bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film Thailand The Medium (2021)

Ditulis oleh Suci Maharani R - Diperbaharui 15 Oktober 2021

The Medium (2021) adalah film kolaborasi dari dua sutradara ternama, yaitu Na Hong Jin dari Korea Selatan dan Banjong Pisanthanakun dari Thailand.

Na Hong Jin telah menggarap film-film sukses seperti The Chaser (2008), The Yellow Sea (2010) dan The Wailing (2016). Sementara Banjong Pisanthanakun dikenal berkat film Pee Mak (2013) dan Shutter (2004), yang berhasil jadi box office di banyak negara Asia.

Film ini menjadi kolaborasi pertama kedua, tapi langsung mendapatkan banyak perhatian karena masuk box office dan meraih banyak penghargaan.

The Medium (2021) mengisahkan warisan turun temurun yang berasal dari leluhur mereka di masa lalu. Ada warisan yang memang baik seperti Nim dan beberapa warisan menimbulkan hal buruk seperti yang dialami oleh Mink.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada Nim dan Mink? Apakah mereka bisa mengatasi warisan yang berasal dari leluhurnya ini dengan baik? Temukan jawabannya di bawah ini.

Sinopsis

The Medium (2021)_

Meneliti tradisi yang ada di Thailand, ada banyak kebiasaan yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat. Kali ini kita akan dibawa untuk melihat sebuah tradisi di Isan, bagian Timur Laut Thailand, dimana masyarakat disana mempercayai adanya Dewa Bayan.

Hal inilah yang membawa beberapa orang untuk membuat sebuah dokumenter pada seorang dukun lokal bernama Nim. Nim diketahui di rasuki oleh roh Dewa Bayan, ia terpilih untuk menggantikan leluhurnya.

Sebenarnya Dewa Bayan memilih kakaknya yang bernama Noi, namun ia menolak dan membuat Nim harus jadi medium sang Dewa. Nim menikmati hidupnya sebagai wadah bagi Dewa, ia mengobati orang-orang yang terkena kutukan atau hal supranatural lainnya.

Warisan dukun yang dilakukan secara turun temurun ini bukanlah hal yang aneh lagi bagi masyarakat sekitar. Dewa Bayan akan memilih siapa orang yang akan menjadi tempatnya bersemayam, dan orang itu berada di garis keturunan yang sama. Mereka yang menolak untuk menjadi wadah, dianggap telah berbuat dosa besar kepada Dewa.

Suatu hari Nim mendapatkan kabar kakak iparnya meninggal dunia. Pria ini meninggal karena kemalangan. Nim menceritakan bahwa keluarga Willow Asatia memiliki nasib yang sangat mengenaskan. Akhirnya, kini tinggal Noi dan putrinya, Mink, menjalani hidup berdua. Namun, Nim menemukan keanehan pada diri Mink.

Nim berusaha mencari tahu apa yang terjadi, tapi Noi selalu saja berusaha menjauhkan putrinya dari Nim. Pasalnya baik Noi dan Mink tidak percaya dengan ritual shamanisme, mereka memilih menjadi seorang kristen dan meninggalkan tradisi.

Namun lambat laun Mink makin aneh, hingga suatu hari gadis ini mulai terlihat memiliki berkepribadian ganda. Mink bersikap seperti anak kecil, pria tua, seorang pemabuk, hingga seorang pelacur. Mink bahkan mengatakan tidak ingin terpilih menjadi seorang dukun.

Ia juga menceritakan bermimpi bertemu dengan seorang pria. Pria itu terlihat sangat besar dengan berbagai mantra di tubuhnya, tangannya memegang senjata dan memenggal kepala seseorang.

Mink berusaha mendengarkan apa yang dikatakan pria yang dipenggal itu, tapi tidak bisa. Sejak saat itu kondisi gadis ini makin mengkhawatirkan, ia mendengarkan banyak suara di kepalanya.

Gadis ini merasakan nyeri di bagian perut dan vaginannya yang terus mengeluarkan darah. Tak lama Mink dipecat dari tempat kerjanya, karena ia tertangkap kamera CCTV beberapa kali berhubungan seksual di kantor.

Suatu hari, Mink memutuskan untuk bunuh diri, dan dari sini Noi meminta bantuan adiknya untuk menyelamatkan Mink. Nim berpikir Mink mungkin akan menjadi wadah bagi Dewa, tapi rahasia hubungan inses adik kakak antara Mink dan Mike terbongkar.

Diketahui, Mike mati bukan karena kecelakaan tapi karena bunuh diri di salah satu pohon yang ada di hutan. Noi yang tidak tega akhirnya melakukan ritual penerimaan Dewa pada tubuh Mink, tapi hal ini membuat putrinya makin mudah dirasuki.

Kini tubuh Mink seperti wadah kosong yang bisa ditempati siapa saja, bahkan menampung ratusan roh. Dari sini masa lalu kelam keluarga suami Noi terungkap, ternyata mereka adalah orang yang sangat kejam.

Mereka pernah melakukan pembantaian pada banyak orang, hingga dikutuk oleh satu pria sekarat yang menjadi korban. Inilah alasan kenapa Willow menikahi Noi, karena Willow bertujuan untuk mempersiapkan anaknya sebagai penebusan dosa.

Mink terpilih untuk menjadi penebus dosa, atas perbuatan dilakukan oleh nenek moyang keluarga ayahnya. Seluruh keluarga bersiap melakukan ritual pengusiran, namun secara misterius Nim meninggal dalam tidur.

Sementara Mink makin lama makin tidak bisa dikendalikan dan ganas, apakah yang akan dilakukan oleh Noi untuk menyelamatkan putri kesayangannya?  

Membayar Dosa dengan Ritual Penuh Tradisi

Membayar Dosa dengan Ritual Penuh Tradisi_

The Medium (2021) mungkin akan terasa sangat dekat bagi masyarakat Indonesia, karena praktik spiritual seperti ini bukan hal aneh lagi. Terutama bagi saya yang memang sering mendengar dan beberapa kali melihat secara nyata ketika seseorang kerasukan.

Rasanya hal ini sudah menjadi rahasia umum masyarakat Indonesia, yang tidak terasa aneh lagi. Tapi melihat hal serupa datang dari Thailand, hal ini tentu menjadi angin segar bagi saya. Pasalnya The Medium (2021) memang sangat berbeda dari kebanyakan film horor lainnya.

Saya merasa sisi horor yang ditampilkan lebih dark, karena shamanisme ini mungkin jarang terdengar. Apalagi bagi orang-orang dari luar Thailand seperti kita, yang hanya tahu soal wisata dan keindahan alamnya saja.

Masyarakat di Isan mempercayai, Dewa Bayan merupakan roh baik yang sudah melindungi desa mereka. Tidak ada yang tahu bagaimana, siapa dan kenapa Dewa Bayan bisa dipercaya oleh masyarakat.

Hal yang paling jelas, semua masyarakat percaya akan roh alam dan benda yang bisa mengganggunya. Saya kurang tahu jelas bagaimana tradisi ini berjalan, namun Dewa Bayan memilih wadah untuk rohnya.

Wadahnya ini tidak dipilih oleh manusia, tapi Dewa sendiri yang memilih tubuh wanita mana yang akan digunakan. Kepercayaan ini di zaman modern seperti sekarang memang terdengar mustahil, tak heran jika banyak orang yang meninggalkannya.

Namun tradisi leluhur ini tidak bisa dipandang sebelah mata, karena tidak mungkin sebuah tradisi bisa begitu diagungkan tanpa alasan yang jelas. Selain tradisi, dari film ini kita bisa melihat bagaimana kebrutalan di masa lalu akan mempengaruhi masa depan.

Apa yang terjadi pada Mink ternyata buah dari leluhurnya yang sangat kejam kepada sesama manusia. Entah apa yang terjadi, tapi mereka membantai banyak orang secara brutal. Dari sinilah kutukan mengerikan menghantui keluarga Asatia, membuat semua orang mendapatkan kemalangan.

Untuk menebus semua jiwa-jiwa yang merasa marah akibat perilaku nenek moyangnya, Mink dijadikan wadah untuk penebusan dosa. Tentu saja hal ini tidak bisa dibenarkan.

Bagaimana bisa ayahnya tega menjadikan putrinya sebagai wadah penebusan dosa yang tidak pernah dilakukannya? Mink bukanlah wanita yang suci, tapi tetap saja merenggut kehidupan di usia mudanya adalah hal mengerikan.

Plot Twist dan Ide Cerita yang Menarik

wist dan Ide Cerita yang Menarik_

Bagaimanapun juga saya harus mengatakan bahwa saya cukup terkesan dengan ide cerita yang diangkat. Kerasukan memang bukanlah hal yang aneh lagi. Dalam setiap film horor pasti hal ini sangat lumrah terjadi.

Namun ide cerita mengenai kepercayaan shamanisme adalah sesuatu yang terasa sangat baru, terutama bagi para penonton dari luar Thailand.

Saya sangat kagum ketika melihat sebuah tradisi yang sangat berbeda dan tidak pernah saya lihat dari Thailand. Tapi dari apa yang saya lihat, tradisi ini tidak jauh berbeda dengan tradisi-tradisi yang ada di Indonesia. Cerita dari The Medium (2021) ini menjadi sangat sulit untuk ditebak.

Saya tidak tahu apa yang akan terjadi. Ketika saya berpikir Mink dalam proses untuk menjadi wadah Bayan, ternyata gadis ini dijadikan wadah untuk menebus dosa dari kekejaman leluhurnya di masa lalu.

Saya pikir Nim akan menjadi pemain kunci yang bisa menyelamatkan Mink, nyatanya wanita yang jadi wadah Bayan ini seakan tidak memiliki kekuatan.

Bahkan Bayan yang begitu diagung-agungkan, terasa tidak memiliki kekuatan seperti yang ditakutkan dan diharapkan. Bahkan saya merasa Bayan bukanlah ide cerita sesungguhnya, justru kutukan masa lalu keluarga Asatia yang harusnya diangkat.

Namun tidak ada kejelasan yang pasti mengenai apa yang terjadi sehingga kutukan ini bisa terjadi turun-temurun. Sangat disayangkan mereka tidak memberikan sedikit kilasan akan hal ini, bahkan saya juga merasa bingung karena tidak paham soal Mike dan Mink.

Setelah membaca penjelasan dari beberapa artikel, saya baru sadar bahwa mereka melakukan hubungan inses. Tapi hubungan antara Mike Mink juga berakhir jadi tanda tanya besar.

Setidaknya dalam 90 menit saya hanya menikmati cerita dengan plot twist yang cukup mencengangkan. Lalu sisa 40 menit selanjutnya menjadi sangat menegangkan, tapi fokus saya terganggu setelah ritual pengusiran gagal.

Ceritanya seakan menjadi teror manusia yang dirasuki oleh roh hewan buas, karena memangsa para cameraman dengan sangat brutal. Jujur saja saya sangat kecewa dengan di bagian ending, saya mengerti tidak semua film harus berakhir happy ending.

Namun The Medium (2021) berakhir dengan banyak tanda tanya. Bahkan premisnya juga semakin lama makin tidak terkendali. Bagi saya rasa originalitas yang ditampilkan seakan hilang, saya seakan melihat campuran scene The Nun (2018) hingga film zombie.

Sinematografi Indah dan Cukup Intens

Sinematografi Indah dan Cukup Intens_

Kelebihan yang tidak boleh terlupakan dari film berjudul The Medium (2021) adalah sinematografinya yang sangat indah. Naruphol Chokanapitak berhasil memberikan berbagai pemandangan apik dan ciamik, dimana ia menunjukkan sisi lain dari Thailand.

Sebuah tradisi di tempat terpencil divisualkan dengan sangat baik di tengah hutan yang rindang. Tradisi memuja Dewa Bayan yang diperlihatkan benar-benar sangat fresh, ditambah dengan soundtrack lagu penyembahan.

Terasa sangat mistis, kental akan tradisi dan kebahagiaan bagi mereka yang memuja Dewa Bayan dalam ritual itu. Tak hanya itu, keindahan alam dan awan senja yang mendung di pedesaan Thailand terpampang dengan sangat indah.

Mengambil gaya footage, saya tidak merasa terganggu dengan cara pengambilan gambarnya. Gaya ini memang menambah intensitas rasa seram, seakan kita berada di situasi tersebut.

Tidak banyak kamera goyang, meski unsur natural memang kurang terasa sejak film dimulai. Camera work untuk gaya found footage memiliki angle yang baik, mengingatkan saya pada REC (2007).

Tapi saya sangat terkesan dengan akting Sawanee Utoomma sebagai Nim. Saya sampai berpikir bahwa ia memang dukun setempat.

Selanjutnya Narilya Gulmongkolpech yang semakin lama makin menunjukkan intensitas menjiwai karakternya. Jika perannya sebagai Mink terasa seperti akting, maka karakternya saat kerasukan benar-benar sangat berbeda.

Saya bisa merasakan gadis itu benar-benar dirasuki oleh banyak arwah, bahkan body language yang ditampilkan sangat mendukung dan terasa mencekam.

Yang paling saya sukai dari penampilan Narilya adalah, ketika para reporter menyimpan kamera cctv di dalam rumah. Jujur saja Narilya benar-benar terasa seperti ancaman yang tidak pernah kita duga sama sekali di saat terlelap.

The Medium (2021) bisa dikatakan menjadi salah satu film horor terbaik tahun 2021 ini. Plotnya simpel, tidak mengandalkan jump scare, namun rasa cukup intense dan haunted. Bagi saya ini seperti kisah masa exorcist seorang gadis muda yang ditumbalkan sebagai penebus dosa leluhurnya.

The Medium
Rating: 
3.2/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram