Bacaterus / Review Film Indonesia / Sinopsis dan Review Film Wiro Sableng, Pendekar Legendaris

Sinopsis dan Review Film Wiro Sableng, Pendekar Legendaris

Ditulis oleh - Diperbaharui 18 Februari 2021

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest
Share on linkedin
Share on whatsapp

Film ini merupakan adaptasi dari seri buku silat legendaris karya almarhum Bastian Tito yang berjudul Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Seri buku tersebut memiliki 185 judul, dan dibuat dari tahun 1967 hingga tahun 2006. Film Wiro Sableng ini kemudian menjadi film Indonesia pertama yang bekerjasama dengan 20th Century Fox.

Wiro Sableng cukup sukses di tanah air dengan meraih 8 nominasi pada ajang Festival Film Indonesia 2018. Dari semua nominasi tersebut, film ini berhasil membawa pulang tiga penghargaan yang terdiri dari Penata Busana Terbaik, Penata Rias Terbaik, dan Penata Efek Visual Terbaik. Film ini juga cukup spesial karena dibintangi oleh anak dari Bastian Tito sendiri, yakni Vino G. Bastian sebagai Wiro Sableng.

Sinopsis

Wiro Sableng

  • Tahun rilis: 2018
  • Genre: Laga komedi fantasi
  • Rumah produksi: Lifelike Pictures dan 20th Century Fox
  • Sutradara: Angga Dwimas Sasongko
  • Pemeran Utama: Vino G. Bastian, Sherina Munaf, Yayan Ruhian, dan Fariz Alfarizi

Di sebuah desa bernama Jatiwalu, Wira Saksana tinggal bersama kedua orang tuanya yang bernama Suci Bantar, dan Ranaweleng. Pada suatu malam, desa Jatiwalu diserang oleh sekelompok pendekar aliran hitam yang dipimpin oleh Mahesa Birawa. Mereka secara kejam menghancurkan seluruh desa, dan Mahesa pun membunuh ayah serta ibu Wira di depan matanya sendiri.

Mahesa selanjutnya membakar rumah Wira, dan berusaha membunuhnya juga. Akan tetapi, seorang nenek tua bernama Sinto Gendeng terbang melayang menyelamatkan Wira. Nenek tua tersebut diketahui merupakan mantan guru silat Mahesa. Kemudian, Sinto Gendeng membawa Wira dari ancaman berbahaya dan merawatnya di rumahnya sendiri.

Sinto Gendeng mengajarkan Wira beberapa ilmu silat agar kelak dirinya menjadi pemuda yang tangguh. Wira lalu memanggil Sinto Gendeng dengan sebutan guru. Sejak saat itu pula dirinya dikenal dengan sebutan Wiro Sableng.

Beberapa tahun kemudian, Wiro kini telah tumbuh dewasa menjadi sosok pemuda yang jago silat. Sinto Gendeng pun mewariskan kapak maut naga geni 212, dan batu hitam sakti kepada muridnya itu. Sang Guru meminta Wiro untuk menemukan Mahesa Birawa, mantan muridnya dulu yang kini menjadi jahat, untuk dibawa kembali ke hadapannya.

Wiro pun pamit kepada gurunya, dan mulai berpetualang mencari Mahesa Birawa. Di tengah-tengah perjalanan, ia bertemu dengan pendekar lainnya seperti Anggini, murid dari Dewa Tuak, Bujang Gila Tapak Sakti, hingga sesosok perempuan cantik misterius yang dikenal dengan nama Bidadari Angin Timur.

Mereka lalu membantu Rara Murni yang hendak mencari keberadaan Pangeran Kerajaan yang diculik oleh anak buah Mahesa. Melalui pertemuannya dengan Rara Murni, Wiro semakin dekat dengan Mahesa Birawa. Pada akhirnya, Wiro mengetahui jika Mahesa Birawa merupakan sosok yang membunuh orang tuanya di Jatiwalu ketika dirinya masih kecil.

Film yang Cukup Superior

Film yang Cukup Superior

Sosok Wiro Sableng memang cukup familiar bagi masyarakat Indonesia, apalagi mereka yang tumbuh kembang di era tahun 90an, hingga tahun 2000an awal. Di masa itu, Wiro Sableng menjadi tontonan seru yang selalu tayang di televisi. Maka tak heran, antusias masyarakat yang ingin melihat pendekar sableng ini di layar lebar begitu tinggi, terlebih lagi dibintangi oleh pemain-pemain papan atas tanah air.

Wiro Sableng versi layar lebar ini tidak mengecewakan, dan masih membumi dengan kisah original-nya yang dipoles sedemikian rupa. Film ini cukup menyenangkan karena masih tetap memperlihatkan karakter Wiro yang “kekanak-kanakan.” Lewat karakternya itu, kita yang menontonnya akan dibuat tertawa sekaligus berasa nostalgia terhadap sosok Wiro Sableng versi sinetron beberapa tahun ke belakang.

Adegan bela diri di film ini disajikan maksimal, dan cukup seru saat kita melihat pertarungan antara Wiro dengan Mahesa Birawa. Apalagi, sosok Mahesa diperankan oleh Yayan Ruhian, yang sudah malang melintang di film bergaya action mulai dari Merantau, The Raid, dan John Wick 3. Totalitas silat yang disuguhkan dibayar dengan setimpal karena film ini memang layak untuk dinikmati.

Selain itu, Wiro Sableng berusaha menjadi film yang superior lewat sajian keindahan visual alamnya. Pemandangan tersebut dibingkai secara baik, meski ada beberapa efek green screen yang ditampilkan kurang mulus. Tapi, hal tersebut bukanlah masalah yang terlalu mengganggu karena bisa tertutupi dengan ceritanya yang menarik.

Wiro Sableng layaknya film-film kolosal Indonesia yang digarap secara matang. Film ini memang terasa segar karena hadir di industri perfilman Indonesia yang jarang menampilkan tema-tema seperti ini. Lewat berbagai macam totalitas yang disajikan, Wiro Sableng memang berusaha menjadi film yang perkasa, namun tetap hangat disajikan kepada masyarakat tanah air.

Jalan cerita di film ini pun tidak terlalu rumit, apalagi kompleks. Wiro Sableng menawarkan premis ringan lewat paduan komedi, seni bela diri, dan pemberontakan. Di dalam film ini juga terdapat kameo yang cukup mengejutkan, di mana pemeran sinetron Wiro Sableng, Ken Ken, muncul memeriahkan jalan ceritanya.

Bertabur Bintang

Bertabur Bintang

Selain dibintangi oleh Vino G. Bastian, film ini juga menampilkan beberapa nama-nama yang sudah tidak asing di telinga masyarakat Indonesia. Wiro Sableng menghadirkan Sherina Munaf (Anggini), Ruth Marini (Sinto Gendeng), Happy Salma (Suci), Marcell Siahaan (Ranaweleng), dan Lukman Sardi (Werku Alit). Lalu, ada Marsha Timothy (Bidadari Angin Timur), Andi/rif (Dewa Tuak), dan Dwi Sasono (Raja Kamandaka).

Bukan hanya mereka saja, Wiro Sableng juga menghadirkan nama-nama baru yang akting dan aksi laganya di film ini menarik perhatian. Mereka adalah Fariz Alfarizi (Bujang Gila Tapak Sakti), Aghniny Haque (Rara Murni), Hanata Rue (Pendekar Pemetik Bunga), dan masih banyak lagi.

Sutradara Angga Dwimas Sasongko kemudian menempatkan beberapa bintang lama, dan baru di film ini sesuai dengan porsinya masing-masing. Meski ada yang terlibat sebagai pemeran pendukung, namun mereka saling menunjang terhadap jalan cerita di film Wiro Sableng. Semua karakter yang ditampilkan sama pentingnya, apalagi karakter-karakter penjahat dalam kelompok pendekar aliran hitam.

Seakan ingin terus memanjakan para penontonnya, film ini pun menghadirkan kejutan di bagian post-credit scene, yang dimana aktor Abimana Aryasatya muncul sebagai sosok Pangeran Anom. Hadirnya Abimana tentunya menegaskan bahwa Wiro Sableng akan kembali dengan sekuel keduanya dalam beberapa tahun ke depan.

Dilihat dari cerita original-nya karya Bastian Tito, Pangeran Anom adalah seorang pendekar yang berlatih ilmu silat di dalam Gunung Merapi. Ia merupakan sosok yang sangat tangguh namun licik, dan menjadi musuh bebuyutan dari Wiro Sableng.

Penambahan aktor Abimana Aryasatya di dalam franchise Wiro Sableng tentunya membuat film ini akan semakin mewah dan menarik lagi. Kabar sekuel kedua Wiro Sableng memang belum terdengar pasti, namun semoga saja projek kelanjutan film ini bisa diproduksi pada tahun-tahun sekarang.

Sajian yang Segar, dan Menghibur

Sajian yang Segar, dan Menghibur

Skenario film ini ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma, Tumpal Tampubolon, dan Sheila Timothy. Berkat mereka dan arahan dari Angga Dwimas Sasongko, film Wiro Sableng menyajikan beragam daya tarik yang membuat film ini semakin menarik untuk disaksikan. Sajian komedi, pertarungan yang apik, pemandangan alam, hingga jalan ceritanya, membuat film Wiro Sableng terlihat segar, dan menghibur.

Selama kurang lebih dua jam film ini berjalan, kita yang menontonnya akan sangat terhibur lewat candaan yang dilontarkan oleh Vino sebagai Wiro, dan Fariz Alfarizi sebagai Bujang Gila Tapak Sakti. Keduanya tampil kocak sepanjang cerita, meski ada beberapa dialog lelucon yang terkesan dipaksakan. Tapi, itu bukan masalah, karena selama durasi tersebut film ini sangat menyenangkan, dan tidak mengecewakan.

Akan tetapi, film ini ada kurangnya ketika tidak terlalu jelas menceritakan latar belakang dari sosok Bidadari Angin Timur. Ia muncul secara tiba-tiba di sebuah sungai menolong Wiro, dan mengatakan untuk segera melawan Mahesa. Sosok tersebut datang kembali di bagian akhir ketika Wiro dan kawan-kawannya menyerang kerajaan yang telah diambil oleh pengkhianat Werku Alit.

Untuk secara keseluruhan, Wiro Sableng menawarkan tontonan yang fresh lewat aksi-aksi seni bela diri milik Indonesia. Film ini memang tidak sempurna dan masih ada beberapa aspek yang kurang. Tapi, hadirnya Wiro Sableng membuat industri perfilman Indonesia semakin berkembang setiap waktunya.

Artikel Terkait

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *