Bacaterus / Review Film Barat / Review & Sinopsis Serial Game of Thrones, Kesal Tapi Nagih

Review & Sinopsis Serial Game of Thrones, Kesal Tapi Nagih

Ditulis oleh - Diperbaharui 26 Agustus 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Memulai debutnya melalui stasiun TV kabel HBO pada 17 April 2011, serial karya duet produser David Benioff dan D.B. Weiss ini sukses didapuk sebagai serial terbaik di dunia dan mendapat kritik positif dari para penikmat film. Meksi begitu, akhir dari kisah yang diangkat dari novel karya George RR Martin dengan judul The Song of Ice and Fire ini dinilai tidak memenuhi ekspektasi para penggemar.

Namun harus diakui, bahwa Game of Thrones memang benar-benar menyuguhkan sebuah plot yang membuat para penonton tidak dapat berhenti menyaksikannya. Berjalan selama 8 season dengan total 73 episode, kisah perebutan tahta di negeri Tujuh Kerajaan sangat terkenal akan ceritanya yang membuat pilu hingga memancing emosi. Sekarang, kita akan membahas mengapa serial ini begitu membekas di hati para penggemar film.

Sinopsis

Sinopsis Game of Thrones

* sumber: www.denofgeek.com

  • Tahun Rilis: 2011
  • Tahun Berakhir: 2019
  • Season: 8
  • Genre: Fantasi, Drama, Tragedi
  • Produksi: Television 360, Grok! Television, Generator Entertainment, Startling Television, Bighead Littlehead
  • Sutradara: Alan Taylor (terbanyak), various
  • Pemeran: Kit Harington, Emilia Clarke, Peter Dinklage, Sophie Turner, Maisie Williams, Lena Heady, Nikolaj Coster-Waldau, Isaac Hempstead Wright

Di wilayah paling utara dari Westeros, para penjaga benteng The Wall yang membatasi The Seven Kingdoms dengan wilayah antah berantah, bentrok dengan White Walkers, ras makhluk gaib bak zombi yang menurut legendanya telah bermusuhan dengan manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Namun sekarang, tidak ada lagi yang percaya begitu saja terhadap keberadaan para monster tersebut.

Sementara itu, Tujuh Kerajaan tengah berduka karena kehilangan Hand of the King atau wakil dari raja mereka, yaitu Lord Jon Arryn, salah satu tokoh dan pemimpin paling berpengaruh di Westeros. Robert Baratheon (Mark Addy) sang raja, memutuskan untuk pergi ke Winterfell, tempat penguasa wilayah utara untuk mengangkat pemimpin mereka, Lord Eddard ‘Ned’ Stark (Sean Bean) sebagai King’s Hand yang baru.

Namun tanpa diduga-duga, salah satu putra Ned, yaitu Brandon Stark (Isaac Hempstead Wright) memergoki bahwa sang ratu yang tidak lain adalah Cersei Lannister (Lena Heady) ternyata menjalin hubungan serong sedarah dengan adik kembarnya sendiri, Jaime Lannister (Nikolaj Coster-Waldau). Malahan, Jaime mendorong Brandon jatuh dari menara hingga sang bocah tidak sadarkan diri, bahkan menderita kelumpuhan.

Diwarnai tragedi dan intrik yang dialami putranya, Ned Stark yang bersahabat baik dengan Robert Baratheon menerima tawaran sang raja untuk menjadi King’s Hand. Ia juga kemudian berpisah dengan Jon Snow (Kit Harrington), anaknya dari wanita lain yang memilih untuk bertugas sebagai Night’s Watch, penjaga The Wall. Saat bertugas sebagai Hand of the King inilah, Ned kemudian menemukan petunjuk perselingkuhan Cersei dengan Jaime.

Belum lagi Ned berhasil mengungkap kebenaran tersebut, Robert yang mengalami kecelakaan saat berburu meninggal dunia. Ia mesti berhadapan dengan Cersei yang haus akan kekuasaan hingga difitnah melakukan pemerontakan dan menjalani hukum penggal. Kematian salah satu pemimpin paling disegani di Westeros tersebut akhirnya menyalakan api kemelut di Tujuh Kerajaan.

Benang Kusut, Bikin Penasaran

Benang Kusut, Bikin Penasaran

* sumber: theplaylist.net

Salah satu daya tarik utama dari Game of Thrones yang menjadi candu bagi para penontonnya adalah carut-marut politik yang terjadi di Tujuh Kerajaan.

Rasa-rasanya, setiap orang terutama para lord yang ada di Westeros sangat ingin untuk berkuasa atas negeri mereka tersebut. Atau minimal, memiliki agenda tersembunyi mereka masing-masing. Masalah juga kadang semakin meruncing karena ternyata, ada dendam yang tersirat diantara mereka hingga rasanya tidak ada orang yang dapat dipercaya.

Kita akan disuguhkan dengan berbagai aksi pengkhianatan. Kita tidak bisa langsung menilai karakter tertentu dan dibuat bertanya-tanya. Apakah dia baik, jahat, atau netral? Bisa jadi juga ia sebenarnya karakter yang tidak terlalu signifikan, lantas menjadi korban. Tokoh-tokoh bermuka dua yang menyulut emosi juga sangat lazim muncul dalam serial ini.

Tapi hal inilah yang mampu membuat orang-orang ingin untuk terus menyaksikan adaptasi film dari A Song of Ice and Fire ini. Tim produksi serial juga sangat pandai dalam meninggalkan cliffhanger di setiap episode, terutama pada akhir season. Dan semasa serial ini tayang, penonton harus menunggu 1 tahun lamanya untuk mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

The Wolves, The Dragons, and The Lions

The Wolves, The Dragons, and The Lions

* sumber: watchersonthewall.com

Bisa dibilang, tokoh protagonis dari Game of Thrones adalah para anak House Stark yang memiliki panji bergambar serigala yaitu Sansa (Sophie Truner), Arya (Massie Williams), Brandon dan Jon Snow. Lantas, ada Daenerys Targaryen (Emilia Clarke) yang panjinya berlogo naga sebagai ‘raja terakhir’. Sementara Cersei Lannister yang datang dari house dengan panji bergambar singa dan para loyalisnya adalah antagonis utama.

Banyak orang berkata bahwa jangan sekali-kali memiliki karakter favorit atau berharap pada salah satu tokoh saat menyaksikan Game of Thrones. Karena biasanya, karakter yang seolah membawa harapan baru dalam serial ini akan tewas. Dan sekali lagi, inilah juga yang akan membuat penonton semakin tidak mampu untuk meninggalkannya.

Setiap season kita akan selalu dibuat bertanya-tanya. Bagaimana nasib para jagoan kita, bisakah sang antagonis dikalahkan, dan berbagai pertanyaan lain. Kita juga akan dibuat jengkel setengah mati dengan intrik-intriknya.  Tapi ada juga karakter yang memang sangat dicintai para penggemar seperti Arya Stark, Tyrion Lannister (Peter Dinklage) dan Ghost, serigala milik Jon Snow. Iya, seekor serigala putih yang jika tidak muncul di layar kaca akan membuat penonton bertanya-tanya mengenai keberadaannya.

Baca juga: Ingat Jon Snow? Tonton 10 Film Terbaik Kit Harington Lainnya!

Adegan Peperangan

Adegan Peperangan

* sumber: watchersonthewall.com

Dengan setting fantasi masa fedoalisme yang melibatkan ksatria, pedang, bahkan juga unsur mistis, banyak orang yang belum pernah menyaksikan Game of Thrones menyangka bahwa mereka akan disuguhkan dengan banyak adegan aksi. Jika kamu adalah salah satunya, jangan merasa heran apabila kamu akan disuguhkan dengan begitu banyak dialog saat menyaksikannya.

Saking dipenuhi dengan dialog, ada yang mengatakan bahwa serial ini sebenarnya adalah telenovela atau sinetron namun dikemas dengan begitu keren. Jangan salah, percakapan antar karakter dalam Game of Thrones akan membuat kamu semakin mengerti jalan ceritanya yang dipenuhi dengan plot twist. Tapi, bukan berarti kita tidak akan melihat peperangan di dalamnya.

Ada adegan peperangan dalam Game of Thrones yang akan membuat kita terus duduk dan menahan nafas saat menyaksikannya. Beberapa adegan perang yang sangat dikenal adalah, Battle of the Blackwater (season 2, episode 9), Battle of Castle Black (season 4, episode 9), Battle at Hardhome (season 5, episode 8), Battle of the Bastard (season 6, episode 9) dan Battle of Winterfell (season 8, episode 3).

Battle of Winterfell sendiri memecahkan rekor sebagai adegan perang terpanjang dalam sejarah serial televisi karena menghadirkan adegan laga yang sangat intens berdurasi sepanjang 40 menit. Bukan hanya seru, adegan peperangan dalam serial ini juga akan membuat yang menyaksikannya meneteskan air mata. Selain itu, banyak juga bumbu fighting scene yang membuat film ini semakin seru.

Aftermath

Aftermath

* sumber: www.uhdpaper.com

Banyak kritik negatif yang ditujukan bagi episode final serial garapan duet produser D & D ini. Kebanyakan dari mereka kecewa dengan perkembangan karakter dari Daenerys Targaryen yang menjadi penuh dendam dan amarah, sehingga membuat sosoknya menjadi antagonis utama menjelang ujung cerita.

Kekecewaan penggemar juga sepertinya semakin memuncak ketika Daenerys yang terlanjur dianggap sebagai salah satu tokoh protagonist, gagal mengklaim Iron Throne dan tewas di tangan Jon Snow, pria yang ia kasihi.

Para penonton Game of Thrones seolah melupakan ‘aturan main’ yang berlaku dalam serial favorit mereka ini. Seperti yang telah disebut di atas, ‘jangan memiliki karakter favorit, karena tokoh kesukaan kamu itu pasti mati’. Tidak terkecuali, Daenerys Targaryen sang Mother of Dragon.

Arya Stark

* sumber: www.thejakartapost.com

Ada satu tokoh dalam Game of Thrones yang mendapat jaminan akan tetap hidup baik di film maupun bukunya. Dia adalah Arya Stark. Karena konon, Parris McBride, istri dari George RR Martin menyukai karakter gadis tomboy tersebut, dan dia telah meyakinkan George untuk tidak membunuh tokoh favoritnya itu.

Selalu mengikuti pakem dari bukunya, mulai season 6, Benioff dan Weiss sudah tidak bereferensi dari seri A Song of Ice and Fire meski mengikuti guide yang telah diberikan George RR Martin. Termasuk, akhir dari cerita yang disebut sang penulis akan meninggalkan kesan ‘bitter sweet’.

Secara keseluruhan –meskipun memiliki ending yang menuai kritik negatif- Game of Thrones masih merupakan sebuah film seri yang sangat layak untuk disaksikan. Plot dengan twist yang mencengangkan dan terjaga rapi, disertai kemampuannya memainkan emosi penonton menjadikan Game of Thrones sebagai serial TV wajib tonton.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *