bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Thoroughbreds (2017)

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 23 Mei 2021

Lily dan Amanda, dua gadis remaja dari keluarga kaya di Connecticut, menumbuhkan kembali pertemanan mereka yang canggung setelah bertahun-tahun hidup terpisah. Bersama, mereka membuat sebuah rencana untuk memecahkan masalah mereka berdua dengan cara apapun. Thoroughbreds adalah film drama remaja yang cukup menegangkan dengan sentilan dark comedy yang kental.

Film ini merupakan debut penyutradaraan Cory Finley yang banyak menuai pujian atas hasil arahannya yang juga menjadi film terakhir Anton Yelchin yang dirilis setelah kematiannya pada bulan Juni 2016. Penayangan perdana film ini di Sundance Film Festival pada 21 Januari 2017 mengundang pujian dan membuat Focus Features membeli hak distribusi untuk penayangan di bioskop Amerika.

Simak review kami tentang film yang dirilis secara terbatas pada 9 Maret 2018 yang sudah bisa ditonton kembali melalui Netflix ini.

Sinopsis

Sinopsis
  • Tahun: 2017
  • Genre: Comedy, Crime, Drama, Thriller
  • Produksi: B Story, Big Indie Pictures, June Pictures
  • Sutradara: Cory Finley
  • Pemeran: Olivia Cooke, Anya Taylor-Joy, Anton Yelchin

Amanda datang ke rumah Lily untuk belajar bersama. Mereka sebenarnya adalah teman baik saat masih kecil, tapi kemudian hidup terpisah setelah kematian ayah Lily. Amanda tahu bahwa ibunya membayar Lily agar mau melakukan sesi belajar bersamanya. Tapi di pertemuan kedua mereka, Lily mengaku jika kali ini dia melakukannya secara suka rela, tanpa bayaran. Dan mereka mulai merajut pertemanan kembali.

Lily yang saat ini tinggal bersama ibunya dan ayah tiri yang dibencinya, merasa tertekan dengan sikap ayah tirinya yang berencana memasukkannya ke sekolah asrama yang jauh dari rumah. Amanda menyadari masalah psikologis yang menimpa Lily dan menawarkan ide untuk membunuh Mark, ayah tirinya itu. Meski awalnya menampik ide itu, tapi setelah melihat perlakuan Mark kepada ibunya, Lily bergeming.

Amanda tidak bisa melakukannya karena dia sedang dalam masa hukuman percobaan setelah membunuh kuda di istal secara sadis, tapi dia menceritakan kronologis peristiwa itu kepada Lily dengan tenang dan sebenarnya bermaksud baik. Mereka beralih kepada pengedar narkoba bernama Tim yang ditunjuk untuk melakukan aksi pembunuhan ini. Awalnya menolak, tapi dengan ancaman, Tim akhirnya menerima.

Pada hari H, Lily dan ibunya pergi ke luar kota, begitupun Amanda. Mark merasa ada yang masuk ke dalam rumahnya, terbukti dengan hidupnya beberapa lampu otomatis di pekarangan rumah. Ternyata tidak ada yang terjadi malam itu. Tim hanya masuk ke rumah untuk mengambil pistolnya yang disembunyikan oleh Amanda di dalam pemanggang barbekyu.

Lily merasa marah tapi mereka setuju untuk tidak menghubungi Tim lagi. Lily kemudian berencana membunuh Mark dengan tangannya sendiri, tapi dihalangi oleh Amanda yang memegang pisau saat Lily dicaci-maki oleh Mark di dapur. Suatu malam, saat Amanda datang lagi ke rumah Lily, dia meminum jus yang sudah diberi obat tidur.

Lily memberi tahu rencananya kepada Amanda yang membuat Amanda menenggak habis jus itu secara langsung, dan membuatnya tertidur pulas di sofa. Lily mulai melakukan aksinya dan kembali dengan pakaian dan tangan yang bersimbah darah. Kemudian dia memoleskan darah itu ke tangan Amanda, lalu Lily tidur di pangkuan Amanda.

Beberapa waktu kemudian, Lily bertemu dengan Tim yang kini bekerja sebagai petugas valet restoran. Lily sedang menjalani wawancara untuk masuk kuliah dan menceritakan kondisi terakhir Amanda di rehabilitasi, meski dia tidak mengungkapkan semuanya kepada Tim.

Pengarahan yang Baik dari Sutradara Baru

Pengarahan yang Baik dari Sutradara Baru

Nama Cory Finley tidak dikenal sebelum film Thoroughbreds ini. Yang diketahui darinya adalah dia seorang penulis naskah untuk pentas teater. Tapi lewat pengarahannya di film ini, namanya langsung diperhitungkan selaras dengan bertaburnya pujian kepada dirinya. Dia dianggap mampu meramu thriller ala Alfred Hitchcock dengan seting kehidupan remaja modern.

Memilih seting cerita di daerah kelas atas Connecticut, Finley mampu menampilkan kemewahan kehidupan disana secara proporsional. Semuanya ditujukan untuk membentuk atmosfir film yang nantinya akan berubah menjadi kelam. Naskah yang ditulis olehnya sendiri turut membentuk nuansa kelam itu semakin pekat dengan imbuhan dark comedy yang muncul disana-sini.

Dari perbincangan kedua tokoh utamanya, kita bisa memahami apa yang mereka rasakan, meski informasi yang dimunculkan hanya berupa sentilan-sentilan kata dari dialog antara mereka yang terkadang melebar karena keliaran pemikiran kedua karakter ini. Disinilah letak kecerdasan Finley dalam  menjalin kalimat demi kalimat untuk kedua karakter yang beda sifat tapi memiliki masalah psikologis yang sama.

Selain itu, penempatan music score karya Erik Friedlander yang tepat untuk setiap adegannya juga turut mempengaruhi mood menonton kita. Meski lebih banyak menampilkan suara bass drum, tapi dentuman itu selaras dengan degup jantung kita yang mulai menegang akibat tensi film yang semakin naik.

Ditambah lagi dengan keapikan Lyle Vincent dalam mengarahkan sinematografinya yang mampu menangkap suasana di rumah Lily yang turut membentuk atmosfir kesuraman, tapi tidak meninggalkan kesan mewah dari rumah tersebut.

Keunikan Finley dalam mengarahkan film ini semakin terasa pada adegan puncak yang kita nantikan. Tidak seperti film lainnya yang menampilkan adegan pembunuhan sebagai penggambaran keberhasilan sebuah rencana, tapi justru kita hanya diperlihatkan Amanda yang sedang tertidur pulas dimana Lily melakukan aksinya di luar frame dan kembali dalam kondisi bersimbah darah! Terasa menegangkan bukan?

Chemistry Apik dan Liar dari Dua Aktrisnya

Chemistry Apik dan Liar dari Dua Aktrisnya

Faktor utama kesuksesan film ini adalah performa apik dari kedua aktrisnya, Olivia Cooke dan Anya Taylor-Joy, dalam menghidupkan karakter masing-masing. Cooke mampu menampilkan sosok Amanda yang terkesan cuek dan datar dengan pemikiran yang skeptis dan sinis, serta tampil urakan ala remaja kalangan atas. Sedangkan Taylor-Joy tampil elegan yang dibalut pakaian santai tapi terkesan mahal.

Obrolan mereka yang awalnya hanya sepintas saja, kemudian berkembang semakin liar seiring kembalinya rasa pertemanan yang sudah lama terputus. Keterikatan diantara mereka tidak biasa, tidak seperti remaja lainnya, mereka sama-sama memiliki masalah psikologis yang cukup buruk yang sepertinya terbentuk karena kehilangan sosok ayah dalam kehidupan mereka.

Membunuh adalah solusi awal dan terakhir untuk menuntaskan masalah dalam kehidupan mereka masing-masing, setelah diawali dengan beberapa “pemanasan”, seperti belajar teknik menangis dan menahan napas yang lama hingga nyaris tenggelam di dalam kolam renang. Dan sepanjang film, kita akan dibuat terikat oleh kedua aktris ini berkat akting menawan mereka.

Kehidupan Mewah Tak Bisa Mengobati Penyakit Kejiwaan

Kehidupan Mewah Tak Bisa Mengobati Penyakit Kejiwaan

Thoroughbreds seolah menyiratkan sebuah pesan bahwa kemewahan dan kekayaan tidaklah menjamin kebahagiaan bagi orang yang memilikinya dan tidak menghindarkan mereka dari munculnya penyakit-penyakit kejiwaan. Buruknya lagi, masalah psikologis ini menimpa kalangan remaja. Tapi sekilas diperlihatkan juga, jika orang tua mereka memilih masalah psikologis yang tidak diungkapkan.

Memiliki sifat yang bertolak belakang, nyatanya Amanda dan Lily memiliki kesamaan yang bisa jadi adalah awal dari beban mental mereka, yaitu kehilangan sosok ayah. Kita tahu jika Lily tinggal bersama ayah tirinya setelah kematian ayah kandungnya, tapi kita tidak tahu sosok ayah Amanda yang tidak terlihat dan tidak diceritakan pula. Yang kita tahu, dia tinggal hanya bersama ibunya.

Masing-masing dari mereka menderita tekanan dari orang lain, yang kemudian menimbulkan perubahan sikap, mental dan pemikiran. Ujung-ujungnya, solusi terburuklah yang mereka lakukan. Dari skenario pembunuhan ini, mereka berdua seolah mendapat keuntungan yang diharapkan, Lily melanjutkan kuliah sesuai keinginannya dan Amanda masuk rehabilitasi untuk mengobati penyakit mentalnya.

Meski mereka berada pada kehidupan yang diinginkan, tapi yakinlah jika beban psikologis yang mereka rasakan tidak akan semakin berkurang. Pastinya perasaan berdosa tidak akan hilang kecuali dengan bertobat. Dalam suratnya, meski Amanda merasa dirinya semakin baik di rehabilitasi, tapi tergambar dalam suratnya jika dia justru mengalami halusinasi yang semakin besar.

Intinya, Thoroughbreds adalah drama thriller remaja yang tidak biasa, terutama dengan bumbu dark comedy yang kental dari naskah yang ditulis dengan sangat baik oleh sutradaranya ini. Film indie memang tidak mudah dicerna secara langsung oleh kita, butuh fokus berlebih untuk bisa mengerti apa yang disampaikan, tapi disitulah kenikmatan menonton film seperti ini.

Film ini juga ditujukan sebagai tribute untuk mengenang Anton Yelchin yang wafat setahun sebelum perilisan film yang merupakan salah satu dari empat film terakhirnya ini. Film ini juga menjadi pembuktian talenta Olivia Cooke, Anya Taylor-Joy dan Cory Finley sebagai sosok-sosok yang akan mengharumkan masa depan perfilman Hollywood kelak. Segera tonton aksi mereka di Netflix sekarang juga ya!

Thoroughbreds
7 / 10 Bacaterus.com
Rating

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram