bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Time to Dance, Latin Dance Nuansa Bollywood

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 9 September 2021

Bollywood merupakan salah satu jenis film yang memiliki banyak sekali penggemarnya di dunia. Alasannya karena Bollywood memiliki keunikan tersendiri, yaitu tarian dan nyanyian yang menaikkan suasana. Tapi bagaimana jika tarian yang ditampilkan bukan tarian yang biasa kita lihat dalam berbagai film Bollywood.

Seperti Time to Dance (2021) yang membawa tarian latin seperti ballroom dance dalam filmnya. Hal inilah yang menyatukan Isabelle Kaif dan Sooraj Pancholi dalam tarian yang indah dan menawan. Tentu menyatukan dua orang dalam satu tarian tidak mudah, apalagi terdapat rasisme yang diangkat. Isu lainnya yang perlu di ingat, Sooraj memiliki sebuah trauma yang membuatnya ketakutan untuk ikut kompetisi.

Lalu bagaimana cara Isabelle Kaif membuat Sooraj Pancholi bisa kembali menari di atas panggung? Jawabannya bisa kamu temukan dibawah ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun Rilis: 2021
  • Genre: Musical, Romance, Comedy
  • Sutradara: Stanley D’Costa
  • Pemeran: Sooraj Pancholi, Isabelle Kaif, Waluscha De Sousa, Rajpal John Heaney
  • Produksi: T Films UK Limited Production

Isha (Isabelle Kaif) terpilih untuk menjadi rekan dari William (Sammy Jonas) seorang penari profesional yang selalu menang dalam kompetisi menari. Namun kehadiran Isha dalam kompetisi ini tidak di restui oleh Lady Harriet Cottenham (Natasha Powell). Bahkan ketika Isha mengalami cedera, wanita ini tidak memiliki rasa simpati sama sekali malah mencemooh dan menganggapnya ceroboh.

Berusaha sekuat tenaga untuk pulih, Isha justru mendapati William kembali dengan rekan lamanya yaitu Jessica. Dalam rasa kecewa yang dalam, Rishabh (Sooraj Pancholi) datang dan membantu Isha kembali pulih dari cederanya. Pria ini juga menggantikan Isha menjadi instruktur menari di klub menari milik orang tua Isha.

Tak ingin kehilangan kesempatan untuk mengikuti kompetisi, Isha memohon agar Rishabh mau menjadi pasangannya. Namun Rishabh keberatan, karena diam-diam pria ini mengalami post trauma ketika mantan kekasihnya meninggal ketika menari dengannya. Namun akhirnya Rishabh bersedia untuk bangkit dan ia berusaha memenuhi standar sebagai peserta kompetisi.

Di hari kompetisi berlangsung, pasangan pure India ini berada di ranking paling bawah. Secara perlahan Isha dan Rishabh berusaha untuk naik sedikit demi sedikit untuk mendekati titel juara. Sabotase muncul baik dari lantai dansa hingga dari bangku penonton yang di luar dugaan. William menyabotase gerakan Isha dan Rishabh di atas panggung, sehingga mereka terkesan melakukan kesalahan.

Lady Harriet Cottenham juga tidak tinggal diam, wanita ini memanipulasi nilai penampilan pasangan India. Akhirnya Isha dan Rishabh harus mengubur dalam-dalam keinginan mereka untuk menjadi juara dalam Bradford Dance Competition. Setitik cahaya datang ketika kecurangan yang dilakukan William dan Lady Harriet diketahui, pasangan ini akhirnya bisa kembali ikut kompetisi.

Obsesi Lady Harriet menjadikan putranya sebagai pemenang tidak terhenti begitu saja, wanita ini mencoba menyabotase Rishabh. Memanfaatkan post trauma yang diderita oleh Rishab, Lady Harriet ingin membuat Isha kehilangan partnernya. Namun kenyataan berkata lain, Isha dan Rishabh berhasil mendapatkan titel juara dalam Bradford Dance Competition.

Ringan dan Menyenangkan dengan Sinematografi Indah

Ringan dan Menyenangkan dengan Sinematografi Indah

Stanley D’Costa tidak menyerah begitu saja setelah tiga film dengan tema yang sama mendapatkan kritik keras. Kali ini ia membuat Time to Dance (2021) dengan kualitas yang lebih baik tapi cerita yang lebih sederhana namun mendalam. Kembali menggabungkan cinta dan tarian, bagi saya film ini memiliki premis yang unik dan memberikan nuansa baru untuk sebuah film Bollywood.

Latin dance dan ballroom dance yang diangkat menjadi hal yang tidak biasa dan hal baru, saya merasa ada usaha untuk menaikkan level dari sebuah film. Meski begitu film ini masih memegang teguh tipikal film Bollywood, membuka dengan tarian dan nyanyian, serta main hero yang datang untuk menyelamatkan heroine. Namun ada hal yang paling saya sukai dari film ini, sinematografinya yang sangat indah.

Sinematografi yang di arahkan oleh Rajeev Shrivastava, editor Munishwar Bharat dan cameramen, membuat film ini lebih hidup. Saya bisa merasakan vibes perlombaan menari yang elegan dan menyenangkan dari Bradford Dance Competition. Keindahan lima jenis ballroom dance di perlihatkan dengan sangat baik, belum lagi pemilihan lagunya yang sangat tepat dan mengasyikan.

Pertarungan sengit antar penari di dancefloor terasa cukup intense, saya menyukai ketika mereka benar-benar fokus pada drama di atas panggung. Menggambarkan bagaimana kemampuan Isah dan Rishabh dalam lima bentuk ballroom dance, waltz, tango, viennese waltz, foxtrot dan quickstep. Dibumbui dengan adanya kecemburuan dan sabotase kecil di balik bangku penonton.

Meski begitu ada baberapa insert story yang berakhir menggantung, seperti kisah kakak Isha dengan orang utusan bank. Selain itu pasca trauma yang dialami Rishabh tidak diperlihatkan dengan jelas, sehingga terasa menggantung. Durasi 113 menit habis untuk memberikan story mengenai Isha yang bagi saya tidak penting, tak heran jika film

Stanley D’Costa Berusaha Menaikkan Standarnya dan Memperbaiki Kesalahan

Stanley D’Costa Berusaha Menaikkan Standarnya dan Memperbaiki Kesalahan

Kompetisi menari bukanlah hal yang aneh dalam film Bollywood, saya mengingat adanya ABCD (2013), ABCD 2 (2015) dan Street Dance (2020). Film-film di atas rata-rata mengambil tema mengenai street dance, hiphop dan modern dance lainnya. Bukan kebetulan juga jika keempat film di atas juga disutradarai oleh Stanley D’Costa.

Meski beberapa film buatan Stanley D’Costa memiliki kritik pedas, saya melihat pria ini mencoba untuk menaikkan standarnya. Tidak hanya melulu bermain dalam modern dance, Stanley D’Costa mencari arah lain yang tidak kalah menarik yaitu latin dance. Bagi saya keputusan ini sangat-sangat luar biasa, karena hal ini membuat film Bollywood terasa naik ke level yang berbeda.

Meski filmnya memiliki plot dan premis yang sederhana, namun Time to Dance (2021) kuat karena hal tersebut. Saya juga senang Stanley D’Costa dan penulis skenario sadar bahwa mereka tidak melakukan syuting di India, makannya mereka memilih mencampur bahasa Hindi dengan bahasa Inggris. Jadi filmnya terasa lebih realistis, bumbu rasisme yang ada di filmnya juga mengena sekali.

“Tidak pernah ada orang India yang bisa masuk” hal ini membuat persaingan dalam kompetisi Bradford Dance Competition makin kuat. Pemilihan lagu yang digunakan mencampurkan lagu India dengan melodi bernuansa latin. Hal ini membuat saya makin terkesan, saya seakan terbawa dalam kompetisi menari yang menegangkan berbalut suasana elegan dari para penari.  

Rasis Issue dan Hal Menarik Lainnya untuk Dibahas

Rasis Issue dan Hal Menarik Lainnya untuk Dibahas

Sadar atau tidak Time to Dance ternyata mengangkat isu yang cukup sensitif, rasisme di kalangan kulit putih Eropa. Mungkin banyak orang yang belum tahu atau ignore akan hal ini, tapi belakangan ini banyak sekali rasis yang ditujukan pada orang-orang Asia. Hal ini membuat banyak kasus yang memprihatinkan, salah satu korbannya yaitu orang-orang India.

Stanley D’Costa entah memiliki niat tertentu atau hanya ingin insert konflik ini sebagai tambahan masalah dalam filmnya. Tapi apa yang tersirat dari film ini menguatkan bagaimana posisi orang India di hadapan orang-orang kulit putih di London. Tentu saja dialog rasis ini juga diucapkan oleh pemeran Lady Harriet Cottenham yaitu Natasha Powell.

Bahkan salah satu pekerja di rumah keluarga ini adalah pria berkebangsaan India. Entah mengapa saya merasa film ini menyuarakan bahwa London Bridge bisa hancur oleh orang India. Inilah yang ditunjukkan ketika pasangan murni India berhasil mengalahkan William dan Jessica, sang juara bertahan. Untungnya hal ini tidak terlalu dibahas lebih dalam hanya sebagai selingan saja.

Selanjutnya yang tidak kalah menarik adalah debut dari Isabelle Kaif yang saya rasa menjanjikan. Jika kalian pecinta Bollywood sejati pasti mengetahui dengan pasti, bahwa Isabelle Kaif adalah adik kandung dari Katrina Kaif. Meski masih terlihat mencari-cari posisi nyaman dalam berhadapan dengan kamera, Isabelle Kaif memiliki talent yang cukup baik.

Penampilannya dalam Time to Dance (2021) saya akui sangat mengandalkan pesona dan kecantikan yang dimilikinya. Tapi saya juga melihat bagaimana Isabelle berusaha membuat tubuhnya seringan mungkin saat menari di dancefloor. Berusaha membuat tubuhnya indah dan gemulai para penari latin yang profesional, tapi tetap tidak luput dari kekurangan.

Ekspresi Isha ditambah kemistri yang baik dengan Sooraj Pancholi membuat mereka terlihat amazing. Sooraj Pancholi juga tidak diragukan lagi bakat aktingnya, pria ini benar-benar masuk dengan peran Rishabh. Gaya menarinya cukup baik meski untuk menari ballroom sama seperti Isha, tariannya masih terasa kurang luwes.

Time to Dance (2021) bukanlah film yang akan membuat kamu tercengang, karena premis ceritanya memang sangat sederhana. Tapi film ini bisa membantu untuk menaikkan mood disaat kamu sedang lelah dan membutuhkan tontonan yang fresh

Time to Dance
Rating: 
2.8/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram