bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Gangubai Kathiawadi, Kisah Wanita Tuna Susila

Banyak orang yang mengatakan, bahwa setiap manusia berhak untuk mendapatkan kesetaraan hidup yang sama. Hal inilah yang sedang diperjuangkan oleh Gangubai, seorang wanita tuna susila yang sedang memperjuangkan hak hidup para wanita tuna susila lainnya.

Gangubai berjalan di berbagai lorong gelap, hanya untuk memberikan cahaya bagi para wanita yang kerap dianggap sebagai sampah masyarakat.

Tidak ingin disebut sebagai film biografi, Gangubai Kathiawadi (2022) adalah sebuah film yang diadaptasi dari buku Hussain Zaidi.

Film yang digarap oleh Sanjay Leela Bhansali ini, secara epik menunjukkan setiap tahapan kehidupan Gangubai. Tapi secara sinematografi, skoring hingga akting, film ini bisa dikatakan sempurna dan wajib banget untuk ditonton.

Lalu, bagaimana awalnya Gangubai bisa hidup dalam dunia prostitusi? Untuk mendapatkan jawaban lebih lengkapnya, kamu bisa membaca sinopsis dan review filmnya di bawah ini.

Baca juga: 20 Rekomendasi Film India Paling Inspiratif Sepanjang Masa

Sinopsis

Sinopsis

“Siapa pun yang muncul di depan pintu kami, kami tidak pernah menghakimi mereka dan itu adalah prinsip kami. Jika kami tidak mendiskriminasi orang, kenapa kalian mendiskriminasi kami? Kenapa kami dikucilkan dari masyarakat? – Gangubai Kathiawadi.

Gangga tidak pernah menyangka, kepergiannya untuk mengejar impian bersama sang kekasih malah berakhir di rumah bordil. Cintanya yang begitu besar kepada Ramnik, ternyata hanya berharga Rs 1000 bagi pria tersebut.

Gangga yang awalnya berpikir akan dipertemukan dengan seorang guru akting, sejujurnya ia memang dipertemukan dengan seorang ahli bersandiwara.

Namun bukan untuk membuatnya berlakon di layar kaca, melainkan berlakon sebagai pelacur yang setiap malam harus melayani para pria. Setelah beberapa malam dikurung di ruangan gelap tanpa makanan, Gangga akhirnya menyerah dengan keadaan.

Di hari pertama menjajakan tubuhnya, ia melakukan hal yang tidak terduga di hadapan Sheela Massi, bahwa kini namanya adalah Ganggu.

Gadis ini membakar uang bonus yang diberikan oleh kliennya, sambil berkata bahwa ini adalah simbol kremasi untuk Gangga Harjivandas.

Sejak hari itu sudah tidak ada lagi Gangga, yang ada adalah Ganggu salah satu prostitusi paling terkenal. Ganggu mengubah diri dan pemikirannya, bahkan kini ia bisa menekan Sheela Maasi sesuka hatinya.

Hingga suatu malam, Ganggu menjadi korban kekerasan dari seorang klien bernama Shaukata Khan Pathan. Ganggu mengalami trauma mendalam, namun gadis ini tidak mau berdiam diri begitu saja hingga ia meminta bantuan dari Rahim Lala.

Sang pemimpin mafia berjanji akan memberikan keadilan bagi Ganggu dan benar saja, Shaukata akhirnya dihajar oleh Lala.

Sejak saat itu, Rahim Lala menganggap Ganggu sebagai saudarinya karena ia kagum dengan nilai dan pemikiran Ganggu. Bahkan saat Sheela Maasi meninggal, Rahim Lala mendukung Ganggu untuk menjadi pemimpin di rumah bordil tersebut.

Rahim Lala memberikan nama baru untuknya, yaitu Gangubai si “Ratu Mafia” dan menjadikannya sebagai salah satu sosok politisi.

Gangubai memang memiliki tujuan yang pasti dalam hidupnya, ia tidak ingin para prostitusi hidup dalam kesulitan. Ia mengikuti pemilihan presiden Kamathipura dan menang telak dari Raziabai, ia memukul sang lawan dengan berbagai gerakan tak terduga.

Untuk pertama kalinya, di Kamathipura terjadi pernikahan dari putri seorang pelacur dengan seorang pria dari keluarga biasa.

Namun perjalan Gangubai tidak selesai sampai di situ, kini Kamathipura terancam dihancurkan. Sejumlah orang yang mengajukan gugatan menghancurkan Kamathipura, karena  dianggap merusak masyarakat.

Bahkan Gangubai sangat jengkel ketika anak-anak dari Kamathipura mendapatkan diskriminasi dari sekolah dan para pengajarnya.

Gangubai sangat marah, ia meminta bantuan Mr. Fezi untuk membuat dunia tahu mengenai keadaan mereka. Bahkan Gangubai mengambil banyak langkah politik untuk mempertahankan Kamathipura dan hak dari 4000 wanita yang ada di sana.

Berhasilkah Gangubai memberikan kesejahteraan untuk para wanita tuna susila dan anak-anaknya, untuk bisa merasakan hidup yang bermartabat di masyarakat?

Sisi Gelap Gangubai Tidak Pernah Diperlihatkan

Sisi Gelap Gangubai Tidak Pernah Diperlihatkan

Gangubai Kathiawadi (2022) memang sebuah film yang sangat inspiratif dan membuka pemikiran kita mengenai para wanita tuna susila. Bahkan saya tidak peduli dengan durasi filmnya, yang ternyata berjalan lebih dari 150 menit lamanya.

Saya cukup enjoy menikmati satu persatu tahapan kehidupan yang dilalui oleh Gangubai, sejak pertama kali ia datang ke Kathiawar hingga menjadi sosok berpengaruh di sana.

Uniknya Sanjay Leela Bhansali seakan ingin menunjukkan sisi positif saja dari sosok Gangubai. Padahal dibalik itu semua, saya penasaran dengan bagaimana Gangubai mengelola rumah bordil tersebut.

Belum lagi, Gangubai memiliki nama lain yang cukup bringas sebagai “Queen Mafia” yang ditakuti. Saya sendiri tidak tahu, kenapa mereka memilih mengubur mengenai kepemimpinan Gangubai di rumah bordil?

Padahal hal ini bisa menjadi salah satu penguat karakternya, sehingga kita bisa tahu seberapa besar pengaruhnya di Kathiawar. Lalu, hal yang membuat saya kurang sreg, kenapa tidak ada plot mengenai hubungan Gangubai dan keluarganya.

Di sisi lain, Gangubai terlihat selalu merindukan ayah dan ibunya tetapi tidak ada plot yang jelas mengenai hubungan ini. Begitu pula dengan sosok Ramnik, sosok ini seharusnya diberikan panggung yang lebih banyak.

Setidaknya ceritakan bagaimana hubungan mereka dahulu, sehingga alasan dibalik kepercayaan Gangubai padanya yang begitu besar terasa make sense.

Sinematografi dan Dialognya Indah

Sinematografi dan Dialognya Indah

Harus saya katakan, Bhansali Production menjadi salah satu rumah produksi India yang paling saya sukai. Jika Dharma Production selalu memberikan gambar-gambar yang aesthetic dalam vibes yang modern maka Bhansali Production sangat jago memberikan nuansa etnik yang lembut dan tradisional.

Dan, hal tersebut diperlihatkan di Gangubai Kathiawadi (2022). Jujur saja sinematografi untuk film ini memang sangat luar biasa.

Saya sangat menikmati setiap gambar yang muncul dalam film ini, terasa begitu intense dengan tone warna yang lembut. Mereka berhasil memberikan vibes Kota Bombay di tahun 60-an, terasa begitu etnik dan ada transisi ke era modernnya.

Setiap sudut distrik lampu merah Kamathipura disajikan dengan sense yang kelam namun dianggap sebagai surga untuk beberapa orang.

Ada dua scene yang paling membekas di ingatan saya, pertama ketika Kamathipura dilanda pemadaman listrik. Scene yang terlihat sinematik muncul, saat para wanita di distrik memegang lilin sambil menggoda para pria.

Scene kedua hadir di bagian penutup, ketika Gangubai berdiri di hadapan banyak masyarakat distrik, ketika mereka berhasil mendapatkan haknya.

Begitu pula dengan kualitas dialognya, Prakash Kapadia dan Utkarshini Vashishtha menghiasi film ini dengan banyak sekali dialog indah.

Setiap kata yang keluar dari mulut Gangubai, tidak hanya mengenai dirinya sendiri tetapi mengenai wanita dan anak-anak di Kamathipura. Ia tidak mendiskriminasi siapapun, bahkan seluruh lawannya tetapi disejahterakan oleh Gangubai.

Tapi ada hal yang membuat saya kecewa, dari total enam lagu yang menjadi soundtrack film ini. Hanya ada satu lagu yang memorable, lagu tersebut berjudul “Dholida” yang dinyanyikan oleh Janhvi Shrimankar dan Shail Hada.

Padahal seluruh lagu dari film ini Sanjay Leela Bhansali sendiri yang memproduserinya, tetapi bagi saya kebanyakan lagunya forgettable.

Alia Bhatt Menunjukkan Kelasnya

Alia Bhatt Menunjukkan Kelasnya

Memerankan karakter Gangubai Kathiawadi, jujur saya sangat terpesona dengan kemampuan akting dan penjiwaan karakter Alia Bhatt. Mulai dari suara, caranya berbicara, berjalan, bersikap hingga sorot matanya, benar-benar berbeda dari Alia Bhatt yang sering saya lihat di layar kaca.

Ia berhasil mengembangkan karakternya dan membuat para penonton terenyuh dengan kisah Gangubai. Selama lebih dari 150 menit, saya sangat menikmati berbagai emosi yang diperlihatkan oleh Alia Bhatt.

Secara gamblang saya akan mengatakan, bahwa film ini bisa dikatakan sebagai penampilan terbaik Alia Bhatt sepanjang karirnya. Meski beberapa kesalah minor tidak bisa dilewatkan, salah satunya soal makeup dan penampilannya.

Saya tidak melihat perubahan yang signifikan ketika Gangubai masih muda dan setelah ia terjun sebagai aktivis wanita prostitusi. Saya berharap pihak Bhansali bisa mengubah beberapa kontur wajah Alia, sehingga terlihat lebih dewasa.

Tapi secara keseluruhan saya merasa puas dengan akting Alia Bhatt, tapi saya kurang puas dengan development untuk karakter lainnya.

Film ini benar-benar menjadikan aktor lain selain Alia Bhatt sebagai selingan saja. Tidak ada karakter lain yang menonjol, bahkan karakteristik dan kisah hidup mereka juga tidak diceritakan.

Sebut saja Kamli dan Birju yang namanya selalu diucapkan oleh Gangubai, karakter mereka terasa abu-abu. Saya tidak mengetahui apa peran mereka dalam hidup Gangubai dan apa yang membuat mereka spesial.

Gangubai Kathiawadi (2022) menjadi salah satu film yang paling saya rekomendasikan untuk ditonton. Alasannya karena film ini menunjukkan sisi lain dari kehidupan para wanita prostitusi yang tidak pernah dirasakan masyarakat umum.

Hal yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa kesetaraan dan keadilan bagi mereka direnggut oleh masyarakat yang merasa dirinya suci. Bagaimana pendapatmu tentang film ini? Tulis di kolom komentar yuk!

Gangubai Kathiawadi
Rating: 
4/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram