bacaterus web banner retina

Sinopsis & Review The Polka King (2017), Biografi Raja Polka

Ditulis oleh Dhany Wahyudi - Diperbaharui 24 Mei 2021

Legenda musik polka asal Pennsylvania, Jan Lewan, mengembangkan rencana untuk menjadi kaya tapi mengejutkan para fans-nya sehingga menjebloskannya ke penjara. Jack Black, Jenny Slate dan Jason Schwartzman membintangi kisah nyata bangkit dan runtuhnya seorang maestro musik polka.

Original film Netflix ini pertama kali ditayangkan di Sundance Film Festival pada 22 Januari 2017 untuk kemudian mulai bisa di-streaming di Netflix sejak 12 Januari 2018. The Polka King berdasarkan sebuah film dokumenter tentang biografi Jan Lewan produksi 2009 berjudul The Man Who Would Be Polka King yang juga bisa disimak di layar Netflix.

Berikut ini kami akan ulas film yang ditulis naskahnya dan disutradarai oleh Maya Forbes dimana Jack Black juga duduk sebagai produser di dalamnya.

Sinopsis

The Polka King (2017)
*sumber: https://www.netflix.com/id-en/title/80173395
  • Tahun: 2018
  • Genre: Biography / Comedy / Drama
  • Produksi: ShivHans Pictures, Electric Dynamite, Permut Presentations
  • Sutradara: Maya Forbes
  • Pemeran: Jack Black, Jenny Slate, Jason Schwartzman

Jan Lewan adalah penyanyi polka yang terkenal di Pennsylvania. Bersama istrinya, dia juga menjalankan toko suvenir yang seringkali dipromosikan saat show oleh istrinya yang mantan ratu kecantikan, Marla (Jenny Slate). Mickey (Jason Schwartzman), pemain klarinet, ingin keluar dari band karena bayaran yang dia terima tidak bisa menutupi kebutuhan hidupnya.

Dengan kelihaiannya berbicara, Jan berhasil meyakinkan Mickey untuk tetap di band. Sepasang lansia ingin investasi kepada band dan Jan menjanjikan keuntungan sebesar 12% dalam setahunnya. Berita ini sampai ke telinga komisi yang menangani sekuritas dan bursa saham. Mereka mengutus stafnya untuk berbicara kepada Jan jika investasi yang dilakukannya ilegal karena belum terdaftar.

Jan mulai galau karena dalam beberapa hari dia harus mengembalikan semua investasi itu dan melaporkannya ke komisi. Saat itu, sepasang lansia itu datang lagi untuk berinvestasi lebih. Jan menawarkan atas nama perusahaan lainnya. Kemudian Jan melaporkan ke komisi jika dia sudah menutup perusahaannya dan mengembalikan semua investasinya.

Kemudian Jan ingin meluaskan usahanya dengan membuat travel ke Eropa yang diakhiri pertemuan dengan Paus di Vatikan. Jan kemudian menyuap staf di Vatikan agar bisa menghadirkan Paus ke acara mereka. Mickey mengetahui apa yang dilakukan Jan ini salah, tapi dia kemudian kembali berhasil diyakinkan oleh Jan dengan mengubah namanya menjadi Mickey Pizzazz.

Marla yang tersinggung jika dia sebenarnya tidak memiliki bakat dan terkenal hanya karena suaminya, ingin membuktikan dirinya dengan mengikuti perlombaan Mrs. Pennsylvania. Jan mendukung untuk mengangkat usahanya dan menambah investor lagi. Demi memenangi perlombaan, Jan menyuap salah satu juri yang kemudian mengundang kontroversi.

Para investor pun kemudian satu persatu menarik investasi mereka dari Jan. Komisi sekuritas pun menyelidiki kasus Jan yang dinyatakan melakukan skema Ponzi. Jan kemudian dijebloskan ke dalam penjara selama lima tahun dan sempat hendak dibunuh oleh teman sekamarnya. Belum selesai sampai disitu, Marla pun kemudian menuntut cerai. Setelah bebas, Jan kembali memimpin band polka-nya.

Jan Lewan, Sang Raja Polka dalam Fakta

Jan Lewan, Sang Raja Polka dalam Fakta
*sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/File:The_King_of_Polka_-_Sundance_Festival.jpg

Jan Lewan dilahirkan di Bydgoszcz, Polandia, pada tahun 1941 saat pendudukan Jerman pada Perang Dunia II. Lewan menimba ilmu musiknya di Conservatory of Music di Gdansk dan bernyanyi di opera. Kemudian dia mendukung Warsaw National Philharmonic dalam tour-nya di Polandia dan Eropa Utara. Setelah menyelesaikan karirnya di Eropa, Lewan kemudian pindah ke Amerika Serikat.

Dia memulai karir musiknya yang bergenre polka di Pennsylvania dan bertemu dengan Rhonda dalam sebuah acara TV. Mereka kemudian menikah dan memiliki seorang putra bernama Daniel. Bersama istrinya, dia juga mengelola toko hadiah di Hazleton. Atas kerja kerasnya mempopulerkan musik polka di Amerika, Jan kemudian dinominasikan di ajang Grammy Awards tahun 1995, meski gagal menang.

Pada tahun 2001, bus yang ditumpangi oleh Lewan dan bandnya mengalami kecelakaan dan menewaskan dua personilnya. Putranya yang turut dalam tour itu mengalami kritis dan dirawat lama di rumah sakit. Di tahun 2004, Lewan dijebloskan ke penjara selama lima tahun karena kasus penipuan. Tidak berapa lama, dia hendak dibunuh oleh teman sekamarnya dengan melukai lehernya.

Tahun 2009 Lewan bebas dari penjara dan kembali merintis karir musiknya. Di tahun 2011, Lewan dan Rhonda bercerai. Rhonda kemudian menikah dengan mantan pemain terompet di band polka Lewan. Karirnya semakin menanjak dengan berhasil tampil berbagai event besar, antara lain di Las Vegas dan Atlantic, termasuk di Trump Plaza Hotel and Casino.

Dari fakta ini kita bisa mengetahui jika nama istri dan putra Jan, Rhonda dan Daniel, ditampilkan dalam film dengan nama berbeda, yaitu Marla dan David. Mungkin ada masalah perizinan yang tidak disepakati di antara mereka dengan pihak studio. Selain hal ini, semua fakta dari kehidupan Jan Lewan ditampilkan dalam film dengan akurat.

Hanya ada sedikit perbedaan, mungkin ini demi kepentingan cerita agar lebih menegangkan sebagai klimaks, penangkapan Jan terjadi berdekatan dengan kecelakaan yang mereka alami. Selain itu, gugatan cerai dari istrinya terjadi saat Lewan masih di dalam penjara, padahal faktanya adalah dua tahun setelah Lewan bebas dari penjara. Sekali lagi, semua itu demi kepentingan cerita.

Skandal Terbesar dalam Sejarah Polka

Skandal Terbesar dalam Sejarah Polka
*sumber: https://uk.newonnetflix.info/info/80173395

Sudah ada yang tahu apa sih musik polka itu? Musik ini berasal dari Republik Ceko yang menjadi musik tradisional mereka dan populer di benua Eropa, terutama di kawasan Eropa Tengah. Musik dengan irama riang ini mulai dikenal di Bohemia pada pertengahan abad ke-19 dan menyebar ke seantero Eropa bahkan hingga ke Amerika, tepatnya di kota Chicago.

Jan Lewan adalah salah satu musisi polka terpopuler di Amerika, bahkan hingga masuk nominasi Grammy Awards. Karirnya dirintis dari nol hingga bisa mengadakan show di beberapa event besar di Las Vegas dan Atlantic. Sayang, karir musiknya sempat terhenti karena kasus penipuan yang dilakukannya terhadap para investornya yang membuatnya harus mendekam di penjara selama lima tahun.

Setelah bebas, dia memulai membangun lagi karir musiknya dan diterima dengan baik oleh publik. Terlebih karena sekarang dia telah menjadi sosok yang religius. Aksi panggungnya bisa disaksikan di credit title di akhir film dimana dia terlihat masih energik di usia yang sudah tidak muda lagi.

Jack Black Menjadi Nafas Film

Jack Black Menjadi Nafas Film
*sumber: https://www.imdb.com/title/tt5539052/mediaviewer/rm3413471488/

Jack Black adalah aktor yang sering berakting di dalam film dengan genre comedy. Di film ini, dia berperan sebagai Jan Lewan dengan sangat energik, tidak kalah dengan tokoh aslinya. Seperti yang kita tahu, Black adalah seorang musisi yang sukses dengan band rock-nya, Tenacious D. Selain itu, Black juga sering membintangi film-film bertema musik, seperti School of Rock (2003) dan High Fidelity (2000).

Maka tidak heran jika dia berhasil menghidupkan karakternya dengan penuh penjiwaan dan kecerian tingkat tinggi yang mewarnai film yang mengambil lokasi syuting di Rhode Island ini. Apalagi ketika dia mulai bernyanyi, kita pun pasti akan terbawa dengan suasana yang dia ciptakan. Tidak hanya saat ceria saja, tapi saat adegan yang menuntutnya untuk sedih atau bingung, Black pun tampil meyakinkan.

The Polka King memiliki banyak momen keriangan yang ditampilkan dengan baik oleh para pemerannya, tetapi karena arahan yang sedikit canggung dan naskah yang tanggung dari Maya Forbes membuat film ini tidak bisa bernyanyi lebih riang. Film ini menampilkan kisah biografi dengan nada comedy, yang sepertinya belakangan ini menjadi warna baru di dunia sinema dalam menampilkan sebuah kisah nyata.

Dengan begitu, berbagai kejadian yang seharusnya sedih atau menyayat hati, bisa tampil dengan sedikit ringan dan tidak memberatkan film. Jika tidak pandai mengolahnya, elemen ini akan mempengaruhi kualitas film. Sebagai contoh, I, Tonya (2017) berhasil mengolah elemen ini dengan baik, tetapi sayangnya di The Polka King, elemen ini terasa tanggung dan seharusnya bisa tampil lebih baik.

Pada akhirnya, The Polka King bisa menjadi tontonan alternatif bagi penonton yang ingin menyimak film ringan dan ceria untuk mengisi waktu luangnya. Tidak akan rugi dan membuang waktu, film ini juga akan membangun mood kita menjadi lebih baik. Daftarkan saja dulu ke watchlist ya!

The Polka King
6 / 10 Bacaterus.com
Rating

linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram