Bacaterus / Review Film Barat / Sinopsis dan Review Full Metal Jacket, Film Tahun 1987

Sinopsis dan Review Full Metal Jacket, Film Tahun 1987

Ditulis oleh - Diperbaharui 14 Oktober 2020

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Seorang anggota marinir yang pragmatis mengamati efek tidak manusiawi Perang Vietnam pada rekan-rekannya, dari pelatihan brutal di boot camp hingga ke pertempuran berdarah di jalanan Kota Hue. Drama perang karya Stanley Kubrick ini menampilkan performa akting Vincent D’Onofrio dan kawan-kawan yang tidak mudah dilupakan.

Full Metal Jacket mengambil bahan ceritanya dari novel The Short-Timers karya Gustav Hasford yang terbit di tahun 1979. Kubrick dan Hasford menulis naskahnya bersama dengan Michael Herr yang pernah terjun di Perang Vietnam sebagai jurnalis. Film ini memiliki dua bagian cerita, yaitu pelatihan rekrutmen baru di boot camp dan pertempuran berdarah di Kota Hue.

Stanley Kubrick dikenal sebagai sutradara yang memiliki visi yang berbeda dengan sutradara lainnya yang membuat film-filmnya memiliki nilai keunikan tersendiri. Begitu pun juga dengan Full Metal Jacket ini. Apa saja sih keunikan itu? Kami akan ulas semua dalam sinopsis dan review berikut ini.

Sinopsis

Full Metal Jacket

  • Tahun: 1987
  • Genre: Drama / War
  • Produksi: Natant, Harrier Films
  • Sutradara: Stanley Kubrick
  • Pemeran: Matthew Modine, Adam Baldwin, Vincent D’Onofrio

Bagian pertama film dimulai dengan penerimaan rekrutmen baru di boot camp yang bertempat di Pulau Parris. Hartman, instruktur mereka, memiliki metode tersendiri untuk membentuk mental mereka sebagai tentara yang siap berperang, salah satunya adalah menjuluki mereka dengan nama panggilan masing-masing dan banyak menggunakan kata-kata kasar yang bisa menyinggung perasaan.

Di antara rekrutmen baru tersebut, ada dua orang yang menarik perhatian Hartman, yaitu Pyle (Vincent D’Onofrio) dan Joker (Matthew Modine). Karena berat badan dan sikapnya yang lembek, Pyle selalu menyulitkan latihan mereka sebagai tim, hingga akhirnya Hartman menunjuk Joker sebagai komandan tim dan bertanggung jawab dalam membantu Pyle.

Dengan kesabaran Joker, Pyle mengalami perkembangan yang cukup pesat dalam latihan. Suatu hari, Hartman menemukan donat jelly di loker Pyle dan Hartman menghukum mereka sebagai tim kecuali Pyle yang harus menghabiskan makanan tersebut. Walhasil, rekan-rekannya marah kepadanya dan memberikan hukuman dengan cara memukulkan handuk berisi sabun batangan ke badan Pyle.

Sikap Pyle berubah setelah itu dan membuat rekan-rekannya khawatir, terutama Joker. Tetapi ada sisi positif yang ditampilkan Pyle, yaitu dia menjadi ahli dalam menembak dan hal ini membuat Hartman senang. Joker semakin khawatir akan kewarasan Pyle ketika dia melihat Pyle sering berbicara dengan senapannya.

Di hari kelulusan, semua rekrutmen mendapat penugasan. Hampir seluruhnya ditugaskan sebagai infantri, kecuali Joker yang ditugaskan di jurnalisme.

Malam itu, Joker menemukan Pyle sedang memegang senapannya dan mengucapkan janji militer yang membuat rekan-rekannya terbangun. Hartman yang berusaha menenangkan Pyle malah ditembak mati yang kemudian Pyle menembak dirinya sendiri.

Bagian kedua film kita mendapati Joker berada di Da Nang, Vietnam Selatan pada bulan Januari 1968. Rafterman yang menjadi fotografernya, ingin sekali terjun dalam pertempuran, sementara Joker selalu diejek karena menulis berita perang tanpa pernah berada di medan perang.

Akhirnya mereka ditugaskan meliput Lusthog Squad, dimana Joker bertemu dengan rekannya dari boot camp, Cowboy. Mereka langsung terlibat dalam pertempuran di Kota Hue yang menewaskan komandan mereka dan menjadikan Cowboy sebagai pemimpin pengganti.

Ketika hendak menuju lokasi check point, ternyata mereka salah arah dan harus memotong jalan menuju lokasi tujuan. Salah seorang dari mereka ditembak oleh sniper saat sedang melihat situasi.

Cowboy meminta bantuan tank tetapi tidak bisa direspon dengan cepat, membuat seorang tentara lagi mencoba untuk menyelamatkan rekannya yang malah membuat dia menjadi korban berikutnya.

Teror sniper semakin merajalela tanpa ampun. Animal Mother (Adam Baldwin) maju untuk mencari lokasi sniper. Ketika sudah mengetahuinya, dia memanggil sebagian dari tim.

Ketika mencari posisi, Cowboy tertembak dari celah tembok yang runtuh. Animal Mother menjadi pemimpin mereka dan memutuskan untuk masuk ke gedung tempat sniper bersembunyi. Joker menemukan penembak misterius itu yang ternyata adalah gadis kecil. Ketika sniper itu mengetahui keberadaannya, Joker berusaha menembak tetapi senapannya macet.

Untung saja Rafterman datang tepat waktu dan melumpuhkan sniper cilik itu. Ketika sedang dalam kondisi sekarat, Animal Mother dan Joker berdebat tentang nasib penembak jitu ini, yang pada akhirnya Joker menembak mati sniper itu atas permintaannya sendiri.

Kemudian mereka menuju kamp mereka sambil menyanyikan lagu “Mickey Mouse March” dengan narasi dari Joker tentang akhir film.

Ketidakmanusiawian Perang

Ketidakmanusiawian Perang

Semua orang juga sudah tahu bagaimana kebiadaban perang. Amerika Serikat pada saat itu memutuskan untuk ikut campur dalam perang saudara yang terjadi di Vietnam. Karena tidak pernah menang dalam berbagai pertempuran, militer Amerika terus mengirimkan tentara ke Vietnam untuk menambah kekuatan mereka.

Tentara yang dikirim adalah orang-orang yang memang bermental siap perang karena latihan yang keras yang telah mereka tempuh selama di boot camp dengan berbagai metode yang membuat jiwa mereka sekeras batu dan tak kenal ampun.

Metode cuci otak ini diperlihatkan dengan sangat jelas selama pelatihan di boot camp dimana Hartman sebagai instruktur membentuk fisik dan mental mereka.

Efek pelatihan itu terus terbawa sampai ke medan tempur, meski pada kenyataannya mereka tidak pernah menang. Hal ini menimbulkan efek psikologis kepada para tentara yang pernah terjun di kancah perang yang terjadi di salah satu negara di Asia Tenggara ini.

Joker sebagai tokoh utama mengalami perubahan mental yang signifikan setelah menembak sniper cilik dengan senjatanya. Dalam pernyataannya yang dinarasikan di akhir film, dia berujar meskipun berada di dalam dunia yang semrawut dia senang karena masih hidup dan tidak lagi merasa takut.

Padahal kita tahu jika dia adalah saksi mata dari penembakan dan bunuh diri yang dilakukan Pyle di boot camp yang membuatnya tidak pernah turun berperang saat di Vietnam. Intinya, setelah membunuh mentalnya menjadi berani.

Kerumitan dalam Produksi

Kerumitan dalam Produksi

Stanley Kubrick tertarik untuk mengadaptasi sebuah novel perang berjudul The Short-Timers karya Gustav Hasford. Kemudian dia mengajak Michael Herr, seorang jurnalis yang pernah terjun di Perang Vietnam. Mereka berdua sepakat untuk menulis naskahnya, bersama dengan Hasford.

Tetapi uniknya, mereka melakukan penulisan naskah secara terpisah. Mereka menyelesaikan naskah masing-masing dan mengirimkan kepada Kubrick untuk disatukan dengan naskah milik Kubrick.

Mengambil istilah Herr, cara mereka menulis naskah seperti di pabrik mobil, dimana mereka membuat bagian masing-masing untuk disatukan menjadi sebuah mobil. Meski Kubrick selalu berkomunikasi dengan Hasford setiap hari, tetapi mereka belum pernah saling bertemu.

Herr pernah bilang kepada Kubrick jika dia tidak akan bisa “nyambung” dengan Hasford. Tetapi Kubrick bersikeras ingin mereka bertemu dan berhasil mengundang Hasford ke rumahnya di London. Ternyata itulah pertemuan pertama dan terakhir mereka yang membenarkan pernyataan Herr sebelumnya, jika mereka tidak akan “nyambung”.

Proses syuting dilakukan di Inggris dengan menggunakan perangkat militer milik angkatan bersenjata Inggris yang dimodifikasi sehingga sesuai dengan yang mereka pakai saat Perang Vietnam. Sungguh aneh, lokasi syuting sama sekali tidak pernah menyentuh tanah Amerika dan Vietnam sebagai lokasi dasar yang diceritakan di dalam film.

Pabrik gas Beckton menjadi lokasi Kota Hue yang porak-poranda. Pabrik tersebut memang sudah lama tidak dipakai dan hendak dimusnahkan.

Maka dengan senang hati, kru film menghancurkan bangunan-bangunannya dan menyulapnya menjadi kota yang hancur karena peperangan. Sementara untuk menciptakan suasana tropis, mereka harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit.

Dana tersebut digunakan untuk mengimpor 200 pohon kelapa dari Spanyol dan 100.000 tanaman tropis berbahan plastik dari Hong Kong.

Awalnya, tim produksi sudah membuat replika hutan tropis di California, tetapi Kubrick tidak senang melihatnya dan memindahkan lokasi syuting ke London dengan harus melakukan pembelian impor untuk menciptakan hutan tropis yang sesuai keinginannya.

Full Metal Jacket memang bukanlah sebuah film perang dengan tingkat action yang tinggi, tetapi film ini menjadi studi kasus tentang psikologi seorang marinir dan rekan-rekannya di medan tempur sebagai hasil dari pelatihan mereka yang keras.

Kisahnya yang ketat dan terbangun dengan baik, membuat kita paham, jika perang telah mengorbankan banyak hal, salah satunya adalah moral kemanusiaan.

Beberapa film terbaik karya Stanley Kubrick sudah bisa disimak di layar Netflix. Selain film yang masuk nominasi Oscar di kategori Best Adapted Screenplay ini, masih ada 2001: A Space Odyssey [1968] dan A Clockwork Orange [1971] yang kesemuanya adalah film yang mengungkit sisi psikologis manusia yang dikemas dalam nuansa yang unik.

Gak usah pake lama, tonton semuanya di Netflix sekarang juga! Selamat menonton, ya!

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *