bacaterus web banner retina

Sinopsis dan Review Film The Lord of The Rings 3 (2003)

Ditulis oleh Desi Puji Lestari - Diperbaharui 11 September 2021

Frodo dan Sam tidak boleh menyerah karena perjalanan mereka untuk menuju Mordor hampir sampai. Di sisi lain, perjuangan hebat tak kalah dilakukan Aragorn, Gandalf, Legolas dan lainnya saat melawan pasukan Sauron yang seolah tak habis-habis. Masing-masing berjuang sesuai tanggung jawabnya dengan satu tujuan yang sama; menghancurkan cincin Sauron agar tercipta kedamaian antara bangsa-bangsa di Middle-Earth.

The Lord of The Rings 3 atau The Lord of The Rings: The Return of The King merupakan seri terakhir dari trilogy LOTR arahan sutradara Peter Jackson. Dibuat berdasarkan novel fantasi tinggi karya J. R. R. Tolkien, dua karya seni ini tampil dengan kehebatan yang sama. Baik novel atau film sama-sama meraih kesuksesan besar.

Ingin tahu bagaimana perjalanan akhir Frodo dan karakter lainnya The Lord of The Rings 3? Simak lebih dulu sinopsis dan ulasannya pada artikel ini!

Sinopsis

Sinopsis
  • Tanggal/Tahun Rilis: 1 Desember 2003
  • Genre: Epic Fantasy, Adventure
  • Produksi: New Line Cinema, WingNut Films
  • Sutradara: Peter Jackson
  • Pemeran: Elijah Wood, Ian McKellen, Viggo Mortensen, Sean Astin

Sméagol Trahald (Andy Serkis) dan Déagol Nahald (Thomas Robins) adalah dua hobit yang berteman baik. Mereka terlihat sedang memancing di sungai dengan suasana hati yang gembira. Pancing Déagol tiba-tiba terasa ditarik, dia pun tercebur ke sungai. Saat itulah dia menemukan cincin di dasar sungai dan membawanya ke permukaan.

Sméagol yang melihat itu merasa tertarik tapi Déagol tidak memberikan karena dia merasa cincin tersebut adalah miliknya. Kekuatan cincin itu membuat keduanya berkelahi hingga Sméagol tidak bisa mengendalikan diri dan mencekik Déagol hingga tewas. Semakin lama cincin tersebut bersamanya, Sméagol merasa ada kekuatan yang mengendalikan dan memengaruhi dirinya.

Lama-kelamaan, Sméagol berubah bentuk dan kepribadian. Dia bahkan lupa dengan jati dirinya dan hanya percaya bahwa dia adalah Gollum. Scene berlanjut saat Frodo, Sam dan Gollum melanjutkan perjalanan menuju Mordor. Sebelumnya, mereka berhasil keluar dari Gondor berkat bantuan Faramir (David Wenham).

Selepas memenangkan pertempuran di Helm’s Deep, Gandalf (Ian McKellen), Théoden (Bernard Hill) dan yang lain bergerak menuju Isengard. Di sama rombongan bertemu dengan Merry (Dominic Monaghan) dan Pippin (Billy Boyd) yang sebelumnya dikira sudah tewas. Gandalf dan rombongan juga disambut oleh Treebeard.

Gandalf datang untuk mencoba berdamai dengan Saruman (Christopher Lee) dan akan berusaha memaafkan semua kesalahannya. Namun Saruman menolak dan justru menyerang Gandalf menggunakan tongkat sihirnya. Beruntung serangan Saruman tidak lagi mempan. Tongkat yang dipegangnya bahkan ikut hancur.

Théoden juga mengatakan hal yang sama pada Grima Wormtongue (Brad Dourif) yang turut berada di sana. Namun, Grima tidak bisa banyak bergerak karena tubuhnya dikendalikan Saruman. Grima yang kesal akhirnya menghujani Saruman dengan beberapa tusukan dari arah belakang.

Saruman jatuh dari Menara Isengard dan tewas. Nasib Grima tak jauh beda setelah dipanah oleh Legolas (Orlando Bloom). Pippin yang melihat Palantir milik Saruman segera menyerahkannya pada Gandalf.

Warga Rohan kini kembali ke asal mereka. Théoden kemudian mengadakan pesta, menjamu para pejuang yang berhasil memenangkan pertempuran di Helm’s Deep. Di tengah pesta, Aragorn (Viggo Mortensen) bertanya kabar Frodo (Elijah Wood) pada Gandalf, tapi Gandalf juga tidak mengetahuinya. Namun dia sangat yakin bahwa Frodo masih hidup.

Di tempat lain pikiran jahat Sméagol mulai sering memengaruhinya lagi. Saat Frodo dan Sam tidur, makhluk itu terlihat berusaha mendapatkan cincin itu kembali. Sam yang mengetahuinya marah dan memukul Sméagol. Dia mengatakan hal tersebut pada Frodo tapi sang pembawa cincin tidak melakukan apa pun karena masih membutuhkan bantuan Sméagol untuk sampai ke Mordor. 

Sementara itu Pippin yang penasaran dengan Palantir milik Saruman, berhasil mengambilnya diam-diam dari Gandalf. Setelah melihat Palantir, Pippin mendapat penglihatan mengenai satu kejadian menyeramkan, yaitu keberadaan sebuah kota bernama Minas Tirith yang sedang dibakar. Dia lalu menceritakannya pada Gandalf. Akibat hal tersebut Sauron mengira bahwa orang yang menyimpan cincinnya adalah Pippin.

Gandalf lantas membagikan pengakuan Pippin pada yang lain. Dia menyadari bahwa Sauron sedang menyusun rencana lain setelah kekalahannya di Helm’s Deep. Sauron juga menyadari bahwa kekuatan lawannya tidak bisa disepelekan, sehingga dia berusaha agar seluruh bangsa tidak dapat bersatu dengan menghancurkan mereka satu demi satu.

Théoden tidak menyutujui ide Gandalf untuk menolong bangsa lain karena dia merasa tidak mendapatkan bantuan apa pun dari mereka. Mendengar hal tersebut Gandalf lantas membawa pergi Pippin menuju Minas Tirith agar bisa terhindar dari serangan Sauron yang bisa kapan saja menyerang Rohan.

Di sisi lain bangsa Peri masih berada di perjalanan menuju kehidupan abadi. Di dalam perjalanan, Arwen (Liv Tyler) melihat masa depan. Di sana dia menyaksikan sang ayah Elrond (Hugo Weaving) menggendong putranya.

Hal ini yang membuat Arwen memutuskan kembali ke Rivendell dan meyakinkan sang ayah atas pilihan hidupnya. Arwen kemudian meminta Elrond kembali menimpa pedang yang pernah digunakan Isildur untuk melawan Sauron. Cerita berlanjut saat Gandalf dan Pippin akhirnya sampai ke Minas Tirith. Kota tersebut rupanya merupakan kota para raja.

Di sana keduanya bertemu dengan Denethor (John Noble), ayah Boromir (Sean Bean) yang merupakan pelayan kerajaan. Gandalf menyampaikan maksud kedatangannya tapi Denethor mengira dia akan menerima penjelasan tentang kematian Boromir. Pippin kemudian mencoba menjelaskan kematian Boromir hingga membuat Denethor semakin bersedih dan enggan bekerja sama dengan bangsa lain untuk melawan Sauron.

Denethor juga menolak mengakui Aragorn yang akan mewarisi tahta kerajaan tersebut. Setelah tujuannya tidak berhasil, keduanya pergi. Dari kejauhan Gandalf sudah melihat dan merasakan kegelapan di Mordor. Sauron memang sengaja menciptakan awan gelap untuk memudahkan pasukan Orc-nya berperang. Pasalnya para Orc tidak suka dengan cahaya matahari.

Di sisi lain, Sauron tidak hanya mempersiapkan pasukannya, dia menambah kekuatan dengan menjalin kerjasama bersama Haradrim dan pasukan gajahnya serta Raja Penyihir dari Angmar. Bermodal kekuatan yang berlipat-lipat, mampukah Gandalf dan bangsa-bangsa yang terpecah mengalahkan Sauron? Bagaimana akhir cerita dari trilogi ini?

Akhir Cerita Perjuangan Melawan Sauron

Akhir Cerita Perjuangan Melawan Sauron

Pembukaan The Lord of The Rings 3 dimulai dengan scene flashback yang menceritakan masa lalu Gollum sekaligus memperlihatkan kekuatan jahat yang dimiliki cincin milik Sauron. Betapa benda itu bisa mengubah dua hobbit yang bersahabat untuk bertikai dan mengakibatkan salah satunya tewas.

Cincin tersebut juga bisa mengubah bentuk, membuat wajah menjadi buruk rupa; gambaran kekuatan jahat yang dimilikinya. Setelahnya cerita bergulir dalam beberapa bagian. Masing-masing karakter berjuang, masing-masing menampilkan scene-scene dengan efek CGI yang memukau.

Anda akan dibawa melihat perjalanan Frodo dan Sam bersama Gollum yang masih harus mencapai Mordor, tepatnya Mount Doom guna menghancurkan cincin Sauron yang menjadi sumber malapetaka. Bagian lain memperlihatkan Théoden yang memerintahkan Aragorn dan pasukannya untuk bersiap melawan pasukan Sauron yang tak terhitung banyaknya.

Sebuah perang besar melawan Orc yang buruk rupa, menyimbolkan segala keburukan di dunia, akan jadi salah satu sajian utama di film terakhir trilogy The Lord of The Rings ini.Cerita dalam film ini secara garis besar menyuguhkan perjuangan terakhir melawan kejahatan Sauron; perang besar dan kemenangan besar.

Dalam film ini Anda juga akan melihat kembalinya pemegang sah Kerajaan Gondor yang semula menolaknya. Dia adalah Aragorn Elessar. Bagi Anda yang menggemari karakternya, akan ada rasa haru ketika Aragorn dinobatkan secara sah sebagai Raja Gondor yang baru.

Karakter Frodo Tepat untuk Film Ini

Karakter Frodo Tepat untuk Film Ini

Keberadaan karakter Frodo yang berasal dari bangsa Hobbit, bersama Sam, Marry dan Pippin rasanya menimbulkan rasa pesimis bagi siapa pun yang menonton, termasuk di dalam ceritanya sendiri. Badan mereka yang kecil, mungil, dan tidak dibekali kemampuan memegang pedang atau berperang dianggap tak punya kekuatan.

Terlihat dalam adegan ketika Eowyn mengajak Merry berperang, dia ditentang oleh Eomer dan Théoden sendiri. Sebagai film dengan banyak karakter hebat dan perkasa, kehadiran karakter Hobbit seperti datang dari dunia lain. Namun, sang penulis novel, J.R.R Tolkien tentu bukan tanpa alasan menciptakan mereka.

Frodo membuat jalan cerita film ini berjalan lebih emosional. Tubuhnya yang kecil sehingga dianggap tak punya kekuatan justru memudahkannya menuju Mordor.

Sementara itu, para karakter hebat lain, seperti Aragorn, Legolas, Gimli, Faramir, Gandalf, hingga Galadriel, bertugas ‘menjaganya’ dari belakang melalui pertempuran demi pertempuran fantastis melawan pasukan Sauron. Oleh karena itu, penciptaan karakter Frodo lengkap dengan sifatnya yang naif dan mudah diperdaya sudah sangat tepat untuk film ini.

Emosional penonton berhasil dipancing-pancing mengikuti kelabilannya. Frodo terasa sebagai simbol manusia dan segala kelemahannya yang ingin terus berjuang hingga akhir.

Bersiap untuk Terpukau Selama Lebih dari 3 Jam

Bersiap untuk Terpukau Selama Lebih dari 3 Jam

The Lord of The Rings 3 berdurasi 201 menit atau sekitar 3 jam 20 menit. Sebagai sebuah film regular, durasi ini terhitung sangat panjang. Namun, Anda tidak usah khawatir karena Peter Jackson dan segala kejeniusannya berhasil menyuguhkan tontonan yang memukau.

Sepanjang film berlangsung, Anda tidak diberi kesempatan untuk bosan karena alur dan tiap-tiap adegan berjalan rapat, padat, runut dan fantastis dengan bantuan visual effect yang luar biasa.

Adegan peperangan melawan Orc yang menggila, ditambah pasukan gajah dari Haradrim, serangan naga-naga purba dibuat dengan detail. Belum lagi pertempuran di Gondor dan istananya yang megah. Efek-efek memukau tersebut dipadukan dengan konflik tiap karakter yang turut ditonjolkan sehingga film tidak sekadar berisi adegan perang yang super gaduh, melainkan turut melibatkan perasaan serta emosi yang mengenyangkan sebagai sebuah tontonan.

The Lord of The Rings 3 bukan sekadar film fantasi penuh adegan peperangan memukau yang mengandalkan visual effect. Film ini sekaligus memiliki pesan mendalam tentang kehidupan dan kedamaian yang menjadi dambaan banyak orang.

Ia juga memperlihatkan bahwa pada satu kesempatan, orang-orang yang dianggap tak punya daya bisa jadi luar biasa karena kerjasama dan kekuatan hatinya. Masih tidak tertarik dengan film ini? Jangan sampai menyesal!

The Lord of The Rings 3
Rating: 
4.5/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram