bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Royal Treatment (2022)

Seorang penata rambut dan pemilik salon di kota New York mendapatkan tugas untuk merias pengantin di pernikahan seorang pangeran dari kerajaan Lavania. Seringnya mereka bertemu dan mulai memahami isi hati masing-masing membuat benih-benih cinta mulai menjalar di sanubari.

The Royal Treatment adalah film romantis karya Rick Jacobson dan merupakan original film Netflix yang dirilis pada 20 Januari 2022.

Mengusung premis cerita klise yang sudah berulang kali dibuat dan menampilkan pasangan bintang baru jebolan Disney menjadikan film ini akan terasa basi. Tapi, apakah memang begitu kualitasnya? Coba simak review berikut untuk mengetahuinya.

Sinopsis

The Royal Treatment poster_

Isabelle, yang biasa dipanggil Izzy, adalah seorang penata rambut yang menjalankan salon bersama ibu dan neneknya. Suatu hari, karena korsleting listrik di salon, terjadi kebakaran kecil yang dengan mudah dipadamkan oleh Izzy tepat waktu.

Kemudian datang asisten pemilik gedung yang meminta ganti rugi. Uang yang ditabung oleh Izzy untuk melakukan perjalanan keliling dunia hilang sudah. Kemudian Izzy mendapat panggilan telepon dari Walter, asisten Pangeran Thomas dari Lavania, yang ingin memanggilnya untuk menata rambut sang pangeran.

Izzy berangkat menyambangi pangeran di hotelnya. Tetapi karena melihat ketidakadilan seorang staf kerajaan kepada pelayannya, Izzy pergi meninggalkan hotel tanpa menyelesaikan pekerjaannya.

Sesaat Izzy sampai di salon dengan perasaan sedih, Thomas datang meminta maaf dan sekaligus ingin menyelesaikan proses memotong rambut yang tertunda. Setelah selesai, Izzy mengantar Thomas ke stasiun kereta dan saling berbincang.

Saat mempersiapkan pesta pernikahan sang pangeran dengan tunangannya, Lauren, ibu calon mempelai wanita kelabakan karena penata rambut dan riasnya mengundurkan diri.

Walter memberikan informasi tentang Izzy dan salonnya. Izzy dan kedua rekannya resmi menerima pekerjaan tersebut dan segera berangkat ke Lavania. Setelah sampai di istana, kemampuan mereka di tes oleh Madame Fabre.

Izzy lulus tes, sedangkan Lola dan Destiny harus mengikuti pelatihan lagi dari Madame Fabre. Menikmati hari, Izzy berkeliling kota dan menemukan sebuah daerah yang dihuni oleh penduduk kelas menengah yang suram. Malamnya, Izzy berniat berkeliling kota lagi tapi kali ini ditemani oleh Thomas yang menyamar sebagai rakyat biasa.

Menyadari daerah kota sudah sepi, Izzy mengajak Thomas ke daerah yang dia temukan tadi siang dan ternyata daerah itu sedang diramaikan oleh warganya yang bernyanyi dan menari.

Izzy dan Thomas larut dalam kegembiraan. Izzy sempat diajak oleh Esme, anak kecil warga setempat, untuk melihat sekolahnya yang berada dalam kondisi memprihatinkan.

Terlecut oleh ucapan Thomas, Izzy memulai sebuah rencana untuk memberikan barang-barang yang masih berguna namun tidak terpakai dari warga kaya yang akan diberikan kepada sekolah Esme dan warga sekitarnya.

Dibantu Thomas, tidak diduga antusiasme warga kaya untuk mengikuti program ini mendatangkan banyak kebahagiaan bagi warga kelas menengah dan sekitarnya.

Esoknya Izzy dikagetkan dengan berita di koran tentang hubungannya dengan Thomas. Ternyata secara diam-diam, ibu Lauren memotret kebersamaan Izzy dan Thomas lalu menyebarkan berita bohong ke media. Ayah Thomas langsung memecat Izzy yang langsung kembali ke New York secepatnya.

Apa yang akan Thomas lakukan? Apakah dia akan meneruskan pernikahan setelah mengetahui alasan sebenarnya dari pernikahan tersebut dari ayahnya, atau membatalkannya dan menyusul Izzy?

Bagi penggemar film romantis, rasanya kalian pasti sudah tahu jawabannya. Tapi, ada baiknya ditonton sampai selesai karena mungkin saja ada hal berbeda yang disuguhkan.

Pengulangan Kisah Komedi Romantis Klise

Pengulangan Kisah Komedi Romantis Klise_

Kalian suka menonton tayangan ulang beberapa FTV lama di sebuah televisi swasta? The Royal Treatment bisa menjadi salah satu episode dari FTV itu karena semua elemen yang ada di film ini memenuhi kriterianya, mulai dari alur cerita, naskah serta dialognya, akting para pemerannya, hingga selera humornya. Semua terasa klise dan tipikal.

Tidak adanya hal baru yang disajikan dalam film berdurasi 1 jam 36 menit ini membuat kita dengan mudah menebak alur ceritanya hendak kemana. Bahkan setiap langkah, setiap adegan hingga dialog yang hendak diucapkan sudah ada dalam benak kita. Semua ditampilkan sesuai panduan standar film komedi romantis pada umumnya.

Akting para pemerannya pun tampil biasa saja, tidak ada yang istimewa. Akting Laura Marano terlalu ringan, bahkan saat menghadapi masalah pun dia terlihat biasa saja dan masalah terselesaikan dengan mudah.

Begitu pun dengan Mena Massoud yang menjadi pasangannya, seperti hanya memiliki satu ekspresi saja dalam film ini, terkesan kurang menjiwai atau tidak bisa akting? Kalian bisa menilai sendiri.

Mengusung kisah romantis tanpa adanya chemistry antara pemeran utamanya, tentu membuat sebuah film romantis akan terasa sia-sia belaka, dan itu terjadi di film ini. Laura Marano dan Mena Massoud tidak berhasil meyakinkan kita akan adanya cinta pada karakter yang mereka bawakan.

Jika biasanya dalam film seperti ini ada salah satu pemeran yang menjadi scene stealer, tapi berbeda dengan film yang sinematografinya tidak memiliki sesuatu yang istimewa ini, tidak satupun dari pemerannya yang bisa mencuri perhatian, semua terasa datar saja.

Setting New York yang Bukan di New York

Seting New York yang Bukan di New York_

Menggelar kisah yang berawal di kota New York, nyatanya film yang memulai syuting pada bulan Februari 2021 ini tidak sekalipun menjejakkan kakinya di salah satu kota terbesar di Amerika Serikat tersebut.

Keseluruhan adegan dalam film ini diambil di Selandia Baru, tepatnya di dua kota dalam wilayah Otago, yaitu Dunedin untuk seting kota dan Oamaru untuk seting istana dan sekitarnya.

Kesan tidak autentik ini cukup berpengaruh juga dalam atmosfer film yang tidak terasa getaran kota New York yang super sibuk setiap harinya. Ditambah lagi film ini menceritakan adanya sebuah kerajaan fiktif, yaitu Lavania, yang entah lokasinya ada di benua apa. Mari kita analisa sedikit tentang Kerajaan Lavania ini.

Jika mencermati ucapan Izzy kepada teman-temannya, Lavania terletak di dekat Aldovia, sebuah kerajaan yang ada di film Netflix A Christmas Prince (2017) dan bersebelahan dengan Genovia, kerajaan lain yang ada di film The Princess Diaries (2001).

Dan sempat disinggung juga oleh Izzy, bahwa Lavania menjadi jalur perdagangan menuju India. Sudah bisa menjawab lokasi Lavania dimana?

Pesan Berharga bagi Motivasi Diri

Pesan Berharga bagi Motivasi Diri_

Memang film The Royal Treatment terkesan biasa saja dengan semua pengulangan yang ditampilkan, salah satunya mencomot adegan ikonik dari film Pretty Woman (1990).

Adegan yang mana ya? Fans film populer Julia Roberts itu pasti tahu jawabannya dan akan kecewa ketika melihatnya. Tapi paling tidak film ini memiliki pesan moral yang cukup bagus dan tersampaikan dengan baik.

Pesan untuk menjadi diri sendiri dan berbuat sesuatu bagi masyarakat terasa sangat menonjol dalam kisahnya, baik dari sisi Izzy maupun di sisi Thomas.

Izzy memiliki ide besar untuk berbagi kepada warga dunia tapi dia tidak memiliki kemampuan untuk itu, bahkan biaya pun dia tidak punya. Namun, di akhir film, Izzy menerima posisi sebagai pimpinan baru di komunitas mereka. Satu langkah lebih maju.

Sedangkan Thomas yang memiliki kemampuan tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena kungkungan protokoler kerajaan, pada akhirnya menentukan sikap untuk melawan keputusan ayahnya dan menuntaskan impian serta harapannya bagi rakyatnya.

Tapi kenapa dia malah ke New York untuk bertemu Izzy? Mengejar cinta dulu baru mewujudkan impiannya? Mungkin begitu konsepnya. Sebenarnya, jika penulis naskah Holly Hester bisa meramu kisah romantisnya dengan baik, maka pesan motivasi dalam film ini akan lebih tersampaikan dengan baik pula.

Selain itu, terdapat juga nasihat tersirat bagi orang tua untuk tidak mengekang anaknya agar bisa mewujudkan impian dan memaksimalkan potensinya. Tentu saja dengan catatan penting, selama itu positif dan bertanggung jawab pastinya.

Pada akhirnya, film The Royal Treatment masih jauh dari ekspektasi para penikmat film komedi romantis. Lemahnya sisi cerita yang klise dan akting yang kurang maksimal membuat film ini tidak meninggalkan kesan apa-apa setelah menontonnya.

Sepertinya keluarga Marano harus lebih pintar lagi memilih proyek film dengan naskah yang baik untuk ke depannya. Filmnya sudah bisa ditonton di Netflix, ya!

The Royal Treatment
Rating: 
1.8/5
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram