bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review Film Animasi The Willoughbys (2020)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 30 Agustus 2021

Lahir dari kedua orangtua yang egois, Tim, Jane dan si kembar Barnaby hidup terlantar. Mereka kelaparan dan kerap dihukum atas sesuatu yang bukan kesalahannya. Saking merasa menderita, mereka punya ide mengirim kedua orangtuanya untuk berlibur, jauh dari rumah dan berharap menjadi yatim piatu. 

Dari sini perjalanan mencari ‘arti’ keluarga dimulai, terutama ketika mereka bertemu dengan pengasuh bertubuh tambun yang memiliki rambut membentuk tanda hati. Sempat menginginkan kedua orangtuanya kembali, Tim dan adik-adik kembali ditelantarkan.

Kisah sedih anak-anak keluarga Willoughbys ini bisa Anda ketahui secara utuh dengan menonton film The Willoughbys (2020). Namun sebelum itu mari baca lebih dulu melalui sinopsis dan review dari Bacaterus berikut ini.

Sinopsis

Review film The Willoughbys__
  • Tahun Rilis: 2020
  • Genre: Computer Animated, Comedy
  • Produksi: Netflix Animation, Bron Animation, Creative Wealth Media
  • Sutradara: Kris Peam
  • Pengisi Suara: Will Forte, Maya Rudolph, Alessia Cara, Terry Crews

Seekor kucing menjadi narator di sini. Dia bercerita mengenai sebuah rumah yang sangat kecil, yang kuno seolah tersembunyi dari kemajuan zaman berada di tengah gedung-gedung tinggi dan apartemen berjendela puluhan. Meski kecil, halaman depan rumah itu penuh dengan bunga berwarna-warni yang cantik.

Rumah tersebut milik satu keluarga yang aneh. Mereka punya sejarah yang sangat panjang. Warisan keluarga yang terdiri dari tradisi, penemuan, kreativitas hingga keberanian. Satu identitas yang diturunkan dari generasi ke generasi di keluarga itu adalah rambut wajah, tepatnya kumis, yang ikonik dan megah, kecuali generasi yang terbaru. 

Generasi terbaru dari keluarga Willoughbys melahirkan bayi, tapi perlakuan mereka pada bayi tersebut sungguh menyedihkan. Ayahnya menggunakan kaki untuk menyentuh kepala sang bayi dan mengatakan untuk mencari kasih sayang di tempat lain. Bayi tersebut diberi nama Tim Willoughbys (Will Forte). Tim tumbuh tanpa cinta kedua orangtuanya.

Waktu berlalu, Tim kini punya adik perempuan bernama Jane Willoughbys (Alessia Cara) serta dua saudara kembar menyeramkan yang masing-masing bernama Barnaby A dan Barnaby B (Sean Cullen). Mereka terlihat menatap tembok yang berisi foto-foto para leluhur keluarga Willoughbys, yang sepertinya sangat dibanggakan oleh Tim. 

Walau tinggal di rumah bersama kedua orangtua, anak-anak itu sama sekali tak diperhatikan. Untuk urusan makan, Walter (Martin Short) dan Helga (Jane Krakowski) Willoughbys bahkan tak membaginya sama sekali. Dua orangtua itu membiarkan anak-anak kelaparan sementara mereka menikmati makanan dengan bahagia.

Jane dan si kembar Barnaby merengek karena lapar, tapi Tim mengingatkan bahwa keluarga Willoughbys tidak meminta makanan melainkan menunggu. Walter dan Helga tak membiarkan anak-anaknya makan makanan hari ini, kecuali makanan kemarin. Tapi itu pun tak berlaku karena dua orangtua serakah tersebut juga memakan makanan kemarin, tak menyisakan apa pun untuk anak-anak.

Saat Tim tengah protes, Jane diam-diam mencuri makanan dan membuat kekacauan. Alih-alih sadar, Walter dan Helga justru berdrama dan menyalahkan semuanya pada Tim. Anak tertua itu akhirnya dihukum. Tim dikunci di gudang batu bara di rumah mereka. Ternyata ini bukan kali pertama Tim dihukum, terlihat dari banyaknya coretan yang menandakan berapa kali dia ada di sana. 

Dalam keadaan seperti itu Tim kadang berharap tidak menjadi bagian dari Willoughbys. Dia lalu mengenang kejayaan para buyutnya melalui sebuah buku yang dia simpan. Dulu, keluarga Willoughbys sangat hebat. Masing-masing ada yang menjadi tentara, ilmuwan, raja, filsuf, penjelajah, penerbang, seniman dan penyair.

Para leluhur Willoughbys punya kebiasaan mendaki yang tak bisa didaki, selalu makan bersama di meja, seperti keluarga. Selain itu, semua Willoughbys dulu memiliki kumis, bahkan para wanitanya. Tim tiba-tiba percaya bahwa keluarganya bisa hebat lagi seperti dulu. Tim dan saudaranya punya keinginan walau di tengah keterbatasan. Mereka masih memiliki tekad, imajinasi dan harapan.

Cerita berlanjut di malam hari. Saat itu hujan dan kucing narator yang berteduh di pohon melihat seseorang melintas di depan kediaman Willoughbys. Orang misterius tersebut meninggalkan sebuah kotak. Misterius, dari dalam kotak terdengar suara raungan gaduh yang membuat dua Barnaby tertarik. Mereka lalu mengabarkan hal itu pada Jane.

Ketiganya kemudian pergi ke atap rumah, melihat ke arah gerbang menggunakan teropong. Begitu antusias dan penasaran, Jane dan kembar Barnaby diam-diam turun dari sana menggunakan sebuah alat yang mereka buat sendiri. Ketiganya sangat hati-hati karena jika Walter dan Helga tahu semua bisa runyam.

Tanpa Tim mereka mulai mendekat ke arah kotak misterius tersebut. Begitu hampir sampai, dua kembar Barnaby kabur meninggalkan Jane yang tak sadar ditinggal sendirian. Gadis itu cukup berani untuk mulai membuka dan saat kotak itu dibuka, Jane seperti diserang sesuatu. 

Pagi hari datang, Tim kabur melalui lubang asap, mencari tiga adiknya. Betapa terkejutnya Tim ketika mendapati seorang bayi ada bersama Jane dan Barnaby. Tim berusaha menjaga agar kegaduhan mereka, apalagi suara bayi, tak sampai terdengar oleh Walter dan Helga. Anak tertua itu tak setuju jika harus menjaga si bayi karena dia tahu Walter dan Helga membenci anak-anak. 

Pendapatnya berbeda dengan Jane yang ingin menjaga bayi itu tetap bersama mereka. Saat keduanya berselisih, bayi tersebut diam-diam ke luar dan masuk ke ruangan tempat Walter dan Helga berada. Kekacauan pun terjadi. Akibatnya anak-anak Willoughbys diusir dari rumah. Mereka tak boleh kembali sampai bayi itu ‘hilang’. 

Tim yang begitu membanggakan keluarga Willoughbys merasa bahwa hal tersebut adalah tragedi. Bagaimana pun caranya bayi itu harus disingkirkan. Namun, Jane bersikeras bahwa jika mereka melakukan hal yang jahat pada si bayi, mereka tak beda jauh dengan Walter dan Helga yang sudah menodai kebesaran nama Willoughbys. 

Jane yang tahu tempat terbaik untuk si bayi, dengan berani melangkahkan kaki ke luar gerbang rumah ditemani si kembar Barnaby. Sementara Tim yang belum pernah sekalipun melakukan itu, tampak hati-hati dan takut. Lalu kemana Jane akan membawa bayi tersebut? 

Kisah Anak-anak yang Tak Mendapat Cinta dari Kedua Orangtua

Review film The Willoughbys_Kisah Anak-anak yang Tak Mendapat Cinta dari Kedua Orangtua_

Film animasi The Willoughbys (2020) diawali dengan sebuah narasi yang kurang lebih mengatakan bahwa jika Anda mencari cerita tentang keluarga bahagia, bersiap saja kecewa karena di sini tidak akan menemukan hal tersebut. Benar saja! Sejak awal, kejahatan kedua orangtua Tim benar-benar tak masuk akal. 

Mereka hanya hadir untuk memberi nama, selebihnya, Walter dan Helga sibuk dengan dunianya berdua yang penuh dengan cinta, tapi tidak dengan mencintai anak-anak. Menonton animasi seharusnya menyenangkan, tapi The Willoughbys (2020) seperti memiliki tujuan lain karena ia mengangkat tema yang begitu menyedihkan.

Anda akan melihat empat orang anak terlantar, menahan lapar dan dihukum serta disalahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahannya. Hal yang mereka ingat hanyalah kejahatan demi kejahatan kedua orangtua, sampai-sampai Tim dan adik-adiknya ingin menjadi yatim saja. Ide untuk mengirim Walter dan Helga berlibur pun muncul. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?

Film Animasi yang Penuh Warna Sekaligus ‘Gelap’

Review film The Willoughbys_Film Animasi yang Penuh Warna Sekaligus ‘Gelap’_

Selama sekitar 1 jam 30 menit, The Willoughbys (2020) mempertontonkan sebuah karya desain grafis yang penuh warna-warna cerah. Walau bentuk-bentuknya tak karuan, tapi pemilihan warna pada film ini sangat menarik dan sangat segar. Namun, di balik kecerahannya yang sebegitu rupa, film ini suguhkan alur yang gelap.

Dimulai dengan perlakuan tak pantas yang diterima Tim dan adik-adik dari kedua orangtua, alur berjalan semakin ‘gelap’ ketika anak-anak punya ide untuk mengirim orangtua mereka pergi jauh. Pada bagian ini Anda akan dipertontonkan rasa sakit hati dan dendam yang dimiliki Tim dan adik-adik pada kedua orangtua, sehingga kakak beradik tersebut berharap mereka tewas dalam perjalanan.

Beberapa adegan yang menyiratkan kekerasan juga ditampilkan dalam film ini. Mulai dari dilempar ke gudang batu bara, hingga scene ketika seorang anak bayi ditelantarkan. Singkatnya, The Willoughbys (2020) tidak se-ceria pilihan warnanya. 

Sindiran yang Dikemas dalam Film Anak-anak

Review film The Willoughbys_Sindiran yang Dikemas dalam Film Anak-anak_

Melalui sinematografi yang tak kalah indah dan menyenangkan seperti warna-warna pada film ini, The Willoughbys (2020) memuat banyak sekali sindiran mengenai keluarga dan kasih sayang. Adegan ketika kakak beradik tersebut terperangkap di tengah badai salju, tone warna berubah kelabu. Pada bagian ini gambar pun diambil dari jarak jauh memperlihatkan betapa mereka sendiri di sana.

Kesendirian tersebut juga terasa sebagai salah satu bentuk sindiran bahwa tanpa orangtua yang penuh kasih sayang, anak-anak bagai berada di bawah badai salju yang dingin dan tanpa pertolongan. DItambah scoring yang mendramatisasi, apalagi Jane juga diceritakan pandai bernyanyi, kesedihan Tim dan adik-adik terasa sekali. 

Secara keseluruhan The Willoughbys (2020) merupakan film animasi untuk anak-anak sekaligus orang dewasa. Diadaptasi dari buku berjudul sama karya Lois Lowry, ia punya pesan yang begitu kuat mengenai pentingnya kasih sayang dan cinta dalam keluarga, terutama dari orangtua. Penasaran dengan ceritanya? Tak usah bingung karena film animasi ini sudah bisa disaksikan di Netflix! 

The Willoughbys
Rating: 
4.3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram