perang di Korea dan menganggap semua orang Asia itu adalah “gooks”.

Tetapi karena berbagai kejadian dimana dia menyelamatkan dua anggota keluarga tetangganya itu, Walt mendapat respek dari komunitas suku itu.

Dan lambat laun, seiring dengan seringnya dia berinteraksi dengan tetangganya, hatinya yang keras mulai melunak dan timbul rasa simpati kepada mereka.

Bahkan dia merasa jika ternyata dia memiliki banyak kesamaan dengan tetangganya itu dibanding dengan kedua putranya. Hingga dia rela mengorbankan jiwanya sebagai cara untuk menghentikan kejahatan di daerahnya. Big respect for him!

Siapakah Suku Hmong?

Siapakah Suku Hmong

Mungkin belum banyak dari kita yang tahu tentang suku Hmong ini. Suku dari Asia Tenggara ini, lebih tepatnya mereka berasal dari Laos, Thailand, dan Vietnam.

Pada saat Perang Vietnam, mereka bekerja sama dengan Central Intelligence Agency (CIA) dalam beberapa operasi mereka di sana. Atas jasa mereka, lebih dari setengah populasi suku Hmong dibawa ke Amerika pada tahun 1975.

Sekitar 90% pengungsi Hmong ditempatkan di beberapa daerah di USA, antara lain di California, Minnesota, Wisconsin, North Carolina, dan di beberapa daerah lainnya.

Sedangkan 10% diantaranya hidup di Kanada, Prancis, Belanda, dan Australia. Kehidupan ekonomi mereka rata-rata berada di kalangan menengah ke bawah, sehingga mereka cenderung kesulitan untuk mendapat hidup yang layak.

Dalam film Gran Torino, secara ringkas, latar belakang sejarah suku Hmong ini diceritakan oleh Sue kepada Walt di mobil dalam perjalanan pulang ke rumah setelah Walt menyelamatkan Sue dari gangguan gang Afrika-Amerika.

Setelah itu, Sue mengenalkan kebudayaan suku Hmong kepada Walt, antara lain variasi jenis makanan yang ternyata sangat disukai oleh Walt, dan beberapa mitos sukunya.

The Actor, The Director

The Actor, The Director

Clint Eastwood adalah aktor veteran yang sudah kenyang berakting dalam berbagai film. “Man with No Name” dari Dollars Trilogy karya Sergio Leone di era 1960an dan Harry Callahan dalam 5 film Dirty Harry sepanjang 1970an-1980an adalah dua karakter yang sangat melekat pada dirinya.

Dan karakter Walt Kowalski dalam film Gran Torino ini hampir sama dengan karakter Harry Callahan. Seiring menuanya usia, kedewasaan sebagai insan perfilman pada diri Eastwood semakin sempurna.

Semenjak dia duduk di kursi sutradara, sudah banyak film yang dia besut dan rata-rata memiliki kualitas yang baik, seperti Million Dollar Baby [2004] dan Letters from Iwo Jima [2006]. Film Gran Torino pun memiliki kualitas yang baik dan ditambah dengan penghasilan yang tinggi untuk film drama.

Gran Torino adalah pembuktian Clint Eastwood sebagai aktor dan sutradara berkualitas. Dia mampu untuk berakting sekaligus mengarahkan pemeran lainnya untuk menampilkan performa akting terbaik mereka.

Ritme cerita yang naik secara perlahan dan dibangun dalam pondasi yang kuat, mampu menghadirkan simpati yang besar terhadap karakter yang diperankannya hingga ke akhir film.

Drama yang sederhana ini menjadi penuh dengan perasaan emosional ketika menginjak pertengahan film dan kita pasti menduga bahwa Walt akan mengakhiri keresahan warga dengan pertempuran pribadi dengan para anggota gangster.

Tapi ternyata tidak! Meski berbeda, tapi ending ini sangat tepat untuk mengakhiri cerita yang sebenarnya adalah happy ending buat semua.

Gran Torino adalah film yang wajib untuk kalian tonton, terutama bagi fans Clint Eastwood. Masukkan film ini dalam watchlist di Netflix kalian sekarang juga dan simak dengan seksama salah satu film terbaik Clint Eastwood ini.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *