bacaterus web banner retina

Review dan Sinopsis The Guys, Film Komedi Raditya Dika

Ditulis oleh Yanyan Andryan - Diperbaharui 3 September 2021

Selain dikenal sebagai seorang komika, dan penulis novel, Raditya Dika pun kerap mengadaptasi cerita dari bukunya itu ke dalam sebuah film layar lebar. Cerita di novelnya itu merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadinya, baik soal cinta, persahabatan, dan pekerjaan. 

The Guys adalah salah satu film yang diangkat dari pengalaman pribadi Radit saat ia bekerja kantoran sebelum memutuskan untuk menjadi penulis. Film ini masih menggunakan formula yang sama dengan film-film sebelumnya, menghadirkan keresahan seorang pria jomblo yang dibalut dengan komedi, dan kisah persahabatan.

Di film ini juga, Radit mengajak dua aktor Thailand untuk bergabung dalam film The Guys. Mereka adalah Pongsiree Bunleuwong, dan satu lagi ada Baifern Pimchanok, aktris yang terkenal lewat perannya sebagai Nam dalam film A Little Thing Called Love pada tahun 2010.

Sinopsis

Sinopsis

Empat orang sahabat, Alfi, Aryo, Rene, dan Sukun, bekerja di sebuah perusahaan agensi periklanan yang sama. Selain itu, mereka juga tinggal satu atap di rumah yang sama pula. Alfi adalah karakter utamanya dalam film ini, dan tentu saja ia adalah pria lajang yang sedang mencari kekasih. Untuk mewujudkannya itu, Alfi berusaha mendekati teman satu kantornya, perempuan cantik yang bernama Amira.

Keduanya lalu saling berkenalan, hingga lambat laun mereka semakin dekat. Walaupun begitu, proses pendekatan terhadap Amira ternyata tidak selancar yang ia bayangkan. Suatu hari, Amira mengundang Alfi untuk makan malam di rumahnya. Setibanya di sana, Alfi terkejut setelah mengetahui jika Amira merupakan anak dari Pak Jeremy, atasan di kantor tempatnya bekerja.

Pak Jeremy memang dikenal sebagai seorang bos yang galak, dan Alfi nampaknya belum siap menerima kenyataan bahwa Amira adalah anak dari bosnya itu. Alfi merasa gugup, dan malah secara tak sengaja merusak makan malam yang sudah direncanakan di rumah Amira. Kesan pertama yang diperlihatkan Alfi kepada ayah Amira begitu tidak berkesan, dan seketika saja ia merasa malu bersikap seperti itu. 

Oleh karena itu, Alfi mencoba mengubah kesan buruk tersebut dengan mengundang Pak Jeremy, dan Amira untuk makan malam di rumah ibunya. Tapi sekali lagi, momen itu malah menimbulkan masalah baru ketika Pak Jeremy ternyata menyukai ibunya Alfi bernama Bu Yana, dan keduanya kebetulan sama-sama sedang sendiri sudah sejak lama.

Alfi pun dilemma dihadapkan pada masalah rumit yang tidak ia pikirkan. Di sisi lain, Alfi tidak ingin pendekatannya kepada Amira terganggu, maka dari itu ia pun meminta bantuan teman-temannya, Aryo, Rene, dan Sukun, untuk menggagalkan proses kedekatan Pak Jeremy dengan ibunya.

Komedi yang Klise

Komedi yang Klise

The Guys membagi konfliknya ke dalam dua bagian, dimana bagian pertama berpusat pada permasalahan kehidupan sosial Alfi, termasuk kisah cintanya, sedangkan bagian yang kedua berfokus pada Pak Jeremy, dan ibunya Alfi, Bu Yana. Meski menawarkan dua konflik yang berbeda, tapi semua bagian tersebut menyajikan komedi-komedi konyol yang terlihat cukup klise.

Momen sosial Alfi lebih banyak menonjolkan tujuan hidupnya, mulai dari percintaan, membahagiakan ibunya, dan bermimpi menjadi seorang bos untuk diri sendiri. Di momen itulah peran teman-temannya Alfi cukup penting lewat saran-sarannya yang jenaka. Mereka pun muncul menjadi kawan yang baik saat mencoba membantu Alfi untuk menggagalkan hubungan Pak Jeremy, dan Bu Yana.

Separuh film ini dipenuhi komedi cinta yang konyol cenderung klise diantara Alfi dan Amira, sementara di separuh bagian lainnya hingga menuju akhir, film ini berusaha untuk unjuk gigi, meski tidak terlalu terasa signifikan. The Guys mencoba mendramatisasi situasi konfliknya sedemikian rupa, tapi tampaknya agak kurang berhasil, dan malah membuat fokus ceritanya terpecah.

Sang tokoh utama, Alfi, tidak memiliki karakterisasi yang kuat, dan motivasinya di dalam film ini kurang maksimal mendukung cerita. The Guys seperti tidak berhasil dalam menggali karakter Alfi sebagai tokoh sentralnya. Terkadang kita dibuat bingung olehnya yang sering merasa jenuh dengan pekerjaannya, tapi film ini tidak detail mengungkapkan kesibukan yang membuat Alfi merasa seperti itu.

The Guys adalah film komedi ala Raditya yang formulanya kurang lebih sama dari film-filmnya yang terdahulu. Di film ini, kita masih akan dipertontonkan perjuangan cinta dari seorang pria jomblo dalam merebut hati perempuan idamannya. Alurnya tentu saja bakal ada komedi konyol klise yang monoton, hingga sedikit dipaksakan.

Materi Cerita yang Biasa Saja

Materi Cerita yang Biasa Saja

Raditya memang gemar sekali mengeksplorasi pengalaman hidupnya ke dalam novel, lalu diadaptasi ke layar lebar. Meski dihadirkan dengan judul yang berbeda-beda, konsep ceritanya kurang lebih sama secara garis besar. Apa yang terjadi dengan film The Guys pun tidak terlalu berbeda dari film dia yang lain, dan film ini menyajikan materi cerita yang mudah ditebak, kurang menarik karena terus diulang-ulang.

Aspek cerita yang disuguhkan dalam film ini diolah sangat dasar sekali, dan klise. Meski mencoba menawarkan sebuah tontonan yang ringan, dan sederhana, The Guys sebenarnya tidak terlalu istimewa, serta mungkin biasa saja. Walaupun begitu, salut untuk Tarzan dari Srimulat, dan aktris senior Widyawati yang tampil baik di film drama komedi ini. 

Selain itu, komedi dalam The Guys dan karakter yang terlibat di filmnya tidak digali secara maksimal. Semua lelucon terlontar begitu saja lewat percakapan klise diantara karakternya. Karena film ini tidak mempunya materi cerita yang kuat, dan rapih, maka semua bagian komedinya tidak terlalu berkesan. 

Hampir semua lelucon yang diaplikasikan dalam The Guys hanya mengundang tawa ringan saja, dan sebagian diantaranya mungkin tidak akan menimbulkan tawa sama sekali. Lalu, tipikal film Raditya dika adalah ia selalu berperan sebagai pria yang selalu menampilkan ekspresi wajah “bodoh”, dan itu pun sekali lagi dihadirkan dalam film The Guys. 

Seharusnya, Alfi diberikan penokohan yang kuat dengan segala karakterisasinya, jangan hanya diperlihatkan sebagai pria “tak berdaya” yang harus merenungi kisah cintanya. Hal yang sama pun terjadi dengan lawan mainnya, teman-temannya pun kurang mendukung ceritanya, dan seperti dihadirkan untuk memberikan sempalan-sempalan komedi yang berujung klise, dan begitu-begitu saja.

Cukup Sekali untuk Ditonton

Cukup Sekali untuk Ditonton

Memperlihatkan ekspresi wajah dengan raut “bodoh” adalah salah satu ciri film-film garapan Raditya. Ia nampaknya sengaja tetap menghadirkan itu agar film terlihat dramatis, dan kita yang menontonnya dapat ikut merasa iba terhadap segala permasalahan yang dihadapi oleh perannya sebagai Alfi.

Penggambarannya sangat tipikal sekali, dan kita mungkin bisa ikut simpatik, atau tidak terhadap Alfi di dalam film ini. Sudut pandang Alfi dengan segala problematikanya mungkin akan relevan bagi sebagian pria, tapi ia terlalu sering berulang menggambarkan sosok pria “sial” dalam cinta yang pada akhirnya membosankan.

The Guys juga tidak melulu menghadirkan cerita cintanya, film ini beberapa bagiannya menampilkan kisah persahabatan yang terjadi diantara Alfi, dan teman-temannya. Di lain sisi, Almira yang diperankan oleh Pevita Pearce tidak terlalu menyatu dengan Alfi dalam pengembangan narasi filmnya. Ia seperti menjadi pemanis dalam film The Guys, aktingnya tidak terlalu buruk, hanya kurang berkesan saja.

Romansa antara Alfi dan Amira seperti melihat dua orang remaja yang sedang PDKT, dan tidak ditangani sebagai orang yang sudah dewasa. Film ini selebihnya terasa datar, dan lucunya tidak terlihat natural. The Guys pada akhirnya menjadi sebuah film drama komedi yang cukup sekali ditonton, dan film ini adalah tentang Raditya Dika dengan segala problematika kisah hidupnya.

The Guys
Rating: 
3/5

MENU

© Bacaterus Digital Media
cross linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram