bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Netflix The Midnight Sky (2020)

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 17 September 2021

The Midnight Sky adalah film fiksi ilmiah Amerika tahun 2020 yang disutradarai dan dibintangi oleh aktor George Clooney. Cerita film ini berdasarkan novel berjudul Good Morning, Midnight, yang ditulis oleh Lily Brooks-Dalton pada tahun 2016. The Midnight Sky sudah dirilis di layanan streaming Netflix sejak tanggal 23 Desember 2020 kemarin.

Secara garis besar, film ini berlatar waktu di dunia paska apokaliptik, dan menggambarkan Bumi sudah tidak layak huni lagi. Di Lain sisi, sebuah misi luar angkasa dari NASA berhasil menemukan planet baru layak huni, yang nantinya diharapkan bisa menjadi rumah baru bagi peradaban manusia.

Sinopsis

  • Tahun rilis: 2020
  • Genre: Fiksi Ilmiah
  • Rumah produksi: Smokehouse Pictures dan Anonymous Content
  • Sutradara: George Clooney
  • Pemeran Utama: George Clooney, Felicity Jones, David Oyelowo, Tiffany Boone, Demián Bichir, Kyle Chandler, dan Caoilinn Springall.

Pada suatu malam di sebuah seminar, seorang ilmuwan jenius bernama Augustine Lofthouse berusaha menuangkan ide tentang planet baru yang di masa depan bisa dihuni oleh umat manusia. Selepas acara tersebut, ia bertemu dengan seorang perempuan yang bernama Jean Sullivan, dan keduanya kemudian diceritakan terlibat hubungan asmara.

Hubungan keduanya tidak bertahan lama dikarenakan Augustine tidak ingin terikat terlalu dalam, dan masih terobsesi dengan pekerjaannya. Setelah mereka berpisah, Augustine secara kebetulan bertemu kembali dengan Jean, dan sang mantan kekasihnya itu kini telah memiliki seorang anak perempuan, tapi dia tidak memperkenalkan putrinya kepada Augustine.

Sekitar 30 tahun kemudian, tepatnya di tahun 2049, sebuah bencana dahsyat melenyapkan separuh populasi kehidupan yang ada di Bumi. Sementara itu, Augustine kini sudah menua, dan menderita penyakit kronis, ia sekarang bekerja di observatorium Barbeu yang ada di Kutub Utara, dan tinggal bersama dengan manusia yang tersisa.

Saat hendak dievakuasi ke tempat yang lebih aman, Augustine tetap bertahan di tempat tersebut karena ada satu misi penting yang harus dilakukannya. Ia sekarang tinggal sendirian di Kutub Utara, dan mencoba melakukan kontak dengan semua wahana antariksa yang sedang menjalankan misi luar angkasa mereka.

Augustine berupaya kontak dengan mereka supaya bisa memberitahu bahwa kondisi Bumi sekarang sedang sekarat. Namun, semua wahana antariksa telah dinonaktifkan, dan hanya tersisa satu pesawat luar angkasa yang aktif bernama Aether. Pesawat tersebut ternyata kembali dari Planet Jupiter setelah dua tahun menjelajahi bulan layak huni, K-23, yang pertama kali ditemukan oleh Augustine.

Di dalam pesawat Aether, para kru yang terdiri dari Sully, Adewole, Maya, Mitchell, dan Sanchez, sebenarnya tidak mengetahui situasi terkini di Bumi. Oleh karena itu, Augustine mencoba menghubungi mereka untuk tidak kembali ke Bumi yang akan hancur. Tetapi, antena di Observatorium Barbeu terlalu lemah, dan sinyalnya tidak bisa mencapai wahana antariksa tersebut.

Di suatu hari, Augustine menemukan seorang anak perempuan di Barbeu yang tidak bisa berbicara. Dia mencoba menghubungi rekan-rekannya, tapi ia sadar bahwa mereka sudah tidak ada lagi. Augustine kemudian mengetahui nama anak tersebut adalah Iris, dan keduanya lambat laun sudah bisa saling mengenal satu sama lain.

Augustine dan Iris lalu memutuskan pergi ke ke Observatoriun lain di Kutub Utara, dan ia berharap bahwa tempat tersebut mempunyai antena dengan sinyal kuat agar bisa menghubungi Aether. Perjalanan tidak mudah karena letaknya sangat jauh dari Barbeu, dan ada badai salju. Di sisi lain, Aether yang hendak ke Bumi dihadapkan oleh serangan meteor yang merusak radar, dan sistem komunikasi di dalam pesawat.

Film Fiksi Ilmiah yang Ambisius

Film Fiksi Ilmiah yang Ambisius
*sumber: https://www.syfy.com/syfywire/midnight-sky-first-look-george-clooney-netflix

The Midnight Sky mencoba menawarkan cerita drama fiksi ilmiah dengan menghadirkan kondisi Bumi yang diambang kehancuran. Film ini juga berpotensi sebagai salah satu rilisan Netflix yang sukses, dan menjadi ajang comeback untuk George Clooney, yang terakhir kali terlihat sebagai aktor sekaligus sutradara di tahun 2017 pada film Suburbicon.

Film fiksi ilmiah ini dibuat dengan cukup baik dan ambisius, tetapi tidak memiliki kekuatan emosional yang dibutuhkan untuk menghubungkan dua kejadian yang berbeda diantara kru pesawat Aether di luar angkasa dengan Profesor Augustine yang ada di Bumi. Oleh karena itu, apa yang diharapkan oleh Clooney untuk film garapannya ini tidak mencapai semua sasaran.

Walaupun begitu, secara teknis, film ini sangat mengesankan, dengan efek visual yang tajam dan desain produksi yang membantu membenamkan penonton ke dua dunia, yang pertama di kutub utara Bumi, dan ruang angkasa. Selain itu, film ini sangat baik dalam menggambarkan rasa kesepian, yang diperlihatkan oleh para pemainnya, akibat resiko pekerjaan yang harus mereka tanggung.

Ketika film ini mulai menyoroti kondisi itu, kita akan melihat bahwa mereka sedang menghadapi situasi yang keras dan sulit. Perasaan tidak berdaya pun muncul dari setiap pemainnya di sepanjang The Midnight Sky, yang kemudian situasi tersebut diilustrasikan sangat baik oleh arahan Clooney sebagai sutradaranya.

Di film ini, kita akan diajak untuk melihat transisi cerita yang berfokus pada dua tempat berbeda. Momen awal kita mengikuti bagaimana perjuangan, dan kesendirian Augustine dalam upayanya menghubungi Aether. Di lain sisi, kita akan terbang melintasi ruang angkasa saat Aether menemukan bulan Jupiter, K-23, yang layak huni, dan kita bakal diperlihatkan proses kehidupan ruang angkasa yang begitu misterius.

Transisi di antara keduanya mengalir dengan baik selama dua jam film ini berjalan. Editing pemindahan adegan dari Bumi ke luar angkasa, ataupun sebaliknya, dibuat sangat apik, dan pada akhirnya tidak membingungkan kita yang akan menontonnya. Tapi sayangnya, kekuatan emosional dalam transisi tersebut tidak digali secara baik, dan mendalam.

Para Pemeran Tampil Saling Menunjang

Para Pemeran Tampil Saling Menunjang
*sumber: https://twitter.com/NetflixFilm/status/1341912075346448385

Dalam hal pemeran, Clooney memberikan penampilan yang solid sebagai Augustine. Ia memperlihatkan kembali kharismanya yang alami, dengan memerankan seorang pria tua renta yang mengalami krisis kesehatan. Selain itu, aktris cilik bernama Caoilinn Springall, yang berperan sebagai Iris, tampil cukup menggemaskan meski dirinya tidak banyak bicara, dan berkomunikasi melalui isyarat nonverbal.

Keduanya memiliki beberapa momen manis layaknya ayah dan anak perempuannya di sepanjang The Midnight Sky. Sementara di ruang angkasa dalam Aether, ada Felicity Jones (Sully) dan David Oyelowo (Adewole) yang tampil sebagai pasangan kekasih. Ada juga Kyle Chandler (Mitchell, Tiffany Boone (Maya), dan Demian Bichir (Sanchez), yang tampil sebagai karakter pendukung yang tidak terlalu buruk.

Momen terbaik yang terjadi di Bumi adalah ketika Augustine, dan Iris harus menghadapi badai salju ketika menuju Observatorium lain di Kutub Utara. Bagian tersebut mungkin menjadi satu-satunya adegan yang menegangkan selama narasi di Bumi.

Di film ini bencana dahsyat yang menjadi kehancuran Bumi tidak diperlihatkan secara masif. Situasi tersebut kemudian menjadi salah satu adegan yang memperlihatkan ikatan kuat diantara Augustine, dan Iris. The Midnight Sky menggambarkan kehancuran Bumi lewat sudut pandang di Kutub Utara, sehingga bagian belahan Bumi lainnya tidak akan diperlihatkan sama sekali.

Sementara itu, momen paling menegangkan di luar angkasa ketika kru Aether harus menghadapi serangan meteor, yang secara tiba-tiba menghantam pesawat mereka. Setelah itu, Maya, Sully, dan Adewole keluar dari pesawat untuk memperbaiki perangkat komunikasi Aether yang rusak.

Adegan tersebut seolah mengingatkan kita pada film Gravity, yang kebetulan adegannya pun sama-sama sedang berada di luar angkasa untuk memperbaiki perangkat pesawat yang rusak. Meski terdiri dari lima orang kru, namun mereka sama seperti Augustine yang ada di Bumi, begitu kesepian dan tidak berdaya.

Meski Saling Menunjang, Beberapa Karakter Tidak Tergali Maksimal

Meski Saling Menunjang, Beberapa Karakter Tidak Tergali Maksimal
*sumber: https://scrapsfromtheloft.com/2020/12/24/the-midnight-sky-transcript/

The Midnight Sky memang tidak terlalu banyak menghadirkan karakter di dalamnya. Hal itu sepertinya dimaksudkan untuk menarik hati kita yang sedang menontonnya. Awalnya, rasa kesepian dalam film ini begitu terasa setelah melihat kehidupan Augustine, dan orang-orang di Bumi yang sudah tidak ada.

Kita kemudian tertarik untuk melihat perjalanan Augustine, bersama Iris, dalam upaya melawan badai salju di Kutub Utara. Sebagai salah satu karakter utamanya, sosok Augustine digali cukup baik. Tapi, permasalahan galaunya dengan Jean di masa lalu ternyata masih berimbas kepada dirinya, yang sekarang telah menjadi pria paruh baya.

Meski awalnya mengganggu, ternyata hal itu menjadi plot twist mengejutkan yang terjadi di akhir film ini, dan menghubungkan narasi cerita yang ada di Bumi dan di ruang angkasa. The Midnight Sky memang benar-benar mengeksplorasi bagian dramanya di film ini dengan cara yang sederhana, namun tak terduga di babak akhir.

Masalah lainnya di film ini, walaupun tidak terlalu serius, adalah para karakter di dalam pesawat Aether digambarkan secara tipis, dan kurang mendetail. The Midnight Sky masih belum maksimal mengeksplorasi kru Aether, dan film ini hanya memperlihatkan sekilas background dari Maya, dan Mitchell ketika keduanya menggunakan sebuah visual hologram yang memperlihatkan gambaran keluarganya.

Maya, Mitchell, Sanchez, Sully, dan Adewole memainkan peran penting di dalam Aether, walaupun karakter mereka tidak terlalu mendalam diselami. Akibatnya, transisi cerita yang menghubungkan mereka dengan Augustine yang ada di Bumi tidak terlalu tersusun secara emosional.

Padahal, jika diarahkan dengan baik lagi dan teliti, mungkin bagian tersebut akan terlihat dramatis seperti apa yang terjadi dalam film Interstellar garapan Christopher Nolan. Terlepas dari itu, The Midnight Sky adalah film fiksi ilmiah dari Netflix yang wajib ditonton, dan tidak boleh terlewatkan.

The Midnight Sky
Rating: 
3.7/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram