bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Ghost Writer (2019), Hantu Menulis Novel

Ditulis oleh Suci Maharani R
Ghost Writer
2.7
/5

Ghost writer adalah istilah bagi para penulis berbakat, sayangnya mereka tidak memiliki kredit dan hak cipta atas karyanya. Hal ini juga serupa dengan yang dirasakan oleh Galih, ketika ia membantu Naya untuk membuat novel berdasarkan kisah hidupnya yang mengenaskan. Galih memang seorang Ghost Writer (2019), pasalnya pria ini memang sosok hantu yang sesungguhnya.

Tujuan Galih membantu Naya hanya satu, agar kesalahpahaman antara dirinya dan kedua orang tuanya bisa terselesaikan. Film yang disutradarai oleh Bene Dion Rajagukguk ini diperankan oleh artis ternama seperti Tatjana Saphira, Ge Pamungkas hingga Deva Mahenra. Hebatnya Ghost Writer (2019) berhasil mengumpulkan hingga lebih dari satu juta penonton, apalagi saat itu saingannya cukup ketat.

Penasaran bagaimana cara Galih yang hantu dapat bekerjasama dengan Naya si novelis muda? Jangan sampai terlewatkan, kamu bisa mendapatkan jawabannya di bawah ini.

Sinopsis

Review Ghost Writer_
  • Tahun Rilis: 2019
  • Genre: Horror, Comedy, Family, Drama
  • Sutradara: Bene Dion Rajagukguk
  • Pemeran: Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Deva Mahenra, Asmara Abigail, Endy Arfian
  • Produksi: Starvision Plus

Baru pindah ke rumah barunya, Naya (Tatjana Saphira) dan sang adik Darto (Endy Arfian) mendapatkan rumah kontrakan yang sangat luas tapi harganya sangat murah. Saat mereka pertama kali datang, para tetangga yang ada di daerah sekitar langsung menatap mereka aneh. Memang kalau dilihat-lihat rumah itu sudah sangat tua dan tidak terurus, ada lumut dan catnya sudah mulai luntur.

Sejak hari pertama mereka tinggal di rumah tersebut, memang ada beberapa hal janggal yang terjadi. Hingga suatu hari Naya tidak sengaja menemukan sebuah diary tepat di atas plafon kamarnya. Naya yang penasaran langsung membaca diary itu, sejak saat itu gadis ini merasa sangat tersentuh. Pasalnya diary itu mengisahkan kehidupan seorang pria yang depresi dan memutuskan bunuh diri.

Dari sinilah gangguan yang lebih ekstrim terjadi, hal ini membuat Naya dan sang adik ketakutan. Ternyata hantu pemilik buku diary tersebut tidak rela jika barang paling penting baginya dibaca oleh orang lain. Makanya hantu itu mulai mengganggu mereka, tapi ada hantu lain yang lebih kejam dan jahat dibanding hantu pria pemilik buku tersebut.

Hantu perempuan inilah yang meneror Darto dan Naya, agar keduanya segera keluar dari rumah tersebut. Darto yang ketakutan meminta kakaknya untuk segera pindah dari rumah tersebut dan mencari kontrakan lain. Namun Naya menolak, pasalnya sisa uangnya tidak cukup untuk mencari rumah kontrakan yang baru.

Apalagi ia sudah membayar uang sewa rumah ini selama satu tahun dan sebentar lagi Darto juga masuk SMA, semua ini membuatnya bingung. Bahkan karena ulah Vino (Deva Mahenra), kini Naya terdesak untuk menuliskan cerita mengenai kisah hidup pemilik buku diary yang ia temukan itu. Demi uang sekolah Darto, Naya nekat mencari cara agar bisa berkomunikasi dan meminta izin dari hantu tersebut.

Hingga Naya menyadarai, ketika ia memegang diary tersebut secara otomatis ia bisa melihat hantu Galih (Ge Pamungkas). Pada awalnya hantu Galih menolaknya, namun setelah membuat perjanjian tidak ada dramatisasi cerita, akhirnya kerjasama ini terjadi. Naya dan Galih bekerjasama membuat novel mengenai kisah hidup tragis pria itu semasa hidupnya.

Sayangnya hal ini tidak berjalan mulus, ketika penerbit meminta Naya untuk membuat ceritanya jadi lebih dramatis. Akankah Naya mengkhianati janjinya pada hantu Galih yang sudah sangat berjasa membantunya membuat novel baru?

Film Horor dan Komedi yang Ringan tapi Menghibur

Film Horor dan Komedi yang Ringan tapi Menghibur

Meski menjadi kali pertamanya sebagai sutradara, bagi saya Bene Dion Rajagukguk sangat menjanjikan. Pasalnya Ghost Writer (2019) menjadi salah satu film horor komedi Indonesia yang saya sarankan untuk di tonton. Film ini memiliki premis yang sangat simpel, kisah seorang pria yang melakukan bunuh diri karena stres disalahkan atas kematian adiknya.

Alasannya karena Galih selalu saja menjadi anak yang paling dibenci oleh ibunya, sedangkan sang adik Bening adalah putri kesayangan. Hal ini berhasil membuat penonton berpikir, bahwa Galih memiliki ibu yang sangat jahat dan kejam. Sayangnya plot twist di bagian akhir seharusnya bisa menjadi pukulan keras, tapi berakhir dengan penyelesaian masalah yang biasa saja.

Tapi apapun itu, pesan soal keluarga keluarga dan mental illnes dalam filmnya bisa tersampaikan dengan baik. Namun yang saya paling sukai dari film Ghost Writer (2019) ini adalah bagaimana plotnya berjalan, yang berhasil menjadi bukti horor dan komedi bisa berjalan bersamaan. Pembukaanya terkesan menegangkan, apalagi beberapa kali terdapat jump scare.

Namun untuk sesi kedua hingga memasuki babak klimak, plotnya jadi santai dengan berbagai komedi yang diberikan. Tatjana Saphira dan Ge Pamungkas, bisa memberikan sisi komedi tanpa perlu membuat diri mereka terlihat lucu. Darto dan teman baiknya Billy juga menjadi salah satu pemberi sisi komedi paling menyenangkan, karena sisi penakut mereka.

Selain itu materi komedinya juga sangat simpel dan universal, sehingga siapapun yang menontonnya pasti tertawa. Untuk klimaksnya, hantu Bening berhasil menunjukkan sisi jahat dari “setan” yang sesungguhnya. Transisi ini terjadi dengan sangat lembut, saya menyukai pergantian mood ini karena bikin intensitas filmnya makin naik dan makin penasaran.

Lalu di akhir, film ini ditutup dengan sangat Indah ketika semua kesalahpahaman antara Galih dan ibunya bisa terselesaikan. Sehingga arwah adik dan kakak ini bisa beristirahat dengan tenang, kedua orang tuanya pun bisa terbebas dari trauma dan rasa bersalah. Overall film ini memang film yang ringan, karena sensasi horor dan komedinya sangat menghibur.

Beberapa Pemeran Pembantunya Berhasil Mencuri Perhatian

Beberapa Pemeran Pembantunya Berhasil Mencuri Perhatian

Salah satu faktor yang membuat Ghost Writer (2019) bisa sampai mendapatkan lebih dari satu juta penonton tentu saja karena para pemainnya. Tidak main-main, ada nama-nama besar dan berbakat seperti Tatjana Saphira, Ge Pamungkas, Deva Mahenra hingga Ernest Prakasa. Jadi kalau soal akting, bagi saya semua orang sudah berhasil memberikan kemampuan terbaiknya.

Namun ada beberapa orang yang menarik perhatian saya, seperti sosok hantu Bening yang diperankan oleh Asmara Abigail. Meski screentime yang diberikan cukup singkat, tapi karakternya bisa dibangun dan berkembang sangat baik, terutama di bagian akhir. Karakter lain yang tidak kalah menghibur adalah Billy, karakter yang diperankan oleh Moh. Iqbal Sulaiman.

Karakter anak SMP yang super kocak dan penakut ini, menjadi duo yang pas dengan karakter Darto yang diperankan oleh Endy Arfian. Karakter Billy menjadi salah satu karakter yang sangat kuat, padahal keberadaanya sebenarnya untuk mendukung karakter Darto saja. Akting dan pembawaan karakter yang diberikan oleh Moh. Iqbal Sulaiman terlihat sangat natural sekali.

Tidak lupa duo karyawan yang hobinya ngomongin dan nonton film horor, tapi selalu saja berakhir dengan perdebatan. “mencari alasan, kenapa setan bisa penasaran dan lainnya”, karakter keduanya benar-benar sangat fokus. Tapi perbincangan inilah yang membuat sisi misteri bisa berjalan bersamaan dengan sisi komedi.

Meski Sederhana, Pesan Moralnya Tersampaikan dengan Baik

Meski Sederhana, Pesan Moralnya Tersampaikan dengan Baik

Disadari atau tidak, Ghost Writer (2019) secara tidak langsung menunjukkan bagaimana perkembangan seorang anak yang memiliki luka hati. Inilah kisah Galih, si anak yang selalu diperlakukan berbeda oleh ibunya, karena dianggap sebagai anak pembawa masalah. Setiap saat Galih selalu mendapatkan omelan dari sang ibu, yang tidak disadari sedikit-sedikit membuat mentalnya rusak.

Meski diberikan perlakuan yang berbeda dengan sang adik, nyatanya Galih santa menyayangi Bening. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa setiap perilaku buruknya, dilakukan hanya untuk menjaga dan membela adiknya. Bisa dikatakan kedua kakak adik ini sangat akur, hingga Galih tidak sengaja membuat sang adik meninggal karena kecelakaan.

Hal inilah yang membuat ibunya begitu marah, hingga semakin memojokkan dan membuatnya tersudut. Di sisi lain Galih juga merasa sangat kehilangan, makanya ia sampai menyalahkan diri sendiri. Hingga puncaknya, Galih memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tidak tahan lagi. Setelah kejadian ini pun kedua orang tuanya memilih pindah demi melepas masa lalu yang membuat mereka trauma.

Dari sini kita bisa melihat bahwa cara keluarga membesarkan anaknya sangatlah penting. Pasalnya jika tumbuh kembang anak bisa terlihat, maka mental tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Sehingga disini ibu Galih memang salah, karena sikapnya terlalu keras pada putranya sendiri. Cara didiknya telah membuat mental Galih terluka, hal ini menyebabkan tindakan nekat dari si anak.

Contohnya seperti apa yang dilakukan oleh Galih, ketika ia tidak memiliki sandaran. Ibu yang seharusnya memberikan kasih sayang, malah menghakiminya dari kecil hingga dewasa. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga juga bisa menjadi pembunuh untuk anak-anak mereka. Ketika pada umumnya, keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman untuk anak-anak.  

Inilah review saya setelah menonton film horor dan komedi Indonesia berjudul Ghost Writer (2019). Sebuah film yang tidak hanya menghibur, tapi memberikan pesan sosial mengenai keluarga dan etika. Bagaimana menurutmu? Jangan lupa untuk menuliskan pendapatmu di kolom komentar di bawah ini. Selain itu kamu juga bisa menemukan review film Indonesia lainnya, hanya di Bacaterus.

cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram